Golok Atau Kujang, Souvenir Cantik Untuk Pajangan


Bandung - Apa yang terpikirkan ketika berbicara mengenai golok, pedang atau samurai? Tentunya ingatan akan langsung melayang kepada pertarungan, perang atau hal-hal berbau permusuhan.

Padahal senjata-senjata ini tak selalu menjadi alat untuk beradu kegagahan. Dengan polesan seni, rasa takut yang mungkin muncul ketika berhadapan dengan senjata bisa jadi akan berubah menjadi decak kekaguman.

Bagaimana tidak, senjata-senjata tersebut dibalut dengan sarung-sarung yang diukir dengan terampil. Karakter pahatan yang apik pun tercipta melalui kayu rasamala.

Bagian dalam senjata yang terbuat dari besi pun tak ketinggalan dari sentuhan daya tarik ukiran. Penambahan ornamen-ornamen seperti tanduk kerbau dan tulang kerbau di bagian gagang atau noktah-noktah batuan berkilau untuk menyempurnkannya. Tangan pun akan lebih tertarik untuk mengelus daripada menghunus.

Di Galeri Ridho Asih yang terletak di Kampung Sukamanah, RT 03 RW 03 Desa Mekarjaya Kecamatan Pasir Jambu Ciwidey senjata-senjata ini memang disiapkan sebagai souvenir.

Senjata-senjata yaang berukuran antara 20 centimeter hingga 2,75 meter ini menjadi senjata eksklusif yang khusus dibuat untuk para wisatawan.

Tak hanya sebatas golok, pedang, atau samurai, senjata-senjata lain pun bisa ditemukan, seperti karambit, belati, keris, sangkur, atau senjata tradisional Jabar kujang.

Desain-desain seperti gambar naga, tokoh wayang, atau gambar hewan membuat senjata ini lebih pantas menghiasi salah satu pojok rumah. Desain yang banyak dibuat adalah ukiran naga karena pembelinya lebih banyak berasal dari etnis Tionghoa.

Menurut Pengelola Ridho Asih, Dedi Suarna (31), selain senjata-senjata eksklusif, dirinya paling banyak memproduksi senjata-senjata biasa tanpa ukiran yang artistik.

"Golok biasa kami kirimkan ke pasar-pasar tradisional atau ke pedagang keliling. Sedangkan untuk yang eksklusif kami kirimkan salah satunya ke tempat tempat wisata termasuk Tangkuban Perahu," tutur Dedi ditemui dalam sebuah pameran di Bandung beberapa waktu lalu. Dedi menyebutkan, kerajinan-kerajinan tersebut dikirim ke Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera, juga Jakarta.

Namun pembuatan senjata hias eksklusif ini dilakukan jika ada pesanan. Dedi mengakui dalam satu bulan memproduksi senjata eksklusif sebanyak 100 buah sedangkan senjata pasar bisa mencapai 500 buah. Dalam proses pembuatannya, untuk satu senjata hias bisa menghabiskan waktu sekitar satu minggu. Untuk harga dimulai dari golok biasa Rp 17.500 sampai yang eksklusif Rp 850 ribu.

Menurut Dedi, selain dirinya, penduduk lainnya sebanyak 144 KK di Kampung Sukamahi juga menggantungkan hidupnya dari usaha golok baik yang hias maupun pasar. Meskipun kebanyakan membuat golok-golok untuk pasar-pasar tradisional. Tempat yang dikenal sebagai sentra golok hias ini ternyata kerap dikunjungi wisatawan asing sebelum meledaknya peristiwa bom Bali.

"Jika biasanya turis datang hampir setiap hari sekarang makin langka itu pun jika ada paket kunjungan wisata yang biasa diadakan hotel," ujar Dedi. Hal ini tentu saja diakuinya menurunkan omzet hingga 50 persen.

Di kawasan Kampung Sukamanah ini, bisa dilihat wisata workshop pembuatan golok. Usaha yang termasuk ke dalam home industry ini diakui Dedi kesulitan dari segi pemasaran. Jika pemasaran bagus permodalan yang tidak bagus, begitu pula sebaliknya. Maka salah satu cara yaitu dengan melakukan promosi di pameran-pameran UKM yang diadakan pemerintah.

Jika anda tertarik untuk melihat dan mengunjungi sentra wisata ini dari Pasar Ciwidey belok ke kanan sampai menemui pangkalan andong lalu berjalan lurus sejauh 1 kilometer menuju Kampung Sukamanah.(ema/ern)

Pemandian Bekas None Belanda Yang Masih Eksis


Bandung - Kalau bicara Bandung memang tidak adanya matinya, selalu saja ada cerita di dalamnya yang sangat menarik untuk kita angkat.

Tempat-tempat peninggalan Belanda banyak yang masih berdiri kokoh samapai sekarang, bahkan manfaatnya pun tidak hilang.

Salah satu bangunan yang paling tua di Bandung ini, adalah kolam renang Tirtamerta atau lebih dikenal dengan Pemandian Centrum yang terletak di Jalan Belitung No 10, dekat SMA 3 Bandung.

Berdiri sekitar tahun 1920-an, dibangun dengan gaya arsitektur modern tropis Indonesia hasil rancangan arsitek ternama pada jamannya, yaitu C.P. Wolff Schoemaker. Pemandian ini dibangun di atas tanah seluas 3.200 m2 dengan luas bangunan 1.150 m2.

Menurut Ahamad Sukarmin selaku pengurus tempat pemandian ini, dulu pemandian ini dibangun khusus untuk orang-orang Belanda yang tinggal atau pun hanya singgah di kota ini.

"Pada tahun 1948-an, warga negara Belanda berangsur-angsur pulang ke negeri asalnya, akhirnya tempat ini dipindahtangankan kepada seorang warga negara Indonesia keturunan Thiong Hoa, bernama R Tjandraprawira," ujar Sukarmin.

Pada masa itu walaupun telah dimiliki oleh warga negara Indonesia, tetapi masih belum bisa dikomsumsi untuk publik.

Baru sekitar tahun 1960-an tempat pemandian ini dipergunakan untuk umum. Sebab pada waktu itu pelajaran renang sudah menjadi satu pelajaran wajib, oleh karenanya para guru membutuhkan kolam renang.

Setiap hari tempat pemandian ini buka dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, kecuali hari selasa dan hari libur nasional. Kebanyakan pengunjung adalah dari anak-anak sekolah mulai dari SD, SMP, hingga SMA, sedangkan pengunjung umum sangat sedikit sekali.

Kolam renang ini juga pernah direnovasi, pada tahun 2000. Panjang kolam renang yang awalnya 30 meter menjadi 46 meter dengan lebar 21 meter dan kedalaman yang asalnya 3 meter menjadi 50-160 sentimeter.

Disisi kolam renang terdapat beberapa tempat ganti baju. Di sisi kiri khusus untuk wanita, dan disisi kanan khusus untuk pria.

Tersedia beberapa warung makan, tapi sayang tempat kurang terurus. Dilihat dengan persaingan di jaman sekarang, tempat ini masih sangat terlalu sederhana.

Tapi jika ingin menikmati pemandian tua di Bandung, mungkin tempat ini bisa menjadi alternatif, tinggal datang saja ke Jalan Belitung No 10.(ern/ern)

Ada Danamon hingga Satria Baja Hitam di Warung Sawios


Bandung - Pernah dengar danamon? Eits.. tapi ini bukan nama bank. Danamon ini punya kepanjangan unik yaitu dada montok. Tapi jangan jorok dulu maksud dada disini adalah dada ayam montok. Penasaran? Kita simak yuk yang satu ini.

Ada tempat di Bandung, yaitu tempat makan khusus masakan sunda di Jalan Aceh Gang Bbk Ciamis no 28 A, atau di samping BMC (Bandung Milk Center).

Mungkin sudah tidak aneh lagi restoran atau warung yang menyajikan masakan sunda disajikan dalam bentuk parasmanan, jadi kita bisa memilih sendiri yang kita mau. Tapi disini sangat unik sekali, karena setiap masakan tidak dinamakan seperti biasanya.

Salah satu contohnya adalah danamon atau dada ayam montok, paramon atau paha ayam montok, jerman atau jeruk manis, atau stm atau es teh manis. Bahkan untuk menamakan menu paru pun di sini mengambil nama salah satu pahlawan film kartun yaitu satria baja hitam.

Sejarah dari tempat makan ini memang cukup panjang, bermula dari tahun 1971, yang dirintis oleh Ibu Siti Aminah bersama ibunya. Awalnya mereka berdagang berkeliling dengan menggunakan gerobak.

Tapi akhirnya menetap di sekitar Bank Indonesia, setelah sebelumnya sempat berpindah-pindah. Sempat berhenti berjualan selama dua tahun, sebelum akhirnya pada 2005 mulai berdagang kembali Jalan Aceh Gg Bbk Ciamis no 28A, hingga saat ini.

"Saya menyediakan ayam sekitar 50 sampai 75 ekor per hari, dan beras sekitar satu karung per hari. Tapi jika suasana rame 6 karung bisa habis hanya dalam waktu tiga hari", ujar Siti.

Asal-usul warungnya dinamakan Sawios, menurut Siti, karena dulu ketika masih dagang di sekitar Bank Indonesia, ibunya seringkali mengucapkan 'sawios' (engga apa-apa-red) kepada pelanggan, terutama saat membayar.

"Misalnya ada pelanggan yang harusnya bayar Rp 7500, tapi ibu suka bilang 'sawios we Rp 7000' (engga apa-apa bayar Rp 7000 ribu aja-red). Jadi banyak yang bilang juga Ibu sawios, sampai sekarang pun pelanggan dari Bank Indonesia sampai sekarang masih suka makan disini," jelas Siti.

Tempat makan ini buka pada hari Senin sampai Sabtu dari pukul 7 pagi sampai 5 sore, tapi kalau hari Jumat selalu tutup dulu pada pukul 11, dan pukul 1 siang buka lagi.

Jika memang termasuk penyuka masakan sunda, jangan sampai terlewatkan wisata kuliner kali ini ke tempat ini. Tepatnya di jalan Aceh Gg Bbk Ciamis no 28a, atau tepat di belakang BMC (Bandung Milk Center).
(ern/ern)

Citarasa Kolonial Yang Terlupakan


Bandung - Braga Permai terkenal dengan pastry, coklat dan es krim resep turun temurun sejak berdiri tahun 1920. Namun ketika memasuki tempat ini, dari bangunannya sama sekali tak tercium aroma sejarah. Hanya tulisan bernada Belanda seperti chocolatier, pattisiers dan boulangers yang menegaskan, Belanda pernah di sini.

Di dalam ruangan tak ada ciri khas art deconya bangunan Belanda, atau dinding-dinding menjulang sebagai ciri khas lainnya. Lantai-lantai modern dengan langit-langit kayu menunjukan tempat ini sudah direnovasi.

Sebuah lukisan besar yang memperlihatkan bentuk lama dari bangunan ini seperti menjadi ciri bahwa tempat ini pernah menjadi saksi sejarah di jalanan Braga. Berawal dari nama Maison Bogerijen yang didirikan oleh orang Belanda, Bogerijen, kini populer dengan nama Braga Permai.

Potret lain memperlihatkan deretan orang-orang Hindia Belanda bersama para koki berfoto di depan tempat ini, memperlihatkan tulisan Maison Bogerijen.

Pada 11 Februari 1958 tempat ini diubah menjadi perusahaan nasional dengan nama PT Braga Permai. Pada tahun 1962 tempat direnovasi menjadi bangunan sekarang.

Menurut Bagian Umum Braga Permai, Ramlan (56) direnovasinya tempat ini karena dulu pada pemerintahan Presiden RI pertama Soekarno, presiden tidak menyukai bangunan yang mengarah pada ciri khas Belanda. Dalam lukisan bagian depan bangunan terlihat lebih membulat dengan atap sirap dan tulisan-tulisan besar di bagian pinggir.

"Sepertinya tidak ada lagi peninggalan bangunan zaman dulu yang tersisa. Ada juga oven peninggalan Belanda, itupun sudah tidak terpakai," jelas Ramlan.

Cafe berkapasitas 500 orang ini memiliki dua lantai. Namun menurut Ramlan bagian atas tidak lagi dipergunakan karena kurang perawatan seiring dengan berkurangnya pengunjung di tempat ini. "Pengunjung makin berkurang. Mungkin karena tidak ada tempat parkir yang memadai," tutur Ramlan.

Seperti halnya dengan tempat wisata yang biasa dikunjungi turis asing, tempat ini pun menjadi begitu sepi pengunjung selepas peristiwa bom Bali tahun 1998. Padahal Ramlan mengaku, pengunjung Braga Permai didominasi oleh turis asing. "Omzet pun sangat menurun," ujarnya.

"Paling kalaupun ada orang asing yang datang itu adalah orang Belanda dan Eropa yang menetap di Bandung," jelasnya. Menjamurnya tempat wisata kuliner di Bandung pun diakui Ramlan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi sepinya pengunjung.

Meski sepi, sampai saat ini Braga Permai masih mempertahankan peninggalan kolonial dari menu-menu makanan yang disajikan. Menu-menu khas Belanda masih menjadi ciri yang menjadi daya tarik tempat ini. Selain menu-menu kontemporer lain bercitarasa western, oriental dan lokal.(ema/afz)

Bangunan Kolonial Yang Sulit Perawatan


Bandung - Eloknya bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial memang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Bandung. Tapi merawat bangunan-bangunan yang masuk sebagai bangunan cagar budaya ini tidak mulus begitu saja. Beberapa perawatannya malah agak menyulitkan pengelola gedung saat ini.

Misalnya bangunan Kantor Pos Besar Bandung yang terletak di Jalan Asia Afrika No.49 dan Jalan Banceuy. sekitar tahun 1972-1974 kantor ini berfungsi sebagai Kantor Pos dan Telegraf (posten telegraf kantoor). Pada tahun 1985 bangunan ini hanya digunakan oleh PT Pos.

Bangunan karya arsitek ternama J. Ven Gendt ini menggunakan atap metal atau plat baja yang tidak bisa ditemukan lagi saat ini. Bangunan beratap metal merupakan salah satu ciri umum pada bangunan yang terletak di sudut jalan, khususnya Kota Bandung.

"Saat atap rusak kami kesulitan cari bahan yang sama karena bahannya berasal dari plat baja," jelas Asep Sudiana, Staff Sarana Kantor Pos Besar Bandung.

Menurut Asep, tahun 2007 pihak PT Pos menyusun perubahan untuk atap agar diganti sirap tapi tidak diperbolehkan karena termasuk bangunan bersejarah. Akhirnya kami mencari alternatif atap lain yang mendekati plat baja.

"Namun hanya dalam waktu 2 sampai 3 bulan saja masih terlihat baru berbeda dengan atap lama yang bertahan sampai puluhan tahun," jelas Asep.

Selain atap tidak perubahan pada sisi heritagenya. Kalaupun ada perubahan-perubahan yang dilakukan PT Pos untuk menyesuaikan dengan kebutuhan operasional pelayanan publik. Misalnya perubahan lantai menjadi marmer pada bagian pelayanan di gedung induk bagian depan Kantor Pos Besar Bandung.

Menurut Asep bangunannya sendiri 98 persen masih bangunan lama. Penambahan bangunan di bagian belakang tetap menggunakan peninggalan bangunan lama hanya disesuaikan dengan kebutuhan.

"Yang tidak diperbolehkan adalah merubah ornamen-ornamennya. Untuk jendela masih sama seperti dulu," ujar Asep.

Bangunan bergaya art deco geometrik yang langka dan unik dibangun selama empat tahun dari 1928 sampai 1931. Dibangun di atas tanah seluas 6000 meter persegi dengan luas bangunan 4.846 meter persegi dan terdiri dari dua lantai.

Nilai-nilai arsitekturnya sudah tampak dari luar bangunan. Pada kiri dan kanan puncak atap terdapat hiasan hiasan. Langit-langit yang menjulang setinggi 11 meter memperlihatkan kemegahan sebuah masa. Potret Bandung tempo dulu yang masih bisa dinikmati dengan leluasa. (ema/afz)

Jajan Lukisan Yuk!


Bandung - Aset wisata Kota Bandung bukan melulu kulinernya, tak selalu koleks-koleksi busana dari FO maupun distro, atau sejumlah tempat hang out yang berbinar dalam keremangan malam, tapi banyak celah lain yang bisa memberikan sesuatu.

Di antara bangunan-bangunan bersejarah di Jalan Braga, baik yang masih gagah atau dengan cat terkelupas, deretan lukisan-lukisan dengan ragam aliran menghiasi jalan Braga.

Naturalisme, ekspresionisme, kubisme atau impresionisme karya goresan tangan para seniman bercampur baur. Tak hanya di trotoar, beberapa galeri lukisan yang berada di sepanjang Jalan Braga menawarkan hal yang sama.

Seperti halnya di Jalu Braga, galeri yang dibuka setahun lalu oleh Dada Rosada ini menampung karya dari puluhan pelukis. Jalu berarti jajanan lukisan. Berada di dekat persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan, Jalu Braga menjadi tempat jajanan yang tak layak untuk dimakan.

Menurut salah seorang pengelola Jalu Braga, Agus Arifin, para pelukis bergabung bersama untuk membuat galeri ini. Tempat ini menampung ragam lukisan dari pelukis-pelukis yang sebelumnya menjual lukisannya di trotoar jalan Braga.

"Kami punya keinginan membuat galeri sendiri-sendiri tapi karena belum kesampaian akhirnya bersama-sama membuat galeri," jelas Agus yang menjadi pelukis sekaligus penjual lukisan si Jalan Braga sejak tahun 1999.

Menurut Agus, tak hanya pelukis dari Bandung tapi ada juga karya dari pelukis-pelukis luar misalnya dari Bali, Lampung, dan daerah lainnya. Sederetan nama pelukis-pelukis ternama pun menyimpan lukisannya di galeri ini. Misalnya Basuki Bawono dengan karya realismenya, Asep Wawan, juga Suherman.

Harga satu lukisan bervariasi tergantung hasil negosiasi antara konsumen dan pengelola. Bisa dikisaran seratus ribuan hingga menginjak angka jutaan.

"Semua dikembalikan kepada konsumen. Seni tidak ada standarnya. Faktor seni adalah kepuasan," jelas Agus. Apapun yang berbentuk karya seni, konsumen lah yang akhirnya membedakan.

Di Jalu Braga tidak ada pemilahan-pemilahan antara seniman amatir dan kawakan karena menurut Agus nilai seni merupakan pemberian Tuhan yang riil. Sedangkan realisme dari seni itu sendiri tergantung dari pelaku seninya.

Kesulitan dalam mencari pasar termasuk hambatan yang dialami. Namun pihak Jalu Braga bekerjasama dengan travel atau sopir taksi untuk mendatangkan konsumen ke tempat ini. Sampai saat ini konsumen tidak bisa dikatakan ramai, tidak juga disebut sepi. Jika diprosentasekan, konsumen lokal sekitar 60 persen sedangkan wisatawan asing bisa 40 persen.

"Kami bukan jualan kacang goreng. Tapi yang lebih penting dari semua itu adalah nilai silaturahmi," tutur Agus.

Memang bukan kacang goreng, tapi nilai estetika yang dicari. Dan estetika adalah subjektifitas yang bisa ditempatkan di frame yang berbeda. Jika anda memiliki bingkai seni sendiri, mungkin saja di Jalu Braga atau di sepanjang Jalan Braga isinya bisa dicari.(ema/ern)

Oseng Mercon dan Bakmi Jogya di Plengkung Gading


Bandung - Dalam kreasi masakan citarasa memang paling diutamakan. Terjun pada bisnis masakan apalagi di kota kembang ini, memang bukan perkara mudah. Selain citarasa yang harus kuat, juga si masakan harus punya keunikan tersendiri.

Bertempat di Jalan Kalimantan No 4, terdapat tempat makan yang lumayan sudah terkenal di Bandung, tempat makan yang diberi nama Plengkung Gading. Sang empu mengaku nama tempat makannya diambil dari nama sebuah tempat di Yogya.

Ari, selaku pemilik Plengkung Gading mengatakan untuk mempertahankan citarasa masakannya, untuk memasak dia menggunakan bahan bakar dari arang.

"Memang masih sangat tradisional tapi itu yang bisa mempertahankan citarasa pada masakan di tempat kami," ujarnya.

Plengkung Gading buka dari pukul 11.00 WIB sampai 21.00 WIB. Biasanya pada saat jam makan siang dan sesudah magrib tempat ini dipadati pengunjung.

Terdapat beberapa menu andalan yang terdapat di Plengkung Gading. Menurut Ari menu-menu tersebut favorit pengunjung.

Namun ada satu masakan yang unik dari semua menu yang ada, yaitu oseng mercon. Aneh kan namanya?

Untuk meledak, mercon biasanya membutuhkan waktu beberapa saat untuk meledak. Ini bisa digambarkan dalam masakan yang dibuat dari cincangan daging sapi dengan campuran cabe rawit merah ini. Jika sekali dua kali suap tidak akan terasa pedas, tapi semakin lama akan sangat terasa pedasnya, hingga mulut rasanya meledak.

Selain itu, menu andalan lainnya adalah bakmi Jogya. "Sebenarnya awal namanya bukan bakmi Jogya, tetapi bakmi Jawa. Tapi karena disini terkenalnya hanya bakmi Jogya dan untuk melancarkan market maka kami menganti nama dengan bakmi Jogya. Tapi menu yang disediakan ini bukan hanya bakmi Jogya saja, tetapi bakmi Jawa lainnya," tutur Ari.

Menu andalan lainnya yang tak kalah diminati pengunjung adalah Bebek Peking. Menurut Ari dalam memasak Bebek Peking ini harus sangat hati-hati. "Karena daging Bebek Peking ini sangat lunak, bahkan lunak dari daging ayam, maka untuk mengatasinya kami harus memakai api yang benar-benar pas," tuturnya.

Dalam satu hari, tempat makan ini menyediakan 8 Kg sampai 10 Kg Bakmi, 5 Kg sampai 7 Kg ayam kampung, 2 Kg sampai 3 Kg ayam potong, dan 20 sampai 40 Kg Bebek.

Pasti penasaran kan? Makanya jangan lewatkan wisata kuliner ke tempat ini, bertempat di Jalan Kalimantan No 4.(ern/ern)

Trotoar, Ruang Lain Untuk Para Seniman


Bandung - Seni adalah ruang tanpa demarkasi. Siapapun, darimana pun dia berasal bahkan tanpa embel-embel titel pendidikan seni sekalipun bisa berkesenian. Tak selalu berada di galeri, gedung-gedung pertunjukan, atau sebuah ruang yang dianggap memiliki nilai estetis.

Sekali lagi, di manapun itu ruang seni bisa tercipta. Bahkan jika mengingat sebuah novel karya Seno Gumira Ajidarma 'Dilarang menyanyi di kamar mandi', seni pun bisa tercipta di antara cidukan air oleh gayung.

Jalanan pun memiliki lukisan seninya tersendiri. Misalnya di lampu lalu lintas, jalanan bernyanyi bersama musisi beralat musik lengkap hingga tepukan tangan ringan.

Jika pernah menelusuri Jalan Asia Afrika di antara Kantor Pos Besar dan Jalan Alkateri, maka seni menampakan wajahnya pula di tempat ini.

Mereka mungkin tak memiliki nama besar seperti halnya Affandi. Goresan mereka tercipta di trotoar, di tengah debu dan decit ban kendaraan yang berlalu lalang di Jalan Asia Afrika.

Pelukis jalanan, mungkin julukan itu yang akan pertama kali dilontarkan jika melihat ruang tempat mereka berkreatifitas. Para penganut aliran naturalisme ini mencipta karya dengan melihat foto objek yang rata-rata adalah potret wajah. Guratan sketsa dengan pemahaman anatomi wajah juga tubuh, menjadi pedoman untuk menghasilkan karya yang mendekati gambar asli sebagai satu ciri aliran ini.

Kebanyakan mereka seniman tanpa titel sarjana seni. Secara otodidak mereka menimba ilmu di jalanan, mengasah keahlian melalui pengalaman.

Sekitar 8-10 pelukis berada di trotoar ini. Tak selalu dari mereka datang tiap hari. Layaknya karakter seniman pada umumnya yang bebas tanpa batasan office hour. Tapi hampir setiap hari dari pagi hingga petang selalu ada dari mereka, yang memajangkan ragam karyanya untuk menarik perhatian pengunjung.

Harga setiap lukisan bervariasi tergantung media, kanvas atau kertas. Harga mereka bukanlah harga lukisan galeri yang berjuta-berjuta, hanya berkisar antara Rp 200 ribu-Rp 500 ribu.

Rata-rata mereka menggunakan pewarna serupa serbuk arang yang disebut kote. Keahlian dalam mengguratkan garis-garis wajah dan kemampuan dalam menggradasikannya dalam setiap lekuk membuat lukisan seperti hidup.

Dituturkan seorang pelukis yang sudah berada di tempat ini dari tahun 1988 yang akrab dipanggil Mang Ocoy (48), pelukis jalanan di tempat ini mulai muncul di tahun 90-an. Mang Ocoy sendiri baru beralih menjadi pelukis di tahun 1990 an. Sebelumnya dia berprofesi sebagai penggambar kartu ucapan.

"Saat itu trotoar penuh dengan para pelukis. Tak hanya datang dari Bandung tapi juga dari Bali, Jakarta dan kota lainnya," jelasnya.

Kini pelukis pun berkurang seiring berkurangnya pula animo masyarakat terhadap keberadaan dan hasil karya mereka. Menurut Mang Ocoy mereka kini banyak yang beralih profesi diantaranya ada yang menjadi pegawai kantoran.

Namun Mang Ocoy sendiri enggan meninggalkan profesi ini. Meski penghasilannya tak tentu tapi dia mengaku jalanan ini adalah hidupnya.

"Saya sempat menjadi pegawai kantoran tapi karena terbiasa di jalanan maka tidak cocok dengan suasana kantor yang mengungkung," jelasnya. Dia pun tak keberatan dikatakan sebagai seniman jalanan. Menurutnya, seni adalah sesuatu yang relatif.

Lain lagi dengan Wawan yang menilai bahwa tidak ada kategorisasi seniman, di ruang manapun dia bergerak. "Tidak ada seniman jalanan. Semuanya adalah seniman. Baik yang belajar secara otodidak maupun belajar seni di perguruan tinggi," ujarnya.

Wawan mengaku dirinya pun sering ikut serta dalam pameran-pameran yang digelar oleh galeri-galeri. Dirinya tak hanya menganut aliran naturalisme, dia bisa membuat lukisan beraliran lain seperti impresionisme atau ekspresionisme.

"Melukis apapun tergantung permintaan," ujar Wawan yang karyanya juga banyak yang meminta dari konsumen di luar negeri.

Sedangkan Tata (35) warga Sukabumi yang sudah sembilan tahun menjadi pelukis foto di tempat ini, mengaku melukis tak hanya sebagai panggilan hati tapi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

"Saya sudah mencari pekerjaan kemana-mana, inilah yang akhirnya jadi pilihan. Akhirnya saya punya keinginan untuk terus belajar memperdalamnya," jelas Tata.

Jalanan, menurut Tata, memberikan atmosfer lain yang bisa menyalurkan energi lebih bagi dirinya untuk menggoreskan. "Kalau melukis di jalanan apalagi dilihat dan dikomentari oleh orang lain, saya sangat senang," jelasnya.

Seni memang dipersepsi dengan cara berbeda bahkan oleh sang seniman, apalagi para penikmat. Begitupun seni mereka. Menghadirkan sisi lain dari seni yang terkadang dipandang sebelah mata.(ema/ern)

Honda Scoopy UNKL347 Siap Diundi dan Jadi Hadiah Lebaran


Bandung - Honda Scoopy UNKL347 Series atau UNKL Scoopy, motor dengan desain salah satu t-shirt UNKL347 edisi 400hertz Robot Series Design, siap diundi dan jadi hadiah jelang Lebaran nanti.

Syaratnya, bagi anda yang punya niat memiliki UNKL Scoopy cukup berbelanja minimal Rp 300 ribu dan kelipatannya di Flagship Store UNKL347 Jalan Trunojoyo Nomor 4 Bandung.

Setiap berbelanja produk di sana minimal Rp 300 ribu bakal dapat satu kupon undian, begitu juga seterusnya. Waktu belanja sendiri ditentukan mulai 1 hingga 31 Juli mendatang.

"Nanti kita undi pada sekitar 20 hingga 22 Agustus. Sengaja kita undi di tanggal segitu itung-itung hadiah Lebaran," kata Promo Communications UNKL347 Edi Brokoli kepada detikbandung, Rabu (22/6/2011).

Menurut Edi, siapapun punya kesempatan sama untuk mendapatkan motor yang hanya ada satu unit tersebut. Waktu berbelanja sendiri sengaja ditentukan sepanjang bulan Juli.

Sebab Juli merupakan masa liburan. Di mana, banyak warga dari kota lain yang berbelanja ke Bandung, khususnya ke UNKL347.

"Masa liburan biasanya biasanya Bandung kedatangan pengunjung dari seluruh Indonesia. Jadi bisa saja yang dapat motor itu pembeli warga luar Bandung," jelasnya.

Disinggung target produk yang terjual selama Juli, Edi mengaku tidak ada target khusus. "Kita enggak ada target. Intinya kita mau kasih hadiah jelang Lebaran nanti, hadiahnya sendiri dikasih sebelum Lebaran," tandas Edi.

Sementara, motor unik itu bakal diberikan pada pemenang undian tanpa berbentuk motor utuh. Seperti yang dijadikan pajangan di outlet tersebut, motor bakal diberikan dalam bentuk terpisah antara bodi, mesin, dan semua perlengkapannya.

"Kalau diberikan tanpa berbentuk motor utuh, pemenang akan lebih tahu motornya benar-benar dari nol dan semua komponennya," ungkap Owner UNKL347 Dendi Darman.

Tapi tenang, jika pemenang menginginkan motornya disusun jadi motor utuh, hal itu bisa dilakukan dengan meminta bantuan teknisi Honda.

"Kalau pengen jadi motor, kita bisa bantu. Tinggal bilang saja," ujar Promotian Section Head PT Daya Adira Mustika, Gandang Priadi.

(ors/ern)

Gedung Jiwasraya, Dari Asuransi Sampai Tempat Syuting


Bandung - Unsur-unsur estetis yang terdapat pada bangunan-bangunan bersejarah karya arsitektur Belanda sepertinya menjadi sasaran empuk para produser dunia hiburan. Selain Gedung Sate atau Jalan Braga, gedung yang sekarang digunakan sebagai kantor asuransi pun tak ketinggalan menjadi lokasi syuting.

Gedung Jiwasraya, terletak di Jalan Asia Afrika No 53, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, berhadapan dengan bagian pinggir Mesjid Raya Bandung. Dibangun pada tahun 1859 di atas tanah seluas 3.289 meter persegi dengan laus bangunan 1.996 meter persegi.

Bangunan ini karya sebuah biro arsitektur Belanda yang nama arsiteknya belum diketahui. Gedung ini dibangun oleh perusahaan asuransi jiwa milik Belanda, Nederlanche Indische Levens Verzekiring En Lijfren Maatcaappij (NILLNY). Perusahaan ini merupakan perusahaan asuransi jiwa pertama di Indonesia.

Gaya arsitektur dengan ornamen khas neo klasik art deco lah yang mungkin membuat diva Indonesia, Melly Goeslaw tertarik untuk menjadikan tempat ini bagian dari film gubahannya, Butterfly yang dirilis beberapa waktu lalu.

"Ya, gedung ini pernah menjadi tempat syuting film Butterfly. Ke depan juga akan dipakai syuting iklan," jelas Bagian Umum Jiwasraya, Hendra tanpa menyebutkan produsen iklan yang akan menggunakan gedung ini untuk syuting.

Wajar kiranya jika tempat ini dijadikan frame untuk sebuah film. Kelangkaan dan keunikannya sudah tampak dari luar gedung. Ketika masuk ke dalam, gaya khas bangunan belanda dengan langit-langit yang tinggi serta tembok-tembok tebal kokoh bercat krem makin menguatkan nuansa kolonialnya.

Bangunan ini terdiri dari dua lantai. Di bagian tangga, setting film Butterfly diambil. Gedung ini terdiri dari bagian depan dan belakang. Sebuah lorong menghubungkan dua bagian ini di lantai bawah. Ada beberapa bagian bangunan belakang gedung yang kelihatannya tidak terlalu dirawat. Terlihat ada bagian langit-langitnya yang terkelupas atau dinding-dinding dengan warna memudar.

Menurut Hendra, pihak Jiwasraya sampai saat ini tak pernah mengubah bagian-bagian gedung karena tidak diperbolehkan pemerintah sebagai gedung bersejarah. "Paling kami melakukan pengecatan, itupun masih disesuaikan dengan cat sebelumnya," ujar Hendra.

Kekuatan unsur sejarahnya diperkuat pula dengan berdirinya sebuah stilasi dari 10 stilasi rekaman sejarah Bandung Lautan Api yang berada di depan bangunan.
(ema/ern)

Dari Usaha Keluarga Jadi Tujuan Wisata


Bandung - Bermula dari usaha keluarga, tidak disangka berkembang menjadi sebuah sentra usaha di sepanjang Jalan Surapati-Cicaheum (Jalan Suci). Sentra Kaos Suci, kini menjadi satu dari lima kawasan yang dicanangkan Pemkot Bandung sebagai salah satu tujuan wisata.

S Sunarto Sasmito (57) yang akrab disapa Anto, mengawali usaha sablon di tahun 80-an bersama dua saudaranya. Tidak hanya sablon kaos tetapi juga spanduk, stiker, kartu nama, pin, dan ragam marchandise lain. Tiga bersaudara tersebut bisa dikatakan sebagai perintis usaha sablon di Jalan Suci.

Ketika usaha ini memperlihatkan prospek yang cukup cerah, gairah membuka usaha sablon pun tertular pada anggota keluarga lainnya.

"Adik-adik saya, adik-adik istri saya, kemudian adik-adiknya lagi sampai adik ipar, semuanya turut membuka usaha sablon," jelas Anto saat ditemui di kantornya, SAS Advertising, Jalan PHH Mustofa, Kamis (10/7/2008).

Tak hanya keluarga, sambung Anto, pegawai-pegawainya yang sudah ahli membuka usaha sablon sendiri.

Akhirnya usaha sablon di sepanjang jalan Suci pun menggeliat. Pada tahun 1990-an, sudah terdapat 25 perajin di jalan ini. Kini jumlahnya mencapai 200 perajin. Tak hanya di sepanjang kiri dan kanan Jalan Suci, tetapi menyusup sampai gang-gang.

"Sebagai pembelajaran, semua berawal dari perajin kemudian menjadi pengusaha," jelasnya.

Dari para pengusaha itu tidak semuanya mengerjakan produk sampai jadi. Ada yang hanya bagian-bagiannya, seperti konveksi atau hanya perusahaan yang mencari order untuk dikerjakan pihak lain.

Untuk terus mengembangkan Sentra Kaos Suci ini menurut Anto, pemerintah kerap memberikan pelatihan-pelatihan kepada para perajin baik dari Dinas Perdagangan, Dinas Pariwisata juga dari Dinas Koperasi.

Pelatihan-pelatihan sudah dimulai sejak tahun 1995 sebagai satu proses pembelajaran. "Pemerintahkan tidak merintis tapi membina yang sudah jadi," ungkap Anto.

Terlebih, ketika Sentra Kaos Suci akan dijadikan tujuan wisata banyak pelatihan, pengarahan, perbaikan SDM, sarana dan infrastuktur pun dilakukan untuk meningkatkan kualitas.

Namun dalam perjalanannya Sentra Kaos Suci juga tak selalu di atas awan. Seiring pertumbuhan ekonomi yang fluktuatif, pesanan pun mengalami kemerosotan. Dituturkan Titi (40), pada tahun 92-an sampai 97-an order banyak, tetapi ketika mulai krisis moneter order pun merosot hingga 50 persen.

"Kalau dulu sebulan bisa mengerjakan 75 desain, kini hanya 30 desain saja," tandas Titi.

Lain lagi dengan Dedi (32) yang banyak menerima order kaos dari partai politik. Menurut Dedi, usahanya selalu ramai order. Setiap hari dia memproduksi sekitar 3000 kaos.(ema/lom)

Sekolah Bergengsi di Bangunan Cagar Budaya


Bandung - Mendengar nama SMU 3 dan SMU 5 ingatan langsung tertuju pada dua sekolah favorit yang terletak di Jalan Belitung No 8. Berada di antara Jalan Bali dan Jalan Kalimantan, sekolah ini menduduki sebuah bangunan bersejarah peninggalan zaman kolonial.

Sekolah yang pernah menjadi tempat menimba ilmu Sri Sultan Hamengkubuwono IX di masa Hindia Belanda ini, sebelumnya dinamakan Hoorege Burgerschool (HBS). Dibangun pada tahun 1916 oleh pemerintah Hindia Belanda yang dirancang oleh arsitek C.P Schoemaker.

Dibangun di atas tanah seluas 14.240 meter persegi dengan luas bangunan 8.220 meter persegi. Dari tahun ke tahun, fungsi bangunan terus mengalami peralihan. Dimulai sebagai HBS di tahun 1916-1942, jadi markas tentara Jepang di tahun 1942-1945. Sedangkan tahun 1947-1952 disebut jaman peralihan, direntang tahun ini berfungsi sebagai sekolah VHO (Voortgezet Hoger Onderwys) dan SMA Negeri 1.

Dari tahun 1952 ditempati oleh empat sekolah yaitu SMA 2, SMA 5, SMA 3 dan SMA 6. Tahun 1961 SMA 2 pindah ke Jalan Cihampelas sedangkan SMA 6 ke Jalan Pasirkaliki. Maka sejak tahun 1966, gedung ini ditempati dua sekolah sampai sekarang yaitu SMA 3 dan SMA 5 dibawah pengelolaan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Sebelah barat bangunan ditempati oleh SMA 3 sedangkan sebelah timur ditempati SMA 5. Kedua sekolah ini dipisahkan oleh koridor yang bisa menjadi jalur penghubung antara SMA 3 dan SMA 5.

Di kedua sayap bisa ditemukan lemari kaca dengan deretan piala-piala di dalamnya. Memang, sejak dulu kedua SMA ini dikenal sebagai SMA yang mencetak siswa-siswi berprestasi sehingga wajar menjadi sekolah unggulan yang jadi target siswa-siswi SMP untuk melanjutkan sekolah.

Dua tangga besar di kiri dan kanan koridor menghubungkan lantai bawah dan atas, menyambung menjadi satu tangga menuju sebuah ruangan luas di lantai dua. Ruangan ini serupa aula terbuka yang digunakan oleh dua sekolah secara bergiliran.

Dinding-dinding tebal dengan tinggi sekitar 6-7 meter memperlihatkan kekhasan bangunan peninggalan Hindia Belanda. Jendela-jendela dan pintu berventilasi berderet menjadi ciri khas bangunan ini. Jejak kaki pun berpijak pada keramik-keramik klasik bernuansa gelap paduan abu-abu, kuning, merah dan hitam.

Tak banyak perubahan di bangunan ini. Apalagi untuk bangunan bagian depan tidak boleh dirubah sama sekali.

Seperti dituturkan Wakasek Humas dan Rencana Pembangunan SMA 5 Yenny Gantini. Menurutnya sebagai bangunan yang termasuk cagar budaya, bangunan SMA 5 dan SMA 3 harus dilestarikan.

"Guru-guru dengan warga sekolah lainnya bersatu sama-sama mendukung agar menegakan 6 K, kebersihan, keindahan, kemananan, kekeluargaan dan lain-lain," jelas Yenni.

Menurut Yenni, ada 13 ruangan dari 30 ruangan di SMA 5 yang termasuk bagian bangunan bersejarah yaitu 10 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang BP dan 1 ruang audio visual.

Wakasek Sarana Prasarana SMA 5, Suhendri menyatakan bangunan SMA 5 sendiri luasnya 7.120 meter persegi. Di tahun 2008-2009 pihak skeolah melakukan perawatan dan pemeliharaan berupa pengecatan, penggantian talang bocor tanpa merubah ketentuan konservasi cagar budaya.

"Untuk bagian luar tidak boleh dirubah sama sekali termasuk warna catnya, sedangkan bagian dalam warna cat boleh beda," jelasnya. Sebelum melakukan perubahan, pihak sekolah berkonsultasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Bandung Heritage.

Suhendri mengungkapkan, saat ini pihak SMA 5 sedang mengajukan untuk mengganti lantai sebab ada bagian-bagian lantai yang bergelombang. Namun menurut Hendri, pihak sekolah masih menunggu keputusan pihak pemerintah mengenai pengajuan tersebut.

Untuk setiap perubahan yang akan dilakukan, sambung Suhendri, pihak SMA 5 selalu bekerjasama dengan pihak SMA 3.
(Ema/dari berbagai sumber)
(ema/ern)

75 Persen Konsumen Sentra Kaos Suci Dari Luar Bandung


Bandung - Meski berada di Bandung, konsumen kaos di Sentra Kaos Suci tak berarti harus berasal dari masyarakat Bandung. Beberapa perajin kaos Suci mengaku konsumen mereka mayoritas dari luar Bandung.

Seperti dituturkan Titi (40) pemilik CB 17. Menurutnya order yang diterimanya sebanyak 75 persen berasal dari luar Bandung. "Order dari Jakarta dan luar Bandung paling banyak misalnya Lampung, Pekanbaru dan daerah lainnya di luar Jawa," jelas Titi.

Banyaknya konsumen luar Bandung yang mempercayakan pembuatan di Sentra Kaos Suci menurut Titi karena mereka menganggap sablon di kawasan ini bagus.

"Ada yang bilang kalau sablon di tempat mereka jelek. Kalaupun bagus harganya mahal," jelas Titi.

Titi mengaku, pesanan yang datang ke tempatnya pun banyak yang berasal dari clothing-clothing luar Bandung seperti Jakarta, Bogor dan Sukabumi.

Hal senada dituturkan Dedi (32). Menurut Dedi, konsumen di tempatnya banyaknya berasal dari luar Bandung. "Banyaknya pesanan dari parpol-parpol di luar Bandung," jelas Dedi yang banyak mengerjakan pesanan kaos dari parpol ini.


Sentra kaos Suci awalnya usaha yang dirintis keluarga. Tak disangka berkembang menjadi sebuah sentra usaha di sepanjang Jalan Surapati-Cicaheum (Jalan Suci). Sentra Kaos Suci, kini menjadi satu dari lima kawasan yang dicanangkan Pemkot Bandung sebagai salah satu tujuan wisata.(ema/ern)

Sepenggal Cerita di Balik Asia Afrika


Bandung - Di jalan inilah Herman Willem Daendels, Gubernur Belanda pada tahun 1800-1811 manancapkan tongkat kayu dalam rangkaian perjalanannya membangun Jalan Pos dari Anyer ke Panarukan. Di jalan ini pulalah dinyatakan tanda kilometer "0" (nol). Tepatnya berada di kawasan bangunan Dinas Bina Marga saat ini.

Dalam prasasti yang terdapat di tugu kilometer nol disebutkan, sambil menancapkan tongkat kayu Daendels berkata "“Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” yang artinya 'usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah Kota telah dibangun!'.

Maka perjalanan sejarah pembangunan Kota Bandung tentunya tak lepas dari jalan ini. Di zaman kolonial, dinamakanlah jalan ini Jalan Grote Postweg atau Jalan Pos. Sebagai salah satu pusat Kota Bandung, jalan ini menjadi saksi kesuksesan pelaksanaan Konperensi Asia Afrika di tahun 1955. Akhirnya untuk mengabadikan itu, nama jalan pun diganti dengan nama Jalan Asia Afrika.

Memanjang dari Simpang Lima sampai Jalan jenderal Sudirman, Jalan Asia Afrika menghubungkan wilayah Bandung Barat dan Bandung Timur. Menyimpan banyak cerita, tak hanya peninggalan sejarah kala konperensi Asia Afrika tetapi sederet bangunan berdiri menonjolkan kegagahan masa lalu sebuah kota yang disebut Parisj Van Java.

Sebut saja Gedung Merdeka di mana KAA berlangsung. Karya otentik dari arsitek Van Galen dan CP Wolff Schoemaker dengan sentuhan klasik romantik ini tak hanya merekam perjalanan sejarah tetapi juga tercatat sebagai salah satu bangunan yang menjadi mata rantai sejarah arsitektur di Indonesia.

Tak hanya Gedung Merdeka, gaya-gaya klasik romantik dengan nuansa art deco yang kental dapat terlihat di beberapa bangunan yang berada di sepanjang Jalan Asia Afrika ini. Dimulai dengan Gedung Pos dan Giro, Bank Mandiri, gedung Jiwasraya, Bale Sumur Bandung (kantor PLN), gedung Kimia Farma yang berada di pertemuan Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga, Hotel Savoy Homann, kantor Pikiran Rakyat dan Hotel Preanger.

Gedung-gedung ini dibangun oleh arsitektur-arsitektur Belanda yang mengambil konsep arsitektur Eropa pada masa itu yang menyuguhkan romantisme Eropa di kota Bandung.

Tapi entah apakah keberadaan bangunan-bangunan ini memiliki nilai yang penting bagi masyarakat Bandung termasuk pemegang otioritas pemerintahan. Mungkin ya untuk sebagian orang tapi bisa pula tidak bagi yang lainnya. Tak peduli, apatis, bahkan tak tahu menahu.

Ketika keapatisan yang terjadi, sejarah menjadi bias. Hanya sebagai simbol kemegahan masa lalu, hanya sebagai kenang-kenangan dalam album denyut kehidupan Kota Bandung, tanpa menyentuh sesuatu yang esensial, makna dari sejarah itu sendiri. Entah.(ema/ern)

Perry Tristianto Rajanya FO Bandung

Bandung - Factory Outlet yang disingkat FO, kerap kali dikaitkan sebagai tempat yang memiliki andil dalam menjadikan Bandung sebagai kota wisata belanja.

Meski dituding sebagai biang keladi bertambahnya intensitas kemacetan di Bandung, tak bisa dipungkiri kehadiran FO memberikan nilai positif, tak hanya menyangkut image, tapi juga perkembangan iklim usaha di kota yang dijuluki Parijs Van Java ini.

Asal muasal FO tak bisa dilepaskan dari nama Perry Tristianto Tedja. Berkat keberhasilannya dalam usaha FO, julukan sebagai raja FO pun disandang pria kelahiran Bandung, 22 Februari, 48 tahun silam ini.

Perry sendiri memulai usaha di bidang pakaian dari tahun 90-an. Nama FO berawal dari nama toko yang didirikannya di tahun 1999 dengan nama FOS atau Factory Outlet Store. Perry mengaku nama itu terinspirasi dari nama tempat usaha serupa seorang kawannya di Malaysia.

Kehadiran tempat ini seperti gula yang mengundang semut untuk mengerubung. Masyarakat seolah tersihir untuk berbelanja dengan buaian kata sisa ekspor yang dihembuskan. FO pun booming sebagai tempat alternatif baru untuk berbelanja.

Kata factory outlet pun makin menyebar dari mulut ke mulut. Dari situlah kisah FO dimulai. FOS pun kini sudah berganti dengan nama Big Cut Price yang masih terletak di lokasi yang sama, Jalan Aceh 66.

Definisi FO sendiri menurut Perry, sederhana yaitu toko untuk menjual pakaian yang kelihatan murah. "Pada dasarnya FO menjual barang sisa ekspor. Di mana orang mencari barang branded sesuai dengan yang original tapi dengan harga miring," tuturnya.

Melihat antusiasme pasar terhadap usaha FO-nya, kemudian Perry merambah jalan lain untuk membuka usaha serupa. Perry membuka FO di Jl Otten yang juga akhirnya ramai-ramai diikuti oleh para pengusaha. Meski akhirnya tak ada satupun FO bertahan di kawasan ini karena memang di jalan ini tidak diizinkan untuk berdirinya FO.

FO pun mulai menyebar ke Jalan Sukajadi, Jalan Martadinata kemudian Jalan Setiabudhi, tak ketinggalan Jalan Dago dan Jalan-jalan lainnya di kota Bandung.

Namun Perry menilai, saat ini konsep FO sendiri sudah bergeser dari konsep dasarnya yaitu barang sisa ekspor. Sebab banyak produk dari Jakarta atau produk-produk yang pasaran turut meramaikan FO.

12 FO kini berada di bawah pengelolaan pria lulusan Stanford College, Singapura ini. Beda, konsep yang selalu menjadi ciri yang ingin ditampilkan Perry dalam usahanya. Menciptakan sesuatu yang baru dengan target pasar yang berbeda.

Semisal Galeri Lelaki di JL RE Martadinata yang menyediakan kebutuhan khusus pria, Bale Anak di Jl Sumatera yang khusus untuk anak atau China Emporium di Jl RE Martadinata yang sebentar lagi akan berganti wajah dengan konsep terbaru khas Perry.

Ciptakanlah sesuatu yang baru, demikian filosofi Perry. Berbeda tanpa meninggalkan nuansa khas tanah parahyangan.

Perry berfalsafah setiap apa yang diciptakan, itu mencerminkan karakter dan gaya pemiliknya. "Saya lucky," ujar Perry. Keberuntungan, Perry anggap menjadi anugerah dalam keberhasilan usahanya.(ema/ern)

Perry, Rajanya FO Bandung Mulai Rambah Bisnis Wisata


Bandung - Melihat peluang lain yang bisa dijual dari Kota Bandung, kini Perry Tristianto tak hanya berkecimpung dalam dunia fashion. Perry pun kini mulai merambah bisnis pariwisata.

Perbedaan gaya Perry tak hanya terlihat dari FO-FO nya. Usaha lain seperti Rumah Sosis yang kini juga menjadi tujuan wisatawan, All About Strawberry, dan wisata berkuda The Ranch di Lembang masing-masing diciptakannya dengan daya tarik yang berbeda.

Rencananya beberapa waktu ke depan Perry akan membuat magnet baru lagi untuk wisatawan yaitu pasar terapung seperti di Singapura yang akan didirikannya di
Jatiluhur.

Terjunnya Perry dalam bisnis pariwisata, tampaknya menjadi bagian dari falsafah hidupnya, yaitu selalu membuat hal yang beda. Ciptakanlah sesuatu yang baru, demikian filosofi Perry. Berbeda tanpa meninggalkan nuansa khas tanah parahyangan.

Perry berfalsafah setiap apa yang diciptakan, itu mencerminkan karakter dan gaya pemiliknya. "Saya lucky," ujar Perry. Keberuntungan, Perry anggap menjadi anugerah dalam keberhasilan usahanya.

Perry pun mengharapkan semua elemen usaha yang ada di Bandung bisa saling menunjang untuk perkembangan wisata Bandung.

Tak hanya Fo atau kuliner yang mendatangkan wisatawan, tetapi usaha lainnya pun membuat program-program unggulan yang bisa menarik wisatawan.

Misalnya hotel-hotel bisa membuat strategi yang lebih baik dari pelayanan, bangunannya juga atmosfernya untuk menarik wisatawan. Sehingga kelak tujuan wisatawan tak hanya FO atau kuliner, tapi berlaku bagi semua aspek yang terkait dalam lingkaran pariwisata Bandung.

"Saya inginkan semua aspek di Bandung bisa menjadi tujuan wisatawan dari luar Bandung," harapnya.

(ema/ern)

Factory Outlet Vs Kuliner


Bandung - Perubahan wajah tujuan wisata Bandung memang mengalami pergeseran. Dari semula FO yang menjadi tujuan utama, kini wisata kuliner Bandung yang meraja.

Demikian pendapat pemilik sejumlah FO di Bandung, Perry Tristianto Tedja. "Jika dulu orang belanja ke Fo lalu cari makanan. Sekarang terbalik, orang cari makanan baru ke FO," jelas Ferry.

Menurut Perry, tak hanya makanan di Bandung yang murah tapi atmosfer Bandunglah yang membuat orang nyaman berkunjung.

"Udara Bandung bisa membuat semua lebih enak dan lebih nyaman," jelas Perry.

Apapun yang ada di Bandung, termasuk tempat clubbing akan selalu ramai karena dukungan hawa Bandung. Tidak perlu disodorkan bangunan yang wah, maka orang akan berdatangan ke Bandung.

Hal itu diakui sejumlah pengusaha kuliner Bandung. Menurut pemilik pengusaha singkong goreng keju, Cassava, Yongki, para pelanggannya banyak yang datang ke Bandung hanya sekedar makan siang. "Mungkin karena akses jalan tol yang mudah ya," jelasnya.

Bahkan, menurut pengelola Sate Kardjan, Wulandari, ada beberapa ibu-ibu dari Jakarta yang menyempatkan bersantap di tempatnya hanya untuk mengisi waktu senggang saja ketika menunggu anaknya pulang sekolah. Menurut Wulandari, mereka makan siang ke Bandung karena dari Jakarta ke Bandung hanya diperlukan 2 jam saja.

(ema/ern)

Geliat FO di Jalan Martadinata


Bandung - Bandung merupakan cikal bakal munculnya factory outlet di Indonesia. Fo pertama kali muncul sekitar tahun 1999. Antusiasme masyarakat terhadap keberadaan FO ini bagai gula dikerubungi semut. Alhasil, melihat pasar yang begitu ramai, usaha FO pun begitu menjamur di Kota Bandung.

Kehadiran FO ini ternyata menarik perhatian wisatawan luar kota khususnya Jakarta. Setiap akhir pekan, mobil-mobil berplat B selalu terlihat terparkir memenuhi Kota Bandung.

Dengan datangnya wisatawan ke Bandung tak hanya menggairahkan usaha tetapi menimbulkan efek samping. Keberadaan FO yang rata-rata berada di jalan protokol ini sempat dituding sebagai biang keladi kemacetan di Kota Bandung khususnya saat akhir pekan.

Sebut saja di Jalan RE Martadinata atau Jl Riau yang merupakan salah satu titik di Kota Bandung di mana sejumlah FO berada. Setiap harinya akan dijumpai kemacetan di tempat ini, meski tidak terlalu kentara jika dibandingkan dengan akhir pekan. Arah barat, jalan ini berpotongan dengan Jalan Merdeka yang juga senantiasa dihinggapi kemacetan. Sedangkan arah timur berpotongan dengan Jalan Citarum yang juga dipenuhi area wisata kuliner untuk para pelancong.

Tak bisa disalahkan jika orang berbondong-bondong untuk berbelanja ke kawasan ini. Sederet FO ternama berada di Jalan ini menawarkan produk-produk fashion andalan.

Sebut saja Heritage dengan bangunan bersejarahnya, Galeri Lelaki, Renariti, Stamp, Terminal Tas dan lain-lain. Tak hanya FO, untuk anak muda penggemar distro, 18th (baca: eighten) Park bisa dikunjungi. Puluhan distro berkumpul dalam satu kawasan sehingga memberikan banyak pilihan. Belum lagi tempat-tempat wisata kuliner di Jalan ini makin menambah sesak Martadinata saat liburan tiba.

Sayangnya, FO kini sudah berbeda dengan konsep awalnya. Jika semula FO hanya menjual barang-barang sisa ekspor. Kini barang-barang yang ada di pasaran pun turut memenuhi FO. Bahkan, tak sedikit brand-brand baru yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan sisa ekspor.
(ema/ern)

Mengintip Asia Afrika Lewat Multimedia


Bandung - Mengintip Asia Afrika Lewat Multimedia

Ketika membayangkan museum, sepertinya suasana kaku dan membosankan langsung menyergap. Lain halnya ketika ke tempat hiburan yang menawarkan aneka permainan.

Mungkin tak selalu, apalagi jika museum kini lebih meningkatkan fasilitas untuk menambah kenyamanan pengunjung.  Misalnya dengan fasilitas multimedia yang disediakan Museum Konferensi Asia Afrika (KAA), Jl Asia Afrika No 65. Museum ini bergabung dengan Gedung Merdeka.

Sejak tahun 2005 lalu, bertepatan dengan penyelenggaraan Konperensi Asia Afrika tahun emas yaitu ke-50 fasilitas multimedia service diluncurkan. Tiga unit komputer di pasang untuk mempermudah pengunjung dalam mencari berbagai hal tentang KAA.

Komputer pertama memuat informasi tentang sejarah Gedung Merdeka, sejarah KAA dan sejarah museum KAA. Komputer kedua berisi informasi profil negara-negara anggota KAA berikut profil delegasi setiap negara. Komputer ketiga memuat dampak konferensi Asia Afrika terhadap perkembangan politik internasional termasuk terbentuknya negara-negara non blok.

Layanan ini tentu saja akan mempermudah pengunjung khususnya para pelajar untuk mencari tahu apa pun tentang sejarah KAA. Di komputer yang memuat profil negara-negara KAA misalnya. Ketika mengklik bendera dan nama negara layar akan langsung memperlihatkan peta dan ciri khas negara tersebut dengan pembuka lagu kebangsaan masing-masing negara.

Ada beberapa kategori yang bisa dipilih seperti sejarah negara, pemerintahan, letak geografis, kota dan penduduk, ekonomi serta agama dan kebudayaan. Setiap kategori akan menjelaskan dengan jelas dan singkat mengenai profil negara tersebut.

Ketika mengklik negara kita misalnya, langsung disambut dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya berikut tampilan foto borobudur. Di bawahnya, akan ada tampilan bendera negara, lambang negara juga peta negara.

Selain itu, fasilitas multimedia lainnya yaitu televisi plasma yang menempel di salah satu di dinding museum. TV tersebut menayangkan film dokumenter berjudul The Birth of Bandung Spirit.

Museum ini juga memiliki khusus ruangan audio visual untuk menayangkan film-film mengenai kondisi dunia hingga tahun 50-an, tentang sejarah KAA, serta film-film kebudayaan dari negara-negara Asia dan Afrika.

Kini museum pun bisa jadi alternatif tempat hiburan anda sekeluarga bukan?

(ema/ern)

Seempuk Ayam Serasa Daging Sapi


Bandung - Lembang, tempat berhawa dingin ini sudah sejak lama di kenal sebagai wisata kuliner favorit khususnya di malam hari. Selain jagung dan ketan bakar, sate kelinci menjadi sajian lain yang membuat penasaran, bagaimana sih sebenarnya rasa sate kelinci ini dibandingkan sate ayam atau sate sapi.

Menuju tempat ini dari arah Jalan Setiabudhi lurus terus ke arah Lembang. Bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi mobil atau sepeda motor. Untuk angkot bisa menggunakan angkot jurusan Lembang-Ciroyom, St. Hall- Lembang atau Bandung-Subang. Jika malam hari, siap-siap saja memakai jaket tebal, karena saat di Jalan Setiabudhi saja udara dingin sudah serasa menggigit kulit, apalagi jika sudah memasuki daerah Lembang.

Tunggu saja, nanti anda akan menemukan deretan warung-warung makan yang menjual sate kelinci. Plang-plang besar bertuliskan sate kelinci akan menjadi pemandu di mana sebaiknya berhenti.

Masuki saja salah satu warung. Beberapa warung membakar daging kelinci di luar, ada pula yang di dalam warungnya. Satu porsi sate sebanyak 10 tusuk plus nasi harganya Rp 16 ribu. Satu porsi satenya sendiri Rp 13 ribu.

Sate disajikan bersama sebakul kecil nasi, irisan tomat dan mentimun serta sambal kecap bercampur bawang dan cabe rawit yang uhm.. pedasnya membuat udara dingin terasa menjadi hangat.

Tak berbeda dengan sate ayam atau sate sapi. Sate kelinci disajikan berbalut bumbu kacang dan taburan bawang goreng. Satu tusuk biasanya terdiri dari tiga potongan daging.

Nah, tiba saatnya bersantap sambil mengunyah mengira-ngira seperti apa ya rasanya sate kelinci ini. Kalau boleh dibayangkan, empuknya sate ini seperti daging ayam, tetapi untuk rasa lebih mirip daging sapi. Setiap tusuk begitu nikmat dipadukan dengan nasi panas yang mengepul berbalut bumbu kacang, nyam.. nyam...nyam.

Jangan lupa cocolkan pada sambal kecap yang pedas. Mulut rasanya tak mau berhenti sampai tak ada satu tusuk pun sate yang tersisa. Padahal perut sudah tak muat tapi mulut masih terus menagih. Pantas saja sate kelinci ini banyak penggemarnya.

Dituturkan seorang penjaga warung, Reni, jika sedang ramai warungnya bisa menghabiskan 30 ekor kelinci. Untuk pengolahan daging tidak ada yang istimewa, sama dengan pengolahan sate ayam atau sate sapi.

Pedagang lain, Ella, yang ditemui sedang mengipasi pembakaran sate kelinci, menuturkan biasanya tempat ini ramai pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu terutama pelancong asal Jakarta. Meskipun dibuka dari pagi hari, tetapi pengunjung lebih memilih bersantap pada malam hari di sekitar pukul 20.00 WIB sampai menjelang malam.

Bahkan, menurut Ella, warung bisa buka sampai pukul 02.00 WIB dini hari karena hingga tengah malam pengunjung masih ramai berdatangan.

Mungkin memang sate kelinci ini lebih nikmat disantap di tengah dinginnya udara Lembang. Dijamin anda tak aka hanya satu kali datang. Karena meski rasa penasaran sudah terobati saat pertama datang, tapi hati rasanya ingin kembali mencicipi.(ema/ern)

Warga Bandung Sedikit yang Berkunjung ke Museum KAA


Bandung - Sudah menjadi hal yang lumrah setiap liburan sekolah tiba, tempat wisata mengalami kenaikan pengunjung. Seperti yang terjadi di Museum Konperensi Asia Afrika (KAA), Jl Asia Afrika N0 65. Liburan kali ini, pengunjung museum KAA meningkat lebih dari 100 persen. Sayangnya, meski berada di Bandung, pengunjung dari Bandung sendiri masih terbilang minim.

"Liburan memang puncak kunjungan di Museum KAA. Berdasarkan data sebelum dan sesudah tahun 2005, saat masa liburan pegunjung naik sekitar 117 persen," tutur Staff Pelayanan dan promosi Museum KAA, Asep B. Gunawan.

Menurut Asep, pengunjung yang datang rata-rata rombongan dari sekolah-sekolah mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi. Untuk liburan kali ini sekolah-sekolah yang berkunjung banyaknya dari luar Bandung misalnya Sumatera, Bali, Boyolalali dan daerah-daerah lainnya.

Asep menerangkan, untuk Juni ini sekitar 80 sekolah sudah berkunjung untuk melakukan studi tour. Meskipun para pengunjung Museum KAA bisa dari kalangan manapun termasuk pribadi maupun keluarga.

Namun diakuinya, untuk pengunjung dari Bandung terutama sekolah-sekolah masih sedikit. "Paling sekolah-sekolah tertentu saja," jelas Asep.

Untuk menarik pengunjung dari Bandung sendiri Museum KAA memiliki program promosi ke sekolah-sekolah di Bandung. Pihak museum melakukan road show ke sekolah-sekolah untuk mempromosikan keberadaan Museum KAA. "Saat ini baru setengahnya kami kunjungi," tambah Asep.

Jika ingin berkunjung ke Museum yang diresmikan bertepatan dengan peringatan ke-25 tahun ini, tidak perlu membayar biaya alias gratis. Para pengunjung tinggal datang atau kalau rombongan menghubungi terlebih dahulu pihak museum agar bisa difasilitasi dengan baik.
(ema/ern)

Museum Sri Baduga Rangkul Travel Luar Jabar


Bandung - Sebagai gerbang pariwisata sejarah, museum memiliki peran penting untuk bercerita. Di Jabar Travel Exchange 2008 Museum Sri Baduga tak mau ketinggalan. Menjalin kerjasaman dengan biro perjalanan luar Jabar menjadi salah satu solusi untuk lebih dikenal.

Kerjasama dengan pihak biro perjalanan di luar Jabar ini disampaikan Sutresno, salah seorang pemandu stan Museum Sri Baduga saat di JTX 2008 di Braga City Walk, Bandung.

"Ada beberapa biro perjalanan wisata dari luar Jawa Barat yang berkunjung ke sini (stan-red). Mereka baru tahu kalo di Bandung ada museum selain Museum Geologi," tutur Sutresno.

Selain itu Sutresno berharap, dari kegiatan-kegiatan pameran yang digelar seperti JTX dapat menggugah pola pikir masyarakat terhadap Museum.

"Kita ingin ke depannya masyarakat kita lebih Museum Minded. Siapa saja yang berkunjung ke museum tidak cukup hanya sekali, dan museum dapat menjadi referensi semua orang," ujarnya.

Museum Sri Baduga koleksinya bercerita tentang perjalanan sejarah alam dan budaya Jawa Barat, corak ragamnya, fase-fase perkembangan dan perubahan. Terletak di Jalan Tegalega, Bandung, posisinya sangat dekat dengan pintu masuk wisatawan ke Kota Bandung, di antara akses tiga gerbang tol luar kota; Buahbatu, Kopo dan Moh. Toha.(ahy/lom)

Bunga Sutera, Kemewahan yang Tahan Lama


Bandung - Sutera selalu diidentikkan dengan kain. Tapi dengan modal ide kreatif dari kepompong ulat sutera bisa diciptakan bunga-bunga cantik nan memesona. Selain mewah karena terbuat dari sutera, bunga ini pun tahan lama karena tak mengenal kata layu.

Iin Indriani yang mengembangkan kerajinan bunga sutera ini melalui Adams Gifts & Art. Berdiri sejak tahun 2002, Iin memproduksi bunga sutera ini di tempat wisata ulat sutera Padepokan Dayang Sumbi, Jl Arcamanik, Kecamatan Cimenyan.

Kepompong yang bulat putih dikreasikan menjadi aneka bunga seperti tulip dan mawar yang dicat dengan warna-warna cantik. Bisa dalam bentuk tangkai atau dirangkai dalam media seperti vas kaca. Selain itu, bunga sutera yang dirangkaikan menjadi jepit rambut atau korsase yang dapat mempercantik penampilan.

Pembuatan bunga sutera tulip lebih mudah dibandingkan bunga mawar. Tingkat kesulitan pembutan tulip pun berbeda. Tulip lebih mudah dibuat hingga produksinya pernah mencapai 1000 per hari, sedangkan mawar hanya mencapai 300 tangkai per hari.

"Itupun tak selalu, tergantung pesanan," jelas Iin.

Karena tingkat kesulitannya berbeda, harganya pun tentu saja berbeda. Bunga tulip bisa dijual Rp 10 ribu per 4 tangkai, jika tangkainya dililit sutera harganya Rp 7500 per tangkai. Untuk mawar dijual dari mulai Rp 5- 15 ribu pertangkainya.

Harga rangkaian bunga tentu akan berbeda. Ditentukan berapa tangkai bunga yang dirangkaikan. Harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah apalagi jika vas yang digunakan terbilang mahal.

Iin menuturkan, kerajinan bunga suteranya ini sudah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Jepang dan Malaysia termasuk negara yang dijadikan tempat untuk mempromosikan kerajinan bunga sutera ini.

Nah, satu lagi buah tangan yang bisa anda bawa saat meninggalkan Bandung bukan?(ema/ern)

Sentra Rajutan Binong Jati, Wisata Industri Bandung


Bandung - Geliat usaha kecil dan menengah di Bandung sepertinya terus menyala. Tak hanya sentra sepatu Cibaduyut yang melibatkan ratusan perajin sepatu dan sandal kulit, sentra usaha rajut Binong Jati pun tetap menjadi salah satu andalan Kota Bandung.

Seperti halnya sentra sepatu Cibaduyut, Cihampelas dengan jeansnya, sentra rajut Binong Jati pun disebut-sebut sebagai salah satu kawasan wisata Bandung. Baju rajutan murah menjadi andalan untuk menarik perhatian para wisatawan.

Tempat yang bisa diakses dari melalui Jl Kiaracondong dan Jl Gatot Subroto ini berada di pemukiman penduduk. Rata-rata para pengusahanya pun berasal dari penduduk setempat. Sebuah gapura besar sengaja dibuat oleh para pengusaha yang bertuliskan Sentra Rajutan Binong Jati.

Sekitar 400 unit usaha berada di tempat ini, dari mulai usaha utama yaitu rajutan sampai usaha penunjang seperti penjual benang rajut atau toko-toko pakaian rajut.

Tak hanya perusahan berskala besar yang mempekerjakan banyak karyawan, tak sedikit penduduk yang menghuni rumah di gang-gang kecil yang turut menggantungkan hidupnya dari usaha ini. Sentra rajut ini mampu menyerap 8 ribu tenaga kerja yang tak hanya berasal dari dalam Bandung tetapi juga dari Sumedang, Tasikmalaya dan Garut.

"Jumlah ini bersifat fluktuatif, bisa bertambah bisa berkurang," tutur Ketua Asosiasi Pengusaha Rajut Binong Jati, Suyono Wondo. Wondo menuturkan ada kalanya yang memiliki modal kecil menutup usahanya atau ketika usaha rajut sedang ramai, pengusaha-pengusaha musiman muncul untuk ikut icip-icip keuntungan.

Beberapa orang penduduk Binong Jati mengawali sentra rajut ini di tahun 1965. Mereka dititipkan mesin rajut oleh pengusaha Tionghoa yang makloon produk-produk rajut pada mereka. Sekitar tahun 67-an, sentra rajut ini mulai ramai. Pesanan dari berbagai daerah di luar Bandung berdatangan. Banyak penduduk yang turut beralih profesi menjadi pengusaha rajut.

Tahun berikutnya, usaha rajut tidak mengalami peningkatan yang lebih berarti hingga ketika di tahun 2004 harga bahan baku tidak lagi mahal, usaha ini pun ramai lagi.

"Produk rajut Binong jati tersebar hampir di seluruh pasar lokal di Indonesia," jelas Wondo. Misalnya pasar Tanah Abang, pasar Haur Kuning di Bukit Tinggi, pasar tradisional di Lombok termasuk Pasar Baru di Bandung dan pasar tradisional lainnya.

4 ribu lusin produk bisa dihasilkan setiap harinya dari mulai blus, jaket, sweater, kardigan yang sedang tren sampai produk terbaru yaitu kerudung. Dengan kuantitas produksi yang sedemikian banyak, omzet yang bisa dihasilkan pun bisa mencapai Rp 700 juta - Rp 1 miliar per harinya.

Di sini, hanya bisa membeli secara grosir dengan minimal pembelian 1 lusin. Tapi jangan khawatir, beberapa pengusaha ada yang membuka toko sendiri untuk melayani pembeli satuan.

Seperti halnya Endang yang memiliki dua toko di kawasan Binong Jati dan dua toko lainnya di luar yaitu satu toko di BIP, Jl Merdeka dan satu toko di Metro Trade Center. Endang mengaku, dia merintis usaha rajut sejak usaha rajut Binong Jati mulai ada.

"Saya biasa memproduksi rajut-rajut seperti sweater, kardigan, rompi dan lain-lain," jelasnya. Harga satu potong pakaian tergantung bahan yang digunakan bisa mulai Rp 25 ribu sampai di atas seratus ribu rupiah.

Menurut Endang, selain pembeli yang membeli satuan, banyak juga pembeli yang membeli produk rajutannya untuk dijual kembali. Meski diakuinya pembeli yang membeli dalam jumlah banyak sekarang sudah terbilang jarang.

Ketika ditanya omzet, Endang mengatakan saat ini pembeli agak sepi. "Omzet per harinya rata-rata hanya Rp 1 juta. Kalau lagi ramai bisa Rp 6-7 juta," tambahnya.

Nah, jika anda ingin membeli baju dari bahan rajutan yang murah meriah sekaligus melihat proses pembuatannya, tak ada salahnya jika anda ke Bandung menyempatkan diri mampir ke Sentra Rajutan Binong Jati.

(ema/ern)

Wayang Golek Buah Tangan dari Cupumanik


Bandung - Cerita Ramayana menjadi salah satu cerita epik terbaik sepanjang masa. Kisah percintaan antara Rama dan Sinta merupakan inti cerita.

Rama, salah satu putra raja Ayodya yang mengayomi rakyat jelata. Dia memiliki keahlian dalam memanah. Sedangkan Sinta atau Devi Sita yaitu istri Rama, memiliki kecantikan hingga memikat sang Rahwana untuk menculiknya.

Jika kisah percintaan Rama dan Sinta biasanya diabadikan lewat tulisan atau pertunjukan wayang, Cupumanik mengabadikan kegagahan Rama dan keanggunan Sinta dalam bentuk cinderamata.

Pahatan wayang golek Rama dan Sinta mulai ukuran 5 centimeter sampai 1,25 meter terpajang dalam kotak-kotak kaca dan plastik. Ketika memandangnya seolah membawa pada sebuah nilai kebudayaan yang seringkali terlupakan bahwa itu ada dan turut dilahirkan di negeri sendiri.

"Wayang ini bukan wayang untuk dimainkan tapi wayang souvenir untuk dipajang," jelas pemilik Cupumanik Wayang Golek & Handycraft, Wida Widyawati.

Menurut Wida, kerajinan wayang golek ini dirintis oleh ayahnya, Hery Heryawan sekitar tahun 70-an. "Latar belakang pendidikan ayah adalah seni rupa ITB, dia mencoba-coba sendiri sampai akhirnya bekerjasama dengan para perajin," jelas Wida.

Saat ini, Cupumanik bekerjasama dengan sekitar 15 pengrajin wayang yang tersebar di luar daerah Bandung seperti Purwakarta, Majalaya dan Sumedang.

Proses pemahatannya sendiri dilakukan oleh para pengrajin di daerahnya masing-masing. Barulah penyelesaiannya yaitu pengecatan, pemakaian kostum wayang dilakukan di Cupumanik yang terletak di Jl H, Akbar No.10 Kebon Kawung.

Sekitar 40 karyawan dipekerjakan untuk melakukan pengecatan, penyambungan tangan dengan benang, pembuatan baju wayang dan segala perniknya termasuk payet sampai ke pengepakan dalam kotak. Untuk yang berukuran kecil di masukan dalam kotak plastik sedangkan untuk yang berukuran besar bisa dimasukan dalam kotak kaca.

Menurut Wida, bolpoin wayang yang sekarang tersebar di banyak tempat awal mulanya dibuat oleh ayahnya. "Saya masih ingat ketika saya SD, ayah sudah membuat itu," ungkapnya.

Tak hanya wayang pajangan dan bolpoin, berbagai souvenir lain seperti gantungan kunci wayang, pembuka botol wayang menjadi produk lain yang disediakan Cupumanik.

Melihat kemungkinan banyaknya peniruan dari pihak luar, Wida bersama ayahnya selalu mencoba mengeluarkan inovasi-inovasi baru dalam setiap karyanya.

Aset Wisata
Keberadaan Cupumanik merupakan aset wisata besar bagi Kota Bandung. Meski kini, pengunjungnya tak sebanyak dulu.

Dulu, kata Wida, wisatawan asing yang berkunjung ke Cupumanik berbondong-bondong, ber bus-bus. Namun ketika Indonesia mengalami krisis di tahun 1997 ditambah lagi tragedi bom Bali, wisatawan asing yang berkunjung makin sepi.

"Akhirnya sekarang kami memilih ekspansi keluar. Tidak lagi menunggu bola tapi menjemput bola," ujarnya.

Cupumanik mengirimkan produknya ke Jakarta, Jogya, Bali, juga Surabaya. Meski saat akhir pekan pun tak sedikit dari luar kota yang membeli oleh-oleh di Cupumanik.

Wida pun tak berniat untuk hingga ekspor karena produksi Cupumanik sendiri cukup terbatas untuk itu.

"Kami hanya cukup di sini saja untuk melestarikan kebudayaan Sunda yaitu wayang golek," tambahnya.

(ema/ern)

Kingsley, Batagor Favorit dari Veteran


Bandung - Tak sedikit wisata kuliner Bandung yang berada di sebuah tempat sederhana. Tanpa sejuknya AC atau interior nyaman sebagai penunjang suasana bersantap.

Bahkan, bisa jadi para pengunjung menikmati makanan di tengah jejal. Panasnya udara tak membuat semangat surut untuk bisa menikmati jajanan favorit.

Seperti yang terjadi di Batagor dan Siomay Kingsley, Jl Veteran. Selain yang memilih bersantap di tempat, beberapa orang terlihat mengantre untuk mendapatkan beberapa buah batagor agar bisa dibungkus pulang untuk dijadikan oleh-oleh.

Hawa panas dari penggorengan tak diindahkan. Sebuah tulisan tergantung di atas muka antrean 'Untuk bumbu batagor jangan disimpan di dalam freezer' kira-kira begitulah bunyinya.

Batagor khas Kingsley pertama kali dibuka tahun 1982. Racikan batagor dan siomaynya merupakan hasil coba-coba dari sang pemilik, Beni (51) untuk menghasilkan rasa yang beda.

Awalnya nama Kingsley sendiri adalah nama rumah makan mie bakso peninggalan ayahnya. Ketika usaha itu dilimpahkan kepada dirinya, menu utama pun dirubah jadi batagor.

"Kami mengutamakan kualitas. Bahan baku yang digunakan serba fresh dari mulai ikan, minyak goreng, kacang sampai bumbu pelengkap," jelas Beni.

Menurut Beni, dirinya memperjuangkan kualitas karena lidah orang tidak bisa dibohongi. Jika batagor lain akan keras jika disimpan lama, maka tidak berlaku untuk batagor Kingsley.

"Jadi untuk kakek atau nenek yang tidak kuat mengunyah makanan keras, masih bisa menikmati batagor ini," selorohnya.

Menu lain selain batagor bisa juga ditemukan, misalnya mie bakso atau es oyen segar juga turut menemani santap batagor di tempat ini. Untuk oleh-oleh, selain batagor, makanan ringan lainnya juga disediakan Kingsley, aneka camilan ringan seperti keripik, kue kering dan makanan ringan lainnya.

Harga satu porsi batagor Rp 15 ribu berisi tiga buah. Harga tersebut menurut Beni kemungkinan akan naik seiring penyesuaian harga kenaikan BBM.

Beni pun mengungkapkan kengeriannya ketika turunnya omzet pasca kenaikan BBM. Di mana jumlah batagor yang dibungkus untuk dijadikan oleh-oleh oleh para pelancong dari Jakarta menurun.

Begitu pun batagor, meskipun nanti harganya naik, tetaplah menjadi kuliner favorit semua orang. Dua orang pengunjung dari Jakarta, Erwin dan Cyntia mengatakan ketika ke Bandung, mereka pasti mampir ke Batagor Kingsley.

"Rasanya beda, baik batagor maupun bumbunya," jelas Erwin yang mengaku datang ke Bandung 2-3 bulan sekali. Pengunjung lain pun tak hanya terlihat menikmati batagor. Di sebuah meja, beberapa orang ibu-ibu turut berdendang mengikuti nyanyian asal tanah batak yang disuguhkan sebuah band.

Kingsley memiliki penyanyi tetap untuk menghibur para pengunjung. Mereka menyanyi di muka gerbang Kingsley. Terkadang bersahutan dengan bunyi peluit tukang parkir. Biarpun tempat parkirnya hanya di pinggir jalan Veteran, sepertinya tak mengganggu para pengunjung. Karena suara bariton sang vokalis, gesekan biola berikut petikan gitar bisa menggairahkan suasana.

Tepukan riuh pun diberikan mengiringi kepuasan bersantap. Para pengunjung pun melenggang keluar dari Kingsley dengan senyuman.(ema/lom)

Pelancong Malaysia Getol Belanja di Bandung


Bandung - Trademark Bandung sebagai kota wisata belanja tak hanya populer di tanah air tetapi terdengar sampai ke luar negeri. Beberapa kawasan wisata belanja Bandung pun kerap dikunjungi warga asal negeri Jiran, dari mulai FO hingga berkunjung ke sentra sepatu Cibaduyut.

Hal itu diakui Supervisor The Oasis FO, Eri Furqon. Menurut Eri, pengunjungnya banyak yang berasal dari Malaysia. Mereka biasanya datang secara rombongan menggunakan bis.

"Jika dibandingkan antara pembelanjaan orang lokal termasuk Jakarta dan Malaysia, satu pieces orang lokal berbanding satu mobil orang Malaysia," tutur Eri ditemui di kantornya di Jalan RE Martadinata.

Hal serupa dituturkan manager Merdeka Arcade, Jl Merdeka, Dani. Menurut Dani, dari total wisatawan luar Bandung yang belanja ke Merdeka FO, 20 persennya berasal dari Malaysia. "Orang Malaysia lebih banyak membeli barang daripada orang lokal. Sehingga jika wisatawan Malaysia datang harus benar-benar terlayani dengan baik," ujarnya.

Begitupun dengan Cibaduyut, tak sedikit pelajar dan pegawai di Malaysia yang melancong ke kawasan wisata belanja ini. Sepatu-sepatu yang mereka beli pun tak sedikit. Demikian dituturkan Wakil Direktur Grutty Medi Heryanto.

Menurut Medi, liburnya orang Malaysia tidak tentu, berbeda dengan Indonesia. Medi menilai kemudahan dan kemurahan transportasi dari Malaysia ke Indonesia yang membuat mereka rajin datang ke Indonesia. "Biasanya mereka datang 1-2 bis ke sini," tuturnya.

Ditemui ketika sedang belanja, wisatawan asal Malaysia Ani (38) menyatakan bahwa sentra sepatu Cibaduyut memang terkenal di negeri Jiran sana. Itulah yang membuatnya tertarik untuk datang ke Cibaduyut.

Ani yang baru pertama kali datang ke Indonesia dengan sekitar 60 rekannya dari sebuah instansi koperasi di Malaysia. Meski sepatu Cibaduyut tidak original, Ani mengaku tertarik dengan harga sepatunya yang murah.

Ani menambahkan, tempat lain yang akan ditujunya selepas dari Cibaduyut yaitu mengunjungi sentra jeans Cihampelas.

(ema/ern)

Berteman Rimbun, Makan Siang di Cilaki Yuk!


Bandung - Setelah penat bekerja, waktu untuk makan siang pastinya selalu ditunggu. Tak sulit rasanya mencari tempat makan yang asyik untuk bersantap siang di Bandung.

Sebut saja kawasan Cilaki yang tak hanya menawarkan ragam menu dari tenda ke tenda tetapi suasana sejuk yang mendukung acara bersantap menjadi lebih nikmat.

Meski deretan tenda tak sebanyak dulu, kawasan ini masih begitu populer. Di buka dari sekitar pukul 08.00 atau 09.00 WIB. Tenda-tenda udah terpasang berderet dengan aneka jajanan yang mungkin akan cukup memusingkan karena begitu banyak pilihan.

Tak salah mencoba satu per satu. Anda bisa mengawali wisata kuliner dari muka Jalan Cilaki yang masuk dari Jalan Diponegoro. Lokasi Jalan Cilaki sendiri sangat dekat dengan ikon kota Bandung, Gedung Sate. Deretan tenda-tendanya berada tepat di pinggir Kantor Pos dan Giro yang masih satu area dengan Gedung Sate.

Beragam jajanan khas nusantara bertebaran dari awal sampai ujung menuju Jl Cimanuk. Ada rawon dan rujak cingurnya Surabaya, ada kupat tahu Singaparna, makanan khasnya Manado, Ikan Bakar, soto mie, gudegnya Jogya, sate, sop kambing, mie bakso dan pastinya nasi bakar yang populer lalu kesegaran sop buah.

Para penjual tak hanya menjual di dalam tenda, tak sedikit dari mereka yang menyertakan mobil pribadi untuk berjualan.

Dikatakan seorang tukang parkir, Odang (40), kawasan Cilaki memang selalu ramai terutama pukul 12.00 WIB, ketika jam kantor sudah menunjukan waktu makan siang. "Banyaknya karyawan dari kantor-kantor sekitar sini, misalnya dari PT Pos," jelasnya.

Menurutnya, para pedagang yang berjualan pun tak selalu ada. Tergantung ramai atau tidaknya pengunjung ke kawasan ini.  Meskipun dari beberapa warung tersebut ada yang selalu ramai ada pula yang sepi.

Dituturkan seorang pelanggan Cilaki yang sedang bersantap gudeg, Muhzia mengaku dirinya beberapa kali makan di tempat ini karena dulu pernah bekerja di PT Pos.

"Cilaki itu yang datang bukan orang biasa. Kalau hari Jumat, banyak orang penting yang datang selepas jumatan di Mesjid Istiqomah," ujarnya. Ditambahkannya, Cilaki masih layak disebut sebagi kawasan wisata kuliner Bandung.

Selain Jalan Cilaki ada Jalan cisangkuy pun menawarkan jajanan yang cukup menggoda. Jalan Cilaki dan  Jalan Cisangkuy mengapit kerimbunan dan kesejukan Taman Lansia atau Taman Cilaki.

Di Jalan Cisangkuy bisa ditemukan warung timbel atau jajanan tradisional serabi dan bandros serta sate yang berjualan di depan pagar Yoghurt Cisangkuy yang ternama. Di sebelahnya, Clique Lounge dengan variasi menunya siap menyambut anda. Di ujung jalan, makanan tradisional lainnya yaitu awug dijajakan di dalam roda.

Sepertinya banyaknya jajanan yang bisa dijadikan pilihan akan memenuhi rencana makan siang anda selama berminggu-minggu. Mungkin tempat ini akan selalu jadi favorit. Apalagi kerimbunan dan angin segarnya Taman Lansia akan menyertai setiap suapan anda.  Bisa jadi membuat pun enggan beranjak. Uhm, dadah penat..!(ema/ern)

Menikmati Seni di Selasar Sunaryo

Bandung - Bagi publik seni, Selasar Sunaryo Art Space bukanlah nama yang asing. Berada di ketinggian Bukit Pakar Timur di No 100, tempat ini menawarkan segala bentuk karya seni yang layak untuk diapresiasi.

Nama Sunaryo diambil dari nama pemiliknya, seniman kenamaan, Sunaryo. Dibangun selama empat tahun dari 1993-1997 oleh Sunaryo dan Baskoro Tedjo yang dibuka pada tahun 1998. Selasar bisa diartikan beranda di tempat terbuka untuk menyambut siapapun yang ingin menikmati karya seni. Tempat ini dibangun untuk memberikan kontribusi dan mendukung perkembangan seni dan budaya di Indonesia.

Awalnya, Selasar Sunaryo dibuat sebagai museum untuk menampung karya-karya Sunaryo. Tetapi dalam perjalanannya, tak hanya karya-karya Sunaryo, sederetan karya-karya seni lain pun bisa diapresiasi.

"Awalnya Selasar Sunaryo dibuat sebagai museum yang menampung karya-karya Sunaryo, tetapi seiring perjalanan, Selsar Sunaryo menjadi pusat kebudayaan kecil," tutur Program Manager Selasar Sunaryo, Anggie Trisnie. Menurut Anggie, tak hanya pameran seni rupa, karya seni lainnya seperti program arsitektur, sastra, film, dan lainnya menjadi pengisi program-program Selasar Sunaryo.

Selasar Sunaryo didirikan untuk memberikan kontribusi dan mendukung perkembangan seni dan budaya di Indonesia. Secara reguler setiap tahunnya dibuat program-program yang memfokuskan pada aktivitas yang mengedukasi publik.

Setiap tahunnya, Selasar Sunaryo memiliki 12-15 program setiap tahunnya. Setiap program yang akan diselenggarakan akan diputuskan melalui dewan pertimbangan kuratorial. Dalam pelaksanaannya, Selasar Sunaryo bekerjasama dengan berbagai pihak yang interest terhadap pendidikan publik dalam kajian seni dan budaya. Misalnya dengan lembaga-lembaga lokal dan lembaga asing seperti Japan Foundation, CCF, British Council atau Goethe Institute. Tak hanya itu, Selasar Sunaryo pun bekerjasama dengan artis, kurator, kritikus, peneliti, juga konservator.

Tahun ini, salah satu program Selasar Sunaryo yaitu perayaan hari jadi yang ke-10. Sebuah buku yang memuat program-program selasar Sunaryo selama 10 tahun terakhir keberadaannya akan diluncurkan.

Anggie menuturkan, saat ini Selasar sedang menggiatkan perkenalan seni dan budaya pada pelajar dan guru-guru seni rupa. Di mana para murid bisa diberikan edukasi seni yang dikaitkan dengan program-program yang ada di Selasar Sunaryo.

Setiap program dilaksanakan di ruang yang berbeda. Terdiri dari beberapa ruang indoor dan outdoor yang begitu mendukung kenyamanan pengunjung untuk menikmati setiap karya. Udara yang sejuk berikut arsitektur bangunan yang menarik membuat setiap pengunjung akan betah berlama-lama sambil menikmati panorama pegunungan yang indah.

Sebutlan dua ruangan pameran yaitu ruang sayap dan ruang tengah. Dua ruangan ini diperuntukan bagi pameran permanen, temporer atau pameran insidental, workshop dan performance art. Ruangan lain yaitu ruang ruparungu digunakan sebagai ruang untuk mempresentasikan karya-karya audio visual, video, pemutaran film sekaligus diskusi.

Menuruni beberapa tangga dari Kopi Selasar, sebuah ruang teater terbuka yang melingkar dibuat untuk pertunjukan teater, konser musik, pembacaan puisi dan pertunjukan seni lainnya. Kembali menuruni tangga menuju bagian terbawah Selasar yaitu menuju Joglo Selasar. Bangunan berbentuk rumah joglo yang dibiarkan terbuka dibagian bagian pinggir bangunannya. Sehingga udara Bandung utara yang sejuk secara leluasa begitu terasa. Tempat ini biasa digunakan untuk program spesial seperti diskusi dan workshop.

Bangunan lainnya yaitu Rumah Bambu, seperti namanya, tentu saja rumah tradisional etnis sunda ini terbuat dari bambu. Disediakan sebagai tempat beristirahat untuk para artis atau sebagai guesthouse bagi pengunjung Selasar. Dibuat dari berbagai jenis bambu yang di desain sedemikian rupa hingga menjadi sebuah hunian yang sederhana, natural dan nyaman.

Kopi Selasar, tempat ngopi yang begitu nyaman dengan deretan meja dan kursi yang terbuat dari kayu. Naungan rimbunnya pohon membuat suasana terasa di alam. Sambil menyeruput kopi, layangkan pandangan pada panorama Bandung yang sepertinya akan membuat rasa kopi lebih menggigit. Bercengkerama sambil menjelajahi dunia dengan fasilitas hotspot yang disediakan.

Untuk mengenang kedatangan di Selasar, sempatkan membeli cinderamata di Gift & Souvenir Shopnya. Di tempat ini tersedia repro karya-karya eksklusif Sunaryo, kartu, poster pameran dan kerajinan. Aneka buku yang memuat tentang seni bisa menjadi pilihan lainnya.

Menuju tempat ini mungkin butuh perjuangan yang cukup panjang bagi warga Bandung yang tidak menggunakan kendaraan pribadi. Dari arah Stasiun Bandung bisa menggunakan angkot Stasion Hall-Dago. Turun di simpang Dago lanjutkan dengan angkot Ciroyom Ciburial. Dari arah terminal Cicaheum bisa menggunakan angkot Cicaheum-Ciroyom. Turun di Simpang Dago lanjutkan juga dengan angkot Ciroyom-Ciburial.

Jangan khawatir jika tidak menemukan angkotan umum jika pulang dari Selasar di malam hari. Manajemen Selasar menyediakan angkot khusus pengunjung yang bisa menghantarkan ke terminal untuk dilanjutkan dengan angkot yang beroperasi selama 24 jam.

(ema/twi)

Galeri Kayoe, Bagaikan di Rumah Sendiri

Bandung - Istilah galeri terkadang diidentikkan dengan nuansa formal dan eksklusif. Namun di Galeri Kayoe, pengunjung akan merasa menikmati karya seni di rumah sendiri.

Menurut pemilik galeri, Supriyanto galeri ini memang sengaja ditata sedemikian rupa untuk menciptakan atmosfer rumah bagi pengunjungnya. Di sini akan dimanjakan dengan berbagai karya seni yang didominasi bahan kayu.

"Biasanya orang takut duluan untuk masuk galeri. Di sini saya upayakan orang jangan takut masuk ke galeri," tuturnya.

Karya yang ditampilkan mulai dari patung, hiasan serta karya andalan Supriyanto, miniatur rumah dari kayu. Diungkapkan Supriyanto karya miniatur rumah dari kayu memang karya andalannya yang telah banyak dikenal masyarakat.

"Biasanya pengunjung yang datang ke sini mencari miniatur rumah," paparnya.

Dirinya memang mengawali galeri ini dengan karya miniaturnya tersebut. Galeri yang awalnya dibuka di kediamannya di Dago Atas makin diminati. Oleh karena itu dirinya memutuskan membuka galeri yang lebih besar. Karya-karya lain seperti patung-patung maupun hiasan beberapa merupakan karya pegawainya. Tersedia juga karya seni dari luar daerah, seperti Jawa Tengah.

Tidak hanya karya dari kayu, di sini juga terdapat berbagai lukisan dan furnitur dengan cita rasa seni dan keantikan. Furnitur yang ditawarkan merupakan peninggalan dari jaman penjajahan. Umurnya mencapai puluhan tahun bahkan seabad lamanya.

"Nilai sejarahnya tinggi, karena dulu yang memiliki furnitur seperti ini pasti bukan orang biasa. Furnitur juga paling banyak dicari pengunjung yang datang ke sini," jelasnya.

Karya-karya yang dipamerkan ditawarkan dengan harga yang bervariasi dan cukup terjangkau. Untuk lukisan biasanya Rp 500 ribu ke atas. Sementara untuk miniatur rumahnya seharga Rp 400 ribu ke atas. Namun produk-produk yang sederhana seperti gantungan kunci dan hiasan-hiasan kecil ditawarkan mulai dari Rp 5.000.

Namun Supriyanto menekankan yang menjadi ciri khas dari galerinya yakni suasana kekeluargaan. Apalagi juga tersedia makanan dan minuman, yang disebut Supriyanto dengan Waroeng Kayoe. Menurutnya tidak jarang para seniman berkumpul di galeri ini.

"Yang paling penting, bisa menikmati seni sambil mengobrol dan bersantai," tukasnya.

Tertarik menikmati galeri rumahan ini? Anda dapat mengunjunginya di Jalan Ir H Juanda, di sebelah Hotel Sheraton Bandung.(twi/lom)

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons