Raup Rejeki Usai Memajang di Internet

Raup Rejeki Usai Memajang di Internet
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung - Puspa Ariyanti (25), pemilik Yellow Curly Accesories, saat ditemui detikbandung mengatakan dirinya tak sengaja menemukan metode pemasaran unik ini. "Awalnya sih numpang merek orang, titip toko-toko temen juga. Modalnya pun gak gede," tutur Puspa.

Namun kegemaran Puspa berinternet ria membuatnya segera memasarkan produk-produk aksesorisnya secara online. "Seperti kebanyakan anak muda lain aja, suka main Facebook atau Multiply. Nah, dari sana mulai masuk-masukin fotonya. Eh, tau-tau banyak yang minat juga," seloroh Puspa.

Sejak memajang produknya via internet, dirinya mengaku mulai mendapat order pameran. "Entah kebetulan atau gimana, tau-tau ada yang ngajakin pameran pas tahun 2008. Ternyata peminatnya lebih gila lagi," ujar Puspa.

Rupanya, selama ini Puspa memanfaatkan layanan web tanpa berbayar. Langkah tersebut ternyat jitu. "Sementara sih masih pake web gratisan. Itu aja yang minatnya udah lumayan banyak. Biasanya dari Bandung dan Yogyakarta," ungkapnya .

Kedepannya, Puspa berencana menambah produk Yellow Curly Accesories dengan produk kreasinya sendiri. "Pengennya sih bisa jualan produk bikinan sendiri, sekarang lagi sibuk belajar biar produksinya bisa lumayan banyak," sambung Puspa.

Meski sudah mereguk untung cukup lumayan dari bisnisnya ini, Puspa tidak melulu mengejar keuntungan. Ia berniat menggelar workshop membuat aksesoris bagi anak jalanan dan putus sekolah. "Nanti produk mereka juga akan jadi bagian dari Yellow Curly Accesories atau bisa juga mereka jual sendiri," ujarnya.

Lestarikan Sunda Lewat Distro

Lestarikan Sunda Lewat Distro
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Ketika tren dipertemukan dengan nilai-nilai kearifan lokal, munculah nama Distro Sunda atau disingkat Disun. Meski dibilang pendatang baru, sepertinya kehadiran Distro Sunda sudah mulai diperhitungkan.

Ditemui di stand Disun Pesona Kriya Bandung, Graha Manggala Siliwangi beberapa waktu lalu, pendirinya Agus Roche mengemukakan alasan pendirian Disun tiga bulan lalu itu karena rasa iba terhadap budaya Sunda.

"Siapa lagi kalau bukan kita yang melestarikan," ujar pria yang berprofesi sebagai desainer interior ini.

Pola-pola branding pun mengacu pada konsep pemasaran Jepang yang produknya bisa dengan mudah menyebar dan diterima oleh masyarakat. Contoh kecil misalnya karakter anime seperti Naruto yang produknya bisa diterima oleh masyarakat Indonesia. Pangsa pasarnya pun bisa dibilang cukup potensial.

Hal yang sama ingin diterapkan Agus untuk Disun. Dia berharap produk-produk yang bernafaskan Sunda juga bisa diterima dengan baik. "Kita berjuang minimal bisa seperti itu," ucapnya.

Biarpun Sunda, nggak berarti Disun anti dengan hal-hal modern. Pendekatan terhadap arus tren menjadi salah satu cara agar nilai-nilai Sunda bisa diterima. Entah dalam bentuk kolaborasi desain semisal kujang sebagai senjata tradisional yang jadi ikon Disun dipadukan dengan desain-desain kontemporer. Tentu saja tidak lepas dari keunikan dan unsur estetika.

Meski begitu Disun tidak membatasi hanya menjual produk-produk Sunda. Selain label dari Disun dan label clothing Sunda, sebanyak 30 persen produk Disun berasal dari label clothing yang sama sekali tidak bersentuhan dengan budaya Sunda.

"Kita tidak ingin terjebak. Kita bebaskan saja siapa yang mau masuk seperti halnya sifat orang Sunda yang someah (ramah-red)," seloroh Agus.

Selain kaos yang dijadikan produk utama distro, Disun adalah distro pertama yang mungkin menjual kain iket sebagai salah satu ciri tradisi Sunda. Selain itu juga menjual pernak-pernik Sunda seperti kujang, pin, dan lain-lain.

Saat ditanya berapa omzet yang sudah diraih sampai saat ini, Agus malah terkekeh. "Jangan dulu ditanya nanti deh setahun lagi," pungkasnya sambil tersenyum.


Distro Sunda
Jalan Kurdi 1 No 46
(ema/ern)

Jadi Baraya Disun Tanpa Biaya

Jadi Baraya Disun Tanpa Biaya
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Anda mengenal istilah franchise atau waralaba. Nah, Distro Sunda atau Disun mengganti istilah tersebut dengan kata baraya.

Menurut pendirinya Agus Roche Disun juga membuka kesempatan lebar-lebar bagi siapapun yang ingin menjadi baraya Disun, tanpa dibebankan biaya waralaba sama sekali.

"Mau yang di Bogor, Tasikmalaya silahkan kalau mau menggunakan nama Disun," ujar Agus.

Agus tidak khawatir konsep baraya yang gratisan ini akan menyaingi Disun asli Bandung, karena menurutnya nanti setiap Disun memiliki ciri khas sendiri begitu dengan Disun Bandung. Dengan konsep ini pula, mempermudah jaringan untuk memperluas penyebaran nilai-nilai Sunda dan bisa bekerjasama lebih luas lagi.

Agus tidak khawatir konsep tersebut malah akan membuat Disun Bandung terpuruk, karena menurutnya ketika ada pengekor Disun Bandung harus memiliki desain yang lebih baik dan selangkah lebih maju.

Ke depannya, Disun akan memanfaatkan komunitas dalam pemasaran. Misalnya Disun bertukar produk dengan komunitas lainnya. Sehingga harapan untuk menyebarluaskan produk Sunda ke pasar yang lebih luas akan tercapai. "Kita sedang melakukan komunikasi ke arah sana," tutupnya.(ema/ern)

Dinilai Mencari Keuntungan Sendiri, Viking Tolak Asaso

Dinilai Mencari Keuntungan Sendiri, Viking Tolak Asaso
Avitia Nurmatari - detikBandung

Bandung - Menanggapi keinginan Yasasan Asaso (Asah Asuh Olahraga) untuk ikut mendanai Persib agar dapat ikut dalam LSI 2009-2010, Panglima Viking Ayi Beutik menyatakan tidak setuju jika Persib menerima bantuan dari yayasan itu. Ayi menganggap yayasan tersebut hanya mencari keuntungan semata.

"Kalau yang Asaso itu kan cuma membagi Rp 1.500 aja untuk persib, itu sih cuma mencari keuntungan semata," ujar Ayi kepada wartawan di Patung Pemain Bola di Perempatan Jalan Tamblong, Jumat (17/7/2009).

Untuk membantu Persib Ayi mengatakan pihaknya akan bekerjasama dengan bank untuk menjual saham persib sebesar Rp 10 ribu per lembarnya. "Kalau kita mah mau jual saham Persib harganya Rp 10 ribu setiap lembarnya. Itu semuanya buat Persib, biar masyarakat semakin merasa memiliki Persib," ujar Ayi.

Dipastikan Ayi pihaknya tidak akan mengambil keuntungan sedikit pun. Rencananya yang mengelola saham tersebut adalah pihak bank. "Kalau yang urusan yang gitu mah pihak bank yang lebih ngerti. Jadi kalau dengan pihak bank kan lebih terjamin dan terpercaya," tuturnya.

Selain saham, Viking juga akan mengambil dana untuk persib sebesar Rp 1.000 dari setiap penjualan kaos Persib. "Kita kan punya 2 distro yang salah satunya
di Jalan Banda, nah dari satu kaosnya, kita minta seribu untuk Persib," jelas Ayi.

Tidak hanya merchandise yang dijual di distro, yang jualan di emperan jalan pun akan dimintai Rp 1.000 untuk setiap kaosnya. "Nanti yang emperan juga akan kita beri label resmi persib, jadi mereka bisa ikut nyumbang untuk persib," katanya.

Ayi juga berencana mengusulkan kepada Wali Kota Bandung Dada Rosada untuk membuat sistem Bapak Angkat untuk pemain Persib. "Misalnya perusahaan A mengontrak Gonzales, nah mulai dari gaji dan segala macamnya ditanggung oleh perusahaan A itu, jadi kan ringan ke Persibnya," ujar Ayi.

Ayi juga menjelaskan untuk kompensasi Bapak Angkat, Ayi mengatakan perusahaan yang akan mensponsori bisa memasang iklan di pinggir lapangan pada saat pertandingan Persib berlangsung. "Kalau kompensasinya bisa pasang billboard di pinggir lapangan atau di kaos-kaos," tambahnya.
(tya/ern)

Berbelanja di Lorong Fukuya

Berbelanja di Lorong Fukuya
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Berbentuk seperti lorong dengan panjang 40 meter dan lebar sekitar dua meter. Toko dengan konsep one stop shopping ini bisa menjadi alternatif berbelanja di Jalan Martadinata.

Fukuya. Namanya memang berbau aroma Jepang, tapi jangan cepat menilai lihat dulu di dalamnya, apa saja yang bisa didapatkan.

Pastinya konsumen akan langsung disambut dengan musik menghentak yang energik. Kesan pertama terlihat toko ini begitu bergaya muda. Nuansa musik keras, poster-poster grup musik, kaos-kaos musik, aksesoris musik juga bikers, ditambah redupnya suasana dengan dinding toko yang tertutupi cat hitam.

"Konsep kita one stop shopping," ujar pemilik Fukuya yang hanya ingin disapa Om Fukuya ini.

Menurutnya toko Fukuya berlaku untuk konsumen keluarga. Walaupun sebagian besar produk memang ditujukan untuk anak muda. Tapi bukan berarti para orang tua hanya berdiam diri, beberapa item produk seperti kemeja, tas hingga bed cover juga tersedia.

Fukuya berasal dari bahasa Jepang yang artinya toko pakaian. Meski namanya dari bahasa Jepang, konten produk di dalamnya tidak terlalu bersentuhan dengan budaya Jepang.

"Awalnya memang ingin berkonsep Jepang, namun produk-produk Jepang lumayan mahal," ujar pria yang berpenampilan nyentrik dan bergaya muda ini.

Akhirnya, Fukuya pun memilih produk Thailand dan Hongkong. Karena pada awal mendirikan Fukuya tiga tahun lalu, Om Fukuya merasa tidak memiliki kecocokan dengan produk Indonesia.

"Produk Thailand bagus, sablonnya bagus. Sepuluh kali dicuci juga nggak akan belel, murah lagi," akunya. Walaupun produk impor, kata Om Fukuya, bisa dijual seharga yang sama dengan harga distro.

Endorse Band Terkenal

Respon pasar pun cukup menggembirakan. Bahkan, menurut Om Fukuya, pihaknya mengendorse beberapa musisi untuk kostumnya. Seperti Nine Ball, Jamrud, Pas Band, dan juga artis dari Malaysia.

Tapi keinginan untuk membuat brand sendiri juga bukan berarti tidak ada. Beberapa bulan lalu, brand dengan nama Fukuya pun diluncurkan ke pasaran.

Akhirnya dari prosentase 80 persen produk Thailand, pelan-pelan mulai bergeser dan memperbanyak produk lokal. Om Fukuya pun membuka pintu untuk bekerjasama dengan perajin-perajin lokal yang belum memiliki nama.

"Kalau memang barang mereka bagus saya ajak kerjasama," ujarnya.

Kerjasama dengan komunitas bikers pun juga dilakukan. Beberapa merchandise para bikers mulai Brotherhood hingga Vespa ditampung di sini.(ema/bbn)

Mahanagari, Kampanye Kota Bandung Lewat Fesyen

Mahanagari, Kampanye Kota Bandung Lewat Fesyen
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Ketika distro sedang mencetak kejayaannya, 4,5 tahun lalu nama Mahanagari muncul menghadirkan warna baru dalam industri fesyen di Bandung. Seperti menentang arus, Mahanagari tidak sekadar berbicara tren tapi memberi lebih dari itu.

Si empunya Mahanagari Ben Wirawan S (33) pun tidak menyebut Mahanagari sebagai perusahaan kaos. "Kita adalah perusahaan kampanye, kampanye budaya Bandung," tutur orang Bandung yang lahir di Samarinda ini.

Bersama rekannya Hanafi, Ben lebih memilih untuk tidak ikut pada arus. Mereka mengambil ruang yang tidak disentuh oleh industri distro saat itu. Berpijak pada lokal konten, Mahanagari pun mengibarkan benderanya dengan mengekplorasi segala sesuatu tentang Bandung.

Ide yang menjurus pada konten lokal tersebut, menurut Ben terinspirasi dari Bandung Heritage yang sempat menjadi tempatnya berkegiatan. Memperkenalkan Bandung kepada publik melalui industri fesyen.

Dengan modal Rp 5 juta, awalnya Ben memfokuskan Mahanagari sebagai souvenir untuk para turis yang datang ke Bandung. Tapi peristiwa bom Bali pada tahun 2002 tak urung membuat para turis pun 'kabur'. Imbasnya, Mahanagari harus gulung tikar karena penjualan turun drastis sampai 70 persen.

Sampai akhirnya pada tahun 2005, saat seorang kawan menawarkan modal untuk membangun kembali Mahanagari, bendera Mahanagari pun kembali dikibarkan. Pasar pun jadi bergeser. Tidak lagi menembak wisatawan, tapi juga didasari keinginan untuk mengedukasi masyarakat Bandung sendiri tentang kotanya.

"Mahanagari adalah cerminan apa yang ada di Kota Bandung," ujar Ben daat ditemui di toko baru Mahanagari di Bandung Indah Plaza.

Lulusan Desain Produk ITB ini, menekankan selain konsep kekuatan Mahanagari terletak pada desain. Tidak sembarangan, dituntut desain yang matang karena melalui desain itu edukasi itu akan sampai pada konsumen.

Meski produk hanyalah titik akhir dalam lingkaran kampanye budaya yang diusung Mahanagari. Kampanye dilancarkan melalui film, tour heritage atau diskusi-diskusi publik yang semuanya berbicara tentang Bandung. Dampak dari kampanye tersebut, konsumen akan tertarik untuk datang dan membeli produk Mahanagari.

"Kami memberikan benefit pada konsumen, konsumen memberikan profit," ujar suami dari Fanny Indrafanti ini.

Namun menurut Ben, buah dari kampanye budaya tersebut tidak akan datang secara instan, mungkin baru akan dipetik 40 tahun mendatang. Tapi bibitnya sudah Mahanagari tanamkan.(ema/ern)

Mahanagari Lahir Karena Pengalaman Pahit

Mahanagari Lahir Karena Pengalaman Pahit
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Pengalaman pahit ternyata bisa berujung rezeki. Ben Wirawan S (33) misalnya, mendirikan Mahanagari karena termotivasi dari pengalaman pahitnya semasa kuliah.

Ben bertutur tentang kesempatannya mengikuti pertukaran pelajar ke Singapura pada tahun 1998. Kala itu, lulusan Desain produk ITB ini mencari barang-barang sebagai kado untuk dibagikan pada pelajar dari negara lain selain wayang. "Saat itu yang terpikirkan adalah membeli kaos," tutur Ben saat ditemui di toko Mahanagari Bandung Indah Plaza.

Tapi setelah ngubek-ngubek, Ben sama sekali tidak menemukan kaos yang bertuliskan Bandung. Terpaksa Ben harus menelan kembali keinginan memberi kaos souvenir khas Bandung. Dia pun menjadi beda sendiri dengan pelajar lainnya yang membawa souvenir kaos negaranya masing-masing.

Bagi Ben itu adalah pengalaman pahit. "Kenapa Bandung tidak punya kaosnya sendiri," tukas Ben.

Pengalaman pahit yang terus membekas tersebut membuatnya bertekad untuk membuat kaos khas Bandung. Meski keinginan itu baru bisa diwujudkan beberapa tahun kemudian, dengan sebuah label yang dinamakan Mahanagari.

Nama Mahanagari diambil, menurut Ben karena dia ingin produknya kelak bisa menjelajah Indonesia. Namun kemudian Ben berpikir untuk fokus dulu di Bandung sebagai tanah kelahiran Mahanagari. Meski sudah ada tawaran untuk membuat Mahanagari Jakarta.

Tak ubahnya seperti distro produk Mahanagari berupa kaos, pin, poster, topi atau sandal tapi memiliki 'rasa' Bandung yang kuat. Selain itu, dengan dasar kampanye budaya, produk Mahanagari dikuatkan dengan memproduksi film Bandung tempo dulu, poster heritage di Bandung, buku-buku tentang Bandung dan Sunda. Tak ketinggalan pernak-pernik budaya di Bandung seperti wayang.

Selama dua tahun terakhir, kegiatan touring Bandung menjadi salah satu kampanye yang digencarkan. Untuk memberikan pengalaman visual pada para konsumennya.

Mahanagari bisa meraih konsumen dari lokal dan juga luar Bandung. "Tidak seperti kaos ikon kota lain yang konsumennya 90 persen dari luar. Kita 50 persen lokal, 50 persen dari luar Bandung," ungkapnya.

Dalam satu bulan Mahanagari bisa memproduksi 1000-an kaos. Bahkan produksi masa liburan bisa mencapai 5.000-an kaos.

Menurut Ben, omzet selama empat tahun terakhir, empat kali lipat dari omset tahun pertama. Jika dulu per bulannya hanya meraup Rp 25 juta, kini bisa menghasilkan sampai Rp 100 juta per bulan.(ema/ern)

Artis Hingga Penjual Martabak Dijadikan Model

Artis Hingga Penjual Martabak Dijadikan Model
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Memang Bandung pisan euy! Begitu Mahanagari mencitrakan diri. Bukan hanya dari sisi produk, Ben Wirawan S (33), empunya Mahanagari menggaet ikon lokal yang disebutnya local genius sebagai model.

Menurut Ben, menggaet ikon lokal baru dilakukan di tahun kedua Mahanagari. Mereka dipilih karena cukup mewakili di bidangnya. Karena kalau hanya model biasa saja tidak akan mewakili apapun. Tapi dengan mengambil para local genius, nafas Bandungnya akan lebih terasa.

Pose para ikon terpampang di dinding toko Mahanagari. Mereka menggunakan desain Mahanagari yang sesuai dengan bidang dan karakter para ikon.

Misalnya untuk desain bikers, ikon yang terpilih adalah Tegep sebagai pupuhu Brotherhood dan pemilik Tegep Boots. Juga Robby Darwis yang dipilih untuk model desain Persib.

Desain bertema wisata kuliner lain lagi, Donner Padyhangan 6 yang membawakan sebuah acara kuliner di sebuah stasiun TV lokal dijadikan sebagai ikonnya, atau pasangan penyiar radio Vivi Novidia dan almarhum vokalis Protonema Micko untuk ikon desain Rama dan Sinta.

Saat Vivi dan Micko dijadikan model memiliki kisah tersendiri di hati Ben. Karena satu minggu kemudian setelah sesi pemotretan Micko meninggal dunia. Pakaian yang digunakannya saat itu adalah kaos Mahanagari.

Cerita lain datang dari seorang editor kebangsaan Belanda yang hobi naik angkot di Bandung. Sehingga dia pun dijadikan ikon untuk desain rute angkot. Desain tersebut sejak diluncurkan sampai sekarang cukup tinggi penjualannya.

"Desain tersebut sengaja dibalik agar bisa terbaca oleh pemakainya bukan oleh orang lain," ujar Ben.

Ikon-ikon lainnya ada Taufanny dari Klab Aleut, Tarlen dari Tobucil & Klabs, Ronald Natapraja, bahkan penjual martabak Andir pun dijadikan ikon untuk desain kaos 'Bandung Bermartabak' sebagai simbol martabak paling enak di Bandung.

Sampai saat ini, ucap Ben, Mahanagari sudah menggunakan 30 ikon. Ikon-ikon tersebut yang terus berganti setiap tahunnya. Dan hebatnya, para ikon dengan sukarela mengikuti sesi pemotretan tanpa bayaran sama sekali.

"Tapi pastinya mereka dikasih kaos," tuturnya.

Mahanagari Libatkan 40 Desainer

Mahanagari Libatkan 40 Desainer
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Mahanagari melibatkan sejumlah desainer dalam membuat desain-desain kaosnya. Menurut pengelola Mahanagari, Ben Wirawan S (33), ada 40 desainer yang memberikan kontribusi desain untuk Mahanagari.

Semuanya berstatus freelance. Separuhnya adalah mahasiswa, sisanya dosen dan desainer profesional. Mahanagari memberikan peluang pada siapapun yang berminat membuatkan desain. Bahkan, konsumen sekalipun diperbolehkan.

Di antara para desainer, salah satu komikus asal Belanda yang membuat komik tentang Indonesia termasuk di dalamnya tentang Bandung. "Saat kita meminta izin untuk menggunakan komiknya sebagai desain dia menyambut baik," ujar Ben.

Tentunya setiap desain melalui proses asistensi oleh desainer Mahanagari, agar desain-desain tersebut tetap berada dalam visi Mahanagari dengan kampanye budayanya. Terlebih untuk desain yang melibatkan data dan fakta sejarah harus terjaga akurasinya.

"Setiap desainer akan mendapatkan royalti 1 persen per desain," ujar Ben. Untuk itu, perlu desain yang matang agar bisa bertahan lama di pasaran sehingga cukup memberi keuntungan bagi para desainer," jelasnya.

Ben yang pada awalnya menjadi desainer Mahanagari pun sekarang sudah menyerahkan sepenuhnya desain pada desainer Mahanagari dan para desainer freelance. Namun dalam proses eksekusi Ben tetap berperan.

Selain 40 desainer freelance, Mahanagari hanya mempekerjakan 7 karyawan dan 20 wiga, sebutan khas Mahanagari untuk wiraniaga. Para wiga yang dipekerjakan masih berstatus mahasiswa.

Mereka bekerja paruh waktu dan disesuikan dengan jadwal kuliah. Mengambil mahasiswa sebagai wiga, kata Ben, salah satu alasannya untuk mengajarkan mereka tentang Bandung. Secara tidak langsung, para mahasiswa ditransfer product knowledge yang akan memperluas wawasan mereka tentang Bandung.

"Harapannya, mahasiswa dapat lebih mudah menyampaikan kembali visi Mahanagari kepada konsumen. Bahasa Inggrisnya jago-jago lho!" ujar Ben.

Dalam proses produksi pun Mahanagari melibatkan berbagai vendor baik untuk kaos ataupun sablon. "Saya tidak ingin menjadi segala bisa. Saya serahkan yang tidak saya kuasai pada ahlinya," tutur Ben.
(ema/bbn)

Banyak Pengekor, Buktikan Kreatifitas Bandung

Banyak Pengekor, Buktikan Kreatifitas Bandung
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Munculnya pengekor atau plagiat menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan sebuah industri termasuk fesyen. Itulah yang terjadi dengan Mahanagari.

Penelusuran Ben Wirawan S (33) pendiri Mahanagari kini bermunculan clothing atau distro dengan tipikal yang sama yaitu mengusung konten lokal Bandung atau Sunda. "Banyak format clothing yang ngikutin. Sekitar ada lima, kalau yang musiman ada sebelas," tutur Ben saat ditemui di Mahanagari Bandung Indah Plaza (BIP).

Tapi menurut Ben keadaannya beda dengan di Yogyakarta atau Bali. Di Yogya misalnya, bermunculan plagiat label Dagadu tak terbendung. Kondisi tersebut secara tidak langsung merugikan pihak Dagadu.

Namun tidak seperti itu di Bandung. Para pengekor menjadikan Mahanagari sebagai inspirasi. Dengan format serupa mereka memiliki nama dan kreasi yang berbeda dari Mahanagari. "Hal itu menunjukan Bandung memang kota kreatif. Mereka enggak mau sama dengan kita, " tutur Ben.

Bagi Ben hal itu tidak masalah. Dengan bermunculannnya konsep-konsep serupa, membuat Mahanagari harus lebih keras untuk berpikir dan meningkatkan kreatifitas. "Ini membuat kita untuk tetap mikir," ujarnya.

Selain pengekor ada juga yang terang-terangan jadi plagiat dengan menggunakan nama Mahanagari berikut desain-desainnya. Produk tersebut bahkan dijual di toko yang ada di kawasan wisata. Namun plagiat tersebut masih bersifat musiman.

Sampai saat ini masih belum akan memperkarakan hal tersebut. Namun Ben cukup waspada untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di depan jika kelak merugikan Mahanagari.

"Kita mendokumentasikan setiap desain dengan cara mengirimkan desain tersebut ke kantor pos tapi dialamatkan ke kantor kita. Cap pos yang tertera akan menjadi bukti kapan desain tersebut dibuat," tandasnya.
(ema/bbn)

Caboo Attitude Akan Ganti Kulit

Caboo Attitude Akan Ganti Kulit
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Mengenal nama Caboo Attitude? Ya, clothing yang yang ada di barisan depan Jalan Sultan Agung lagi sebentar akan ganti kulit. Memang enggak jauh beda dengan ular yang mengganti kulitnya agar lebih indah, Caboo Attitude ingin berganti konsep toko jadi lebih oke.

Tapi bukan fisik toko yang diubah. Sang owner, Oscar (23) menuturkan kalau besok, Minggu, 2 Agustus, Cabbo bakalan re-launching toko. Dari tadinya memiliki konsep shop house bakal beralih jadi distro.

"Kalau sebelumnya hanya merek Caboo aja yang ada di di sini. Kita akan berubah jadi distro dan mengajak clothing lain buat gabung," tutur alumnus Unpar ini.

Salah satunya adalah label Poops yang akan bergandengan dengan Caboo Attitude sebagai label utama. Selain itu, Oscar juga mengajak enam label lainnya seperti Citrus, Raw, Oase, Hermine dan Pilleto untuk para cewek.

Perubahan konsep ini menurut Oscar agar Caboo bisa menarik pasar lebih luas lagi. Dengan branding barang-barang lebih banyak lagi, Oscar percaya bisa memperkuat link konsumen.

"Untuk orang-orang yang loyal dengan clothing-clothing yang akan gabung, mereka juga akan datang nanti ke sini," tuturnya.

Meski diakui Oscar label-label yang digandengnya sebenarnya bukanlah brand lama yang sudah memiliki nama. Dengan berpegang pada visinya buat maju dan sukses bareng-bareng, Oscar enggak ragu mengajak brand-brand baru.

Toh, dalam masa trial pun sudah bisa terlihat bahwa dengan konsep baru ini, omzet mengalami peningkatan meski belum terlalu signifikan. Oke, selamat berganti kulit!

(ema/ern)

Bidik Momen Bersejarah Buat Promosi

Bidik Momen Bersejarah Buat Promosi
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Ketika distro lain sudah mulai menutup masa promosinya, Caboo Attitude baru setengah jalan. Masa promosi liburan yang kebanyakan dimulai pada awal bulan sampai akhir bulan Juli, tidak dilakukan oleh Caboo Attitude.

"Kita ingin beda dengan yang lain. Promosi liburan kita mulai di pertengahan bulan Juli sampai 17 Agustus nanti," ujar Oscar (23), owner Caboo Attitude. Di akhir masa promosi nanti yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia bakal digelar diskon gila-gilaan.

Meski masa liburan sudah usai, menurut Oscar tidak berarti konsumen pun berhamburan. Buktinya, meski bulan Juli sudah berakhir, diskon yang digelar masih mendapat sambutan baik.

Menurut Oscar, momen promosi di sepanjang tahun selalu ada. Selain masa liburan sekolah, lebaran dan akhir tahun, selama setahun terakhir ini dia juga memanfaatkan tanggal-tanggal tertentu sebagai kesempatan untuk promosi.

Misalnya, untuk memperingati kemenangan Obama, promo diskon dengan judul 'Obama Days' pun digelar dengan diskon dari 20-30 persen. Harga normal t'shirt antara RP 80-90 ribu.

Hari Lingkungan Hidup, 5 Juni lalu juga dijadikan ajang promosi. Selain memberikan potongan diskon juga turut mengkampanyekan global warming dengan memberikan tas belanja yang ramah lingkungan pada konsumen.

Begitupun dengan peringatan Hari Kartini. Di bulan promosi yang disebut 'ladies month' ini dikon diberlakukan khususnya buat kaum hawa sebesar Rp 30-40 persen.

"Pokonya kita bikin promosi yang aneh-aneh dan beda," tuturnya. Dengan rentang waktu promo bervariasi ada yang hanya satu hari sampai seminggu.

(ema/ema)

Diskon Baju Sisa yang Bikin Untung

Diskon Baju Sisa yang Bikin Untung
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Industri fesyen, seperti distro tentu tak ketinggalan memberikan berbagai promo diskon dalam momen-momen seperti liburan sekolah, lebaran atau liburan akhir tahun.

Produk-produk yang didiskon rata-rata adalah produk lama yang masih tersisa. Seperti halnya di Oglea clothing di Jalan Sultan Agung yang baru menutup masa promosi liburannya 31 Juli lalu. Menurut Yuli (22), pegawai Oglea produk yang didiskon produk lama hasil produksi sekitar lima bulan yang lalu atau lebih.

"Diskon dikeluarkan rata-rata untuk produk lama. Tapi produk yang baru keluar seminggu juga ada yang didiskon," tutur cewek bermabut pendek ini.

Dalam satu bulan, Oglea yang memproduksi fesyen khusus cewek ini menurut Yuli hanya memproduksi sekitar 50 buah.

Untuk produk-produk yang lebih cenderung baru, diskon yang dikeluarkan dari 20-30 persen. Sedangkan produk yang cukup lama bisa sampai 50 persen. Tapi produk yang didiskon hanya produk Oglea, tidak termasuk merek lain yang juga dijual di outlet Oglea.

Dengan adanya program diskon ini, menurut Yuli otomatis omset pun bertambah mencapai 40-50 persen dibandingkan hari biasa. "Pengunjung banyak yang datang kalau lagi liburan," ucapnya.

Sama halnya dengan Oglea, Caboo Attitude pun mendapatkan peningkatan keuntungan dengan adanya promo diskon ini. Menurut Oscar (23), Caboo Attitude mendapatkan kenaikan omset yang serupa dari 40-50 persen.

Produk yang didiskon di Caboo menurut Oscar adalah produk yang usianya tidak terlalu lama sekitar 1-2 bulan. "Produksi kita lumayan cepat. Setiap bulannya kita selalu ngerefresh barang baru," tutur Oscar.

Diskon yang diberlakukan rata-rata 20-30 persen. Namun untuk promo yang masih berlaku sampai 17 Agustus mendatang, diskon sampai 80 persen. Diskon tidak hanya berlaku untuk produk Caboo Attitude tapi clothing lain yang juga ikut nebeng di Caboo Attitude.

Dalam satu bulan, ujar Oscar, Caboo bisa memproduksi sebanyak 240 buah kaos. Sisa produk dari produksi setiap bulannya berbeda-beda tergantung dari apakah saat itu tengah low season atau high season.

"Kalau high season otomatis yang tersisa hanya sedikit beda dengan low season," ujarnya.

Ditambahkan Oscar, selain di momen-momen liburan, Caboo juga melakukan promo di tanggal tanggal bersejarah seperti Hari Lingkungan Hidup, Hari Kartini dan lain-lain.(ema/bbn)

Tidak Hanya untuk Penggemar Rock

Tidak Hanya untuk Penggemar Rock
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung - Konsep distro satu ini dibuat berbeda. Ya, Chronic Rock Merchandise yang berlokasi di Jalan Kalimantan No 11, Bandung, berhasil membuat atribut rock bisa dinikmati segala kalangan.

Penjaga dan pengelola Chronic Rock Merchandise, Pupu Saefuddin (29), akrab disapa Mpung Chronic menuturkan kepada detikbandung, awal terbentuknya Chronic adalah ide dari Eben Burgerkill (gitaris Burgerkill,red) yang ingin membuat toko yang menjual merchandise band cadas luar negeri.

"Awalnya pada 2004, Eben punya ide bikin toko yang menjual merchandise khusus band-band luar. Jadilah distro Chronic di Jalan Soekarno Hatta depan kampus LPKIA," tutur Mpung.

Mpung menambahkan alasan dipilihnya merchandise band luar negeri pada waktu itu kerena jarangnya distro atau toko yang menyediakan.

"Waktu itu yang jualan merchandise band luar masih jarang. Makanya Eben bikin, biar semakin beda Eben memfokuskan pada penjualan merchandise band band cadas luar negeri," seloroh Mpung.

Mulai 2005 pertengahan, Chronic Rock migrasi ke Jalan Kalimantan. "Kontrak di sana habis (Jalan Soekarno-Hatta, red), jadilah pindah sampai sekarang," ujar Mpung.

Semenjak pindah ke Jalan Kalimantan, Chronic mulai mencampur merchandisenya. Tidak hanya sebatas rock, tapi juga ada new wave, punk, hardcore dan tentunya metal.

"Eben bilang, gimana kalau ditambahin merchandise aliran musik lain. Saya sih setuju-setuju saja, dan akhirnya yang datang kesini semakin banyak dan luas kalangannya," tutur Mpung.

Selain mencampur merchandise dari berbagai aliran musik, Chronic mulai memasukkan merchandise band-band negeri sendiri. "Awalnya hanya ada empat band, yaitu Burgerkill, Puppen, Rocket Rockers dan The Bahamas. Tapi semenjak 2007, kualitas barang lokal sudah semakin baik, jadi barang lokalnya juga semakin banyak," ujarnya.

Kini distro yang berdekor serba hitam ini telah bekerjasama dengan 83 clothing line. "Sekarang itemnya banyak sekali, satu clothing saja bisa dua sampai sepuluh desain. Itupun tidak melulu T-Shirt, ada juga jaket,stiker,tas dan topi. Selain itu Chronic juga menjual DVD dan piringan hitam band-band luar negeri," papar Mpung.

Uniknya, image distro yang begitu lekat dengan image anak muda dan serba gaul tidak berlaku di Chronic. "Disini yang datang dari berbagai kalangan, dari musisi sampai yang bukan. Dari yang suka rock sampai yang tidak, dari anak-anak sampai dewasa. Semua masuk belanja tanpa malu-malu," tutur Mpung.

Ucapan Mpung rupanya tidak berlebihan, disela-sela wawancara, dua wanita muda berjilbab masuk. Lantas dengan asyik memilih kaos-kaos metal dengan warna yang mayoritas hitam.

"Wah kami memang suka Burgerkill dan musik cadas. Lagian kenapa gitu masalahnya kalau berjilbab pake baju band metal? Musik kan universal, siapa saja boleh menikmati," tutur Diang (22) dan Ita (22) seraya asik memilih.

Bagi Mpung, pemandangan tersebut bukan hal aneh. "Kan tadi saya sudah bilang, siapa saja berkunjung ke sini, dan inilah yang menyenangkan. Tempat yang tidak terkotak-kotak oleh status," tutur Mpung.

Harga t-shirt lokal berkisar antara Rp 65 ribuan hingga Rp 100 ribuan. Sedangkan t-shirt luar berkisar Rp 150 ribuan hingga Rp 300 ribuan.

"Di sini yang paling laku kaos. Tapi yang lain-lain seperti jaket, tas, topi atau CD juga banyak yang minat," ujar Mpung.

Ketika ditanya omsetnya Mpung menjawab tergantung musimnya. "Kalau biasa ya paling Rp 1 jutaan. Kalau ramai seperti liburan atau lebaran sehari bisa sampai Rp 5 jutaan," tuturnya.(dip/bbn)

Serba Hitam dan Dipenuhi Poster Band

Serba Hitam dan Dipenuhi Poster Band
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung - Kebanyakan distro mencampur aneka warna untuk tampilan tempat dan produk produk yang dijualnya. Namun sebuah pemandangan berbeda bisa ditemui di Chronic Rock Merchandise. Distro yang berlokasi di Jalan Kalimantan ini didominasi dengan dekorasi warna hitam.

Sang penjaga dan pengelola Pupu Saefuddin atau yang lebih akrab disapa Mpung Chronic (29) menuturkan kepada detikbandung warna hitam dan putih dipilih untuk menghindarkan image kekanakan.

"Sebenarnya ini idenya yang punya (Eben Burgerkill) katanya kalau warna-warni jadi mirip TK. Lagian image rock kan hitam. Kayaknya kurang pas kalau dibikin warna-warni," tutur Mpung.

Uniknya lagi, Chronic Rock menggunakan dekor poster konser band-band dari seantero dunia dengan warna senada. "Lagi-lagi ini idenya Eben, dia ingin bikin sesuatu yang beda. Makanya seisi distro dipenuhi dengan tempelan poster dan flyer band-band dari seluruh belahan dunia," katanya.

"Totalnya sih ada 105 macam poster. Sekaligus ini jadi ciri khas Chronic, kalau ada distro lain yang berkonsep serupa berarti meniru Chronic," sambung Mpung.

Selain poster, sejumlah piringan hitam, action figure band-band metal kawakan dunia dan memorabilia lain seperti poster konser Burgerkill turut menghiasi. Tidak hanya berhenti di dekor, nuansa hitam putih hampir ditemui di seluruh produk jualannya.

"Ya itu tadi, karena dasarnya sudah rock rasanya kurang pas kalau gak hitam, kalaupun ada warna lain palingan hanya sebagian kecil dan untuk kaum hawa," seloroh Mpung.(dip/bbn)

Mukena Manohara Primadona di Pasar Baru

Mukena Manohara Primadona di Pasar Baru
Avitia Nurmatari - detikBandung

Bandung - "Lebaran sebentar lagi.. berpuasa sekeluarga.." begitulah sepenggal lirik lagu dari Bimbo. Mendekati lebaran biasanya para perempuan mulai mencari mukena baru untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Di Pasar Baru, mukena Manohara sedang ngetren, yuk belanja.

Hampir setiap toko mukena di Pasar Baru Trade Center memajang mukena Manohara ini. "Mukenanya teh..mukena Manohara model baru teh, bu," ujar para pedagang kepada para pengunjung.

Apa sih sebetulnya mukena Manohara itu? Mukena Manohara terbuat dari bahan spandex sutra dan bahan lycra. Bentuknya tidak seperti mukena biasa, lebih mirip kerudung bergo namun ada aksen serutan di bagian leher. Warnanya tentu saja lebih pekat daripada mukena biasa.

"Iya ini namanya mukena Manohara, banyak yang nyari, lagi gencar-gencarnya," ujar Wadih salah satu pedagang mukena di Pasar Baru.

Mukena Manohara ini ada dua macam, ada yang polos, dan juga ada yang bermotif lukisan tangan. "Yang lukis ini, lukisan tangan asli, bukan cap. Jadi satu sama lain pasti berbeda meski gambarnya hampir mirip," katanya.

Harga mukena Manohara ini dibanderol mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 160 ribu. Murah mahalnya mukena ini tergantung dari bahan dan jenisnya. "Ada yang kerut di tangan, ada juga yang kerut di leher," ujar Wadih.

Tren mukena Manohara ini sudah ada di Pasar Baru sekitar bulan Juli 2010, namun mulai banyak dicari saat bulan puasa tiba.

"Dari sebelum puasa sih udah ada, tapi lakunya sekarang. Biasa kalau mau lebaran mah suka pada cari mukena baru. Produk mukena juga jadi beragam, banyak macemnya," kata Wadih.

Hampir di semua toko di pasar baru memajang Mukena Manohara ini, entah dari mana mukena tersebut diberi nama Manohara. Yang pasti saat ini mukena tersebut sedang jadi primadona di Pasar Baru.

"Enggak tahu saya juga dari mana bisa disebut Manohara, mungkin biar orang pada penasaran saja," kata Dedi, pedagang mukena lain yang ada di Pasar Baru.


(avi/ern)

Belum Bisa Pakai Kerudung? Belajar di Alisha Yuk!

Belum Bisa Pakai Kerudung? Belajar di Alisha Yuk!
Avitia Nurmatari - detikBandung

Bandung - Baru pertama kali pakai kerudung? Atau ingin mencoba model berkerudung untuk acara resmi dan undangan? Datang saja ke Alisha, Jalan Merdeka. Dengan ramah, pegawainya akan mengajarkan anda bagaimana cara memakai kerudung.

"Di sini bisa diajarin kerudung juga. Kalau yang bingung memakainya gimana, kita beri tahu," ujar salah satu pegawai Alisha, Sri Widyati.

Sri mencontohkan banyaknya pembeli yang ingin memakai pashmina untuk dijadikan kerudung. "Misalnya pashmina kan ada yang buat selendang, ada juga yang dipakai buat kerudung. Kalau yang belum bisa cara pakainya, kita ajarin. Biasanya yang untuk pakai kerudung itu yang bahannya lembut," terangnya.

Selain itu, bagi yang ingin memakai kerudung modifikasi untuk ke undangan atau ke pesta tapi tidak tahu bagaimana caranya, tinggal langsung datang saja ke Alisha.

"Kalau mau pake kerudung untuk ke undangan, datang saja ke sini, nanti kita bantu, gratis," kata Sri.

Sri pun memberi tips untuk kerudung variasi, akan lebih mudah dikreasikan apabila kerudungnya berbahan sutra. "Bagusnya sih dari bahan sutra, jadi lembut pas divariasinya, kalau dijadiin bunganya juga lebih bagus," ungkapnya.

Bagi yang tidak ingin repot tapi tetap ingin terlihat beda, bisa pakai kerudung yang sudah diberi payet, atau bordiran. "Kalau pakai ini kan sudah ada hiasannya, jadi bagus tidak perlu repot," jelas Sri.

Di bulan Ramadan ini, tak ada salahnya jika anda memperkaya khasanah ilmu dengan belajar cara memakai kerudung. Kalau sudah bisa sendiri, jangan lupa berbagi ilmu kepada teman atau saudara anda. Selamat belajar.
(avi/ern)

Beragam Jenis Kerudung Trend di Bandung

Beragam Jenis Kerudung Trend di Bandung
Avitia Nurmatari - detikBandung

Bandung - Kerudung kini sudah menjadi salah satu fashion item yang banyak dicari, wanita muslim pun kini bisa tampil gaya dan selalu terus update model berkerudung.

Ada beberapa jenis kerudung, yakni bergo, kerudung segi tiga, dan pashmina. Ketiga jenis kerudung tersebut juga mempunyai banyak model dan motif, semuanya bisa dipilih sesuka hati.

Bandung adalah salah satu kota yang tak pernah ketinggalan mode. Bahkan selalu jadi kibblat fashion di Indonesia. Tak hanya pakaian, aneka model kerudung pun bisa didapat di Bandung.

Menelusuri beberapa toko dan pedagang kerudung, detikbandung menemukan benang merah jenis kerudung yang sedang nge-tren.

Kerudung tersebut yakni kerudung segitiga dari bahan paris. Harganya pun beragam, mulai dari Rp 10 ribu, sampai Rp 70 ribu.

Harga murah biasanya kerudung paris yang polos. Kita bisa menemui banyak kerudung paris polos ini di Pasar Baru, ITC, Kings, Toko Kerudung Alisha, dan beberapa toko kerudung lain yang ada di Bandung.

"Sekarang mah yang paling laku bahan paris. Apalagi ABG sama ibu-ibu muda, banyak yang sekali beli 5 aneka warna, soalnya murah meriah," ujar Neneng (27) salah satu pedagang kerudung di ITC Kebon Kalapa.

Kerudung paris pun banyak modifikasinya. Ada yang memakai payet, mutiara, juga bordiran. Harganya tentu saja lebih mahal dari kerudung paris polos. Biasanya dijual mulai Rp 20 ribu hingga Rp 70 ribu.

"Yang lagi nge-tren di sini bahan paris. Ada yang biasa sampai yang paling berkualitas," ujar Sri salah satu pegawai Alisha.

Untuk saat santai, anda bisa memakai kerudung paris polos yang disesuaikan dengan pakaian anda. Kalau untuk acara resmi atau menghadiri undangan pernikahan, bisa pakai kerudung paris yang telah dimodifikasi.

(avi/ern)

Meraup Pundi-pundi Rupiah Dari Menjepret Band

Meraup Pundi-pundi Rupiah Dari Menjepret Band
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung - Banyak orang yang mencari nafkah dengan menjadi fotografer. Namun sebuah jalan berbeda dipilih oleh M. Faridian. Pria yang akrab disapa Ari Copet ini menghabiskan 15 tahun karirnya sebagai fotografer untuk menjepret band-band lokal dan nasional.

Karir Ari Copet sebagai fotografer band berawal dari hobinya yang kerap mengabadikan gambar para skater Bandung ketika sedang latihan di Taman Lalu Lintas dan Hobbies Skate Park beberapa tahun lalu.

"Waktu itu tahun 1995, saya masih pake kamera pocket manual. Nah saya lihat olahraga skateboard itu unik dan keren. Dari sana saya mulai mencoba mengabadikan momen-momen para pemain skateboard ketika berlatih suatu trik.
Kebetulan juga saya waktu itu juga suka main skate, jadi disela-sela main, saya foto-foto," terang Ari Copet.

Di tahun yang sama, Ari Copet yang baru lulus SMA memutuskan untuk melanjutkan studi fotografinya secara lebih serius. Dia pun memutuskan untuk masuk IKJ jurusan fotografi.

"Setahun berjalan, ada masalah finansial. Jadinya saya hengkang dari sana dan memutuskan pindah ke Unpas jurusan fotografi juga, kebetulan waktu itu saya masuk angkatan pertama," ujar lelaki kelahiran 11 Juli 1976 ini.

Sambil kuliah, Copet terus aktif mengabadikan para pemain skateboard di Bandung. "Wah, zaman itu yang main masih ramai, tempatnya juga masih banyak," ucap Copet.

Aktifitas Copet sebagai fotografer skate rupanya diperhatikan oleh Irsan (Vokalis Savour of Filth). "Dulu kaget aja disamperin Irsan, tahu-tahu diajakin buat jadi fotografer Savour of Filth, ya saya sih mau-mau aja," ujar Ari Copet.

Semenjak ditarik menjadi fotografer Savour, Copet mulai banyak berkenalan dengan band-band Bandung lainnya.

"Waktu itu distro Harder di Cihampelas jadi tempat nongkrongnya band-band Bandung. Balcony, Injected, Purpose, PAS Band, Blind To See, dan Savour of FIlth
biasanya suka main ke sana. Jadilah merekapun suka minta saya untuk memfoto mereka tiap manggung," selorohnya.

Dari sana, Ari Copet mulai mendapat rezeki lebih untuk membeli kamera SLR. "Saya pertama pakai Nikon FM 2, ya dari hasil nabung jadi fotografer band," ujarnya.

Disela-sela kuliah, hobi fotografi terus ditekuninya. "Kebetulan kuliah di jurusan yang sesuai hobi, jadi bisa sharing soal foto sama yang udah pengalaman lebih lama juga," tuturnya.

Di tahun 1998, Ari Copet mendapat tawaran untuk menjadi fotografer band cadas asal Bandung, Burgerkill. Kesempatan emas ini jelas tidak disia-siakan penggemar
Anton Corbin (fotografer Inggris-red) ini.

"Saya suka musikalitas BK, dan aksi panggungnya selalu asyik untuk diabadikan," ujar Ari Copet.

Semenjak itu, karir Copet terus meroket. Hingga manajemen Padi pun tertarik untuk menjadikannya fotografer Padi.

"Yah, saya sih bersyukur aja, bahkan Piyu cs sampai bisa berkolaborasi dengan Burgerkill itu awalnya melihat dokumentasi foto saya," tuturnya bangga.

Perjalanan bersama Padi dan Burgerkill membuat Ari Copet semakin mantap menapakkan jejak karirnya di dunia fotografi panggung.

"Yah bisa dibilang sangat lumayan, saya sempat dapet kontrak foto film horror yang soundtracknya diisi BK. Sampai sekarang masih suka dipakai, sedangkan pas
sama Padi sempat dibawa tur 10 kota keliling Indonesia, selain itu ya bisa sempat beberapa kali ganti kamera," paparnya.

Menjadi fotografi panggung sebagai jalur karirnya Ari Copet memiliki jawaban tersendiri.

"Sebenarnya kalau hanya sekedar mencari materi, bisa saja mengambil foto wedding. Tapi beberapa kali saya mencoba foto wedding, selalu begitu-begitu saja dari teknik dan polanya. Karena sudah baku dari sananya, " jelasnya.

Kini, setelah perjalanan karirnya sebagai fotografer panggung. Ari Copet mulai memetik hasil kerja kerasnya. "Walau sekarang sudah enggak seaktif dulu foto-fotonya, hidup saya sekarang ya dari aktifitas jeprat-jepret saya dulu. Ibaratnya dari bayaran puluhan ribu sampai jadi jutaan," ucapnya bangga.

Bagi Ari Copet, fotografi adalah potret sejarah kehidupan. Ia pun berencana untuk terus mengabadikan momen hingga tidak kuat lagi membidik objek.

"Sesuai motto hidup saya dalam membuat foto. 'Abadikan segala momen karena momen itu belum tentu berulang dua kali," tandasnya.
(dip/ema)

Hindari Bajakan, Pilih Merek Lokal

Hindari Bajakan, Pilih Merek Lokal
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung - Bagi Anda yang selama ini masih tergila-gila dengan clothing impor entah itu original atau bajakan, sudah saatnya mulai melirik merek lokal. Pasalnya kualitas clothing lokal sekarang sudah bisa disejajarkan dengan clothing impor.

"Awalnya kita jual produk impor saja, namun makin kesini kualitas produk lokal semakin baik. Apalagi ini Bandung, kota yang kreatifitasnya nggak pernah mati. Jadinya Chronic jual produk lokal juga," seloroh Mpung, pengelola Chronic Rock Merchandise yang berlokasi di Jalan Kalimantan No 11, Bandung.

Selain karena kualitasnya, alasan dimasukannya produk-produk lokal adalah untuk mempromosikan band-band lokal yang semakin banyak dan musikalitasnya tak kalah bagus.

"Ini juga sebagai sarana promosi dan mendukung teman-teman kita dari band-band lokal tanah air," tutur Mpung.

Mpung menambahkan, ada satu sisi sosial dari dijualnya produk-produk lokal di Chronic Rock Merchandise.

"Pasar kita tidak hanya orang yang mapan secara finansial. Selama ini banyaknya orang belanja bajakan karena tidak mampu membeli barang impor. Daripada begitu mending beli merek lokal. Selain lebih murah kualitasnya pun bagus dan sekaligus bisa mendukung local movement," ujar Mpung.
(dip/bbn)

'Kembangkan Sayap' Lewat Media Online

Goodboy Badminton
'Kembangkan Sayap' Lewat Media Online
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung - Internet tidak hanya sebagai bagian dari gaya hidup, sebagian penggunanya bahkan memanfaatkan jaringan online sebagai media promosi. Goodboy Badminton, band pop punk asal Bandung ini pun mencoba menggaet pasar lewat dunia maya

"Kita ingin membuat promosi yang murah tapi mengena dan jangkauannya luas, makanya kita benar-benar memanfaatkan media online sebagai ajang promosi," tutur Mutt (vox & gitar).

Band yang digawangi oleh Mutt (vokal-gitar), Husein (bas), Naru (gitar) Yuwan (synthesizer) dan Doni (drum) ini sejak awal berdirinya di tahun 2006 sudah memanfaatkan media online untuk mengenalkan dan menyuarakan lagu-lagu mereka.

"Waktu awal berdiri kita melempar single It's So Last Year dan Alert-alert Lindsays lewat situs jejaring myspace, dan ternyata langsung direspon positif oleh
banyak pihak. Kebanyakan dari komunitas, tapi dari yang non-komunitas juga tidak sedikit," ujar Mutt.

Tidak berhenti memasarkan musik lewat internet, Goodboy Badminton mulai menjajal memasarkan merchandise band lewat dunia maya.

"Kalau cuman musik kok rasanya tanggung bener, makanya kita eksplor lebih dalam dan akhirnya kita juga mempromosikan merchandise band lewat internet," tutur
Mutt.

Hasilnya ternyata sangat luar biasa. Dari beberapa merchandise yang dibuat dalam bentuk t-shirt, jumper, tas, dan topi semua laris manis diserbu penggemar.

"Inilah bukti online efektif, kita memang memasarkan lewat distro. Tapi dari internet orang bisa tahu kita meluncurkan merchandise band baru lengkap dengan harga
dan ukurannya tanpa perlu pergi jauh-jauh," seloroh Mutt.

Mutt cs menambahkan, dengan pasar online jaringan pertemanan akan menjadi jauh lebih luas. "Rasanya kalau enggak ada internet, enggak akan ada yang merespon lagu dan Goodboy Badminton sampai keluar negeri seperti sekarang. Dan mungkin juga panggung kita enggak akan seramai sekarang," ujar Mutt.

Tidak seperti kebanyakan band yang mengandalkan jejaring gratisan, Goodboy Badminton merasa perlu untuk membuat website resmi.

"Situs jejaring itu hanya untuk media komunikasi antara pendengar dan band. Sedangkan untuk merespon balik kepada pendengar gunakanlah website," ujar Mutt.

Mutt cs menambahkan, keseriusan menggarap situs online berpengaruh besar terhadap band. "Coba saja lihat band-band di luar negeri, band-band yang serius menggarap webnya lebih berpotensi untuk maju. Sedangkan di sini nunggu ngetop dulu baru bikin web," tutur Mutt.

Sebagai bukti keseriusannya menggarap pasar online, berbarengan dengan diluncurkannya album perdana Goodboy Badminton Oktober mendatang, akan dilaunching pula website serta tampilan baru myspace dan facebook dengan nuansa yang senada dengan album mereka.

"Sebagai media promo alternatif yang masih jarang dilakukan band-band lain, dan juga surprise buat pendengar Goodboy Badminton," tandas Mutt.
(dip/ema)

Tak Sekadar Gandeng Band Lokal

Tak Sekadar Gandeng Band Lokal
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung - Sejumlah distro memiliki strategi sendiri-sendiri dalam memasarkan produknya. Inilah yang dilakukan Arena yang berlokasi di Jl Dago 207 Bandung. Distro yang satu ini gencar memproduksi merchandise band-band lokal sebagai strategi pendongkrak penjualannya.

"Kita punya beberapa divisi clothing Arena. Ada Arena Experience, Youth Merchandise, Arena Shoeshop, East, Hello dan Arena Junior. Nah khusus band lokal yang kita buat merchandisenya dipegang oleh Youth Merchandise," tutur Store Manager Arena, M. Helmi Imaduddin, atau disapa Ami kepada detikbandung.

Sejumlah merchandise band lokal asal Bandung seperti Rocket Rockers, Dirty Dolls dan Balcony menjadi produk-produk andalan Arena.

"Merchandisenya tidak hanya t-shirt, tapi juga ada sweater, topi, tas dan dompet," jelas Ami.

Namun begitu, tujuan Arena memproduksi merchandise band-band lokal tidak hanya sekadar meraih keuntungan lebih. Namun juga sebagai bentuk dukungan terhadap pergerakan musik lokal.

"Pastinya ada siklus simbiosis mutualismenya, selain itu ya saling mendukung. Banyak di antara personil band-band lokal itu adalah supplier clothing lokal juga. Jadi lingkarannya masih di situ-situ juga," ujar Ami.

Selain merchandise, Arena juga menyediakan rilisan band-band lokal dan impor berlisensi. "Untuk rilisan band impor kita bekerjasama dengan sejumlah label lokal yang memiliki lisensi untuk memasarkan rilisan-rilisan luar," seloroh Ami.

Menurut Ami, merchandise band lokal yang paling banyak dicari saat ini adalah Rocket Rockers. "Mungkin karena band nya juga sedang naik daun," tutur Ami.

Selain band lokal, ada juga beberapa merchandise band luar. "Kebanyakan t-shirt dan trucker cap, tapi ada juga wind breaker (penahan angin,red), dompet dan kacamata," tambah Ami.

Harga masing-masing merchandise band di Arena bervariasi tergantung jenisnya.

"Kalau untuk band lokal kisaran harganya Rp 85 ribuan, kalau yang impor harganya berkisar antara Rp 200 hingga Rp 400 ribuan. Sementara kaset dan CD dihargai Rp 15 hingga 45 ribuan," ucapnya.

Tidak hanya membuat merchandise band lokal, Arena juga mengendorse sejumlah personil band dengan produk-produknya.

"Sejauh ini kita sudah mengendorse Vicky (Vokalis Burgerkill), Aska (Gitaris Rocket Rockers) dan Andris (Drummer Burgerkill). Kedepan rencananya kita akan mengendorse Peterpan, tapi nunggu mereka ganti nama dulu," ujar Ami.
(dip/bbn)

Laris Manis Berkat Warna Warni Sneakers

Laris Manis Berkat Warna Warni Sneakers
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung - Jika Anda penggemar sneakers (sepatu dengan model dan warna yang tidak biasa) namun sulit mendapatkan model yang diinginkan, kini bisa menyambangi distro Arena yang terletak di Jalan Dago 207 Bandung. Tidak seperti distro kebanyakan yang memfokuskan pada penjualan pakaian, Arena malah menjadikan sepatu sebagai produk andalannya.

"Tadinya kita hanya memasukkan satu merk sepatu, Vans pada tahun 2003. Namun tidak disangka responnya positif. Jadinya kita mulai berani nambah-nambah koleksi sneakers dari beberapa merek lain," tutur M. Faridian yang akrab disapa Ari Copet selaku divisi promo Arena.

Kini setelah tujuh tahun berlalu sejak berdirinya, koleksi sneakers di Arena telah mencapai ratusan model dari puluhan merek.

"Kalau model kayaknya ada ratusan, kalau merek puluhan sih ya. Semuanya produk original impor dari luar negeri," tutur Copet.

Beberapa merk yang sering menjadi buruan orang-orang yang berbelanja adalah Vans, Nike, Etnies dan Circa Footwear.

"Kebanyakan sih sneakers buat skateboard yang diminati. Kalau sekarang sih banyaknya yang warna-warni yang laku. Untuk mereknya Vans paling laku, mungkin karena dasarnya Vans memang memfokuskan pada pembuatan sepatu untuk main skate," seloroh Copet.

Copet menambahkan, rata-rata yang berbelanja sepatu di Arena adalah remaja hingga dewasa. "Kisaran usia 15 sampai 30 tahunan, soalnya kalau kurang dari itu ukuran sepatunya jarang yang pas," ujarnya.

Untuk masalah harga, kiranya cukup bersaing dan tidak akan membuat kanton bolong. Sepasang sepatu dibanderol mulai harga Rp 195 ribu hingga yang termahal lebih dari Rp 1 juta.

"Kalau yang sudah sampai diatas Rp 500 ribuan, biasanya sudah langka dicari dan modelnya unik," tambahnya.

Omzet yang didapat Arena dari sneakers tidak bisa dibilang sedikit. Dalam sebulan Arena bisa mendapat sampai Rp 40 jutaan dari penjualan sneakers impornya.

Ketika ditanya alasan Arena tidak memajang sneakers-sneakers lokal, Copet beranggapan jarang produsen sneakers atau sepatu lokal berkualitas bagus yang belum memiliki toko sendiri.

"Kalau merek-merek lokal yang bagus pasti sudah ada tokonya, dulu sih pernah ada produsen lokal yang bikin model seperti Double Decker (sepatu bersol ganda,red) dan peminatnya lumayan, sayang sekarang sudah tidak ada lagi," terang Copet.
(dip/bbn)

Saatnya Hangout di Distro

Saatnya Hangout di Distro
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung - Get Out The Mall, Go to The Distro. Kira-kira itulah pesan yang ingin disampaikan oleh distro Arena. Membidik pasar anak muda, distro yang berlokasi di Jalan Dago 207 ini mencoba untuk tidak hanya menjadikan distronya tempat berbelanja, tapi juga tempat tongkrongan. "Kayaknya nongkrong di mall sudah terlalu umum dan membuat jenuh, makanya kita berusaha membuat image agar generasi muda punya tempat alternatif untuk hangout salah satunya adalah distro," ujar Store Manager Arena Helmi Imaduddin yang akrab disapa Ami. Salah satu cara yang ditempuh Arena untuk membuat muda-mudi kerap bertandang adalah dengan melengkapi koleksi mereka. "Utamanya di sneakers dan merchandise band luar," ujar Ami.

Ami menambahkan, produk-produk di Arena akan selalu berganti setiap tiga bulan sekali. "Ini juga strategi biar selalu penasaran datang ke sini, kalau barangnya itu-itu saja kan bisa bosan juga nantinya," jelasnya.

Seolah tidak ingin terbatas untuk komunitas tertentu, Arena menyediakan produk produknya lengkap mulai dari untuk kaum lelaki, wanita, penggemar musik hingga anak-anak.

"Kita ingin menyediakan yang dibutuhkan oleh semua kalangan," jelas Ami.

Untuk menunjang kegiatan komunitas, Arena juga memiliki agenda kegiatan yang bertujuan untuk mengumpulkan komunitas-komunitas di Bandung dan sekitarnya.

"Bulan Juli kemarin, kita menggelar Arena Swap Meet. Konsepnya mempertemukan para kolektor. Tidak hanya sebatas kolektor sepatu atau mainan, tapi segala macam kolektor. Alhasil banyak juga kolektor vinyl, merchandise band dan kolektor-kolektor lain yang datang. Makanya Arena Swap Meet akan dijadikan agenda tahunan," ucap M. Faridian yang akrab disapa Ari Copet selaku divisi promo Arena.

Selain banyak disambangi anak muda, distro ini juga kerap dijadikan tempat tongkrongan sejumlah personil band dari Bandung dan sekitarnya.

"Lumayan banyak personel band yang sering mampir kesini. Vicky Burgerkill, Gebeg Dinning Out, Aska Rocket Rockers dan Dempak Jeruji. Entah diskusi atau sekedar ngobrol," ujar Ami.

Penampilan Berubah, Omset Bertambah

Screamous
Penampilan Berubah, Omset Bertambah
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung - Bagi anda yang gemar berbelanja di distro pasti sudah tidak asing dengan nama Screamous. Distro yang berlokasi di Jl Trunojoyo 23 ini mencoba memberikan
penyegaran pada pengunjungnya dengan merubah tampilannya.

"Tepatnya akhir Juni 2009, dari yang dulunya didominasi elemen putih dan hijau kini dirubah dengan konsep natural," tutur Wikka Anishaliana, salah satu pegawai Screamous kepada detikbandung.

Ide perubahan konsep sendiri berawal dari ide sang owner Nino Norman yang ingin memberikan sesuatu yang baru setelah lima tahun eksis di clothing lokal.

"Yang punya pengen interiornya bertema natural. Jadi ya seperti sekarang ini, banyak material kayu dengan warna aslinya dan juga pemanis seperti rumput buatan," tambah Wikka.

Tidak hanya berhenti di interior, Screamous juga memperbaharui produk-produknya dan menerapkan produk tematik setiap bulannya.

"Bulan kemarin kita konsepnya Animal Inteligence, sedangkan di bulan Agustus ini temanya lebih mengarah ke pesta. Kebetulan juga di bulan ini Screamous
berulang tahun yang ke-5," tambah Wikka.

Untuk varian produk, Keiko menuturkan bahwa Screamous lebih cenderung membidik segmen pasar lelaki. "Kebanyakan sih produk untuk laki-laki, tapi sebagian
juga ada produk wanitanya," ujar Wikka.

Sejumlah produk andalan Screamous seperti t-shirt, sweater, topi, tas, boxer dan ikat pinggang terpajang dengan rapi dan padu dengan konsep naturalnya.

"Kebanyakan sih yang kesini pada beli t-shirt dan sweater, kalau yang lain-lainnya enggak seramai t-shirt dan sweater," tutur Wikka lagi.

Selain itu, Screamous juga menyediakan merchandise band yang dirilis FFWD Record. "Ada juga merchandise band seperti Teenage Death Star dan The S.I.G.I.T," tambah Wikka.

Semenjak berubah tampilan, Wikka mengakui jika animo pengunjung yang datang mengalami peningkatan.

"Lumayanlah ada peningkatannya, imbasnya ke peningkatan omzet juga. Dalam sehari omzetnya bisa sampai Rp 4-5 jutaan, kalau weekend ya dua atau tiga kali lipatnya. Sebelumnya sih dibawah itu," selorohnya.

Untuk urusan harga, distro yang buka setiap hari mulai pukul 09.00 WIB hingga 21.00 WIB ini bisa dibilang cukup bersaing. Untuk sebuah t-shirt misalnya, dibanderol dengan harga Rp 80 hingga 95 ribu. Untuk Topi dan Jaket, berkisar mulai Rp 75 hingga Rp 250 ribu sedangkan tas berkisar antara Rp 100 hingga Rp 200 ribuan.
(dip/ema)

Beragam Jenis Kerudung Trend di Bandung

Beragam Jenis Kerudung Trend di Bandung
Avitia Nurmatari - detikBandung

Bandung - Kerudung kini sudah menjadi salah satu fashion item yang banyak dicari, wanita muslim pun kini bisa tampil gaya dan selalu terus update model berkerudung.

Ada beberapa jenis kerudung, yakni bergo, kerudung segi tiga, dan pashmina. Ketiga jenis kerudung tersebut juga mempunyai banyak model dan motif, semuanya bisa dipilih sesuka hati.

Bandung adalah salah satu kota yang tak pernah ketinggalan mode. Bahkan selalu jadi kibblat fashion di Indonesia. Tak hanya pakaian, aneka model kerudung pun bisa didapat di Bandung.

Menelusuri beberapa toko dan pedagang kerudung, detikbandung menemukan benang merah jenis kerudung yang sedang nge-tren.

Kerudung tersebut yakni kerudung segitiga dari bahan paris. Harganya pun beragam, mulai dari Rp 10 ribu, sampai Rp 70 ribu.

Harga murah biasanya kerudung paris yang polos. Kita bisa menemui banyak kerudung paris polos ini di Pasar Baru, ITC, Kings, Toko Kerudung Alisha, dan beberapa toko kerudung lain yang ada di Bandung.

"Sekarang mah yang paling laku bahan paris. Apalagi ABG sama ibu-ibu muda, banyak yang sekali beli 5 aneka warna, soalnya murah meriah," ujar Neneng (27) salah satu pedagang kerudung di ITC Kebon Kalapa.

Kerudung paris pun banyak modifikasinya. Ada yang memakai payet, mutiara, juga bordiran. Harganya tentu saja lebih mahal dari kerudung paris polos. Biasanya dijual mulai Rp 20 ribu hingga Rp 70 ribu.

"Yang lagi nge-tren di sini bahan paris. Ada yang biasa sampai yang paling berkualitas," ujar Sri salah satu pegawai Alisha.

Untuk saat santai, anda bisa memakai kerudung paris polos yang disesuaikan dengan pakaian anda. Kalau untuk acara resmi atau menghadiri undangan pernikahan, bisa pakai kerudung paris yang telah dimodifikasi.

(avi/ern)

Terobos Pasar, Gee Eight Selalu Tampil Segar

Terobos Pasar, Gee Eight Selalu Tampil Segar
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung - Kebanyakan FO, butik ataupun distro memiliki jadwal tersendiri dalam mengupdate produk-produknya. Namun sebuah konsep berbeda disajikan oleh House of Gee Eight. Dengan mengusung tema kolaborasi butik dan distro, House of Gee Eight menawarkan 'penyegaran' dengan menghadirkan produk baru setiap harinya.

"Ini yang membedakan kami dengan butik atau distro lainnya. Kami merefresh pengunjung dengan produk baru setiap harinya. Minimal ada tiga produk baru setiap hari," ujar Agus Sukaryat, Divisi Retail dan Online Selling House of Gee Eight kepada detikbandung.

Dengan strategi ini, Gee Eight yang berlokasi di Jalan Progo No 3 ini berhasil meraup omset yang cukup lumayan.

"Kalau hari biasa, kami bisa dapat sekitar Rp 2 jutaan. Sedangkan pada saat weekend atau musim libur, bisa meningkat sampai dua kali lipatnya," tutur Agus.

Agus menambahkan, koleksi House of Gee Eight juga bisa digunakan oleh para wanita berjilbab yang ingin tampil modis.

"Kita ingin memenuhi kebutuhan sandang untuk wanita dari semua kalangan, termasuk wanita yang berjilbab. Meskipun tidak menjual busana muslim secara terang-terangan, kami menyediakan busana panjang yang modis juga," ujar Agus.

Selain membuka toko, House of Gee Eight juga melayani pembelian via internet. "Bisa dilihat di www.geeeight.com. Selain katalog, di sana juga ada upcoming itemnya. Jadi pembeli yang berada di luar Bandung juga bisa melakukan pemesanan dengan ongkos kirim dipukul rata Rp 20 ribu saja," seloroh Agus.

Yang menjadi ciri khas lain dari House of Gee Eight adalah minimnya item yang menggunakan sablonan. "Kita sengaja main variasinya dari bahan, sehingga lebih
mirip kostum," tambah Agus.

Jika anda menginginkan kesegaran dalam berbusana yang tidak biasa dengan harga terjangkau, House of Gee Eight bisa menjadi pilihan anda.(dip/ema)

Oink! Si Babi Lucu untuk Para Wanita


Oink! Si Babi Lucu untuk Para Wanita
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung - Mendengar kata babi, mungkin tidak semua orang menyukainya. Namun ketika hewan bermoncong ini dikemas dengan warna-warni catchy nan lucu, ketidaksukaan itupun serta merta pudar. Konsep itulah yang diadopsi oleh distro Oink! yang berlokasi di Jalan Banda 23 Bandung.

"Awalnya di tahun '99 sang owner Laksono Kunto Aji a.k.a Oni berniat mendirikan clothing. Karena kegemarannya akan babi, jadilah ia menggunakan babi sebagai simbol clothingnya. Kalau namanya sih diambil dari suara babi, Oink! Oink!," tutur store manager Oink! Wenda Nugraha, kepada detikbandung.

Pada saat berdiri di tahun 1999, Oink masih belum memiliki toko. Jualannya dilakukan dari mulut ke mulut sembari titip jual ke toko-toko yang telah ada sebelumnya.

"Dulu awalnya produknya hanya t-shirt. Itupun variannya belum banyak seperti sekarang. Ternyata peminatnya lumayan juga," ujar Wenda.

Di tahun 2003, Oink! mulai melebarkan sayap dengan adanya toko di Jl Sultan Agung. Namun tak lama kemudian pindah ke Jl Banda hingga sekarang.

"Waktu mulai jadi toko, kita berpikir untuk membikin sesuatu yang beda. Jadilah kita membidik segmen wanita. Kebetulan juga, partner Oni dalam membangun Oink! yang sekarang menjadi istrinya kerap membuat desain-desain untuk perempuan," sambung Wenda.

Saat ini, varian barang yang disediakan Oink! mencapai ratusan item. Terdiri dari t-shirt, sweater, topi, tas, hingga aksesoris seperti gantungan kunci, ikat pinggang dan kaus kaki.

"Karena segmen utamanya adalah wanita, jadinya 80 persen produk kita diperuntukan untuk kaum hawa. Bisa dilihat dari warna-warni yang girly dan cenderung ceria. Namun tetap dengan menonjolkan ikon si babi yang lucu itu," imbuh Wenda.

Dalam sehari, Oink! bisa kedatangan puluhan pembeli. "Kalau di hari biasa, ada sekitar 25 orang, sedangkan di akhir minggu atau libur traffic pengunjung bisa sampai 50-an orang. Biasanya sih cari t-shirt dan tas. Maklum 80 persen yang datang juga perempuan," ujar Wenda.

Tertarik berbelanja? Harga yang ditawarkan di distro yang buka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga 20.00 WIB ini cukup terjangkau. "Barang-barang yang ada di sini kisaran harganya Rp 35 ribuan hingga Rp 400 ribuan," promo Wenda.(dip/ern)

Oink! Jajal Pasar Skateboarder Lokal

Oink! Jajal Pasar Skateboarder Lokal
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung - Tak hanya menjual t-shirt, tas, atau aksesoris babi, Oink! juga memanfaatkan peluang masih sedikitnya toko yang menyediakan pernak pernik skateboard produksi dalam negeri. Distro yang berada di Jalan Banda 23 ini pun mencoba memenuhi kebutuhan skater-skater lokal.

"Dari awal memang kita ingin memberikan support untuk para pecinta skateboard. Kebetulan juga yang punya, Wenda Nugraha Aji suka main skate. Jadi semakin klop aja," tutur store manager Oink! Wenda Nugraha kepada detikbandung.

Oink! sendiri sempat menjual berbagai pernak-pernik skateboard produksi luar negeri di awal-awal berdirinya.

"Tadinya kita jualan produk-produk luar saja. Hanya kita menggambari sendiri papan-papannya. Namun mulai tahun ini kita berupaya menjual produk buatan sendiri," imbuh Wenda.

Wenda menuturkan semenjak pertengahan 2009, Oink! mulai mengembangkan dan memasarkan papan skateboard buatan lokal. "Kita ingin menepis kalau skateboard adalah olahraga yang mahal. Juga ingin memberikan dukungan penuh pada skater lokal," ujar Wenda.

Meski dijual dengan harga ekonomis, bukan berarti kualitas dikesampingkan. "Harga boleh murah, tapi barangnya boleh disandingkan dengan barang impor. Kayu yang kita gunakanpun adalah kayu maple yang diimpor dari Canada," seloroh Wenda.

Selain papan, Oink! juga menyediakan roda dan track. "Kalau untuk roda dan track, kami belum membuat sendiri, soalnya alat untuk membuatnya sangat mahal," tutur Wenda.

Saat ini, Oink juga mengendorse skater-skater lokal berkualitas seperti Ega dan Adrian. "Ini bukti dukungan kami pada para skater. Para skater yang kami endorse, kami fasilitasi papan dan wardrobe," ujar Wenda.

Sama dengan produk lainnya yang dijual, papan skate yang dibuat Oink! cukup unik. Berdesain babi dengan warna-warni yang lucu seperti, pink, biru muda hingga hijau muda.

Harga yang ditawarkan untuk satu buah papan adalah Rp 425ribu. Sedangkan roda dan track ditawaran dengan harga masing-masing Rp 250 ribu dan Rp 500 ribu. Bagaimana? Siap meluncur dengan papan buatan negeri sendiri?(dip/ern)

Dari Babi, Skateboard, Hingga Melodic Punk

Dari Babi, Skateboard, Hingga Melodic Punk
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Terkadang untuk membeli barang di toko, konsumen tidak selalu tergiur dengan produk-produknya. Namun bisa juga karena kemasan tokonya. Seperti di distro Oink! tiga konsep yang ditawarkan nampak begitu padu dan saling mengisi.

Konsep babi lucu yang membidik pasar kaum wanita dengan warna-warni cerianya, diimbangi dengan produk-produk skateboard lokal. Nuansa 'skate in your life' semakin terasa kental dengan diendorsenya band melodic punk asal Bandung, Closehead.

"Kita mulai endorse Closehead sejak 2008. Dengan pertimbangan image Oink adalah girly dan skateboard. Karena skateboard identik dengan melodic punk, jadilah kita sepakat mengendorse Closehead," tutur store manager Oink! Wenda Nugraha kepada detikbandung.

Wenda menambahkan bahwa musik punk dan skateboard adalah dua hal yang saling bertalian. "Ini sebenarnya dua elemen yang saling mengisi. Skateboarder akan lebih semangat jika mendengar musik melodic punk yang bersemangat namun tidak terlalu hingar bingar. Jadinya, para wanita pun masih banyak yang suka," imbuh Wenda.

Semenjak mendukung penuh Closehead, Oink! tidak hanya semata menjual merchandise Closehead. Tapi juga menjadi basecamp fansnya yang disebut dengan Closefriend.

"Biar komunitasnya semakin solid, Oink! juga menjadi tempat ngumpul bagi Closefriends. Pendaftarannya juga bisa dilakukan disini," kata Wenda.

Wenda menuturkan, para anggota Closefriend akan mendapatkan merchandise dan pernak-pernik eksklusif yang diproduksi oleh Oink! sekaligus mendapat potongan harga eksklusif.

"Tergantung keanggotaan yang dipilih, ada keanggotaan Rp 35 ribu dan Rp 75 ribu. Yang membedakan varian merchandise yang diberikan," tambah Wenda.

Selain itu, Oink! juga kerap menyelenggarakan event yang mengaitkan tiga elemen itu. Seperti beberapa waktu lalu menyelenggarakan Ngabuburit Bareng Closehead yang juga menghadirkan skateboarder-skateboarder Bandung.

Jadi, berbelanja sembari dihibur aksi skateboarder dan musik melodic punk? Kenapa tidak!(dip/ern)

Sendy Yusuf Imbau Distro Berkreasi dengan Motif Batik

Sendy Yusuf Imbau Distro Berkreasi dengan Motif Batik
Andri Haryanto - detikBandung

Bandung - Diakui Ketua Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) Sendy Yusuf, pandangan batik selama ini adalah kepunyaan kaum tua. Karenanya untuk mempopulerkan batik di kalangan generasi muda, ia mengimbau distro di Bandung menggunakan motif batik dalam produksi fesyennya.

"Indonesia memiliki komunitas kreatif, salah satunya adalah Bandung, kita ingin mereka dengan kreatif mampu membuat fesyen kaum muda dengan motif batik," kata Sendy di sela acara konvoi sosilisasi batik, Jumat (2/10/2009), di depan Gedung Sate.

Motif tersebut, imbuh Sendy, tidak selalu menonjolkan seluruh motif batik di keseluruhan bidang fesyen. "Nggak harus semua, sedikit saja guna melestarikan warisan budaya," katanya.

Ia menambahkan, saat ini kemajuan teknologi batik sudah mulai tampak, terlebih pemanfaatan bahan batik yang menggunakan bahan katun dengan motif yang kontemporer. "Kita berharap FO atau Distro dapat membuat dan memperkenalkan motif Jabar," kata Sendy.
(ahy/ern)

Ubah Gaya Rambut ala Rock n' Roll

Ubah Gaya Rambut ala Rock n' Roll
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Anda punya keahlian memotong rambut? Jangan anggap itu hanya bonus kelebihan yang diberikan Tuhan. Karena siapa tahu, bisa menjadi usaha masa depan yang menjanjikan.

Begitulah awal Rock n Roll Hair Cutting berdiri. Dari hobi ownernya Megawati atau Mega yaitu potong rambut. Diceritakan bagian promo Rock n Roll Tia Tresna, Mega memang punya keahlian memotong rambut. Meski tidak punya basic pendidikan di bidang salon, dia kerap mendapat kepercayaan dari kawan kawannya untuk memotong rambut mereka.

Dari situ, Mega dan empat kawannya Ina, Tina, Seli dan Anton pun terpikirkan membuat usaha potong rambut pada tahun 2004. Hanya dengan flyer foto copyan mereka mempromosikan usahanya di event-event. Padahal, saat itu tempat yang digunakan hanya gudang kecil sebuah distro di kawasan Jalan Buah batu.

"Makanya disebut Rock n Roll karena awalnya dari gudang," ujar Tia. Jadi, tegas Tia, nama Rock n Roll tidak ada hubungannya sama aliran musik tertentu.

Konsepnya sendiri lebih mirip barber shop karena hanya untuk cukur rambut. Tapi karena pasarnya bukan hanya menyerap kaum lelaki, menurut Tia, Rock n Roll lebih tepat disebut tempat hair cutting.

"Di sini cuma potong rambut, enggak ada keramas atau pelayanan lain seperti halnya si salon," ujar lulusan Fikom Unpad ini.

Setahun kemudian, ketika respon pasar sudah mulai meningkat, dari gudang, rock n' Roll dipindahkan ke Graha Putra Building, Jl H Wasid No 29 Bagusrangin.

Sesuai taglinenya, 'be a star with Rock n Roll', awalnya kebanyakan pelanggan memang meminta model rambut mirip artis. Namun menurut Tia, Rock n Roll tidak mau terkotak hanya pada segmen tertentu. Toh, pada akhirnya mereka melayani permintaan model rambut apapun yang diinginkan para pelanggannya.

Seiring waktu, semua kalangan dari anak umur dua tahun sampai kakek-kakek sekalipun tidak enggan untuk datang. Meski begitu, 70 persen pelanggan memang dari kalangan anak muda. Cukup wajar, karena secara keseluruhan, baik konsep maupun tata ruang memang mengarah pada nuansa muda.

"Sasaran utama kita memang anak muda dari usia 18-30 tahun," ujarnya. Sedangkan untuk pelanggan lelaki 60 persen dan perempuan 40 persen.

Seiring pula dengan naiknya nama Rock n' Roll, harga pun makin menanjak. Dari mulai Rp 5 ribu ketika dibuka, naik ke Rp 7 ribu, lalu Rp 9 ribu sampai akhirnya sekarang bertahan di harga Rp 20 ribu.

Walaupun sudah mengalami kenaikan beberapa kali, terbukti tidak kehilangan tempat di hati pelanggan. Dalam sehari, di Rock n' Roll Bagusrangin minimal ada 25 pelanggan, itu pun kadangkala harus antre.

Melihat respon masyarakat makin meningkat, Maret 2009 lalu, cabang Rock n Roll dibuka di Dago Plaza. Ownernya pun tidak lagi lima tapi hanya 3 orang yaitu Mega, Ina dan Anton. Ke depannya, Rock n Roll juga berencana membuka cabang di luar kota.(ema/avi)

Dasi Batik Komar yang Nyentrik

Dasi Batik Komar yang Nyentrik
Avitia Nurmatari - detikBandung

Bandung - Baju, rok, atau tas yang terbuat dari kain batik sudah sering kita jumpai. Kreasi produk yang terbuat dari kain batik terus mengalir seiring makin banyaknya orang yang ngeh akan batik. Kini, dasi pun bisa terbuat dari kain batik.

Batik Komar lah yang menghasilkan produk dasi batik. 5 tahun lalu, ia memulai membuat dan memasarkan dasi batik dari bahan sutera. Menurut pemilik Batik Komar, Komarudin Kudiya, mulanya pemesan dasi batik ini adalah kalangan kampus seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Unpad.

"Mereka biasanya pesan untuk acara kampus, seperti dies natalis, atau kunjungan. Mereka suka memesan dengan logo kampusnya masing-masing," terang Komar saat
berbincang dengan detikbandung.

IPB adalah kampus yang paling sering memesan batik dasi sutra, karena menurut Komar, IPB sedang concern di dunia persutraan. "Mereka sedang mengembangkan kain dari ulat sutra, sehingga mereka sering meminta dibuatkan dasi batik dari bahan sutra," tuturnya.

Melihat prospek yang cukup baik, akhirnya Komar membuat dasi batik sutra ini untuk dijual ke pasaran dengan label Komar sendiri. "Sekarang saya jual juga di
Galeri Citta Batik ini, biar masyarakat tau, banyak yang bisa dihasilkan dari batik ini," tandasnya.

Harga satu dasi dibanderol sekitar Rp 100 ribu. Komar mengaku produknya sedikit mahal karena terbuat dari kain sutra. "Kita tidak bisa jual murah, karena bahannya saja sudah mahal. Tapi dibanding dasi branded yang lain kita termasuk murah," katanya.(avi/ern)

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons