Distro Channel, Distronya Orang Rantau

Distro Channel, Distronya Orang Rantau
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Pergerakan anak muda Bandung dengan musik sebagai akarnya sering sekali dikaitkan sebagai cikal bakal tumbuh kembangnya industri clothing.

Keberhasilan industri clothing yang kian meningkat, otomatis membuat para pelaku bisnis pun melirik. Alhasil, industri ini menjadi besar tidak hanya di kalangan anak muda Bandung, tapi mewabah pada pengusaha sandang di Bandung.

Entah bagaimana awalnya, clothing-clothing baru ramai bermunculan yang tak hanya ramai di Jalan Trunojoyo atau Jalan Sultan Agung, Jalan Dalem Kaum yang berada di alun-alun Bandung pun begitu riuh dengan ragam label clothing.

Bangunan berlantai dua dengan nama Distro Channel berdiri di Dalem Kaum menaungi 30-an clothing sejak tiga tahun yang lalu. Pemiliknya bukan saja anak muda Bandung. Menurut salah pengelola clothing Nozzle, Fahmi (40) pemilik clothing di Distro Chanel rata-rata warga rantau dari Padang, Sumatera Utara.

"Ya, sekitar 80 persen pemiliknya orang Padang. Sisanya baru pribumi," tutur Fahmi. Menurutnya para pengusaha di Distro Chanel adalah pemain pemula dalam industri clothing. Di mana kebanyakan label mereka baru muncul bersamaan dengan berdirinya Distro Chanel di samping pemain lama yang membuat merek baru.

Pertarungan desain masih menjadi inti dari industri kreatif ini. Meski diakui Fahmi jika biasanya nama label clothing sebagai cerminan dari idealisme kreatifitas, di tempat ini tidak.

"Kebanyakan belum punya karakter sendiri lebih ke bisnis. Banyak juga yang desainnya sama meskipun mereknya beda," jelas Fahmi.

Lebih lanjut Fahmi menjelaskan, ketika ada booming salah satu desain maka clothing-clothing banyak yang mengikuti. Namun hal itu tidak membuat mereka khawatir kehilangan ciri khas karena setiap desainer clothing harus cepat tanggap dalam melihat reaksi pasar.

"Desain yang kurang laku harus langsung diubah biar tidak monoton," tutur Fahmi.

Fahmi pun mengakui para pelaku clothing asli Bandung memiliki tingkat kreativitas desain yang cukup tinggi. Tidak hanya seputar t'shirt tapi juga membuat sepatu sendiri sampai sabuk dengan merek sendiri.

Selain itu, lanjut Fahmi, dari segi promosi clothing di Distro Channel belum mampu menyaingi clothing pendahulunya yang menggunakan artis.

Namun diakui Fahmi, pengunjung masih terus antusias untuk datang dan membeli di tempat ini tak terkecuali beberapa artis ibu kota.

Sepertinya, apapun itu perbedaannya, kreatifitas tetaplah menjadi modal utama untuk tetap bernafas dalam industri ini. Pasarlah yang akhirnya memilih. Mana yang sesuai selera mungkin juga isi dompet. Sebab di sini, konsumen bisa menawar harga.(ema/afz)

0 komentar:

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons