Topi Pelindung 'Wajib' untuk Cuaca Bandung

Topi Pelindung 'Wajib' untuk Cuaca Bandung
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Siang hari berjalan-jalan di Bandung sekarang ini, begitu enggan. Kesejukannya yang selama ini menjadi ciri khas, seolah menguap, entah ke mana. Baru saja melangkahkan kaki, hawa panas langsung menyergap. Kepala inginnya tertunduk terus menghindari sorotan sinar ultraviolet yang ganas. Efek buruknya terhadap kulit bisa dikatakan cukup membahayakan.

Penutup kepala sepertinya mutlak diperlukan untuk menghadapi kondisi Bandung sekarang, topi misalnya. Selain melindungi dari sinar matahari, bisa juga sebagai pelengkap penampilan.

Ragam topi bisa dibeli di manapun. Jika anda berjalan-jalan ke distro, hampir setiap clothing mengeluarkan desain-desain topi. Misalnya baseball hat, topi pet ala seniman, atau topi koboi. Namun baseball hat merupakan jenis topi yang paling populer diproduksi.

Baseball hat yang dipopulerkan bangsa Amerika ini memang tak pernah lekang oleh zaman. Memiliki bentuk crown yang pas di kepala dengan brim di bagian depan yang sedikit memanjang melindungi dahi.

Ketika berkunjung ke Collabo di Trunojoyo No 6 ragam baseball hat keluaran bermacam-macam clothing bisa ditemukan. Ada Badger, D'loops atau Wadejigi juga memberikan banyak pilihan untuk anda. Clothing-clothing ini pun bisa ditemukan di Trunojoyo No 23.

Badger misalnya, saat ini mengeluarkan produk terbarunya, berwarna hitam dengan tulisan badger di bagian depan. Koleksi terbaru badger kali ini kerjasama dengan produsen topi ternama dari Amerika, New Era. Harga yang dibanderol cukup mahal Rp 80 ribu. Sedangkan topi-topi lainnya rata-rata harganya Rp 50 ribu.

Menggunakan baseball hat akan membuat si pemakai terlihat sporty. Apalagi jika dipadukan dengan t'shirt, jeans dan sepatu keds yang akan membuat penampilan terasa santai.

Meski jenis topi ini seperti lekat dengan laki-laki, tak berarti wanita tak bisa bergaya menggunakan topi ini. Asal dipadukan dengan kostum yang tepat. Semoga saja bisa lebih nyaman beradu dengan teriknya Bandung saat ini.
(ema/ern)

Menjadi Feminin Bersama Tamichi

Menjadi Feminin Bersama Tamichi
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Kecantikan seringkali menjadi sesuatu yang diagungkan. Meski seringkali diartikan secara dangkal hanya dari segi fisik saja. Tapi tak bisa dipungkiri penampilan adalah hal yang pertama dinilai.

Ada yang mengatakan apa yang tampak di luar, cerminan dari kepribadian. Jikalau itu adalah kebenaran, maka tentunya harus benar-benar memperhatikan apa yang dipakai karena itu adalah refleksi diri.

Jika anda seorang yang menyukai pribadi feminin, tentulah akan memilih pakaian dan aksesoris yang akan mempertegas kepribadian anda. Sebuah butik kecil di Jalan Trunojoyo No 8, mungkin akan membantu anda merefleksikan kecantikan anda yang feminin.

Tamichi menyediakan ragam blouse dan gaun cantik dengan sentuhan-sentuhan keanggunan yang akan membuat pemakainya senantiasa tampil feminin.

Misalnya sentuhan motif bunga dalam gaun terusan sepanjang lutut dengan aksen berpinggang. Blouse-blouse gaya vintage yang masih terus in atau babydoll dengan bahan yang jatuh.

Baju-baju yang katanya didatangkan langsung dari Cina atau Korea ini berderet menjadi pilihan segar. Ragam ikat pinggang dengan ukuran dan bahan yang berbeda-beda, bisa menjadi pelengkap gaun anda untuk menyempurnakan penampilan.

Sentuhan keanggunan juga terdapat di sepatu, misalnya sepatu platform berbahan brokat bunga-bunga dengan sentuhan korsase. Atau sepatu-sepatu bernuansa shocking yang masih terus beranjak menjadi idola.

Tas-tas kepit berukuran besar atau model clutch akan mempertegas kefemininan anda.

Terserah pilihan anda, apakah benar-benar ingin tampil feminin glamour atau feminin girlie. Penampilan adalah cerminan diri anda.(ema/ern)

Tegep Boots, Tren Komunitas Bikers

Tegep Boots, Tren Komunitas Bikers
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Adalah boots, sepatu yang seringkali diidentikan dengan koboi. Namun di Bandung, bisa jadi boots identik dengan komunitas bikers. Meski tak mutlak, tapi itulah yang terjadi, kebanyakan penggemar sepatu boots adalah komunitas bikers.

Seperti dinyatakan pemilik Tegep Boots, Tegep Oktaviansyah (37) yang mendirikan Tegep Boots di tahun 1997 untuk para komunitas, khususnya komunitas bikers.

"Komunitas itu memiliki anggota yang loyal sehingga untuk pemasarannya bisa lebih cepat dari mulut ke mulut," jelas Tegep yang juga anggota komunitas Bikers Brotherhood ini.

Selain komunitas bikers, konsumen juga berasal dari komunitas musik. Tak jarang artis-artis ibukota pun memesan boots di tempat yang berada di Jalan Pelajar Pejuang 45 No 104, di depan Hotel Horison ini.

Awalnya Tegep Boots bekerjasama dengan tempat lain dalam memproduksi boots, hingga akhirnya memutuskan untuk berdiri sendiri. Dengan bekal pendidikan dari desain produk ITB dan kesukaan terhadap boots inilah yang membuat Tegep Boots berkembang dari sebuah garasi menjadi sebuah tempat yang jauh lebih baik.

"Awalnya memang sulit untuk memasarkan, butuh waktu lima tahunan sampai mencapai posisi mapan," jelas Tegep.

Kemapanan itu juga yang membawa nama Tegep Boots ke mancanegara. Meski tak secara langsung dalam bentuk ekspor, hanya pesanan perorangan melalui website, namun pemesannya berasal dari Amerika Serikat, Australia, juga Hongkong.

"Kita pernah mengerjakan merek dari perancang luar yang akan menggelar fashion show," jelas Tegep yang juga menjadi tenaga ahli di ILO dan tenaga pengajar perajin sepatu Cibaduyut.

Tegep Boots lebih banyak mengerjakan boots pesanan. Dalam satu bulan bisa memproduksi sekitar 60 boots.

Boots-boots yang dijual adalah boots model koboi dan bikers. Boots terdiri dari dua bagian, bagian alas disebut vamp, bagian atas disebut top. Untuk boots koboi, bagian depan vampnya lebih lancip sedangkan boots bikers bagian depan vamp lebih membulat atau kotak.

Boots-boots berderet rapi di rak, dari mulai angkle boots setinggi mata kaki, sampai setinggi lutut untuk konsumen mulai usia dua tahun. "Standar boots itu ukurannya 11-12 inci," jelas Tegep.

Jika dikenakan boots memang cukup panas, namun aman untuk pengendara kendaraan bermotor karena memiliki sol lebar yang cukup melindungi dari gesekan.

Kulit sapi menjadi bahan yang paling banyak digunakan di samping bahan kulit eksotik seperti kulit ular, kulit ikan pari, juga kulit buaya, bahkan ada yang berbahan kulit ikan kakap.

Dari semua bahan tersebut, kulit buaya merupakan yang termahal. Jika kulit sapi berada di kisaran Rp 1 juta-an, maka boots kulit buaya bisa mencapai Rp 5,6 juta-an. Selain bahan, harga pun ditentukan oleh desain. Desain yang lebih kompleks atau yang memerlukan tekhnik pembuatan yang lebih rumit, tentunya dihargai lebih tinggi.

"Sampai saat ini, hampir 80 persen desain dan pola pengerjaannya masih dikerjakan oleh saya sendiri," ujarnya.

Menurut Tegep, boots memiliki tren tersendiri di komunitas tertentu. Misalnya tren boots bertali, bentuk kotak atau bulat juga ukuran panjang atau pendeknya.

Nah apakah tren boots kelak akan menyebar ke kalangan lainnya atau hanya sebatas kalangan tertentu, anda lah yang menentukan.(ema/ern)

Simple dan Girlie Dengan Flat Shoes

Simple dan Girlie Dengan Flat Shoes
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Flat shoes, sepatu model teplek bersol datar ini masih banyak penggemarnya sampai saat ini. Motif dan warna flat shoespun kian beragam sehingga memberikan banyak pilihan untuk memudahkan padu padan gaya.

Flat shoes yang disebut pula sepatu ballerina ini memang simple dan paling nyaman dipakai untuk bersantai. Tanpa rasa pegal yang sering datang ketika menggunakan sepatu high heel.

Paduan flat shoes dengan celana capri dan oversized sunglasses salah satu gaya chic bintang hollywood Audrey Hepburn yang melambungkan nama flat shoes.

Jika flat shoes dipadukan dengan pakaian yang tidak tepat malah akan membuat kaki penggunanya terlihat lebih pendek. Agar lebih berjenjang gunakan rok mini, skinny jeans atau rok berpotongan empire.

Pilihlah ragam flat shoes dengan warna-warna mencolok yang sekarang sedang tren. Baik polos maupun motif-motif lama yang kembali in seperti polkadot. Motif bunga yang lembut girlie pun akan membuat penampilan berflat shoes anda menjadi tambah istimewa.

Karena sedang ini, koleksi flat shoes bisa anda temukan di manapun, baik distro, FO, butik,maupun pusat-pusat perbelanjaan.
(ema/ema)

Tabrak Pakem Fashion, Siapa Takut!

Tabrak Pakem Fashion, Siapa Takut!
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Tabrak warna, cutting asimetris, paduan bahan-bahan berbeda, menjadi ciri khas gaya eklektik. Sebenarnya gaya eklektik sendiri lebih umum digunakan dalam interior desain, tapi konsep sama diterapkan pula dalam rancangan Fragrance Kikichan.

Label Fragrance Kikichan ini menjadi koleksi butik baru di Jalan Ciliwung 14, Happy Go Lucky. Sang perancang, Kiki, mengumpamakan eklektik sebagai pertemuan antara dua budaya atau lebih, yang disatukan dalam fashion. Membentuk karakter fashion yang berbeda dengan fashion yang ada di pasaran.

"Kuncinya pada permainan komposisi yang terdiri dari tabrak warna atau corak berikut bahan yang berbeda menjadi satu kesatuan yang serasi," jelas Kiki. Meskipun hanya satu warna dan corak, gaya eklektik tetaplah terlihat beda karena memiliki tekhnik cutting yang khas.

Misalnya long dress perpaduan corak garis-garis dengan corak etnik bernuansa Afrika, yang memperlihatkan pembauran tanpa jeda. Keunikan itulah yang membuat para pecinta gaya eklektik beda. Karena pemakainya haruslah orang-orang yang berani melabrak pakem fashion yang ada.

"Fashion itu intinya kenyamanan," ungkap Kiki.

Pertemuan gaya fashion tersebut juga ditemukan dalam koleksi tas, sepatu dan aksesoris. Apalagi, koleksi-koleksi Fragrance Kikichan ini limited. Satu model paling banyak hanya dibuat enam pieces. Bahkan Fragrance gold hanya dibuat satu pieces. "Bahan-bahannya dicari yang unik dan limited sehingga akan jarang ditemukan di pasaran," jelas Kiki.

Untuk pria yang juga ingin tampil dengan gaya eklektik, koleksi untuk pria dari Fragrance akan menyediakan kebutuhan fashion anda.

Koleksi-koleksi Fragrance Kikichan pun bisa anda lihat dalam fashion show di Eco Fashion, 22 Agustus mendatang di Grand Hotel Preanger. Even ini termasuk satu dari rangkaian kegiatan Helarfest 2008.
(ema/ern)

Segarnya Motif Bunga Me & My Sis

Segarnya Motif Bunga Me & My Sis
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Cerah, merekah. Motif bunga atau floral printed kini digemari lagi. Menghadirkan suasana musim semi yang segar dan penuh kehangatan.

Ragam motifnya bisa diaplikasikan dalam gaya fashion yang berbeda. Tak harus feminin, gaya kasual atau girlie sekalipun asal pintar memadupadankan gaya.

Tentunya jangan asal memilih motif bunga, sesuaikan dengan bentuk tubuh. Untuk yang bertubuh kurus, pilihlah motif bunga yang besar-besar untuk memberi kesan lebih berisi. Sebaliknya bagi yang bertubuh besar pilihlah motif bunga kecil-kecil dan sederhana yang terkesan merampingkan. Jika ingin terkesan elegan dan feminin, jangan pilih motif bunga yang penuh.

Misalnya koleksi motif dari Me & My Sis, The Glamorous Boutique, Jalan Progo No 15. Koleksi ini cocok untuk anda yang bertubuh kurus. Motif bunga besar-besar diapikasikan ke dalam model babydoll tumpuk yang akan memberi kesan tubuh kurus anda lebih bervolume.

Motif bunga-bunganya terdiri dari aneka bunga dan warna yang makin menampilkan cerianya musim semi di taman bunga. Tak perlu bawahan untuk memilih pakaian ini, cukup memadukan dengan flat shoes berwarna terang yang akan membawa anda pada suasana santai.

Penambahan bolero dengan mengambil warna yang ada dalam motif bunganya, bisa menjadi pilihan lain yang akan menyempurnakan penampilan anda. Aksesoris lain seperti anting-anting dan kalung pun jangan ketinggalan.

Jika anda menyukai koleksi ini sebaiknya segera bergerak cepat, karena Me & Sist hanya mengeluarkan satu pieces untuk satu modelnya. Berarti hanya anda the one and only yang memiliki.

Begitupun dengan koleksi lainnya dari koleksi Mango, Calvin Klein dan label ternama lainnya yang diambil dari Kualalumpur, Malaysia.
(ema/ern)

Clothing Global Warming ala Raxzel

Clothing Global Warming ala Raxzel
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Global warming yang menjadi momok bagi umat manusia di dunia terus gencar dikampanyekan. Berbagai lapisan masyarakat baik itu LSM lingkungan, mahasiswa, termasuk industri kreatif tak ketinggalan berkampanye.

Salah satunya clothing pendatang di Kickfest yang digelar di Gasibu yaitu clothing asal Tangerang Raxzel. Hampir semua produk outlet yang ada di Jalan Pawon Raya Karawaci Tangerang ini menyuarakan kepedulian lingkungan khususnya global warming.

"Kami memang berdiri setahun lalu untuk khusus mengkampanyekan global warming," jelas Ali, sang pemilik. Lelaki berambut rasta ini mengatakan dalam setiap produk Raxzel pasti ada kata-kata yang berkaitan dengan pengingatan terhadap global warming dan efeknya bagi umat manusia.

Ali pun tidak bisa mengatakan berapa desain yang sudah dikeluarkan. "Yang pasti kami selalu mengeluarkan desain-desain baru jadi udah tidak terhitung," tuturnya.

Konsep global warming tak hanya diterapkan di t'shit tapi juga di topi, tas dan produk-produk Raxzel lainnya. Lihat saja beberapa desin t'shirt yang tak hanya oke dipandang tapi juga memiliki bobot dengan global warmingnya. Konsep reuse, recycle dan reduce menjadi salah satu kalimat yang juga dikampanyekan.

Konsep desainnya sendiri hanya sekedar kalimat-kalimat bahkan kata-kata sederhana yang langsung mengingatkan kita untuk peduli lingkungan. Misalnya kata-kata 'Googreen' yang sedikit meniru tulisan situs populer google. 'Global Warming Is Invisible Killer', 'Clean Energy' dan tulisan-tulisan bermakna kampanye lainnya.

Jika anda pun salah seorang pecinta lingkungan dan sekarang juga turut aktif mengkampanyekan global warming tak ada salahnya say it with t'shirt. Apalagi di Kickfest semua clothing memasang harga miring.
(ema/ern)

Sstt...Hero Punya Secret

Sstt...Hero Punya Secret
Eva Asiah - detikBandung

Bandung - Bandung memang merupakan gudangnya clothing dan Distro terkemuka di Indonesia, keberadaannya yang semakin menjamur dari hari ke hari, bisa kita lihat di setiap sudut jalan dari yang baru dirilis atau pun yang sudah lama berdiri.

Semakin banyaknya clothing ini membuat persaingan yang cukup tinggi. Ide-ide kreatif memang sangat dibutuhkan dalam membuat clothing, untuk menampilkan sesuatu yang beda dan unik.

Seperti halnya clothing Secret, tepatnya yang berada di Jl Tirtayasa 16. Walau pun masih dibilang cukup baru karena baru berdiri Agustus 2007, dengan mengusung tema hero, Secret berusaha membuat konsep yang berbeda dan unik.

Berawal dari ide bahwa setiap individu memiliki sifat baik atau sifat heroik, layaknya seorang "hero".

"Yang kita tampilkan bukan hanya hero-hero yang terkenal sekarang, seperti superman, spiderman, atau pun batman, tetapi kita juga menampilkan hero-hero Indonesia, yang mungkin sudah dilupakan oleh anak-anak jaman sekarang, seperti Pangeran Diponegoro, Jendral Sudirman," ujar perintis Distro Secret, Fauzy Draven saat ditemui di acara Kickfest Bandung.

Tetapi bukan itu saja, masih menurut Fauzy, konsep Hero sendiri pengertiannya sangat luas, bukan hanya imej Hero yang sudah kental ada di film-film.

"Tetapi hero itu bisa juga dia adalah ibu kita, ayah kita, atau pun sahabat kita atau bahkan diri kita sendiri. Karena pada dasarnya kita semua mempunyai suatu kebaikan, yang jika kita pakai kebaikan untuk menolong orang lain, itu sudah merupakan sifat kepahlawanan," ujarnya panjang lebar.

Secret sendiri berdiri dibawah naungan CV.WAP (wireles acses proses). Tapi sebenarnya WAP itu merupakan kepanjangan dari pendiri perusahaan itu sendiri yang terdiri dari tiga orang, yaitu Wahid, Adam, dan Prama.

Apa hubungannya nama Secret dengan tema Hero? " Seperti yang kita lihat di film-film setiap pahlawan biasanya merahasiakan jati diri mereka. Memang pada dasarnya setiap orang mempunyai rahasia-rahasia masing-masing," jelas Fauzy.

Aktivitas di Secret sendiri bukan hanya untuk jual-beli, tetapi bisa juga sebagai tempat menuangkan perasaan atau cerita tokoh pahlawan yang konsumen kagumi semenjak kecil.

Karenanya pembeli di distro Secret mempunyai sebutan tersendiri, yaitu Secret Friends atau sahabat secret. "Ini karena kita ingin membuat budaya persahabatan diantara komunitas Secret atau pembeli," jelas Fauzy.

Tertarik menjadi Secret Friends? Datang saja ke Jalan Tirtayasa No 16.
(ern/ern)

Yang Baru Untuk Para Netter

Yang Baru Untuk Para Netter
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Sepertinya ide-ide untuk mewujudkan sebuah karya komersil kini menjadi lebih mengerucut dengan pasar yang lebih segmentatif. Belumlah ide mengenai Global Warming yang sudah begitu mengglobal, atau ide-ide musik yang juga sudah begitu populer dari yang berlairan cadas sampai slow mellow. Nama-nama baru dengan ide segar terus bermunculan.

Misalnya ketika anda baru-baru ini berjalan-jalan ke Cihampelas Walk maka anda akan menemukan clothing baru dengan nama eblonk.com, netainment in your shirt.

Tentunya, dari nama saja clothing ini berupaya membidik para tukang nge-net. Yang mungkin tak hanya menjadikan internet sebagai pendukung tapi sudah mengambilnya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bisa terlihat dari bentuk-bentuk produk yang mereka keluarkan. T'shirt bernada teknologi menjadi ciri untuk menarik pasar. Contohnya dalam t'shirt bergambar iPod dengan serentetan nama fitur-fiturnya. Atau misalnya kata-kata 'Say it With Emotion', meski tak langsung menunjuk internetnya tapi bukankah gambar-gambar emotion itu memang salah satu bagian dari teknologi internet.

Pin-pin dengan sederetan gambar yang biasa menjadi ikon emosi di internet pun koleksi lain yang ditawarkan. So, untuk para netter, you've got E-mail from eblonk.com.(ema/afz)

Dari Pesta Kostum Sampai Pra Wedding

Dari Pesta Kostum Sampai Pra Wedding
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Berlindung di balik costum figure seperti bentuk ekspresi diri yang lain. Seru, sarat akan kejutan, juga menjadi salah satu ajang eksistensi.

Pesta kostum atau costum party. Meski bukan berasal dari akar budaya Indonesia, tapi keberadaaannya sudah tak lagi asing. Tak hanya kostum-kostum yang terinspirasi dari perayaan Hallowen dari barat sana, tapi meluas ke tokoh-tokoh lain yang populer di dunia.

Sayang memang, tokoh dari Indonesia sendiri masih sedikit yang figurnya begitu melekat dalam bentuk kostum.

Semisal di Kostum, Accesoris and Hand Proops yang terletak di Jalan Saninten. Menuju lokasi bisa diakses melalui Jalan Cendana. Semua koleksi kostum di tempat ini banyak yang mengambil kostum dari figur-figur luar negeri.

Misalnya tokoh-tokoh ternama dari film seperti Peter Pan, Tinker Bell, Cinderella, Kura-kura ninja, kaisar Romawi, John Travolta atau victorian style, geisha, kerajaan Cina juga gaya 80's yang lebih global.

Menurut pengelola Kostum, Robbin (32) dari 500 koleksi kostum yang ada dimiliki hanya sedikit figur Indonesia. "Paling kita punya Gatot Gaca dan Inul Daratista,"jelasnya.

Meski pesta kostum di Bandung masih dikatakan jarang dan terpusat di komunitas-komunitas. Tapi banyak yang antusias dengan kehadiran Kostum.

Berdirinya Kostum sendiri diawali dengan terlibatnya para pengelolanya sebagai bagian property di kelompok P-Project. Maka tahun 2003 tercetuslah ide untuk membuat toko kostum.

"Sejak dibuka sudah lumayan banyak yang menyewa kostum kepada kita," jelas Robbin. Kebanyakan penyewanya berasal dari perusahaan-perusahaan yang ingin merayakan hari jadi atau acara tertentu dengan pesta kostum.

Ternyata apapun yang ada di Bandung menarik hari konsumen Jakarta. Karena ternyata banyak konsumen Jakarta yang datang untuk menyewa kostum di tempat ini.

"Perbandingan antara Bandung dan Jakarta 60 berbanding 40 lah," tutur Robbin.

Kostum pun menawarkan hal lain dalam penggunaan kostum. Tak selalu harus untuk pesta kostum tapi juga akan menarik digunakan dalam pemotretan pra wedding. Tak harus dengan kostum populer seperti kebaya atau gaun, kostum-kostum unik akan memberikan nuansa lain sebuah romantika.

"Dulu juga pernah ada yang memesan kostum untuk acara pernikahan. Mereka meminta kostum kerajaan Cina," jelas Robbin.

Setiap harga kostum bervariasi tergantung bahan dan kesulitan pembuatan kostum. Setiap kostum diberikan dengan perlengkapannya. Meskipun ada beberapa item yang harus disewa secara terpisah seperti wig, topi dan lain-lain.

Tentunya dengan kostum ini akan menghadirkan suasana yang lain. Tak hanya untuk pemakai tapi suasana yang dibangunnya. Sejenak menjadi sesuatu yang beda dari diri sendiri. Mungkin juga bagian dari diri yang tak terdeteksi.(ema/ern)

Bergaya Dengan Kreasi Tas Bengkel 01

Bergaya Dengan Kreasi Tas Bengkel 01
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Fashion movement di Indonesia juga di dunia memiliki tempo hampir sama. Meski Indonesia masih bisa dikatakan sebagai negara pengekor gaya fashion yang diciptakan oleh negara-negara lain.

Tapi di manapun gaya adu tabrak dari harajuku hingga elektik memiliki ruangnya tersendiri. Daya tarik yang ditawarkan menjadi berbeda karena keunikannya.

Untuk anda yang bergaya harajuku misalnya. Pemilihan berbagai perlengkapan yang mengarah pada gaya fashion ini pasti menjadi perhitungan. Entah itu dari tatanan rambut yang terkesan acak, pemakaian legging, sepatu, tabrak warna, hingga pemilihan tas yang menunjukan gaya pemberontakan anak muda Jepang tersebut.

Uniknya tas-tas ala harajuku dihadirkan oleh Bengkel 01 dengan segala keunikan yang ditawarkan. Bengkel 01 terletak di Jalan Cikapayang No 5 dan Jalan Unpar II no 5.

Sekilas, tas ini lebih mirip koper. Tapi lihatlah lebih dekat, meski berbentuk persegi, tas-tas buatan Bengkel 01 murni tas untuk melengkapi gaya fashion anda.

Ragam warna, ragam ukuran dengan ragam bahan memiliki fleksibelitas pemakaian. Bisa dijinjing atau digandong seperti ransel.

Tak harus untuk anda yang begitu fanatik untuk berharajuku, tapi bisa digunakan untuk anda yang girlie dan feminin. Bisa memberikan kesan unik, anggun, sekaligus fashionable. Warna-warna netral lebih dianjurkan karena bisa dipadukan dengan warna apapun. Tapi tentunya pemilihan warna ini tidak berlaku untuk para penggemar harajuku atau elektik. Tabrakan saja, maka gaya tetap akan jadi milik anda.

Fashion adalah identitas diri. Meski jangan ketinggalan mode tak berarti pula menjadi korbannya. Pilihlah di mana diri anda berdiri dengan gaya sendiri.(ema/ern)

Sablon Instant, Bikin Baju Cepat Berwarna

Sablon Instant, Bikin Baju Cepat Berwarna
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Serba instant, begitulah yang dicari banyak orang di tengah kesibukannya saat ini. Dari mulai produk makanan, kerudung instant, sampai produk-produk berbau teknologi berembel-embel instant sebagai tanda mudah dan cepat.

Di dua event yang mengikutsertakan Industri Kecil Menengah (UKM) yaitu Jabar Expo di Graha Manggala Siliwangi dan di Temu Pesantren, Gasibu, sebuah stand menghadirkan sablon instant.

Kaos-kaos polos putih dengan sedikit sentuhan warna di bagian kerah, atau strip-strip sederhana di bagian tangan, dengan cepat bisa langsung segar dengan gambar.

Dengan menggunakan cat sablon khusus dan obat yang mempercepat pengeringan sablon, sehingga proses pembuatan bisa ditunggu tanpa lama. Kaos-kaos yang kebanyakan diperuntukan untuk putra-putri anda ini bisa disablon dengan beragam gambar figur karton yang lucu.

Entah itu Winnie The Pooh, Sun Go Kong, Naruto, Mickey Mouse, Dora the explore dan lain-lain. Bisa juga diaplikasikan nama-nama putra-putri anda. Harganya berkisar dari Rp 15 ribu sampai ukuran dewasa seharga Rp 40 ribu. Untuk kaos berwarna hitam ditambah Rp 2.500.

Menurut tukang sablonnya, Daud, sablon instant ini hanya bisa ditemukan dalam acara pameran-pameran saja, pihaknya tidak memiliki outlet secara khusus. Untuk workshopnya sendiri berada di kawasan Padasuka Jalan Pasirlayung Blok E No 5.

Tak perlu ke tempat workshopnya di Jalan Pasirlayung untuk melihat langsung pembuatannya. Sambil menunggu proses sablon selesai, pemesan bisa menunggu sambil melihat proses penyablonan berlangsung.

Ada screen, yaitu alat yang digunakan untuk mengaplikasikan cat ke kaos, kuas, cat sablon, dan hairdryer untuk mengeringkan.

Untuk awal tentu saja pilih ukuran dan desain yang diinginkan. Dalam satu screen bisa terdiri dari empat bagian dari figur yang akan disablon. Hal itu tergantung dari berapa warna yang ada di figur tersebut.

Misalnya untuk tokoh lucu winnie the pooh. Winnie memiliki empat warna berbeda di tubuhnya, merah, biru, kuning dan hitam. Maka dalam screen ada empat bagian tubuh dari mulai skets awal tubuh utuh, kemudian bagian per bagian yang memiliki warna berbeda. Jika ada unsur warna lain, warna-warna primer yang ada tinggal dicampurkan.

Tukang sablon tinggal mengaplikasikan warna melalui screen secara berurutan untuk menghasilkan gambar figur yang diinginkan. Pengerjaan akhir yaitu di hairdryer, walaupun katanya dengan dianginkan pun bisa cepat kering. Tidak kurang dari 15 menit anda sudah bisa langsung membawa pulang untuk diberikan pada putra-putri anda.

Tentu saja, jika berniat memesan jangan sampai melewati tanggal 27 Agustus 2008, sebab dua pameran tersebut akan berakhir pada tanggal tersebut.(ema/ern)

Made In India di Vishal Butik

Made In India di Vishal Butik
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Eksotisme India kerap menarik hati para pecinta fashion. Keanggunan di balik kain sari, gemerincing gelang-gelang serta bindhi yang memikat di bagian dahi. Unsur-unsur budaya India tersebut tak sedikit yang akhirnya mempengaruhi rancangan-rancangan para desainser dunia yang mengidolakan aura gadis-gadis India.

Kekuatan budaya India itu juga ditawarkan Vishal Butik. Masih bertumpu pada pesona busana tradisional yang masih dipertahankan para masyarakat India.

Misalnya pesona-pesona kain sari berbahan lembut dari sifon, sutera, atau organdi yang kaku yang berpadu dengan kemilau perhiasan. Gagra coli yang juga memperlihatkan keindahan perut dalam balutan blus yang berbinar dengan payet-payet.

Menurut pemilik Vishal Butik, Vishal Takur Tharwani, gaya India memiliki khas pada sisi sulaman dan bordiran. Kekhasan itu juga terletak pada tekhnik menyulam yang masih menggunakan tangan.

Vishal menyebutkan di India ada tekhik menyulam dengan menarik empat sisi kain ke tonggak-tonggak bambu. Maka teknik menyilam secara langsung dilakukan di atas kain yang terpancang tersebut.

Meskipun menurutnya sudah banyak yang menggunakan mesin, karena tekhnik sulam tangan selain memakan waktu lama harganya jatuh lebih mahal.

Aroma India yang ditawarkan Vishal tak hanya sebatas kain sari yang sudah populer tapi juga jenis-jenis busana lain yang khas India. Misalnya untuk wanita ada curidar dan gagra coli. Untuk laki-laki ada sherwani dan kurta. Masing-masing pakaian dalam penggunaannya masih terkait dengan nilai-nilai tradisi keseharian masyarakat India. Biasanya dibedakan dalam waktu penggunaan dan jenis bahan yang dipakai.

Di Vishal Butik yang terletak di Jalan Naripan No 71 ini, harga satu set kain sari berkisar antara Rp 500 ribu-Rp 2 jutaan. Curidar berkisar antara Rp 200 ribu-Rp 350 ribu. Sedangkan sherwani berada di angka Rp 1,5 juta.

Menurut Vishal, beberapa baju ada yang didatangkan langsung dari Bombay. Selebihnya konsumen bisa memesan sendiri sesuai keinginan.

(ema/ern)

Ikat Pinggang Untuk Para Pria

Ikat Pinggang Untuk Para Pria
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Dibandingkan wanita, dalam segi berbusana pria tidak terlalu banyak pernik. Desain-desain pakaian pria tak seperti wanita yang benar-benar diperhitungkan dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Pria lebih mengedepankan unsur fungsi daripada sentuhan artnya. Tapi tak berarti pria juga ogah-ogahan dalam berbusana. Masa kini, pria juga tak ingin kalah dengan wanita untuk tampil fashionable.

Distro-distro Bandung misalnya selalu menawarkan produk-produk yang up to date untuk pria. Tak hanya seputar t'shirt berdesain menarik, tapi perlengkapan lain untuk mendukung penampilan lebih oke.

Ikat pinggang misalnya. Meski masih belum se-variatif wanita, tapi distro-distro pun memiliki daya tawar lain dalam upaya memaksimalkan penampilan.

Dari segi bahan tidak jauh berbeda. Namun untuk tampil lain dari yang lain distro-distro mengemas ikat pinggang dengan cara berbeda. Baik kemasan luar maupun bentuk kepala ikat pinggang (buckle).

Di Highlight Work yang ada di Jalan Buah Batu No 105 misalnya, bucklenya di desain dengan huruf HW yang berarti Highlight Work. Dibungkus dengan plastik kecil agak tebal dan transparan. Ikat pinggang ini dibanderol Rp 50 ribu.

Namun setiap distro menawarkan harga yang berbeda. Mereka tak hanya bermain di merek tapi juga bermain di kemasan. Kemasan-kemasan unik mengemas produk-produk mereka termasuk ikat pinggang untuk para jagoan ini. Dari mulai silinder, kemasan seperti bungkus payung dan kemasan lain, tinggal dipilih saja.(ema/ema)

Tas Laptop Multi Fungsi dan Multi Gaya

Tas Laptop Multi Fungsi dan Multi Gaya
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Bagi sebagian orang, laptop sudah menjadi kebutuhan yang menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Tapi tak berarti membawa laptop, membuat kita ribet dan terkesan seperti gaya kantoran dengan menjinjing tas laptop formal yang umumnya ada di pasaran.

Jika ingin tetap terlihat fashionable sekaligus kasual meski harus membawa laptop ke mana-mana, pilihlah tas laptop yang bisa tetap menunjang penampilan sekaligus fungsional.

Nah, kedua kebutuhan itu ditawarkan tas laptop terbaru keluaran Cosmic clothing. Tas yang secara fungsi bisa mencakup semua kebutuhan ini ternyata dari segi desain juga multifungsi sekaligus cocok untuk bergaya.

Gaya muda yang menjadi incaran Cosmic tergambar dari desain tas laptop ini. Tempat laptopnya sendiri disediakan di bagian dalam tas.

Jika barang selain laptop yang dibawa cukup banyak, jangan khawatir tas laptop ini bisa dibuat seperti travel bag. Tinggal memilih apakah akan dikepit di ketiak atau menggunakan selempang. Dikepit lebih dianjurkan agar beban pada bahu tidak terlalu besar.

Jika ingin lebih praktis karena barang yang dibawa lebih sedikit. Cukup melipat bagian atas tas sampai batas yang sudah ditentukan. Sehingga bagian atas tas kini berfungsi sebagai penutup tas. Jadilah tas selempang yang juga oke untuk bergaya.

Tas ini dibanderol Cosmic dengan harga Rp 160 ribu. Bisa ditemukan di outlet Cosmic di Jalan Trunojoyo dan yang terbaru di Jalan Buah Batu. Oke, siap beraktivitas dengan laptop anda sambil bergaya?(ema/)

Merawat Tas, Yuk!

Merawat Tas, Yuk!
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Sepatu dan tas konon menjadi dua benda yang kerap membuat wanita kalap berbelanja. Dua padanan pelengkap pakaian ini, terbilang menjadi item yang penting untuk keseharian anda.

Sangat disayangkan jika benda-benda tersebut pudar keindahannya karena kurang piawainya tangan dalam merawat. Untuk tas misalnya, ternyata setiap bahan tas dalam perawatannya harus diperlakukan berbeda.

Lihatlah berapa banyak dan macam jenisnya koleksi tas yang ada di lemari anda. Kemudian pilah-pilah dan cermati dari bahan apa sajakah tas tersebut.

Jika tas terbuat dari bahan kulit. Cukup lap permukaan tas dengan semir cair berwarna netral dengan sikat yang lembut 3-4 bulan sekali. Sebelum mengoleskan ke seluruh permukaan, teliti dulu apakah tas akan berubah warna atau tidak. Jika berubah warna sebaiknya hentikan perawatan seperti ini.

Simpan tas dalam wadahnya jika tidak akan digunakan dalam waktu yang lama. Tak ada salahnya anda membeli zat anti lembab atau silica gel agar tas tidak terkena jamur. Biasanya silica gel disertakan dalam wadah tas ketika membeli. Jika tidak anda dapat membelinya di apotek. Sesekali keluarkan tas dan mengangin-anginkannya.

Tas kulit jangan terpapar sinar matahari dalam jangka waktu yang lama karena akan menimbulkan pecah-pecah. Jika timbul bercak putih segera lap dengan lap kering dan lembut. Jika terkena air segera lap dengan lap kering.

Untuk tas plastik. Siapkan larutan sabun yang biasa digunakan di rumah lalu lap tas dengan lap yang sudah dibasahi larutan air sabun. Lap kembali sisa sabun dengan lap kering. Lalu angin-anginkan tas sebentar.

Untuk tas-tas yang memiliki hiasan manik-manik di atasnya tentunya memerlukan perawatan yang lebih khusus. Sebaiknya membersihkan tas ini dengan bantuan orang lain. Jangan sampai merusak manik-manik yang membuat tas unik.

Untuk beberapa tas seperti tas berbahan anyaman, cara membersihkannya dengan menggunakan penyedot debu kecil. Hal itu untuk membersihkan debu-debu di sela-sela anyaman yang sulit untuk dijangkau.

Penggunaan penyedot debu juga berlaku untuk bagian dalam tas berbahan suede yang memiliki bulu lembut seperti beludru. Sedangkan untuk bagian luarnya cukup dengan disikat secara lembut. Jangan simpan tas berbahan suede di tempat lembab agar teksturnya tetap terjaga.

Yang terpenting adalah perlakukan tas seperti sesuatu yang berharga. Karena penampilan anda ditunjang pula dengan tas yang terawat baik meski tak harus mahal.(ema/ern)

Anak Muda Bandung, Jepang dan Budaya Pop

Anak Muda Bandung, Jepang dan Budaya Pop
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Bandung yang didaulat sebagai kota mode memunculkan sedikit demi sedikit warna-warnanya yang lain. Diwadahi oleh komunitas sebuah budaya fashion pun dengan cepat menyebar khususnya di kalangan anak muda.

Seperti halnya distro yang sedang berada di puncak singgasananya, budaya Jepang dengan segala kekhasannya diberikan ruang tersendiri oleh para pecinta budaya tersebut.

Lagi-lagi komunitas yang berperan. Budaya ini pun mengakar dan menyebar hingga menjadi irisan yang tak terpisahkan dalam lingkaran budaya pop Bandung masa kini.

Fashion menjadi bentuk paling nyata dari budaya tersebut. Maka jika berbicara distro, tak lepas dari musik underground, maka berbicara mengenai fashion Jepang tidak akan terlepas dari sebuah distrik di Kota Tokyo, Harajuku.

Meski tak selalu pop culturenya, tahun 2008 ini mungkin bisa dikatakan sebagai tonggak untuk lebih mengibarkan budaya tersebut di kalangan anak muda Bandung. Maka bermunculanlah tempat-tempat yang mengambil kesempatan dari tingginya minat masyarakat terhadap kekayaaan budaya Jepang yang dimulai dari kelas emperan, mal-mal, sampai outlet-outlet tertentu.

Satu per outlet-outlet fashion Jepang hingga perniknya untuk mengekspos budaya negeri Sakura tersebut muncul di Bandung. Tak hanya berkutat seputar budaya pop Jepang tapi juga memperkenalkan nilai-nilai tradisionalnya.

Misalnya Gaya harajuku yang diambil dari sebuah kota di distrik Kota Tokyo Harajuku disuguhkan oleh Dr G Shop yang ada di Jalan Cihampelas No 42 C.

Gaya tabrak warna dan mode yang terkesan ngawur menjadi sentuhan gaya baru sebagai wujud eksplorasi atas kebebasan berbusana. Dengan hanya satu pakem yang dihalalkan yaitu gaya tanpa pakem.

Bahkan, Dr G mengambil beberapa busananya langsung dari Jepang. Hingga untuk harga tak bisa dibilang main-main. Bisa berkisar di angka ratusan ribu.

Bersebelahan dengan Dr G Shop, Gonzo menawarkan hal lain. Kostum-kostum figur Jepang atau costplay menjadi tawaran. Dipersembahkan untuk para pecinta komik Jepang atau manga agar bisa menyalurkan keinginan mencicipi sebuah budaya.

Jika mengenal nama tokoh anime seperti Naruto, Sun Goo Kong atau si bajak laut dalam cerita One Pieces maka di tempat inilah anda bisa menjadi mereka. Dalam balutan kostum yang didesain begitu mirip hingga perniknya. Tak jauh dengan apa yang terlihat dalam komik maupun televisi. Tak hanya costplay, baju tradisional Jepang seperti yukata pun memberikan pilihan lain.

Namun jika ingin tempat yang lebih mengeksplorasi yukata, Hikarulah jawabannya. Hikaru lebih ditujukan untuk keluarga. Yukata-yukata yang disediakan dari mulai ukuran kecil bernama jinbei hingga besar.

Bahkan, dalam waktu dekat Hikaru akan menghiasi salah satu outlet di Bandung Indah Plaza, Jalan Merdeka. Hal itu menjadi satu indikator bahwa industri fashion berbau Jepang mulai masuk hitungan masyarakat Bandung.

Bergeser ke Cimahi ada Rams Gallery. Tak hanya menawarkan Japanese style tapi seni origami (seni melipat kertas khas Jepang) baik klasik maupun modern.

Pernak-pernik Jepang lainnya ada di Puzerento. Figur-figur buatan dengan nuansa Jepang menjadi ide utama eksplorasi mereka. Dari mulai tas, gantungan kunci, pin, dan lain-lain. Workshop Puzerento sendiri ada di Jalan Cikutra sedangkan outlet-outletnya bisa ditemukan dibeberapa mall di Kota Bandung.

Karena basisnya adalah komunitas, maka tempat-tempat tersebut tak hanya menawarkan produk budaya tapi budaya itu sendiri. Sebab bisa dibilang orang-orang di
belakangnya pernah mencicipi langsung budaya tersebut.

Eksplorasi-eksplorasi lebih jauh terhadap bahasa, nilai-nilai kearifan lokal Jepang dan hal lainnya juga dipelajari. Meski satu pertanyaan besar tentang akulturasi budaya memunculkan kekhawatiran.

Apakah budaya tersebut akan menggeser kedudukan budaya lokal Sunda yang ironisnya tak menarik minat sebagian besar anak muda? Atau kelak menjadi sebuah budaya gado-gado aneka rasa yang akan membuat warna budaya lokal menjadi lebih indah, mungkin memudar bahkan menjadi bias.(ema/ern)

Industri Clothing Rebut Hati Konsumen Dengan Packaging

Industri Clothing Rebut Hati Konsumen Dengan Packaging
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Apapun bentuk industrinya, packaging atau pengemasan produk menjadi sesuatu yang diperhitungkan untuk menjadi nilai tambah agar konsumen tertarik datang dan membeli.

Tak jarang memang, pengemasan yang unik dan kreatiflah yang produk bersangkutan lekat dengan konsumen. Tentu saja kreatifitas dalam pengemasan produk pun turut diperhitungkan para pelaku industri clothing Bandung.

Clothing-clothing saling berpacu merebut hati pasar tak hanya dengan produk yang dihasilkan tapi sistem pengemasan yang menarik.

Cosmic misalnya, mengambil konsep audio video sebagai kemasannya. T'shirt dikemas dalam bentuk wadah video, dompet juga dikemas dalam wadah seperti pemutar kaset dengan gambar rewind, play dan lain-lain.

Produk-produk lain pun dikemas menarik seperti ikat pinggang, buckle dalam kotak seperti peti, bahkan USB dikemas dibalik figur unik dan menarik.

Promotion Manager Cosmic, Agi mengatakan, Cosmic yang berdiri tahun 2002 ini adalah clothing yang pertama kali mengeluarkan konsep packaging unik. Sejak berdirinya, konsep pengemasan Cosmic sendiri senantiasa berevolusi.

Hal yang sama dituturkan manager UNKL (BACA: Uncle) 347, Yogi. Menurut Yogi, UNKL merancang pengemasan untuk produk clothingnya sejak berdiri di tahun 1996.

"Sejak awal pengemasan itu terus berevolusi sampai sekarang," jelasnya. Menurut Yogi, entah siapa yang memulai tapi pola pengemasan produk yang unik memang menyebar hampir di semua label clothing.

"Ya, hal itu tidak bisa dihindarilah. Culture kita memang stereotype. Entah siapa yang memulai siapa yang plagiat. Dan kita juga tidak bisa menuduh yang lain mengekor," jelas Yogi.

Bentuk pengemasan yang dibuat UNKL sekarang terinsiparsi dari bentuk peti kemas. Dalam bentuk kotak-kotak balok panjang berwarna-warni bertuliskan UNKL 347, Nevergreen dan lain-lain.

Namun manajemen manajemen UNKL pun tak hanya memikirkan segi estetika, mereka turut memikirkan sisi fungsional. Kotak-kotak tersebut bisa juga berfungsi sebagai tempat tissue dan tempat pensil.

Pengemasan lainnya adalah kantong plasti bergambar ikon UNKL yang berkumis dan berkacamata yang bisa dijadikan topeng-topengan. Sebab di bagian mata sengaja dibiarkan berlubang.

Yang unik lainnya datang dari D'loops clothing. D'loops menawarkan packaging kotak pipih bergambar radio tape lengkap dengan jinjingan. Wadah tersebut di desain mirip dengan aslinya misalnya ada speaker, pemutar kaset, tuning dan lain-lain.

Packaging lainnya yaitu bentuk silinder yang berwarna-warni dengan tulisan D'loops.

Sedangkan packaging Badger dalam wadah kotak pipih berwarna oranye seperti wadah pizza.

Berbagai filosofi mungkin melatarbelakangi pemilihan-pemilihan setiap ide pengemasan. Walaupun yang menjadi inti inti adalah keunikan dari ide itu sendiri.
(ema/ema)

Budis Yang Mengerti Wanita

Budis Yang Mengerti Wanita
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Memilih pakaian yang cocok bagi seorang perempuan bisa dikatakan tidak mudah. Seperti menemukan jarum dalam jerami, dari sekian banyak jenis, model dan corak pakaian seringkali kurang sreg untuk dibeli.

Entah berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk melangkah dari satu tempat ke tempat lain, satu mal ke mal lain atau dari satu tempat fitting ke tempat fitting lain. Sampai kaki pegal dan tak jarang memutuskan pulang dengan tangan hampa.

Meski kasus itu mungkin hanya terjadi pada sebagian orang tapi menemukan tempat yang bisa memenuhi kebutuhan sekaligus keinginan tetaplah yang dicari.

Menempatkan diri sebagai dengan konsep anyar budis atau butik distro Gee Eight yang ada di Jalan Progo No 3, beberapa meter dari Jonas Photo Jalan Banda ini menawarkan desain yang berbeda khususnya untuk kaum hawa.

Kreativitas masih menjadi andalan anak muda Bandung yang ada di belakangnya. Mengambil target pasar 17-25 tahun konsep budis sendiri mungkin masih terdengar asing. Menurut bagian distributor Gee Eight, Elmira, Gee Eight dikatakan budis karena memang konsepnya clothing independen tapi seperti halnya butik memiliki desain yang berbeda sekaligus limited.

"Satu desain hanya dibuat rata-rata 100 pieces dan itu disebarkan di seluruh Indonesia berarti sangat limited," jelas bagian distribusi Elmira.

Keinginan untuk memenuhi kebutuhan perempuan akan fashion yang membuat desain-desain Gee Eight dibuat tak biasa meski tetap mengikuti selera pasar yang sedang berkembang.

"Karena desainernya wanita, maka dibuat benar-benar untuk memahami keinginan dari wanita. Apa yang kebanyakan wanita tidak inginkan untuk pakaiannya itu yang dibuat Gee Eight," jelas Elmira.

Meski masih seperti kebanyakan clothing lain yang bermain dalam t'shirt tapi Gee Eight ingin membuat itu berbeda. Agak jarang bermain dalam sablon tapi lebih tertuju pada permainan desain dan corak yang lebih beragam.

Sentuhan lipit-lipit hampir mendominasi setiap desain membentuk kaos semi babydoll yang menjadi khas Gee Eight. Detil kancing di bagian depan atau bahu dengan model kerah yang juga beragam dari mulai kerah rebah, kerah shanghai dan lain-lain.

Pemilihan bahan kaos dengan unsur ketebalan menjadi salah satu ciri khas. Diaplikasikan dalam gaya kasual yang juga bermain dalam model-model baju berukuran sepanjang paha hingga lutut. Bisa difungsikan sebagai pakaian bagian luar bisa juga tidak.

Kefleksibelan ini membuat desain-desainnya bisa juga dipakai oleh wanita berjilbab. Dengan penambahan manset atau pemakaian kardigan di bagain luar maka siapapun tak akan ketinggalan untuk bergaya.

"Harga-harga yang ditawarkan Gee Eight tidak bisa dikatakan mahal juga tidak bisa dikatakan murah," tutur Elmira. Namun menurut Elmira sendiri dengan desain yang berbeda Gee Eight memiliki harga kompetitif dengan para pesaingnya.

Ketika nama Gee Eight diberikan sebagai ungkapan bahwa pemakai produk Gee Eight adalah wanita-wanita yang berada di angka delapan, siapapun itu, maka semoga itu anda.(ern/ern)

Pilih Barang Kelas Teri Sampai Kelas Kakap

Pilih Barang Kelas Teri Sampai Kelas Kakap
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Meski FO dan distro menjadi primadona wisata belanja yang membesarkan nama Bandung. Pasar Baru Trade Center yang berawal dari pasar tradisional pun ternyata cukup diperhitungkan.

Menurut Supervisor Promotion Pasar baru Trade Center, G. Suga Setia Pasar Baru menjadi salah satu tujuan para wisatawan luar Bandung.

"Mereka datang per bis untuk belanja di sini. Bahkan dari Malaysia banyak yang belanja bed cover untuk dijual kembali," ujar Suga.

Menurut Suga, harga yang lebih murah dan kualitas yang bagus menjadi alasan para wisatawan-wisatawan tersebut berbelanja di pasar baru.

"Kami menjual berbagai komoditi dari mulai kelas teri sampai kelas kakap," masih menurut Suga.

Maka ketika datang ke Pasar Baru banyak pilihan produk yang bisa disesuaikan dengan keuangan. Dari mulai barang obralan sampai produk yang eksklusif.

Misalnya mukena yang laris manis di bulan ramadan ini. Menurut salah seorang pramuniaga yang menjual mukena Ida (18) mukena dijual mulai harga Rp 35 ribu sampai Rp 2, 5 juta. Meski untuk mukena yang eksklusif masih agak jarang yang membeli.

Untuk sarung yang juga banyak peminatnya dituturkan Djoko pengelola PD Wijaya sarung dijual dari mulai Rp 17.500 sampai sarung berbahan sutera seharga Rp 200 ribu.

Untuk baju koko, seperti yang dijual di lapak Frienship bisa dipilih dari harga terendah Rp 30 ribu sampai Rp 1,5 juta.

Setiap harga yang ditawarkan di Pasar Baru masih bisa ditawar. Turunnya harga tergantung dari kepiawaian konsumen untuk merayu para penjual.(ema/afz)

Fashion Berjiwa Muda Ala Ramia

Fashion Berjiwa Muda Ala Ramia
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Saat kreatifitas clothing independen dengan distronya begitu menggebu-gebu, para desainer muda Bandung seperti bersembunyi, bergerak tanpa suara. Padahal dengan gerilya tangan-tangan mereka pun apik menghasilkan karya. Karya-karya eksklusif yang khas, tidak umum, dan penuh eksplorasi.

Nama Ramia mungkin belum sepopuler desainer Adi Notonegoro, Ramli dengan batiknya atau desainer-desainer ibukota lainnya. Bernama lengkap Ramia Wulandari ternyata mojang kelahiran 1985 ini sudah menangani kostum beberapa artis wanita, seperti Sherina, Mulan Kwok atau Wulan Jameela dan Bunga Citra Lestari.

Menurut Ramia, karyanya tidak hanya berkutat di fashion desain tapi lebih menukik ke tekstil desain. Fashion desain mengarah pada sketsa pakaian itu sendiri namun tekstil desain lebih khusus pada bahan tekstilnya.

"Saya melakukan eksplorasi bahan. Bahan tersebut saya olah kembali. Entah itu dengan dicelup, diberikan unsur bordir, disteam, dikerut dan macam-macam tekhnik lainnya," tutur gadis lulusan Kriya Tekstil ITB ini.

Mulai menancapkan diri di tahun 2006 Ramia melakukan eksplorasi pada tekstil sehingga karyanya sarat akan sentuhan kerut dan aplikasi plit. Gaun-gaun cantik yang dinyatakan Ramia jauh dari sentuhan tua.

"Karya saya berjiwa muda. Baju resmi yang tidak terlihat tua," ungkap Ramia yang tengah menyelesaikan pendidikan S2 nya di desain produk ITB.

Dengan permainan bahan dua dimensi dan tiga dimensi juga permainan warna melalui tekhnik celup gradasi atau celup ikat. Aplikasi-aplikasi payet, bordir, mutiara dan permata membuat karyanya lebih berbinar.

Karya-karya Ramia pernah ditampilkan dalam Bandung Fashion Vaganza beberapa waktu lalu. Saat bersamaan Ramia pun mengikutkan karyanya di Jakarta FAshion Week. Di even tersebut dia termasuk ke dalam empat nominator desainer yang menjanjikan. Selain itu Ramia tercatat sebagai Lux Women bidang fashion dari sebuah produk sabun kecantikan beberapa waktu lalu.

Namun sampai saat ini Ramia mengaku enggan untuk membuka outletnya sendiri di Bandung. "Saya lebih memilih costumize (pesanan-red) saja," ungkap Ramia.

Selain aktivitas kuliah sehari-harinya bersama tiga orang pegawai Ramia berada di workshopnya Jalan Rusa No 8, Lodaya Bandung.(ema/ern)

Busana Gaya Tapi Syar'i ala Murankalih

Busana Gaya Tapi Syar'i ala Murankalih
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Simple, stylish dan syar'i. Perpaduan antara gaya Jepang dengan kerah berbiku dan Eropa yang sarat akan lipit menjadi aplikasi sederhana di atas kain-kain berwarna lembut.

Tidak terlalu bermain dengan detil yang ramai. Padu padan warna dan corak dipilih tidak terlalu mencolok. Menghasilkan keserasian yang seringkali dilabrak pada model busana masa kini yang tampil lebih berani.

Itulah busana-busana muslim khusus anak yang ditawarkan label Murankalih (Murangkalih/anak-anak-red) karya Ita Yana.

Outlet semi butik yang terletak di Jalan Sultan Agung No 15 ini mengarahkan anak menjadi sosok pribadi yang sarat kesederhanaan tapi tetap bergaya sekaligus yang terpenting sesuai dengan syariah Islam yaitu menutup aurat.

"Ya, busana ini mungkin terlihat lebih dewasa. Karena saya ingin rancangan saya tetap bernuansa sederhana. Tidak terlalu banyak warna terang dengan perpaduan yang mencolok," tutur Ita yang mendirikan Murankalih empat tahun lalu.

Ita menyatakan dirinya tidak terlalu menyukai gaya-gaya modern dengan tabrak warna dan ragam aplikasi. Hal itu tercermin dalam pemilihan warna-warna busananya yang lembut yang kebanyakan dari bahan katun.

Busana-busana yang dikeluarkan terdiri dari one pieces berupa long dress, two pieces berupa atasan dan bawahan dan three pieces yang dipadukan dengan rompi.

"Detil-detil seperti pita, renda, bis, biku, aplikasi atau sulam banyak saya gunakan dalam desain ini," jelasnya. Semua desain, sambung Ita, dilengkapi dengan kerudung.

Meski untuk anak-anak dengan karakter desainnya secara fisik karya Ita juga bisa digunakan orang dewasa. Namun Ita tetap memfokuskan busananya untuk kalangan anak-anak mulai usia 5-11 tahun.

Permainan biku dan lipit hampir bisa ditemui di setiap desain. Corak bunga kecil, kotak-kotak kecil atau polos menajdi warna-warna pilihan untuk mencerminkan sisi sederhana dan lembut yang ditawarkan.(ema/ern)

Cosmic, Tiga Brand Satu Konsep

Cosmic, Tiga Brand Satu Konsep
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Oranye, warna cerah inilah yang begitu identik dengan label clothing yang juga sarat keceriaan, Cosmic.

Konsep colourfull yang diusung clothing yang didirikan 1 September 2001 silam ini menjadi pembeda dengan clothing lain. Membawahi tiga brand yaitu Cosmic, Cosmic Girl dan Infamous tak meluruhkan konsep colourfull yang menjadi identitas.

Untuk tahun ini menurut Manager Promosi Agi, Cosmic bermain di lego style dan pixel style. Banyaknya desain yang dikeluarkan tergantung dari aktifnya para desainer untuk menghasilkan desain-desain baru.

"Desain Cosmic berganti-ganti. Bisa jadi dalam satu bulan menghasilkan 100 desain. Namun tetap dengan dasar warna-warna cerah," jelas Agi.

Seperti halnya label clothing lainnya, Cosmic memiliki produksi utama t'shirt. Produk lainnya seperti tas, dompet, topi, sandal, jeans dan ikat pinggang. Yang menjadi pembeda adalah produk bucklenya (kepala sabuk) yang kerjasama dengan produsen buckle ternama dan pembuatan USB.

Cerahnya warna-warna Cosmic bisa dilihat dari desain dan warna yang dipilih untuk produk Cosmic Girl. Desain yang tak biasa berikut warna-warna cerah seperti mencerminkan keceriaan dunia gadis remaja. Meski terkesan simple tapi so girlie.

Cosmic pun menghadirkan produk yang lebih klasik melalui Infamous. Brand Infamous yang semula hanya memproduksi sneaker juga mengeluarkan produk lainnya termasuk t'shirt. Meski klasik konsep colourfull yang menjadi ciri khas tetap tidak hilang.

Mungkin konsep colourfull Cosmic yang membuat produk ini bisa diterima di beberapa kota di Indonesia. Mengutip ucapan Agi, Cosmic ada dari ujung Sumatera sampai Timika. Di Bandung sendiri selain di outlet resmi Cosmic Jalan Trunojoyo dan Buah Batu ini Cosmic bisa didapatkan di Flashy, Jalan Dipatiukur.(ema/afz)

Virus Industri Clothing Menyebar ke 94 Kota

Virus Industri Clothing Menyebar ke 94 Kota
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Independen, sebuah kata sakti yang akhirnya bisa membangun budaya kreativitas di kalangan anak muda Bandung. Secara mandiri, mereka bahu membahu, merangkai jejaring tanpa menggantungkan diri pada uluran tangan pemerintah.

Itulah yang akhirnya membuat industri kreatif seperti clothing dalam tempo 10 tahun bisa menyebarkan virusnya di sekitar 94 kota di Indonesia. Dengan mengandalkan kekuatan community independent industri ini pun tersebar dari ujung Sumatera sampai Timika.

Seperti dituturkan Ketua Kreative Independent Clothing Kommunity (Kick) Tubagus Fiki Satari. "Community independent bisa turut menyebarkan industri clothing tanpa bantuan dari pemerintah," ujar Fiki.

Menurut Fiki di kota lain juga memiliki komunitas-komunitas independen. Melalui pergaulan antar komunitas itulah yang mendorong supaya orang-orang mau memakai produk clothing. Fiki mencontohkan di Sulawesi yang kini hampir semua kabupatennya terdapat industri clothing.

"Industri clothing membangun budaya secara komunal melalui program-programnya," jelas Fiki.

Industri ini berawal dari tahun 94-an yang hanya menjual produk-produk dari luar negeri. Kemudian antara tahun 1996-1998 mulai tumbuh industri clothing yang menjual produk-produk buatan sendiri.

Pada masa itu, di Bandung ada 6-7 clothing. "Saat ini terdapat sekitar 1000-an industri clothing dan distro yang ada di Indonsia. Jumlah di Bandung sekitar 40 persennya atau sekitar 400-an," ungkap Fiki.

Maraknya industri clothing saat ini dinilai Fiki tak hanya sebatas persaingan anak muda dan komunitas tapi para pengusaha besar pun turut melirik industri ini.

Industri clothing tak hanya berbicara bisnis tapi juga menjual gaya hidup, distribusi, band independen, tempat nongkrong, komunitas dan menjual attitude. "Sayang kalau hanya menjual bisnis saja. Hal itu akan membunuh pelaku clothing lainnya," tutur Fiki.

Fiki menilai meski pelaku clothing dari kalangan anak muda dinilai memiliki keterbatasan modal untuk berpromosi tapi mereka memiliki kreativitas yang terus membuat mereka survive.

Fiki memprediksi industri clothing yang kini sedang booming akan memiliki daya hidup yang lebih panjang. "Kami tidak bisa disamakan dengan FO. Clothing punya merek sendiri," jelas Fiki.

Industri clothing berada di antara komersialisme dan idealisme. Dari sisi idealisme bisnis clothing pun mengikuti keinginan pasar. Di sisi lain clothing memiliki misi melakukan transfer knowledge pada konsumen.
(ema/lom)

Kick, Tempat Ketemunya Pelaku Clothing dan Distro

Kick, Tempat Ketemunya Pelaku Clothing dan Distro
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Belum lepas dari ingatan perhelatan besar industri clothing Kickfest 2008 awal Agustus lalu. Dalam even akbar itu puluhan clothing dijejali ratusan manusia pemburu produk industri kreatif tersebut.

Hentakan musik di atas panggung dan gelaran diskon besar-besaran membuat even ini menjadi even tahunan yang ditunggu oleh para penggemar produk industri clothing.

Nama Kick sendiri adalan nama organisasi penyelenggara Kickfest, Kreativity Industry Clothing Kommunity atau Kick. Tergabung di dalamnya para pelaku industri clothing baik pemilik clothing maupun distro.

Sebagai wadah para pelaku industri kreatif dari nama saja organisasi ini sudah menunjukan sisi kreatifnya. Lihat saja, Creativity ditulis dengan Kreativity sedangkan Community pun ditulis dengan Kommunity.

Diakui Ketua Kick, Tubagus Fiki Chikara Satari secara formal Kick terbentuk September 2006. Meskipun pemikiran perlunya mendirikan sebuah asosiasi atau organisasi yang mewadahi indutri clothing sudah terpercik sejak tahun 2001-2002.

Saat ini Kick terdiri dari 29 anggota termasuk di dalamnya clothing dan distro. Sekadar mengingatkan, clothing adalah label atau merek dari industrinya sedangkan distro kepanjangan dari distribution outlet yaitu toko yang menjual produk-produk clothing.

Kick yang sekretariatnya berada di Jalan Kyai Gede Utama No 8 ini berperan sebagai wadah komunikasi antara para pelaku industri clothing lokal.

"Setiap anggota saling membesarkan dan memberikan stimulus serta motivasi-motivasi pada kawan-kawan yang lain untuk terus berkreasi," jelas pemilik Airplane Systm clothing ini.

Selain itu, Kick juga berperan sebagai perwakilan resmi para anggotanya dalam berhubungan dengan pemerintah atau instansi swasta lainnya secara kelembagaan.

Di samping itu Kick juga aktif menggelar diskusi-diskusi yang memberikan edukasi umum kepada para anggotanya dalam mengembangkan bisnis clothing.

Meskipun tidak semua clothing dan distro menjadi anggota Kick, Fiki menyatakan hubungan para anggota Kick dengan semua pelaku Clothing di luar Kick tetap berjalan harmonis.
(ema/ema)

Untuk Speaker People Dari 1st Store

Untuk Speaker People Dari 1st Store
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Tercatat bahwa musik sebagai titik awal terbentuknya budaya clothing di Bandung. Dimulai dengan pembuatan merchandise-merchandise band-band indie Bandung yang awalnya hanya dikonsumsi komunitas.

Begitu pula awal berdirinya 1st Store (First Store) yang terletak di ujung Jalan Ternate. Jika anda mengenal grup musik beraliran rock n' roll Bandung Speaker First, di sinilah outlet yang khusus menyediakan merchandise mereka.

Tempat ini pula yang menjadi markas para personel Speaker First sekaligus tempat mangkalnya para penggemar Speaker First yang dijuluki Speaker People.

Meski diakui penjaga toko, Ricky (20) produk-produk yang dijual di 1st Store tidak melulu merchandise Speaker First. Apalagi sepeninggal vokalis Speaker First tahun 2007 lalu merchandise Speaker First agak jarang ditemui. Kalaupun diproduksi pasti langsung dibidik para penggemarnya.

"Paling banyak produksi pin dan stiker,"tutur Ricky.

Tapi musik tetap menjadi inti distro ini, namanya saja distro music merchandise. Beberapa label clothing termasuk diantaranya label clothing Thailand turut meramaikan deretan t'shirt yang semuanya serba musik.

Sebut saja Cupid The Locke, Lemonade, 1st Store, Heavy Metal dari Thailand dan Mad Devil. Dari nama-nama clothing sudah bisa ditebak aliran musik yang kebanyakan ditampilkan di t'shirt grup musik bergenre keras dan turunannya. Didukung pula dengan tampilan visual bernuansa agak sangar.

Grup musik populer seperti U2, Muse, Oasis, Suede, The Door, Metalica, atau Blur dengan visual yang diambil dari lagunya Coffee and TV dan lain-lain. Harga t'shirt impor berkisar Rp 80 ribu- Rp 100 ribu. Sedangkan t'shirt lokal antara Rp 50 ribu- Rp 70 ribu.

Ricky menambahkan, Speaker First sendiri dua bulan selepas Lebaran akan mengeluarkan album baru di bawah label Sony BMG. Saat ini Speaker First pun sedang mendata kembali Speaker People yang sebelumnya sudah mencapai 2 ribu anggota. Oke, Speaker People! Kita tunggu saja merchandise baru mereka!
(ema/ema)

Distro Channel, Distronya Orang Rantau

Distro Channel, Distronya Orang Rantau
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Pergerakan anak muda Bandung dengan musik sebagai akarnya sering sekali dikaitkan sebagai cikal bakal tumbuh kembangnya industri clothing.

Keberhasilan industri clothing yang kian meningkat, otomatis membuat para pelaku bisnis pun melirik. Alhasil, industri ini menjadi besar tidak hanya di kalangan anak muda Bandung, tapi mewabah pada pengusaha sandang di Bandung.

Entah bagaimana awalnya, clothing-clothing baru ramai bermunculan yang tak hanya ramai di Jalan Trunojoyo atau Jalan Sultan Agung, Jalan Dalem Kaum yang berada di alun-alun Bandung pun begitu riuh dengan ragam label clothing.

Bangunan berlantai dua dengan nama Distro Channel berdiri di Dalem Kaum menaungi 30-an clothing sejak tiga tahun yang lalu. Pemiliknya bukan saja anak muda Bandung. Menurut salah pengelola clothing Nozzle, Fahmi (40) pemilik clothing di Distro Chanel rata-rata warga rantau dari Padang, Sumatera Utara.

"Ya, sekitar 80 persen pemiliknya orang Padang. Sisanya baru pribumi," tutur Fahmi. Menurutnya para pengusaha di Distro Chanel adalah pemain pemula dalam industri clothing. Di mana kebanyakan label mereka baru muncul bersamaan dengan berdirinya Distro Chanel di samping pemain lama yang membuat merek baru.

Pertarungan desain masih menjadi inti dari industri kreatif ini. Meski diakui Fahmi jika biasanya nama label clothing sebagai cerminan dari idealisme kreatifitas, di tempat ini tidak.

"Kebanyakan belum punya karakter sendiri lebih ke bisnis. Banyak juga yang desainnya sama meskipun mereknya beda," jelas Fahmi.

Lebih lanjut Fahmi menjelaskan, ketika ada booming salah satu desain maka clothing-clothing banyak yang mengikuti. Namun hal itu tidak membuat mereka khawatir kehilangan ciri khas karena setiap desainer clothing harus cepat tanggap dalam melihat reaksi pasar.

"Desain yang kurang laku harus langsung diubah biar tidak monoton," tutur Fahmi.

Fahmi pun mengakui para pelaku clothing asli Bandung memiliki tingkat kreativitas desain yang cukup tinggi. Tidak hanya seputar t'shirt tapi juga membuat sepatu sendiri sampai sabuk dengan merek sendiri.

Selain itu, lanjut Fahmi, dari segi promosi clothing di Distro Channel belum mampu menyaingi clothing pendahulunya yang menggunakan artis.

Namun diakui Fahmi, pengunjung masih terus antusias untuk datang dan membeli di tempat ini tak terkecuali beberapa artis ibu kota.

Sepertinya, apapun itu perbedaannya, kreatifitas tetaplah menjadi modal utama untuk tetap bernafas dalam industri ini. Pasarlah yang akhirnya memilih. Mana yang sesuai selera mungkin juga isi dompet. Sebab di sini, konsumen bisa menawar harga.(ema/afz)

Si Pionir Clothing yang Terus Tersenyum

Si Pionir Clothing yang Terus Tersenyum
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Si Pionir Clothing yang Terus Tersenyum

Telah melebarkan sayapnya ke Singapura dan Australia UNKL347 (BACA: Uncle347) menjadi salah satu label clothing kelas kakap. Outletnya pun bisa langsung ditemukan ketika pertama kali menyusuri Jalan Trunojoyo.

Nama UNKL347 diberikan pada akhir 2006, sebagai tanda usia yang sudah menginjak satu dasawarsa. "After ten years, friends call us uncle" begitulah tagline dari label ini. Padahal sebelumnya, UNKL347 harus berevolusi dari macam-macam nama meski satu hal yang tak pernah lepas yaitu angka 347.

Berawal dari kecintaan pada surfing, skateboard, dan desain sekelompok desainer dan artis, membuat label clothing dengan nama 347boardrider.co di tahun 1996. Kecintaan tersebut tentulah menjadi refleksi dalam setiap desain.

Seperti halnya sejarah clothing yang kuat karena komunitas, sekelompok orang ini pun menjual produknya berdasarkan pesanan-pesanan di katalog yang mereka buat.

Hingga akhirnya di tahun 1999, mereka bisa mendirikan outlet sendiri. Masa inilah bisa dikatakan sebagai pionir keberadaan label clothing, tak hanya di Bandung tapi Indonesia. Namun di tahun ini 347boarrider.co pun diubah hanya dengan nama 347.

Operasional Manager Yogi menyebutkan, dari segi desain pun lebih melebar. Tak hanya surfing tapi terpengaruh oleh musik, kehidupan malam, seni, dengan nuansa avangarde yang membuat label ini terus beranjak menuju sukses.

Sebagai kumpulan anak-anak muda. 347 tak hanya berkutat di seputar bisnis tapi menjadi media bagi anak muda Bandung untuk menumpahkan gagasan dalam bentuk Ripple Magazine. Di mana di dalamnya tertuang hal-hal tentang anak muda Bandung yang tak terbaca oleh media lainnya.

Di sana, mereka mencatat sudut-sudut pandang lain tentang dunia mereka. Di tahun yang sama mereka memproduksi sepatu dengan label 'Indicator Shoes' yang desainnya terinsipirasi skateboarding dan musik rock. Tak berapa lama produksinya pun tidak hanya sepatu, tapi merambah pada t'shirt dan jaket. Pada tahun 2001, 347 membuka label Boyriders khusus untuk perempuan tapi hanya bisa bertahan satu tahun.

Menurut Yogi, 347 mulai melakukan ekspansi ke luar Bandung sekitar tahun 2000-an yaitu ke Jakarta. Saat ini produk-produk 347 sudah menyebar ke berbagai pelosok tanah air. Karena diakui Yogi, orang-orang daerah ternyata sangat responsif terhadap clothing Bandung. Yogi menyebutkan anam muda Makasar yang ternyata lebih konsumtif dalam membeli barang-barang cothing.

2002 menjadi tahun yang paling penting untuk sejarah 347 karena di tahun inilah label ini berkembang pesat. Salah satunya berkat even-even underground mereka gelar. Tahun 2003, 347 berubah jadi 347/Eat yang menggunakan konsep propaganda dalam setiap desainnya. Akhir tahun 2006 Eat dihilangkan diganti dengan UNKL347.

"Sense, design, memories, create and play adalah lima elemen yang diusung," jelas Yogi. Inovasi terus dilakukan untuk tetap bertahan di dalam industri ini. Sebab menurutnya, industri clothing adalah industri yang bermain di level kreatif.

Yogi mengaku usaha UNKL347 memang terus meningkat dari tahun ke tahun. Yogi pun yakin kalau industri clothing ini akan terus bertahan sampai beberapa tahun ke depan. Karena selama kultur anak muda masih tetap ada, industri ini pun akan tetap eksis.

Selama lebih dari sepuluh tahun, UNKL347 sudah bisa menunjukan bahwa produk lokal yang dihasilkan anak-anak muda Bandung bisa berhasil. UNKL347 pun mencoba tersenyum yang digambarkan lewat logo unik, berupa wajah berkacamata besar dan kumis ala Pak Raden dihiasi dengan senyuman.(ema/ern)

Taste Badger Ya... Badger!

Taste Badger Ya... Badger!
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Tak selalu sebuah nama diberikan dengan segala kegagahan filosofis di baliknya. Ketika sebagian para pendiri clothing menamakan labelnya dengan nama tertentu yang menjurus pada idealismenya, tidak begitu dengan Badger.

Badger.. ya... Badger. Begitulah yang dituturkan Store Manager Badger Clothing Herdi Herdiansyah (33). Menurutnya, badger bisa diartikan beragam, entah itu dari kata badge, nama seekor binatang bahkan akronim dari pemiliknya Baines Johardi.

What's a name-nya Shakespeare, tampaknya falsafah yang diusung Badger. Nama bagi Badger bukanlah sesuatu yang penting. Namun menjadi penting ketika Badger sudah menjadi salah satu label clothing yang bertahan sejak pendiriannya di tahun 1999.

Sejak itu pula, sesuai dengan namanya yang bisa bermakna apapun, desain Badger terkonsep pula tanpa patokan tertentu. Tapi, di sini rasa yang berbicara.

Seperti diungkapkan Hendri, meskipun setiap desain Badger tanpa idealisme tertentu tapi para customer sudah tahu bagaimana tastenya Badger. Walaupun pada dasarnya konsep desain Badger dibuat bervariatif dan nggak neko-neko.

Pijakannya tetaplah pasar. Badger pun sering menampung keinginan customer. Hal itu disinergikan dengan tren di mana Jepang sebagai salah satu negara yang dijadikan barometer.

Untuk customer perempuan, Badger membuat label Anty Beauty yang muncul dua tahun setelahnya, yaitu 2001. Dua label ini disatukan di outlet mereka Jalan Trunojoyo No 23 yang baru berdiri tahun 2003.

Sedangkan untuk Desain lebih spesifik yang mengarah pada musik, Badger pun membuat second brand Voltra. Voltra di pasarkan di outlet yang berbeda termasuk salah satunya di Bali.

Tapi jika kembali bertanya Badger itu seperti apa, tidak akan tertuju pada satu jawaban baku. Para customernya lah yang tahu itu. Badger... ya... Badger.(ema/ern)

Badger, Mulai Rambah Malaysia

Badger, Mulai Rambah Malaysia
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Menyusul kesuksesan clothing pendahulunya yang sudah lebih dulu ekspansi ke Malaysia, clothing Badger kini mulai akan melebarkan sayapnya ke negeri jiran.

Diungkapkan Store Manager Badger, Hendri Hardiansyah (33) Agustus lalu pengusaha Malasysia mengundang Badger untuk datang ke Malaysia dan melihat perkembangan industri clothing di sana.

"Mereka datang ke sini karena ada permintaan dari anak muda Malasysia terhadap produk Badger," jelas Hendri.

Diungkapkan Hendri sebenarnya rencananya akan membuka franchaise di Malaysia tapi karena prosudernya cukup rumit jadi belum bisa terlaksana. "Saat ini baru kerjasama dalam bentuk konsinyasi," kata Hendri.

Badger sendiri mulai ekspansi ke luar Bandung awal tahun 2004-an. Awalnya ke Jakarta, lalu Jogya dan Makasar. Badger pun sudah ada di Bali dalam bentuk franchaise.

Di tahun 2005, Badger terbilang dalam masa krisis. karena pada tahun tersebut banyak juga clothing-clothing yang berguguran. Namun akhirnya Badger bisa bertahan dan mengalami perkembangan pesatnya pada tahun 2006 sampai sekarang.

Menurut Hendri, industri clothing besar dengan promosi dari mulut ke mulut. Hal itu dinilainya lebih efektif daripada promosi di media. Seperti halnya Badger yang kini tengah siap-siap untuk lepas landas ke luar Indonesia.(ema/afz)

Berawal Dari Nongkrong Jadi Recording Label

Berawal Dari Nongkrong Jadi Recording Label
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Record Label ini bisa dibilang label record Indie pertama di Bandung. Di tempat ini lah, Burgerkill merilis album perdananya di tahun 2000 dengan tajuk "Dua Sisi". Album ini sukses mencetak penjualan sebanyak 5 ribu copy.

Riotic records, tercatat sebagai tempat yang menelurkan banyak band-band beraliran punkrock, hardcore yang cukup ternama. Tak hanya Burgerkill, juga band lain seperti Authority atau Turtle Jr.

Padahal berawal dari nongkrong. Itulah cerita awal berdirinya Riotic yang dituturkan empunya Riotic Dadan. "Awalnya cuma nongkrong nggak jelas," ungkap pria dengan sapaan akrab Dadan Ketu ini.

Mereka adalah komunitas anak muda penggemar musik-musik bawah tanah yang datang dari berbagai penjuru Kota Bandung termasuk Cimahi.

Komunitas tersebut rata-rata meiliki band sendiri namun tidak memiliki tempat untuk menyalurkan keinginan bermusik mereka. Dari sanalah dibuat even-even yang sifatnya indie.

Sebelum menjadi nama Riotic, Event organizer dengan nama Hijau Entertainmen pun membuat even-even musik di Bandung. Dadan menuturkan antara tahun 96-97 hampir setiap minggu ada even musik di Lapangan Saparua.

Maka utuk mendokumentasikan karya musik band-band Indie tersebut dibentuklah recording label dengan nama Riotic Records.

Terobosan yang cukup fenomenal ketika Riotic merilis album kompilasi punk rock pertama di Indonesia dengan sederetan nama band-band ternama seperti Turtlr Jr. atau Keparat. Album ini pun berhasil dijual sebanyak 2 ribu copy.

Sampai saat ini Riotic sudah merilis album 18 band berlairan punk rock dan hardcore.

Namun diakui Dadan saat ini bisnis kaset lesu tapi di sisi lain Industri Clothing kian meraja. Aktivitas Riotic pun menurun. Jika dulu dalam setahun bisa merilis 1 sampai dua album, tapi selama dua tahun terakhir ini Riotic belum merilis lagi album.

Biaya recording yang lebih mahal serta perkembangan teknologi yang lebih memudahkan akses musik menjadi alasannya. "Band-band juga sekarang ada yang membagi sampling secara gratis atau kemudahan mendowload musik dari website mereka," jelasnya.

Pengelola Riotic pun mengerucut. Menurut Dadan, dari semula sembilan orang kini tinggal dirinya. Hal itu tak membuat semangat Dadan surut. Tetap tidak terlepas dari musik. Mengutip kata-kata Dadan 'Lihat situasi saja. Biar berjalan apa adanya'.

Riotic pun bergerak di distro yang khusus menyediakan merchandise musik. Melalui studio dan distronya ini, aktivitas Riotic masih terus berjalan di markas besarnya di Jalan Sumbawa. Seperti bagaimana awalnya Riotic berdiri. Tempat ini kini jadi tempat tongkrongan komunitas pecinta musik underground. Dari nongkrong kembali ke nongkrong!(ema/ern)

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons