Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan

Eksplorasi Seni di Ruang Bawah Tanah

Bandung - Sebagai kawasan wisata yang dituju banyak negara, Braga memerlukan ruang yang lebih lengkap untuk mengakomodir keinginan para wisatawan.

Hal itulah yang dilihat  oleh seniman Ropih Amantubillah. Maka sebuah rumah seni yang dinamakannya Rumah Seni Ropih pun didirikan di Jalan Braga.

"Braga adalah kota internasional , banyak tamu negara datang. Belum tentu kalau tempat lain dikunjungi, tapi dengan Braga sudah mewakili," jelas Ropih saat ditemui di Rumah Seni Ropih Jalan Braga.

Rumah  Seni yang baru dibuka Sabtu, 22 Mei ini, menawarkan ragam seni khas Jawa Barat khususnya Bandung. "Banyak wisatawan yang tidak tahu seperti apa kesenian tradisional di Bandung," tutur guru seni rupa di SD Halimun ini.

Tempat yang dipilih salah satu bangunan bernuansa art deco. dengan galeri lukisan sebagai ruang utama di bagian depan. Tapi yang unik adalah pemanfaatan ruang bawah Tanah yang juga masih berfungsi sebagai galeri.

Di sini tak hanya ada lukisan tapi merambah pada seni patung, bahkan Ropih ingin membuat pertunjukan-pertunjukan seni di ruang ini. Dari ruang bawah tanah, menuruni beberapa  anak tangga, terhubung langsung dengan kediaman Ropih yang kelak akan dijadikannya sebagai kampung seni.

Di rumah seninya ini, Ropih ingin menuangkan segala macam kreatifitas dan seni. Tak hanya lukisan, tapi Ropih berharap bisa menjabarkan seni dalam bentuk yang lebih luas.

"Bisa kesenian apapun, bisa tari, musik, seni lukis, atau patung," jelas Ropih.

Maka, dia pun merangkul seniman dari pelbagai aliran seni. Siapapun boleh memanfaatkan  fasilitas yang disediakan Rumah Seni Ropih seperti ruang lukis, ruang tari dan lain-lain.

"Tempat ini terbuka untuk umum, seniman bisa melakukan pameran di sini atau mahasiswa seni yang juga ingin pameran," jelasnya.

Kelak, ujar Ropih, dia ingin menggelar secara rutin acara kesenian di tempat ini. Sehingga wisatawan pun bisa melihat ragam acara di Rumah Seni seluas 1.000 persegi.

"Nanti akan ada seni tradisional, teater, tarawangsa, cianjuran. Tiap minggu akan ada penampilan untuk tamu," ungkapnya.

Bahkan, tambah Ropih, nantinya akan ada sekolah untuk belajar seni musik atau tari tradisional.

(ema/ern)

Wuss! Polisi Bersepatu Roda Meluncur Setiap Weekend

Bandung - Kendaraan wisatawan kerap memadati Kota Bandung setiap weekend. Guna mengurai kepadatan kendaraan yang menyergap di lokasi-lokasi wisata belanja dan kuliner, Satlantas Polwiltabes Bandung menerjunkan polisi bersepatu roda.

"Polisi bersepatu roda ini berpatroli di tempat-tempat yang sering dikunjungi wisatawan. Mereka nantinya bertugas mengurai kemacetan, jelas Wakasatlantas Polwiltabes Bandung Kompol Gondo, saat ditemui di Mapolwiltabes Bandung, Jumat (14/5/2010).

Menurut Gondo, polisi yang berpatroli menggunakan sepatu roda ini sudah dicanangkan saat berlangsungnya peresmian Car Free Day, beberapa waktu lalu. Aksi polisi yang meluncur memakai sepatu roda, kata Gondo, hanya beroperasi setiap weekend atau Sabtu dan Minggu.

"Tim patroli polisi bersepatu roda ini jumlahnya 10 orang. Mereka sebelumnya sudah dilatih atlet sepatu roda asal Bandung," terangnya.

Gondo menambahkan, 10 polisi bersepatu roda bertugas dan menyebar di lokasi objek wisata seperti Jalan Martadinata, Jalan Cihampelas dan Jalan Djuanda. Meski demikian, patroli polisi lalu lintas yang menggunakan roda dua dan empat tetap
menjalankan tugasnya.

"Adanya patroli bersepatu roda mempermudah dan mempercepat waktu mengurai kemacetan. Sebab mereka bisa mudah menembus serta menerobos di sela-sela kendaraan," tutur Gondo.

(bbn/ema)

Pantang Pulang Bila 'Ranjau' Kuda Belum Diangkut


Bandung - Wisata kuda tunggang di Taman Cilaki, Jalan Cisangkuy, Kota Bandung, ramai dikunjungi wisatawan pada akhir pekan. Merengkuh rezeki di tempat sarana umum, sudah seharusnya menjaga keamanan dan kebersihan lingkungan sekitar. Begitu pula yang ditunjukkan para pasukan 'koboi' ini.

Mereka sepakat pantang pulang bila 'ranjau' atau kotoran kuda yang tercecer di aspal jalan belum diangkut. "Semua pemilik kuda yang berada di Taman Cilaki, tak akan pulang kalau jalan dibersihkan karena kotoran kuda. Ini kan jalan umum," jelas Wakil Ketua Sarumpi Saluyu Baru Wisata Kuda Cisangkuy, Wawan alias Ameh (41).

Kesolidan para pemilik kuda ini tertanam sejak aturan organisasi diberlakukan. Mereka mendirikan wadah bernama Sarumpi Saluyu Baru yang beranggotakan sekitar 80 pemilik kuda.

Ameh menjelaskan, lingkungan bersih dan nyaman bakal membuat betah wisatawan. Urusan bersih-bersih kotoran kuda, kata Ameh, pengurus menugaskan tiga orang yang khusus sebagai petugas kebersihan.

"Kalau jalan benar-benar sudah bersih, pemilik kuda merasa tenang saat pulang. Yang membersihkan kotoran, petugasnya ada tiga orang,'' tegasnya.

Jasa kuda tunggang di Taman Cilaki mulai beraktivitas pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Mereka hanya hadir saat Sabtu dan Minggu.

Tiga orang yang dipercayai memungut kotoran kuda itu memiliki jadwal tiga kali dalam waktu weekend. "Jadwal bersih-bersih dilakukan jam dua belas siang, jam tiga sore dan menjelang maghrib," jelas Ameh.
(bbn/ema)

Memacu Si Popeye, Gonzales dan Spongebob


Bandung - Setiap kuda tunggang di Taman Cilaki, Jalan Cisangkuy, memiliki julukan. Ada kuda
bernama Si Popeye, Spongebob, Dewa, Paris, Ronal, Yoyo dan lainnya. Nama nyentrik itu sengaja disematkan sebagai daya tarik pengunjung.

Wakil Ketua Sarumpi Saluyu Baru Wisata Kuda Cisangkuy, Wawan alias Ameh (41) mengatakan, kuda sengaja diberi julukan supaya anak-anak gampang mengenalinya.

"Di tempat ini kan banyak kuda. Diberianya nama, agar pengunjung terutama anak-anak mengingat mengingat kuda yang ditungganginya," terang Ameh kepada detikbandung.

Ameh menambahkan, pemberian julukan digulirkan para pemilik kuda sejak 2008 lalu. Nama kuda tertulis di bagian sadal.

"Nah, pilihan nama kuda merupakan kreatif si pemiliknya. Ada yang ngasih nama tokoh kartun, ada juga memberikan nama orang dan macam-macam lagi,'' ujar Ameh yang kudanya disapa Si Popeye.

Identitas setiap kuda, kata Ameh, bukan sekadar mencari perhatian pengunjung saja. Justru dengan disematkannya julukan, bisa menggaet pelanggan.

"Misalnya ada seorang anak naik kuda Si Popeye minggu ini, nah minggu depan dia bakal mencari Si Popeye lagi. Yang seperti ini sudah sering dirasakan pemilik kuda," ungkapnya sambil menuju sebuah mobil sedan plat B yang di dalamnya ada seorang bocah perempuan memanggil Si Popeye .

Sejenak obrolan terhenti. Ameh mesti bertugas. Sebanyak empat keliling bocah itu asyik naik Si Popeye. Singkat cerita, usai melayani pengunjung, pembicaraan pun dilanjutkan. Ameh tampak lelah.

Ameh menuturkan, anak-anak akan berkesan dan menceritakan kepada teman-temannya soal kuda yang dipilhnya. "Nanti kan mereka cerita ke temannya, sambil mengatakan nama kuda yang ditungganginya," ucapnya.

Jasa tunggang kuda di Taman Cilaki, Jalan Cisangkuy, Kota Bandung, hanya menyapa pengunjung tiap Sabtu dan Minggu. Satu kali putaran mengelilingi Taman Cilaki sejauh sekitar 200 meter ini tarifnya Rp 7.500 per orang. Bila kuda ditumpangi dua orang tarifnya Rp 10 ribu.

Tempat tersebut menjadi salah satu objek wisata keluarga di Kota Bandung yang menjadi primadona wisatawan domestik dan nusantara. Aktivitas para 'koboi' ini digelar mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB(bbn/ema)

Dollar Berlari Kejar Rupiah


Bandung - Hendar Suhendar (33) menawarkan jasa tunggang kuda sejak 2004. Selama itupula dirinya sering gonta-ganti kuda. Kini, bersama Dollar, pria asal Lembang itu mengejar rupiah setiap Sabtu di Taman Cilaki, Jalan Cisangkuy Kota Bandung.

Bapak dua anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar ini sengaja mencari rezeki tambahan untuk kebutuhan keluarga. Dari kawasan Lembang ke Taman Cilaki yang jarak tempuhnya sekitar 10 kilometer, Hendra datang bak koboi.

"Lumayan lah cari sampingan kerja dan tambahan uang. Ini nih, sama si Dollar!" ungkapnya sembari menunjuk kuda Sumbawa berumur 3 tahun yang rambutnya diberi cat merah muda.

Sore itu, Hendar bersandar di pohon besar yang berada di atas trotoar. Matanya terlihat lelah. "Baru lima konsumen yang naik si Dollar," ungkapnya sambil terus melirik ke setiap mobil berplat B.

Kuda miliknya ini bukanlah yang pertama menemani menopang hidup di Taman Cilaki. "Sejak pertama hingga kini, sudah sepuluh kali gonta-ganti kuda," imbuhnya.

Saat bertugas menjadi penyedia jasa kuda tunggang, dirinya terpaksa berlari-lari mengikuti kuda yang sedang membawa konsumen. Satu keliling yang bertarif Rp 7.500 itu jaraknya sekitar 200 meter.

Selagi ramai pengunjung datang, Hendra mampu meraih Rp 250 ribu. Bila sepi, dia mengaku hanya mengantongi Rp 50 ribu. "Begitulah. Tergantung pengunjung kalau memang mau dapat uang lebih," tuturnya.

Namun, tak selamanya jasa seperti ini berjalan mulus. Kisah merugi pun sering dijumpainya. "Ada anak yang naik hingga enam keliling. Tapi sesudah turun,
orangtuanya hanya bayar dua keliling," ujarnya.

"Ah, daripada masalah panjang, lebih baik mengalah," ujar Hendra ketus.

Baginya kisah duka ibarat bumbu kehidupan kala mengarungi suatu pekerjaan. Rasa lelah yang menyertainya mampu terobati saat si Dollar kembali mengantarnya pulang ke rumah.(bbn/dip)

KRCB Dukung Usulan Gua Pawon Jadi Warisan Dunia


Bandung - Koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) Budi Brahmantyo menyambut baik langkah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang telah mengusulkan situs Gua Pawon di Padalarang ke UNESCO agar menjadi salah satu cagar alam warisan dunia.

"Ya bagus sekali, saya mendukung. Karena terus terang, sudah hampir 10 tahun kami berjuang agar Gua Pawon diperhatikan, namun belum mendapatkan perhatian yang lebih," ujar Budi saat dihubungi detikbandung melalui telepon, Selasa (20/4/2010). KRCB merupakan kelompok yang menemukan pertama kali artefak dan fosil di Gua Pawon.

Namun Budi mengaku tak berharap banyak. Sebab, menurutnya untuk menjadi salah satu cagar alam warisan dunia, persyaratannya sangat ketat. "Kita harus ikuti syarat mereka," katanya tanpa merinci syaratnya.

Menurut Geolog ITB ini, untuk melindungi Gua Pawon, tidak mesti situs itu menjadi salah satu cagar alam warisan dunia. "Cukup tingkat nasional saja, itu sudah cukup, asalkan diperhatikan," jelas Budi.

Selama ini, pengelolaan Gua Pawon belum maksimal. "Banyak yang concern, tapi pengelolaannya sama tetap belum mendapatkan perhatian lebih," ujar Budi.

"Ya tapi mudah-mudahan bisa masuk jadi warisan dunia. Kali saja kalau sudah masuk, dapat perhatian dari pemerintah," katanya.

Sekjen dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Soeroso M.P mengatakan telah mengusulkan Gua Pawon menjadi salah satu cagar budaya warisan dunia ke UNESCO.

Alasan Gua Pawon ditawarkan menjadi cagar alam dunia adalah karena karst Citatah yang berada di lokasi Gua Pawon memiliki ciri khas karst dari Indonesia. Selain itu fosil penguhuninya dinilai langka.
(ern/ern)

Serasa 'Offroad' di Jalan Braga


Bandung - Berbicara mengenai alih fungsi Jalan Braga menjadi kawasan pedestrian tidak akan pernah selesai. Sepanjang jalan yang berganti rupa dengan batu andesit kini terlihat
hancur dan bergelombang.

Dari pantauan detikbandung, memasuki jalan Braga dari simpang Jalan Naripan, pengendara dibawa berguncang dengan bebatuan yang terlihat amblas.

Terus bergerak ke depan menyusuri jalan tersebut, tepat di depan Restoran Maison Bogerijon yang sekarang bernama Braga Permai, amblasan batu terlihat dalam dan sebagian tertutup pasir. "Sudah sebulan lebih kayak gitu," kata Darmo (57), petugas parkir, saat ditemui detikbandung, Rabu (14/4/2010).

Pasir, jelas Darmo, adalah penambal sementara. Sebelum ditambal, kedalaman amblasan tanah kurang lebih berkedalaman 15 centimeter. Ia dan warga sekitar berinisiatif menambal amblasan jalan karena khawatir membahayakan pengguna jalan yang melintasi jalanan sepanjang kurang lebih 350 meter sampai dengan persimpangan Jalan Tamblong.

Terlihat beberapa motor berupaya menghindari jalanan rusak tersebut. Bukan hanya itu, tak jauh dari pintu masuk mal Braga City Walk, jalanan terlihat 'ompong'.  Batu yang didatangkan dari Malang itu kini tidak mengisi padat badan jalan. Belum lagi suara gemerutuk batu andesit yang longgar saat dilalui kendaraan.

Sejak 2005 sampai 2007, Pemkot Bandung telah melakukan revitalisasi di kawasan Braga. Diawali dari perbaikan kanan-kiri trotoar dengan melandaikan dan melebarkannya 0,5 meter, penanaman 81 tanaman hias jenis Karet Benggol dan penggantian lampu hias.

Di Tahun 2008, revitalisasi dilakukan pada upaya pengembalian bentuk arsitektural bangunan dengan pengecatan warna putih, penataan reklame. Lalu jalanan aspal diganti oleh batu andesit. Rencananya pergantian material jalan itu, untuk mengfungsikan kembali Jalan Braga menjadi kawasan pejalan kaki atau pedestrian. Khusus untuk penggantian material jalan ini, dana yang dihabiskan mencapai Rp 1,8 miliar.

Di awal rencananya, Pemkot menggembar-gemborkan rencana menjadikan Braga sebagai kawasan khusus pejalan kaki. Agar menarik banyak pengunjung, gedung-gedung tempo dulu yang sudah lama ditinggalkan, akan difungsikan kembali. Konsep kawasan Braga nantinya berupa 'Braga City Walk', yang nantinya akan diisi dengan wisata kuliner, cinderamata, pameran hasil karya seniman Bandung, khususnya seni lukis dan pahat, serta pagaleran kesenian musik tempo dulu dan tradisional.

Namun antara rencana Pemkot dan realisasinya dinilai anggota dewan 'jauh panggang dari api'. Anggota dewan pun menuntut Pemkot harus bertanggung jawab, karena dana yang dihabiskan sudah sangat besar..(ahy/dip)

Disparbud Ingin Sukamiskin Jadi Tujuan Perjalanan Agen Wisata


Bandung - Dicanangkannya penjara Sukamiskin sebagai tempat bersejarah Kota Bandung tentunya akan menjadi daya tarik wisatawan yang singgah. Untuk itu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bandung meminta agen perjalanan wisata untuk memasukan Sukamiskin sebagai salah satu tujuan wisata.

"Tentu akan dimasukan sebagai tujuan wisata. Ke beberapa agen akan diminta untuk menjadi tujuan perjalanannya, kan sayang orang akan banyak datang," ujarnya." kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung Priana Wirasaputra di sela peresmian Law Center, di Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan HAM Jabar, Jalan Jakarta, Rabu (17/3/2010).

Ia menambahkan, dipilihnya penjara Sukamiskin sebagai bangunan cagar budaya karena pernah ditempati Presiden pertama Soekarno. Meski akses akan dibuka lebar untuk setiap pengunjung yang ingin mengetahui ruang tempat Soekarno dipenjara, pihaknya belum membicarakan secara teknis.

"Setelah MoU akan segera dibicarakan, tidak lama dari itu," paparnya.

Nantinya pengelolaan akan diserahkan kepada Kanwil. "Kita (Disparbud-red) membantu memprimosikannya, karena ada di wilayah kita," imbuh Priana.

(ahy/avi)

Asal Usul Kawasan Ledeng


Bandung - Dulu, di kawasan Desa Sayang Caak (Sarang Gagak) terdapat pipa-pipa aliran air yang tersambung hingga Jalan Sersan Bajuri. Alasan itulah yang kemudian membuat warga menamakan kawasan tersebut dengan nama Ledeng.

Hal itu dikemukakan seorang warga setempat bernama Harun (72). Desa Sayang Caak berada dekat kawasan Terminal Ledeng. Disebut Sayang Caak karena banyak pohon-pohon beringin yang dijadikan sarang burung gagak.

"Dulu di Desa Sayang Caak ada pipa-pipa besar untuk aliran air," tutur Harun. Menurut Harun kemungkinan pipa itu sudah dibangun di zaman Belanda karena ketika dirinya lahir di tahun 1938 pipa-pipa tersebut sudah ada.

Menurut Harun pipa-pipa besar itu dipasang hingga ke Jalan Sersan Bajuri. Kala itu karena jalan masih tertutup tanah, kendaraan tidak diperbolehkan melintas. "Dulu mobil tidak boleh lewat takut pipanya meledak," jelas Harun.

Tapi setelah Jalan Sersan Bajuri di hot mix dan dijadikan jalan alternatif maka kendaraan pun bebas untuk melintas. Menghubungkan antara Ledeng, Parongpong dan Cikalong Wetan. Meski begitu hingga saat ini kawasan tersebut tetap dikenal dengan nama Ledeng.

Kawasan Ledeng merupakan daerah perlintasan yang menghubungkan Bandung, dari Jalan Setiabudhi menuju Kabupaten Bandung Barat yaitu Lembang dan wilayah Parongpong.

Kawasan Jalan Setiabudhi, Lembang maupun Parongpong merupakan kawasan yang sering dituju oleh wisatawan. Banyak tempat wisata terutama wisata alam di Lembang dan Parongpong yang bisa dikunjungi wisatawan.

Misalnya di Jalan Setiabudhi, sudah disuguhi dengan kawasan wisata belanja kuliner dan FO seperti Rumah Mode disusul sederetan wisata lainnya yang didominasi dengan wisata kuliner seperti Suis Butcher, Serabi Enhaii atau Serabi Imut, Cafe Dd Chocolate, Kampung Bakso, Rumah Sosis dan lain-lain.

Di kawasan Lembang menyambut pasar kelinci hias, kuliner dari kelinci seperti sate, jagung dan ketan bakar, Kawasan Wisata Tangkuban Parahu, Tahu Lembang, The Ranch, dan lain-lain.

Sedangkan di kawasan Parongpong ada Taman Bunga Cihideung, Fantasia, Kampung Daun, Sapu Lidi, wisata alam Nature Hill, wisata brokoli petik sendiri dan lain-lain.
(ema/lom)

Cipaganti Berganti-ganti Penghuni


Bandung - Membelah dua kecamatan yaitu Kecamatan Sukajadi dan Kecamatan Coblong, Jalan Cipaganti tampak asri dibawah naungan pohon-pohon rimbun yang menjulang. Bangunan-bangunan peninggalan kolonial yang begitu khas dengan atap menjulang, menjadi satu pertanda Jalan Cipaganti memang sarat akan sejarah.

Keberadaan Masjid Cipaganti sebagai salah satu bangunan warisan masa Hindia Belanda itu, makin mengokohkan nilai sejarah Jalan Cipaganti.

Meski tak semua bangunan itu masih utuh sebagai bangunan bersejarah. Sebagian diantaranya kini berganti wajah menjadi bangunan megah dengan arsitektur yang lebih modern. Sebagian lagi, hanya diubah beberapa bagian dengan kekhasan masa kolonial tetap dipertahankan.

Pergantian wajah bangunan Jalan Cipaganti ini tentu tak lepas dari siapa penghuninya, karena setiap rumah tergantung tuannya.

Uju Dimyati (68) pengurus Masjid Cipaganti mengisahkan, dulu rumah-rumah tersebut dihuni oleh orang-orang Belanda. Suasana Jalan Cipaganti saat ditinggali oleh orang Belanda jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Tidak ada keramaian bahkan tak diperbolehkan bunyi apapun kala tuan-tuan Belanda ini tidur siang.

"Menurut cerita orang tua dulu. Saat Belanda di sini kalau waktu tidur siang sekitar pukul 11.00-12.00 WIB jarang sekali ada mobil. Tidak boleh ada bunyi apapun. Bahkan suara tukang patri (las besi-red) saja tidak boleh ada," terang Uju yang sudah menjadi pengurus masjid sejak 1963.

Saat itu, tutur Uju, jalan sudah beraspal tapi pohon-pohon belum setinggi dan serimbun sekarang. Dulu tidak diperbolehkan ada papan iklan atau bentuk spanduk promosi lainnya di Jalan Cipaganti ini.

Setelah terjadi nasionalisasi aset-aset milik Belanda, kepemilikan rumah di Jalan Cipaganti pun berubah. Menurut Uju setelah Belanda pergi dari Bandung, para pejabat pemerintah dan militer lah yang kemudian mendiami rumah-rumah di kawasan Cipaganti.

"Tidak tahu bagaimana prosesnya tapi rumah-rumah ini ditempati oleh pejabat atau dari militer," jelasnya. Sampai akhirnya rumah tersebut pun dijual agar bisa dibagi-bagikan ke anak-anaknya sebagai harta warisan.

Uju menjelaskan dirinya sempat menjadi saksi salah seorang penghuni rumah yang berasal dari militer, akhirnya harus menjual rumahnya untuk dibagikan kepada anak-anaknya.

Maka kepemilikan pun beralih lagi. Rata-rata rumah-rumah tersebut dijual kepada warga keturunan Tionghoa. Sampai saat ini menurut Uju hampir semua rumah peninggalan Belanda di pinggir jalan Cipaganti dihuni oleh warga keturunan Tionghoa. Rumah-rumah itu pun sebagian diantaranya diubah dari bangunan aslinya.

Meskipun awalnya diperuntukan sebagai rumah tinggal. Tidak semua rumah di Jalan Cipaganti ini dihuni keluarga. Ada juga yang dijadikan perkantoran atau hotel. Bahkan ada pula yang dibiarkan rusak tidak terpelihara.

Di kawasan ini bisa ditemukan beberapa hotel untuk menginap para pelancong berdiri seperti Nyland Hotel, Puri Cipaganti Hotel atau Nirmala Hotel yang menggunakan bangunan zaman Belanda. Di sebelah Puri Cipaganti Hotel berdiri radio anak muda yaitu Ardan.

Kuliner sajian di Jalan Cipaganti, ada Ayam Goreng Suharti di penghujung Jalan Setiabudhi, Baso Malang dan suguhan iga Si Jangkung di dekat Masjid Cipaganti atau ayam goreng Dahapati di depan pom bensin Cipaganti.

Di Persimpangan antara Jalan Cipaganti dan Jalan Eijkman, kios Martabak Liana yang menyuguhkan es oyen dan bubur ayam Pak Gober bisa ditemukan. Di samping kios Martabak Liana, toko kaset antik untuk para penggemar musik era 60-an sampai 90-an bisa juga dijelajahi. Selain itu, untuk penggemar keramik ada bursa keramik yang bisa disambangi.

Dari Jalan Cipaganti anda bisa menembus keramaian Jalan Cihampelas atau lurus terus menuju Jalan setiabudhi. Hati-hati karena setiap sore arus lalu lintas di Jalan Cipaganti disergap macet. Angkutan umum yang melalui jalan ini adalah jurusan Kalapa-Ledeng, Cicaheum-Ciroyom, St. Hall-Ciumbuleuit dan Margahayu-Ledeng.
(ema/ern)

Mantan Bupati Bandung Ke-6 Gantikan Jalan Cipaganti


Bandung - Butuh waktu yang cukup lama untuk membiasakan masyarakat Bandung menyebut Jalan Cipaganti dengan Jalan A A Wiranatakusumah. Mungkin pula tidak banyak yang tahu siapakah A A Wiranatakusumah ini.

Meskipun dalam beberapa literatur disebutkan penulisan namanya bukan Rd A A Wiranata Kusumah tapi R A Wiranatakusumah.

R A Wiranatakusumah (1794-1829) adalah Bupati Bandung ke-6 yang disebut-sebut sebagai pendiri Kota Bandung atau founding father. Bupati beserta rakyatnya pernah tinggal di Cikalintu yang ada di kawasan Cipaganti sekitar akhir tahun 1808. Perpindahan ini bagian dari proses pembentukan ibukota Bandung.

Awalnya tinggal di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot). Setelah dari Cikalintu pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampung Bogor (Kebon Kawung yang sekarang pada lahan Gedung Pakuan sekarang).

Pembangunan Kota Bandung dipimpin langsung oleh Bupati R A Wiranatakusumah. Kota Bandung sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung diresmikan 25 September 1810.(ema/afz)

Radio City yang Kini Mati


Bandung - Seorang lelaki tua penjaga kios rokok dan minuman Didi Wijaya (80) terduduk sambil menunggu pelanggan di depan gedung bersejarah ini. Dia mengungkapkan, dulu dirinya pernah menjadi saksi pembangunan gedung ini.

Radio City, demikian dituturkan Didi nama awal gedung ini ketika dibangun. Terletak di pusat kota antara Jalan Dalem Kaum, Jalan Balong Gede dan bersebelahan dengan Gedung Pendopo. Gedung ini, awalnya berfungsi sebagai bioskop.

Menurut catatan sejarah gedung ini menjadi gedung bioskop peninggalan kolonial yang masih bertahan sampai saat ini, selain gedung Asia Afrika Culture Center (AACC) bekas bioskop Majestic.

"Ayeuna mah jadi tempat futsal (Sekarang jadi tempat futsal-red)," tutur Didi seolah menyesalkan pengalihan fungsi bangunan tersebut. Menurut Didi gedung ini dijadikan tempat futsal sejak lima tahun yang lalu.

Didi yang sudah berjualan dari tahun 1945 di kawasan ini, berpendapat bermunculannya gedung-gedung bioskop baru di Bandung membuat bioskop ini sepi pengunjung sampai akhirnya mengalami kebangkrutan.

Kini Radio City bernama Dian Kancana Futsal Club. Dibangun pada tahun 1923 oleh C.P. Wolff Schoemaker dengan gara arsitektur Art Neveau (Indo Europeeschen Arshitectuur Stijl).

Gedung yang dibangun di atas tanah seluas 1.105 meter persegi ini, dulunya milik orang Belanda bernama Bussye. Setelah ada gerakan nasionalisasi perusahaan Belanda, pengelolaannya di bawah Perusahaan Daerah Jasa dan Kepariwisataan.

Menurut Asep (31), penjaga gedung Dian Kencana, gedung ini disewakan pada pengusaha swasta. Setiap harinya banyak warga sekitar yang menyewa tempat ini untuk kegiatan futsal dengan tarif Rp 65 ribu per jam.

Dikatakan Asep, untuk masalah perawatan diserahkan kepada pihak penyewa. "Pemeliharaan yang pernah dilakukan adalah pengecatan bagian luar gedung," tutur Asep.

Dari luar, bangunan ini terlihat tidak terpelihara dengan baik. Terlebih ketika memasuki bagian dalam gedung. Saat tidak ada kegiatan futsal, suasana gedung cukup mencekam dengan langit-langit atap yang bolong-bolong. Menaungi lapangan futsal yang luas dengan dua gawang terpasang di bagian tepi.

Sebelum menuju balkon, tampak tanda-tanda bahwa gedung tersebut pernah jadi bioskop. Sebuah papan nama penunjuk pemutaran film masih terpasang di dinding.

Naik menuju balkon lebih menunjukan sosok bangunan tua tak terawat. Cat-cat terkelupas, kotor dan beberapa tumpukan sampah di beberapa bagian. Rasa mencekam kian menguat apalagi dengan pencahayaan ruangan yang begitu kurang. Tampak menyeramkan.
(ema/ern)

Redupnya Primadona Kelom Geulis


Bandung - Dulu, mojang priangan tidak dikatakan nge-tren kalau tidak memakai Kelom Geulis Keng. kini pasar pun mulai sepi berganti dengan tren lain yang berputar tak henti. Kelom geulis jarang diminati.

Tapi Kelom Geulis Keng tetap bertahan sebagai satu-satunya toko kelom geulis di Bandung sejak tahun 1942.

Adalah Yukim (61) yang meneruskan usaha kelom geulis yang dirintis sang kakek yaitu Keng. Keng, hijrah dari Tasik ke Bandung tahun 1940-an yang bertepatan dengan masa penjajahan Jepang.

Tahun 1942 mulailah Keng merintis usaha kelom geulis di Jalan Pecinan lama karena Keng termasuk warga keturunan Tionghoa.

"Tahun 50-an adalah zaman keemasan Kelom Geulis Keng. Saat itu model-modelnya jadi tren. Siapa yang tidak memakai Kelom Geulis Keng disebut ketinggalan zaman," tutur Yukim.

Yukim menuturkan saat itu, kelom geulis dipakai utuk mempercantik busana kebaya. Penggunanya biasanya turut melengkapinya dengan payung Tasik.

Kelom Geulis Keng pun mengalami pasang surut dalam perjalanannya. Sekitar tahun 80-an toko Keng pun pindah dari Pecinan lama ke Cihampelas. Yukim mengaku Cihampelas memang tempat tinggal mereka sejak dulu namun membuka toko di Pecinan.

Di tahun ini usaha kelom geulis dimulai lagi dari nol. Menurut cerita Yukim dalam pasang surut tadi ada banyak kendala bagi perkembangan Kelom Geulis Keng termasuk faktor tren. Bahkan selama sepuluh tahun Kelom Geulis Keng pernah menghilang dari peredaran.

Berbekal semangat, Yukim pun mneruskan usaha ini karena dirinya tidak ingin mengerjakan sesuatu setengah-setengah. "Apa yang dikerjakan harus dijiwai. Semua tidak bisa instan," ujar Yukim.

Kini dengan menggunakan pola manajemen keluarga Yukim pun menjalankan usaha ini. Meski tak lagi menjadi primadona karena digempur oleh banyak pesaing Kelom Geulis Keng mencoba untuk terus eksis. Berharap kejayaan zaman keemasan bisa dikembalikan.(ema/afz)

Jalan Pasteur, Gerbang Penyambut Para Pelancong


Bandung - Tercatat tiga bangunan peninggalan zaman kolonial berdiri di jalan ini, yaitu Rumah Sakit Hasan Sadikin, kantor BUMN PT Biofarma, dan Panti Asuhan Dana Mulya. Satu diantaranya menjadi cikal bakal penamaan jalan, yang menjadi jalur utama para pelancong Jakarta untuk pelesir di Parisj Van Java.

Jalan Pasteur. Apa yang anda pikirkan ketika melewati Jalan ini? Pernahkah terpikir dari mana nama Pasteur ini berasal. Setiap nama memang punya cerita, begitu pun untuk sebuah jalan.

Mungkin tak pernah terpikir bahwa nama Jalan Pasteur terkait dengan keberadaan Bio Farma di Jalan Pasteur No 28. Menurut Rizki W Soemadipradja, Dosen Hukum Pranata Pembangunan Arsitektur Itenas, nama Pasteur diambil dari nama ahli kimia dan biolog Perancis Louis Pasteur yang mengembangkan tekhnik pasteurisasi.

Biofarma, ungkap Rizki, adalah salah satu lembaga yang mengembangkan vaksin yang dasar penemuannya dari Louis Pasteur. Nama Pasteur sendiri menjadi lekat karena Bio Farma pernah menyandang kata Pasteur di belakang namanya.

Bio Farma didirikan 1890, yang kala itu bernama Landskoepok Inrichting en Instituut Pasteur. Nama tersebut pun diubah oleh pemerintah Indonesia ketika terjadi nasionalisasi perusahaan Belanda antara tahun 1955-1960. Hingga akhirnya dari tahun 1997 sampai sekarang menjadi Badan usaha Milik Negara (BUMN) dalam bentuk Perseroan Terbatas (PT).

Selain tiga bangunan bersejarah banyak tempat yang menarik di sepanjang Jalan Pasteur. Terlebih jika terus menelusuri Jalan Terusan Pasteur atau Jalan DR Djunjunan yang membelah Jalan Pasirkaliki ini.

Keberadaan tol Cipularang yang mempersempit jarak antara Bandung dan Jakarta, membuat jalan ini seperti gerbang selamat datang sekaligus selamat jalan. Lihat saja di sepanjang jalan tawaran wisata belanja kuliner begitu menggiurkan.

Beberapa puluh meter dari gerbang tol, kelezatan ikan pesmol Cianjur langsung menyambut. Rupa-rupa rumah makan Sunda, dengan ciri khasnya masing-masing akan membuat anda pusing untuk menentukan.

Misalnya rumah makan Manjabal, Saung Kabayan, Raja Sunda, Warung Cepot, Rumah Makan Oneng, Rumah Makan Wibisana, Griya dahar Ibu Kadi di mana Surabi Imut sudah menyambut di muka gerbang atau Grobak Rakyat di dalam kemegahan Giant Hypermarket yang juga menyajikan makanan tradisional. Kangen dengan yoghurt? Tak perlu jauh ke Jalan Aceh, BMC sudah membuka cabangnya di Jalan Terusan Pasteur beberapa bulan lalu.

Ingin makanan yang lebih eksotis? Rumah Makan Naya menyediakan olahan daging ular selain menu utama lainnya yaitu Chinese Food. Untuk yang hobi makan fast food tentunya bisa menikmati beberapa tempat makan fast food di Bandung Trade Center. Beberapa rumah makan lainnya pun bisa menjadi pilihan dengan kekhasan masing-masing. Tentunya disesuaikan dengan selera anda.

Beberapa hotel seperti Grand Aquila, Hotel Nyland atau Topaz Galeria Hotel bisa menjadi pilihan bermalam agar lebih dekat menuju tol Cipularang. Jika akan pulang, deretan penjual oleh-oleh sudah menyambut ketika turun dari jembatan Pasupati.

Tapi anda harus cukup berhati-hati, arus kendaraan di jalan ini bisa terbilang cukup kencang. Meski ada zebra cross sebaiknya pilih jembatan penyeberangan agar lebih aman. Untuk berjalan-jalan di Kota Bandung, sederetan taksi selalu siap di sepanjang jalan ini untuk menghantarkan anda menuju tempat asyik lain di Kota Bandung.
(ema/ern)

Ngabuburit Lihat Bandung dari Atas Menara


Bandung - Bandung diriung ku gunung. Untaian pegunungan yang mengelilingi Bandung itu bisa dilihat meski dari kejauhan dari balik jendela menara Masjid Alun-alun Bandung. Tak hanya itu, dari atas sana mata seluas mata memandang panorama Kota Bandung terlihat dari barat ke timur juga utara ke selatan.

Kendaraan yang lalu lalang begitu pun para pejalan kaki terlihat begitu kecil. Gedung-gedung tinggi yang biasanya membuat wajah tengadah untuk melihat seolah menjadi begitu kerdil.

Begitulah wisata murah meriah yang ditawarkan Masjid Alun-alun Bandung melalui menaranya. Meski tak setinggi menara Petronas di Malaysia, wisata ini bisa jadi alternatif tempat ngabuburit.

Jika di luar bulan ramadan wisata menara tersebut hanya dibuka akhir pekan, selama bulan ramadan warga Bandung bisa setiap hari berkunjung sambil ngabuburit.

Seperti yang dilakukan Santosa (44) warga Antapani yang seringkali sengaja datang untuk berwisata di tempat ini. Sore itu, Santosa mengajak putrinya yang berusia 9 tahun untuk menunjukan wajah Bandung dari atas menara.

"Selama ramadan saya sudah empat kali ke sini sambil ngabuburit," ujar Santosa. Namun di luar ramadan pun Santosa mengaku cukup sering datang berkunjung bersama keluarga.

"Ya, wisata murah meriah lah. Lumayan bisa lihat Bandung dari atas sini," ujarnya sambil menunjuk satu tempat pada putrinya.

Bagaimana tidak murah meriah, hanya dengan Rp 2.000 untuk orang dewasa dan Rp 1.000 untuk anak kecil, pengunjung bisa melewatkan waktu sambil menunggu bedug maghrib tiba.

Menurut penjual karcis Wisata Menara Masjid Agung Yayat Ruhiyat (31) pengunjung di hari biasa bulan puasa bisa mencapai 200 orang sedangkan di akhir pekannya bisa mencapai 300 sampai 400 orang. Penggemar wisata ini tak hanya warga Bandung tapi juga warga luar Bandung terutama saat akhir pekan

"Kalau di luar ramadan hanya buka akhir pekan pengunjung sekitar 200 orang," tutur Yayat. Menurut Yayat kebanyakan pengunjung memanfaatkan wisata rohani di menara Masjid Agung sambil ngabuburit.

Meski sudah dibuka sejak pukul 10.00 WIB, para pengunjung mulai ramai mendekati waktu buka puasa sekitar pukul 17.00-17.30 WIB. Jika pengunjung ramai, hanya diberi waktu 15 menit saja untuk menatap Kota Bandung dari atas menara. Tapi jika sepi maka bisa sepuasnya berwisata sambil bersantai.

Menurut Yayat menara setinggi 87 meter ini sudah ada sejak tahun 2003 bersamaan dengan selesainya pembangunan Masjid agung. Namun ramadan kali ini menara yang digunakan hanya menara bagian selatan karena menara utara sedang dalam perbaikan.

Untuk menuju menara, pengunjung akan diantarkan melalui lift yang dijaga seorang operator. Setelah sampai di lantai 19, pemandangan Kota Bandung segera menyambut dari balik jendela di sekeliling menara yang membulat. Pemandangan Bandung yang dikelilingi oleh gunung-gunung pun dipandang sejuk meski dari kejauhan.(ema/ern)

Swarha, Gedung Tua yang Salahi Tata Ruang


Bandung - Keberadaan gedung Swarha di Jalan Asia Afrika sebagai salah gedung tua yang di Bandung dinilai tidak cocok dengan konsep tata ruang. Tak hanya itu, gedung tua ini pun tak punya nilai sejarah.

Tidak hanya itu, Head of Natural & Build Environmet Bandung Heritage, Dibyo Hartono menyampaikan, dari sisi sejarah, bangunan tersebut dianggap tidak terlalu bersejarah, tidak terlalu memiliki arsitektur tinggi dan tidak terlalu bagus.

Memandang persoalan gedung tua seperti halnya gedung Swarha harus dilihat dari UU Pelestarian Cagar Budaya. Di mana untuk bangunan yang usianya lebih dari 50 tahun memang harus diperhatikan mengenai perawatan dan pemeliharaannya. Namun belum tentu gedung tersebut masuk sebagai bangunan cagar budaya.

"Untuk orang bule, bangunan yang berada di pojok jalan tidak cocok dengan tata ruang," ujar dosen ITB ini.

Bangunan Swarha yang semula difungsikan sebagai hotel tersebut, menurutnya tidak memiliki ruang terbuka seperti halnya kantor pos Bandung atau Hotel Homan yang juga terletak di Jalan Asia Afrika.

"Gedung Swarha terlalu mepet dengan jalan. Dengan bentuk bangunan seperti itu tidak cocok dengan tata ruang," jelasnya.

Lagipula, sambung Dibyo, dilihat dari sisi sejarah bangunan ini tidak terlalu memiliki nilai sejarah. Hanya sedikit terkait dengan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika 1955. Saat itu, gedung ini dijadikan hotel untuk menginap para tamu undangan dan wartawan yang meliput KAA.

Sebaiknya, lanjut Dibyo, gedung tersebut dihancurkan saja dan dibangun sebagai perluasan Masjid Alun-alun Bandung. Meski disayangkannya bahwa hal itu tidak terjadi karena kini Mesjid Agung diperluas dengan mengambil area taman Alun-alun.

Gedung swarha yang terletak di Jalan Asia Afrika di depan Kantor Pos Besar Bandung saat ini memang dalam kondisi tidak terawat.

Hanya lantai bawah yang diisi oleh pedagang terutama pedagang sandang. Lantai lainnya dibiarkan kosong dengan kondisi cat yang mengelupas, beberapa kaca jendela pecah dan bolong. Hingga saat ini gedung tersebut masih berdiri tanpa sentuhan untuk membuat gedung ini lebih berarti.(ema/ern)

Bermain dan Melepas Penat di Taman Ganesha


Bandung - Rimbunnya daun-daun pohon filicium begitu meneduhkan di tengah panasnya cuaca Bandung. Semilir angin yang meninabobokan berpadu dengan kicauan burung menawarkan rasa betah.

Beberapa orang terlihat asyik dengan kegiatannya di bangku-bangku Taman Ganesha. Ada yang serius di depan laptop, ada sekelompok orang yang bercengkerama.

Di satu sudut terlihat ada yang pasangan yang tampak asyik bercengkrama, ada juga yang sengaja tiduran di atas bangku, bahkan beberapa mahasiswa ITB terlihat memainkan gitar untuk menikmati sejuknya suasana. Di kolam air mancur, yang air mancurnya tak memancar, beberapa orang tengah asyik memancing.

Tiga orang bocah begitu asyik mengayuh sepeda mengelilingi jalur-jalur yang ada di Taman Ganesha. Sesekali tawa riang keluar dari mulut mereka. Hudan (10) dan kedua kawannya hampir setiap hari melewatkan waktu untuk bersepeda di Taman Ganesha. Hudan mengaku biasanya mereka bersepeda usai pulang sekolah pukul 13.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB.

Dia mengaku lebih menyukai bersepeda di taman daripada bermain play station atau permainan lainnya. "Bersepeda biar sehat," tutur siswa kelas 4 SD itu dengan terengah-engah.

"Di sini juga sejuk," timpal kawannya yang lain, Nadir. Nadir mengaku senang bisa bermain di Taman Ganesha ini, karena selain sejuk juga jalur-jalurnya pas untuk bermain sepeda.

Di sudut lain, Adi (31), terlihat sedang memijit-mijit tombol laptop dengan serius.

"Ya, baru bulan puasa saja saya ke sini karena waktunya lebih luang. Tempat ini pas lah untuk sejenak menenangkan pikiran," ucap pria yang berprofesi sebagai konsultan ini sambil tersenyum.

Adi mengaku biasanya dia datang ke Taman Ganesha dari pukul 13.00 WIB sampai menjelang ashar. "Ya sekalian shalat di Masjid Salman," jelasnya.

Adi menyayangkan, saat ini taman kota di Kota Bandung sangat kurang. Padahal keberadaannya begitu penting di tengah penting. Selain sebagai paru-paru kota juga bisa menjadi alternatif tempat untuk bersantai.

Seperti Taman Ganesha yang ternyata menjadi ruang publik yang nyaman untuk rekreasi dan melepas penat. (ema/ern)

Pasar Baru, Pusat Belanja Sejak Dulu Kala


Bandung - Memposisikan sebagai kota wisata belanja dengan FO dan distronya tak membuat pusat-pusat perbelanjaan lainnya di Bandung surut pengunjung.

Pasar Baru yang terletak di Jalan Otto Iskandar Dinata misalnya sampai saat ini masih menjadi tujuan masyarakat Bandung untuk mencari barang-barang murah meriah sampai kelas kakap.

Secara historis Pasar Baru pernah tercatat sebagai pusat perekonomian di Bandung pada abad ke-19. Dalam catatan Bandung Heritage, Pasar Baru dibangun pada tahun 1896. Saat itu digunakan untuk menampung pedagang yang membuka usahanya di sekitar Alun-alun dan Sumedangweg yang sekarang dinamakan Jl. Otista.

Hingga tahun 1926, Pasar Baru terdiri dari bangunan semi permanen dan kumuh. Namun kekumuhan itu segera berganti seiring dengan pesatnya pertumbuhan kawasan Stasiun yang berada di dekatnya. Pada tahun tersebut didirikanlah bangunan pasar yang baru.

Dengan berdirinya bangunan baru tersebut kawasan ini pun tumbuh menjadi tempat favorit warga kota untuk bersantap malam dan berbelanja. Pasar ini pernah dijuluki sebagai pasar terbersih di Nusantara pada tahun 1936.

Perombakan kembali terjadi di tahun 70-an. Pasar diubah menjadi bangunan bertingkat. Namun sayang banyak ruang-ruang bangunan yang kurang dimanfaatkan dengan baik sehingga jadi ruang terabaikan.

Akibatnya, akhir tahun 90-an, bangunan Pasar Baru dikenal sebagai tempat yang kumuh dan tidak terawat. Barulah pada tahun 2004 pasar baru mengalami perombakan menjadi pasar semi modern dengan nama Pasar Baru Trade Center.

Diakui Supervisor Promotion Pasar Baru Trade Center, G. Suga Setia bangunan pasar baru mengalami perombakan sebanyak tiga kali. Sampai akhirnya sekarang pasar baru sudah menjejakan sebagai pasar tradisional yang modern.

"Saat ini Pasar Baru sudah memasuki generasi ke-4 dengan tiga kali renovasi. Terakhir Agustus 2003," tutur Suga.

Sebelumnya, tutur Suga, Pasar baru masih kumuh dan becek kini sudah disetarakan sehingga konsepnya pun berubah menjadi trade center.

Terdiri dari 12 lantai dengan luas keseluruhan 10 hektar. Di mana lantai 1-5 yang efektif untuk perniagaan sandang sedangkan lantai 6 untuk food court. Basement 1 dan basement 2 digunakan untuk pasar tradisional. Sedangkan Lantai lainnya digunakan untuk mushola dan parkir.

"Meski sudah modern kami tidak ingin menghilangkan konsep pasar tradisionalnya," ujar Suga. Saat ini, tak kurang dari 3.000 pedagang bernaung di Pasar Baru.

Berbagai komoditi menjadi produk-produk yang dijual untuk menarik konsumen. "Kami masih memposisikan sebagai tempat yang menjual barang kualitas harga murah dari mulai kelas teri maupun kelas kakap," ungkap Suga.

Dituturkan Suga, transaksi yang terjadi dalam satu hari bisa mencapai Rp 1 miliar. "Rata-rata para pedagang di sini bisa menghasilkan omzet Rp 3- 5 juta per harinya," tambah Suga.(ema/afz)

Sepenggal Cerita Babakan Siliwangi


Bandung - Papan nama usang berwarna biru muda yang pudar disertai warna karatan di beberapa bagian terpancang dengan tulisan Rumah Makan Babakan Siliwangi sedikit bersembunyi di balik dedaunan. Namun papan inilah yang menunjukan kawasan ini sebagai Babakan Siliwangi, paru-paru kota yang selalu menuai kontroversi.

Rumah makan ini berdiri di lahan yang disebut Lebak Siliwangi. Akibat kebakaran tahun 2003 lalu, yang tertinggal hanya reruntuhan.

Berada di persimpangan Jalan Cihampelas, Jalan Ciumbuleuit, dan Jalan Tamansari. Dari luar tak tampak seperti tempat wisata. Tukang tambal ban menyambut kedatangan kala memasuki kawasan ini. Kemudian kios kecil dengan baju-baju bergelantungan di tali jemuran.

Menuruni beberapa anak tangga atau tanah yang melandai sampai pulalah di Jalan besar yang menghubungkan Jalan Cihampelas dan Jalan Ganesha. Jalan yang diapit oleh rimbunnya pepohonan.

Dua galeri seni berdiri berdampingan. Di kedua galeri yaitu Mitra Art Center dan Sanggar Olah Seni (SOS) ini tampak beberapa orang tengah memulaskan warna di atas kanvas. Mungkin hanya dua galeri inilah yang masih memberikan identitas bahwa tempat ini sebuah kawasan wisata.

Menurut Ketua SOS, Syarif Hidayat asal mula nama Lebak Siliwangi adalah Lebak Gede. Walikota Bandung saat itu, Otje Djunjunan melihat kawasan Lebak Siliwangi potensial untuk dijadikan tempat wisata.

Maka pada tahun 1970-an dibuatlah rumah makan dengan nama Rumah Makan Babakan Siliwangi. Dari sana pula pemerintah Jawa Barat melihat wisata lainnya. Maka atas gagasan seniman Popo Iskandar, Barli, Tony Yusuf dan seniman lainnya Sanggar Seni SOS didirikan pada 1982. Peresmiannya dilakukan oleh Menteri Pariwisata saat itu Jove Ave.

Kedua galeri ini menawarkan pembelajaran dan pembinaan akan seni, tak hanya seni rupa tapi juga teater, musik dan seni lainnya. Diciptakan sebagai ruang budaya antara seniman dan masyarakat.

Syarif menuturkan, setiap bulannya pada minggu pertama di tempat ini biasa diadakan seni adu domba. "Kalau dulu adu domba ini lebih sering dilakukan lagi," jelasnya.

Menyusuri jalanan hingga menembus Jalan Cihampelas, kawasan ini terlihat tidak begitu terawat. Kawasan yang secara geologi sebagai tempat resapan air ini tercatat sebagai salah satu kawasan terbuka hijau di Kota Bandung.

Pohon-pohon rimbun hijau hampir memenuhi keseluruhan wilayah. Dingin dan sejuk jika dibandingkan kawasan olahraga Sabuga yang berbatasan langsung dengan kawasan ini yang tampak panas, gersang dan berdebu. Namun di beberapa titik tampak tumpukan-tumpukan sampah di antara pepohonan yang juga tidak tertata. Reruntuhan bangunan yang tak lagi terjamah serta beberapa gubug kecil berdiri menjadi 'penghias' lain.

Untuk tempat seluas itu, hanya seorang perempuan bernama Eli yang dipercaya pemerintah untuk menjaga tempat ini. Dia mengaku menggantikan suaminya yang dulu menjaga tempat ini. "Saya menjaga agar tempat ini tidak digunakan oleh orang yang macam-macam," jelasnya.

Eli juga mengaku tidak ada yang menjaga datang untuk melakukan pemeliharaan lingkungan di tempat ini.

Menurut Pengelola Mitra Art, Herman R Suwarna yang memelihara lingkungan masih hanya orang-orang yang tinggal di kawasan ini termasuk para seniman. Herman mengusulkan penerpaan konsep eco wista di Babakan Siliwangi, misalnya dengan menata pohon dan memberikannya nama latin untuk menambah wawasan pengunjung.

Tahun 2001 lalu, penataan dan pengelolaan kawasan ini menjadi kawasan wisata terpadu dicetuskan Walikota Bandung saat itu, Aa Tarmana. Di dalamnya akan dibangun apartemen, wahana kawula muda, pusat seni, serta rumah makan.

Perencanaan yang sudah menggandeng developer PT EGI ini menjadi kontroversi baru meski PT EGI menjanjikan akan melakukan penataan terhadap pohon-pohon di tempat ini.

Kontroversi itu kini kembali mencuat. Berbagai kepentingan saling bersuara untuk mendudukan kawasan ini pada posisi semestinya. Posisi dari sudut pandang yang berbeda di mata pemerintah, pengembang, seniman dan masyarakat.

Semua memiliki dalih dan kepentingan termasuk kekhawatiran para masyarakat dan seniman akan terancamnya kembali satu paru-paru kota. Sekaligus hilangnya satu wilayah kreatifitas yang menjadi media pembelajaran bagi tangan-tangan pecinta seni.

Memang, oase hijau ini seperti kue lezat yang memikat. Dalam perjalanannya menuai kontroversi panjang dengan mempertanyakan, siapa yang akan menikmati kue lezat ini nanti?
(ema/ema)

Babakan Siliwangi Tempo Dulu


Bandung - Babakan Siliwangi (Baksil) dulu terkenal dengan nama hutan Lebak Gede (Lembah Besar - red). Pembangunan demi pembangunan mengiringi kisah kawasan tersebut.

Seperti yang dituturkan oleh penulis buku 'Album Bandung Tempo Dulu', Sudarsono Katam (63). Menurutnya di tahun 1930-an di Lebak Gede tersebut terdapat hamparan sawah yang sangat luas. Sekitar tahun 1940-an di sebelah barat Baksil (sekarang Sabuga - red) bermunculan rumah-rumah penduduk.

"Tahun 1940-an banyak rumah-rumah penduduk dibangun di sebelah barat Baksil. Kondisi tersebut hingga tahun 1960-an," kata Katam saat ditemui detikbandung di kediamannya di Jalan Tanjung, Jumat (29/8/2008).

Baru ditahun 1970-an, masih menurut Katam, muncul komplek seni dan budaya serta rumah makan di Baksil.

"Baru ditahun 1990-an, rumah penduduk di kawasan tersebut tidak ada lagi karena saat itu digusur oleh ITB untuk pembangunan Sabuga dan Sarana Olah Raga Ganesha (Sorga)," tutur pria tua yang masih aktif menulis buku ini.

Katam juga menyayangkan rencana pembangunan di kawasan Baksil. Menurutnya Baksil harus dibiarkan sebagai ruang terbuka hijau.

"Ruang terbuka di Kota Bandung sangat kurang dan kualitas udara saat ini yang buruk. Maka itu perlu adanya paru-paru kota. Kalau mau dibangun, bangunlah taman kota," kata Katam.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dinas Tata Kota dan Cipta Karya Kota Bandung mengaku telah mengeluarkan IMB untuk pembangunan rumah makan di kawasan Baksil bagi pengembang PT Esa Gemilang Indah (Istana Group).

Tak hanya itu, dinas itu pun tengah mengurus izin lainnya di kawasan tersebut selain rumah makan. Namun mereka enggan merinci izin apa saja yang sedang diproses.

Kontroversi penataan kawasan Baksil sebenarnya sudah muncul sejak lama. Puncaknya, saat adanya rencana Baksil yang merupakan ruang terbuka hijau alamiah akan dibangun komplek cottage pada 2001, yang di dalamnya tak hanya dibangun rumah makan dan pusat kesenian, juga akan dibangun apartemen.

Konflik Baksil bermula dari tarik-menarik kepentingan tentang siapa yang paling berhak menguasai dan mengelola kawasan tersebut. Pada tahun 1970-an, tarik-menarik kepentingan ini melibatkan Pemkot Bandung dan ITB, namun kemudian mencapai titik temu. Di mana, pada 1990-an, kawasan Baksil dibangun menjadi kawasan wisata alam yang terbuka untuk umum dan tidak eksklusif untuk ITB.(afz/ern)

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons