Miniatur Rumah Tradisional Jawa ala Bandung

Bandung - Para pengrajin dengan apik membuat ukiran-ukiran kayu yang hanya berjarak milimeter demi milimeter. Ukiran-ukiran tersebut dibuat untuk memperindah miniatur rumah tradisional yang sedang dibuatnya.

Miniatur rumah tradisional di buat oleh sejumlah pengrajin asal Jawa Timur di Kayoe Galeri, Jl Ir Juanda No 386. Alasan itulah yang membuat rumah khas Madura, Jawa Timur menjadi menu utama rumah tradisional yang dijadikan miniatur di galeri ini selain pemiliknya adalah asli Jawa Timur.

Sebelumnya, di tahun 2002-2003, Kayoe Galeri menjadi galeri handycraft yang menjual aneka kerajinan lokal Bandung, termasuk pula kerajinan dari Sumedang. Selepas itu bergerak ke ranjang antik, mebel antik dari Jawa dan barang-barang kerajinan lainnya.

Pada tahun 2005, seorang pengrajin yang juga sebagai kakak ipar pemilik, Budiyanto, memiliki ide untuk membuat miniatur rumah tradisional. Bermodalkan ide, kreatifitas dan keuletan miniatur rumah tradisional Madura berikut ukiran-ukiran khasnya dibuat sebagai salah satu bentuk pengejawantahkan dari seni kriya.

Ukiran bunga mawar besar merupakan ciri khas yang menonjol dari rumah khas Madura yang diakui Budiyanto untuk menghasilkan ukiran minimatur seapik aslinya yang membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan satu miniatur rumah. Standar waktu dalam menyelesaikan satu miniatur rumah yaitu empat hari yang dikerjakan oleh dua orang pengrajin. Dalam satu minggu bisa menyelesaikan 2 buah miniatur rumah.

Awalnya berupa sketsa, setelah itu dibuatlah rangka rumah dari kayu kamper. Lem kayu digunakan untuk memudahkan pemasangan rangka. Ketika pengerjaan rangka selesai, mulai dibuat bagian-bagian rumah, dari mulai dinding, jendela, pintu berikut ukiran-ukiran yang sudah didesain sebelumnya. Alat-alat yang digunakan diantaranya gergaji triplek, bor, alat pemahat dan lain-lain.

Untuk rumah khas Madura misalnya, bagian untuk bagian depan rumah ada teras yang masih satu atap dengan rumah induk, kemudian dibuat bagian rumah induk dengan beberapa ruangan kecil di dalamnya. Barulah selepas itu sebagai tahap akhir ditutupi dengan atap sirep yang terbuat dari triplek. Miniatur rumah tradisional yang unik pun bisa langsung dibawa pulang.

Seringkali miniatur-miniatur rumah tersebut lengkap dengan isinya seperti kasur, kursi dan interior rumah lainnya. Meskipun bisa juga mendapatkan miniatur rumah yang kosong tanpa isi. Untuk satu rumahnya seharga Rp 300-500 ribu untuk ukuran 30x30 centimeter dengan tinggi 28 centimeter. Tak hanya rumah tradisional khas Madura, Kayoe Galeri juga membuat miniatur rumah tradisional sunda dan miniatur lainnya sesuai pesanan.

Miniatur lainnya yang dibuat seperti pos ronda dengan harga Rp 150 ribu, gerobak, gazebo, miniatur komplek rumah lengkap dengan pagar yang dijual seharga Rp 800 ribu.

Jika tertarik untuk memiliki rumah sebenarnya, bisa didapatkan di Cafe Rumah Payung di Jl Rancakendal dibeli dengan harga Rp. 40-80 juta. Rumah tradisional asli Jawa Timur yang berbahan baku kayu jati bisa dibeli dengan harga Rp 40-80 juta, tergantung ukurannya. Rumah-rumah tersebut bisa dibongkar pasang.

Menurut Budiyanto, respon masyarakat Bandung cukup positif terhadap keberadaan kriya miniatur rumah tersebut. Meskipun mayoritas pelanggannya berasal dari Jakarta yang kebetulan juga dari mereka menginap di hotel Sheraton yang lokasinya dekat dengan Kayoe Galeri.

Kayoe Galeri pernah mengikuti pameran-pameran yang diselenggarakan Dekranasda juga Pasar seni ITB. Permintaan untuk ekspor pernah ada namun Budi mengaku belum siap untuk bisa sampai ekspor. Keterbatasan SDM menjadi alasan. Para pengrajin yang ada di Kayoe Galeri tidak memiliki latar belakang perkayuan hingga dibutuhkan pelatihan yang cukup untuk mendapatkan keahlian membuat miniatur rumah. "Dari dinas peternakan pernah meminta dibuatkan maket," ucap Budi.

(ema/ern)

0 komentar:

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons