Polisi Diduga Rusak Distro Viking Persib Fanshop

Polisi Diduga Rusak Distro Viking Persib Fanshop
Tya Eka Yulianti - detikBandung

Bandung - Usai pertandingan Persib Bandung lawan Arema Indonesia Minggu (23/1/2011) malam, kerusuhan melebar ke luar stadion. Sebuah distro The Original Viking Persib Fanshop berada di Jalan Banda No 9, rusak cukup parah. Diduga kuat oknum polisi menyerang distro yang jaraknya sekitar 200 meter dari Stadion Siliwangi itu.

Salah satu bobotoh yang berada saat kejadian, Beton (30), mengatakan insiden penyerangan terjadi pukul 22.30 WIB, Minggu malam. Di sekitar distro, banyak bobotoh yang berkumpul. "Distro ini memang tempat berkumpulnya bobotoh dari luar kota," ujarnya saat ditemui di lokasi, Senin (24/1/2011).

Di perempatan Jalan Banda-Belitung, yang jaraknya hanya sekitar 30 meter dari distro, tiba-tiba 30-an polisi berpakaian lengkap polisi huru hara dan seratusan bobotoh yang tengah berkumpul terjadi adu mulut. Hal itu dipicu karena adanya seorang bobotoh perempuan yang dipukuli.

"Kami menyelamatnya bobotoh perempuan itu ke dalam distro. Ya karena kesal, kita beradu mulut ama polisi," ujar Beton. Karena merasa kalah banyak, menurut pengakuan Beton, para bobotoh mundur dan menyelamatkan diri ke dalam distro.

Namun polisi malah merangsek maju dan memukuli bobotoh yang berada di sekitar distro. "Polisi juga melempari kaca distro dan merusak motor serta bus yang terparkir. Itu bus bobotoh luar kota," kata dia.

Akibat kejadian tersebut, Beton mengaku ada 12 bobotoh yang terluka. Tiga di antaranya adalah perempuan. "Mayoritas luka di pelipis, ada juga yang pingsan. Malah ada bobotoh namanya Eki dia muntah-muntah setelah dipukul dan dibawa ke RS Borromues," katanya.

Saat diminta konfirmasi kepada Kasubag Humas Polrestabes Bandung Kompol Endang Sri Wahyu Utami, telepon selulernya tidak aktif.

Pantauan detikbandung, kaca distro tersebut pecah. Hingga pagi ini serakan kaca pecah masih belum dibereskan.
(ern/ern)

Two Clothes Bidik Skaters

Two Clothes Bidik Skaters
Baban Gandapurnama - detikBandung

Bandung - "Serving skateboarding community". Begitulah konsep diusung Two Clothes. Tidak aneh jika distro ini menjadi salah satu acuan para skater untuk shopping.

"Sejak awal hingga kini, Two Clothes fokus menyediakan produk bagi yang hobi main skateboard," kata Feby 'Lorentz' Arhemsyah, pemilik clothing tersebut kepada detikbandung, belum lama ini.

Secara resmi, Two Clothes menancapkan benderanya pada 1998. Berlokasi di Jalan Veteran, No 2, bisnis independen ini menyuguhkan ragam atribut kebutuhan skater. Di gerainya, tersedia papan luncur, sweater, kaos, topi, sepatu dan sandal.

"Soal kualitas dan harga, hasil karya ini bisa bersaing dengan produk impor," katanya. Selain itu, agar si pemakai merasa bangga, Two Clothes mengeluarkan produknya secara limited edition. Bagi pria kelahiran Bandung 1 februari 1980 ini, memilih target market komunitas skateboard merupakan peluang cerah. Sebab, jarang sekali clothing yang menggarapnya.

Usia panjang mengelola usaha, kian terasa. Sekelumit jerih payah di masa lalu, terbalas puas. Kini, produk Two Clothes mulai menjalar ke sejumlah wilayah Indonesia. Di antaranya, Jakarta, Bali, Makasar, Papua, dan Gorontalo. "Saat ini, sudah terjalin kerjasama pula dengan toko skateboard di Malaysia," ujarnya.

Suguhan ciri khas produk Two Clothes, berdesain Rock-Metal. Ya, karakternya condong ke kaum lelaki. "Tampilan gambar tengkorak dan garuda, diibaratkan simbol karakter keras. Selain itu, di setiap produk ada pesan-pesan skateboard. Misalnya, 'Skateboard is Gold'," jelas Feby.

Tak puas berkreasi melalui hasil karya. Rupanya, Two Clothes menebar sumbangsih lebih kepada para skater lokal sarat prestasi. Nama skater professional asal Bandung, seperti Firman Endo, Ega MP dan Adrian S, menjadi bagian melekat di 'tubuh' Two Clothes.

"Menjadi endorse atau sponsor, ialah kebanggaan bagi saya. Ini bentuk dukungan dan kontribusi Two Clothes kepada mereka," ungkap Feby yang tangan kirinya pernah patah saat beratraksi memainkan papan luncur.

Pengurus Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) ini menambahkan, dirinya tidak memilah kategori skater yang pantas disponsori. "Justru saya lagi mencari skater lokal pemula. Syaratnya, harus memiliki bakat dan keseriusan bermain skateboard," ujar Feby, yang bercita-cita produknya berada di Amerika.

Go Skater! Go! Bersiaplah dibidik Two Clothes.


(bbn/ern)

Bobotoh pun Bisa Bergaya

Bobotoh pun Bisa Bergaya
Baban Gandapurnama - detikBandung

Bandung - Nama Persib seolah tak pernah luntur di benak masyarakat Jawa Barat, khususnya Bandung. Tim berjuluk 'Pangeran Biru' ini pun kepalang dicap sebagai salah satu identitas Kota Bandung. Maka itu, Persib dan bobotoh (sebutan pendukung Persib, red), seakan menjadi bagian yang sulit terpisahkan.

Guna menunjang kecintaan bobotoh terhadap 'Maung Bandung', sejumlah orang kreatif asal bandung meracik ragam produk beraroma Persib. Hasilnya, bisnis yang jelas pangsa pasarnya ini, berhasil mendulang rejeki.

"Kami hadir untuk memenuhi kebutuhan bobotoh. Maksudnya, segala atribut Persib tersedia lengkap di tempat ini,' jelas Aping, karyawan distro Viking Persib Fanshop.

Toko tersebut, sepenuhnya dikelola oleh sejumlah orang yang tergabung dalam komunitas suporter Persib, yaitu Viking. Gerai yang berlokasi di Jalan Banda ini, menyajikan produk seperti topi, pin, gantungan kunci, boneka, tas sendal, dan lainnya. Selain itu, ada pula kaos, jaket, kemeja dan sweater. Produk kaos yang tersedia juga ada untuk anak-anak dan cewek.

Uniknya, sebagian besar produk atribut Persib itu, setiap bulannya selalu berganti desain. Jadi selalu ada tampilan terbaru. Tampilan produk yang ditawarkan dibuat lebih gaya dan tidak monoton. Pokoknya, produk dikemas modis.

Desain gambar serta sentuhan visual lainnya, memiliki ciri khas tersendiri. Serta lebih menonjolkan gambar berkarakter keras, ditambah kalimat bernada provokatif. Untuk kupluk, misalnya, bertengger gambar tengkorak. Lalu sendal, yang tertera tulisan "HIDUP MATI TETAP PERSIB"

Aping menambahkan, konsep yang ditawarkan Viking Persib Fanshop, tak lain agar bobotoh bisa bergaya. Bahkan, banyak konsumen yang membeli untuk sekadar menjadi koleksi. Semua produk yang dipajang harganya rata-rata dibawah 200 ribu rupiah. Mulai dari 5 ribu rupiah hingga 120 ribu rupiah.

Setiap weekend, omzet yang diraih bisa berlipat-lipat. Kalau hari biasa, omzet hanya Rp 2 juta. "Beda saat weekend, omzet yang mampu diraih bisa mencapai Rp 15 juta," jelas Aping.

Rupanya, tak cuma warga Bandung saja yang sering berbelanja di tempat ini. Warga luar pun kerap berdatangan. "Ya, warga dari Palembang, Balikpapan dan Jakarta, sengaja datang untuk belanja atribut Persib," ungkapnya

Jelas sekali, Persib kini sudah menjadi milik warga Indonesia. Bravo Persib, Hidup Bobotoh!


(bbn/ern)

1st Store, Distro Rock 'n Roll

1st Store, Distro Rock 'n Roll
Pratiwi Ester Novita Manik - detikBandung

Bandung - Tak lengkap rasanya jika penampilan musisi tanpa aksesori atau atribut khas yang mewakili aliran musik yang terkadang nyentrik. Distro kecil di Jl. Ternate, 1st Store, dapat menjadi pilihan bagi anda pecinta musik rock n roll.

Distro ini menyediakan aneka atribut, mulai dari kaos, pin, poster sampai kaset-kaset musisi indie lokal juga tersedia di sini. Menurut Iksan, Supervisor Distro, nuansa yang dibawa memang cenderung rock n roll.

"Pemilik distro ini memang band indie lokal, Speaker First, yang mengusung aliran rock. Jadi kita juga menjual atribut dengan nuansa rock n roll," ujar Iksan kepada detikcom.

Selain menyediakan atribut-atribut rock n roll, pelanggan juga bisa memesan merchandise musik. Jadi pelanggan dapat memesan kaos dengan motif atau gambar kesukaannya.

Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, mulai dari Rp 3000 hingga Rp 100.000-an. Meski identik dengan musik keras khusus kaum pria, kalangan wanita juga tidak perlu berkecil hati, karena di distro ini tersedia juga kaos, tas serta aksesori untuk wanita yang tak kalah uniknya.

Tak hanya berbelanja, di sini juga anda dapat menikmati langsung musik rock n roll. Band Speaker First yang terdiri dari lima orang pria ini, mengadakan latihan di ruang belakang distro setiap Rabu dan Minggu pukul 17.00 WIB.

Jadi, anda siap untuk ber-rock n roll?(twi/ern)

Airplane Eksis di Era 90' hingga 2008

Airplane Eksis di Era 90' hingga 2008
Erna Mardiana - detikBandung

Bandung - Kreatifitas anak muda di Bandung memang engga ada matinya. Meski diserbu dengan pembangunan pusat perbelanjaan besar, distro yang mulai muncul pada tahun 90-an tetap eksis hingga kini. Salah satunya distro Airplane, di Jalan Aceh No 44.

Dimotori oleh tiga sahabat yang senang berkreasi sendiri membuat T'shirt dan celana, Fiki Chikara Satari, Helvi, dan Colay, akhirnya mengusung merek Airplane. Dengan modal awal Rp 300 ribu, mereka pasarkan kaos buatan sendiri itu di lingkungan terbatas.

"Awalnya hanya mulut ke mulut antar teman. Produksi kami pun hanya terbatas, paling beberapa stel kaos. Eh ternyata banyak yang suka, akhirnya kami titipin ke distro-distro milik teman," ujar Fiki yang memulai usahanya 10 tahun yang lalu.

Melihat animo yang bagus, akhirnya pada 2001 atau tiga tahun setelah usahanya dirintis, Fiki dan dua sahabatnya menyewa sebuah tempat di Jalan Aceh 44. "Sewa awalnya dulu hanya Rp 6 juta per tahun, sekarang sudah Rp 60 juta per tahun," ungkapnya.

Tidak hanya memproduksi T'shirt dan celana, jaket, sweater, topi, dan sepatu pun mulai dirambah Airplane. "Tapi ingat, kami ini jualan merek bukan hanya fashion. Merek bagi distro adalah identitas," ujar Fiki.

Menurut Fiki, bertahan selama 10 tahun memang bukan hal yang mudah di tengah-tengah persaingan antara factory outlet dan mall-mall di Bandung. "Distro sendiri jumlahnya sudah mencapai 300-an. Biar merek kami tetap bisa eksis, kami harus melakukan inovasi terus," ujarnya. Kini Airplane telah memasok ke 94 distro yang ada di Indonesia.

Sejak 2007, kata dia, Airplane memakai konsep season. Setiap empat bulan satu kali, dibuat tema khusus. "Untuk season awal tahun ini adalah 'seduce you good'. Kami ingin menjadikan awal tahun ini sangat menggoda, tentunya dalam konotasi yang baik," tuturnya.

Tetap dengan mengusung model yang simpel, T'shirt, celana denim, hingga jaket semua dibuat sedikit 'menggoda'. Menurut Direktur Kreatif Airplane Gino Herriansyah, warna yang mendominasi pada season kali ini adalah biru, merah, dan kuning. "Dengan adanya tema, memudahkan kami pada saat promosi," cetus Gino.

Fiki menambahkan salah satu cara agar Airplane tetap eksis adalah menjadi sponsor band-band lokal, seperti the Sigit."Kami menjadi sponsor bagi The Sigit yang akan konser di Texas pada Maret 2008 nanti," ujar Fiki.

Bahkan untuk pemasaran produk Airplane, Fiki membuat terobosan baru dengan sistem pembelian online melalui website. "Yang pesan dari luar negeri banyak, seperti dari Finlandia, Australia, Filipina, Belanda dan juga Amerika," ujarnya bangga.

Kini jumlah karyawan Airplane sudah mencapai 54 orang. Dengan keseriusan dan inovasi yang terus diasah, Fiki optimistis usahanya akan tetap bertahan di tengah persaingan usaha yang sudah tidak ramah lagi.
(ern/ema)

"Tanah" Baru untuk Tanaman

"Tanah" Baru untuk Tanaman
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Ketika setumpuk pekerjaan membuat anda lelah, tidak ada salahnya melangkahkan kaki keluar. Menikmati aroma rumput dan warna-warni tanaman di taman kantor. Menurut para ahli, dengan melihat warna-warna hijau akan membuat pikiran lebih fresh.

Jika ternyata kantor anda tak memiliki taman. Mungkin anda bisa menyimpan satu pot tanaman di sudut meja kerja. Yang tak hanya menawarkan kesegaran untuk mata tapi juga menambah keindahan interior meja kerja.

Untuk di dalam ruangan, pilihlah tanaman yang tidak terlalu rumit perawatannya. Misalnya, anda bisa memilih tanaman dengan media gel yang hampir tanpa perawatan.

Belum begitu familiar memang tanaman yang menggunakan gel sebagai media tanamnya. Gel biasa kita kenal sebagai makanan. Bedanya, jika gel makanan diberi perasa, gel ini diberikan unsur hara untuk di serap tanaman.

Perawatannya cukup sederhana. Tak perlu menyiram dengan air, cukup dengan menyemprotkan vitamin ke daun dan pangkal batang sebagai pengganti unsur hara yang sudah diserap dari gel. Itupun dilakukan satu hingga dua minggu sekali. Simpanlah ditempat yang cukup sinar terawang matahari.

Karena hingga saat ini tanaman yang cocok ditanam di media gel, adalah tanaman berbatang lunak yang membutuhkan kadar air relatif sedikit seperti sri gading, aglonema, kaktus dan bambu Cina.

Istimewanya, anda bisa memilih gel dengan warna-warna favorit. Bisa hanya satu warna, dikombinasikan atau dicampur acak sesuai dengan selera. Seminggu sekali anda bisa menambahkan gelnya paling tinggi satu sentimeter.

Jika tertarik, selepas berbelanja baju di FO atau distro, singgahlah ke Yasmin Serendipity, Florist, Parcel & Decoration, Jalan Trunojoyo No. 6.

Menurut pemiliknya, Alan Satriyo, untuk Bandung sendiri, tanaman dengan media gel belum begitu populer. Mungkin karena harganya yang relatif mahal. Selain harga gelnya, vas yang digunakan pun haruslah vas kaca untuk memperlihatkan dengan jelas warna-warni gel.

Tapi, untuk anda yang ingin memperindah interior ruangan, baik kantor maupun rumah agar lebih berwarna-warni, sepertinya takkan keberatan mengeluarkan uang berlebih.

Selain tanaman dengan media gel, di Yasmin Serendipity anda pun bisa menemukan tanaman dengan media oasis, baik kering maupun basah. Semoga anda lebih refresh!
(ema/ern)

Mordor, Distronya Rock Mania

Mordor, Distronya Rock Mania
Pratiwi Ester Novita Manik - detikBandung


Bandung - Musik rock memang tidak pernah ada habisnya untuk diperbincangkan, mulai dari musisinya, konsernya sampai merchandisenya. Distro di Jl. Cihampelas ini menyediakan aneka merchandise rock, baik bagi musisi rock atau pecinta musik rock.

Mordor, nama yang diusung pemilik distro rock ini. Menyediakan aneka merchandise berbau rock, mulai dari t-shirt, tas, topi, jaket sampai pin-pin kecil. Selain bernuansa rock, merchandise dari sebuah band rock juga tersedia di sini. Misalnya t-shirt atau topi, ada yang berlogo band rock asal Bandung, Burgerkill.

Supervisor Mordon, Marco, menuturkan bahwa memang toko ini bekerja sama dengan band-band rock Bandung. Bahkan tidak jarang menjadi sponsor untuk acara-acara musik rock.

"Baik musisi rock maupun pecinta musik rock sering berkunjung, karena memang kita menyediakan spesial merchandise rock yang beberapa diantaranya tidak ada di tempat lain," ujar Marco.

Selain merchandise, tersedia juga kaset dan CD musisi rock Bandung yang tidak tersedia di toko-toko musik besar. Menurut Marco, kaset dan CD itu sendiri memang di bawah bendera indie label. Jadi hanya di tempat-tempat tertentu saja termasuk salah satunya di Chronic, yang merupakan base camp fans Burgerkill di Jl. Bali.

Harga yang ditawarkan untuk t-shirt berkisar Rp 65.000 sampai Rp 90 ribu, untuk tas sekitar Rp 150.000, jaket pria seharga Rp 110 ribu sampai Rp 125 ribu sementara untuk topi bisa mencapai Rp 60 ribu. "Harga topi mungkin sedikit mahal, karena kita memberikan royalti kepada band-band yang namanya kita gunakan di merchandise itu," jelas Marco.

(twi/ern)

Lebih Glamor dengan Aksesoris Berkualitas

Lebih Glamor dengan Aksesoris Berkualitas
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Perhiasan selalu identik dengan perempuan. Kemajuan dunia fashion menjadikan perhiasan tak hanya sebagai hiasan tapi sudah menjadi aksesoris pelengkap yang cukup penting untuk menunjang penampilan.

Jika penampilan ingin terlihat lebih glamor, selain pakaian, pilihlah aksesoris yang tepat untuk memperlihatkan itu. Tak harus emas atau perhiasan mahal lainnya, cukup dengan aksesoris yang berkualitas.

Di Lynelle, anda bisa memilih berbagai aksesoris berkualitas impor dari Korea dan Cina. Mulai dari cincin, anting, gelang, kalung, bros hingga gantungan telepon genggam. Lynelle, berada diantara distro-distro di kawasan Jl. Trunojoyo 23, bersebelahan dengan Pinholic.

Pemilik Lynelle, Felisia mengatakan, saat ini aksesoris di Bandung belum bisa menandingi kualitas aksesoris dari luar negeri seperti Korea. Maka, Felisia memilih untuk mengimpor berbagai aksesoris itu dari luar negeri.

Aksesoris berkualitas dengan bahan berkualitas akan menentukan keindahan aksesoris itu sendiri. Biasanya menggunakan lapis emas yang warnanya tidak cepat pudar dalam jangka waktu yang lama. Aksesoris dengan bahan yang biasa, warnanya akan lebih cepat pudar. Batu yang digunakan bukan batu kristal tetapi plastik ringan yang kurang berkilau.

Felisia mengaku, produk-produk di Lynelle selalu up to date, karena Korea lebih cepat mengikuti perkembangan terbaru dunia fashion internasional. Jadi, Lynelle takkan pernah ketinggalan zaman.

Memang harus mengeluarkan uang lebih di Lynelle dibandingkan tempat aksesoris lainnya. Dari mulai gelang plastik yang 20 ribuan sampai gelang seharga 100 ribuan. Untuk kalung dari 25 ribuan sampai 300 ribuan. Cincin lapis emas seharga 70 ribuan.

"Untuk yang mengerti kualitas, pasti akan tahu harga," tutur Felisia.

Akhirnya, pilihan ada di tangan konsumen, apakah ingin harga murah dengan pemakaian jangka pendek, atau harga lebih tinggi dengan jaminan pemakaian jangka panjang?

Jangan dulu jatuhkan pilihan sebelum anda datang ke Lynelle.


(ema/ern)

Caboo Attitude Bikin Lebih Akrab

Caboo Attitude Bikin Lebih Akrab
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Berita apapun seputar selebritis seringkali membuat kita membuka mata dan telinga lebar-lebar, termasuk fashionnya.

Nah, jika anda termasuk salah seorang penggemar grup musik beraliran jazz, Maliq & D'Essential yang populer dengan lagu untittlenya, mungkin distro yang satu ini bisa membuat anda tertarik untuk berkunjung.

Caboo Attitude, itu dia nama distro yang terletak di Jl. Sultan Agung 3. Berada di antara deretan distro-distro yang lain, Caboo Attitude pernah dipilih menjadi baju sponsor Maliq & D'Essential.

"Saat itu Maliq sedang promo album. Sekitar dua sampai tiga bulan Maliq menggunakan kostum-kostum Caboo. Kini sudah tidak lagi, paling mereka hanya membeli," tutur Andika Pratama atau Dika, Divisi Distribusi Caboo Attitude.

Dika mengaku, salah seorang owner Caboo pernah menjadi additional player Maliq & D'Essential. Oleh karena itulah, Cabboo memiliki kesempatan untuk mensponsori konser-konser Maliq.

Cabboo yang berdiri di Juni 2007 ini memiliki konsep pop art dalam fashionnya. Namun seiring perkembangan pasar, tema-tema umum seperti kata-kata juga menjadi konsep Cabboo. Saat ini produksi cabboo lebih dikonsentrasikan ke t'shirt. 30 persen produk Cabboo berasal dari clothing-clothing lainnya. Harga-harga t'shirt berkisar antara 70 ribu hingga 90 ribu.

Cabboo sendiri bisa diartikan lebih akrab dengan siapa saja. Caboo Attitude, ya... bisa diartikan sikap yang akrab.

Ehm, mungkin saja anda akan lebih akrab dengan Maliq & D'Eseential jika belanja ke tempat ini.(ema/ern)

18th Park, Bukan Konspirasi Biasa

18th Park, Bukan Konspirasi Biasa
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - "Conspiracy". Apa yang ada dalam pikiran anda jika mendengar kata itu? Mungkinkah sebuah film yang dibintangi dua bintang peraih academy award, Mel Gibson dan Julia Roberts, berjudul Conspiracy Theory?

Mungkin, kata konspirasi memunculkan pandangan negatif atau sesuatu berbau politik. Tapi, konspirasi yang satu ini jauh dari persekongkolan politik manapun. Sebuah konspirasi yang diusung salah satu kawasan distro, 18th Park (baca: eighteen park) yang bertagline 'local distro conspiracy'.

Berawal dari niatan untuk membuat sebuah tempat tongkrongan buat anak muda Bandung. Tak hanya sebagai tempat berbelanja, tapi lebih pada tempat berkumpulnya komunitas remaja.

Untuk mewujudkan itu, marketing 18th Park, Endy mengatakan, 18th Park mencoba membuat skate park, yaitu tempat berkumpulnya para skater. Skate sebagai bagian dari sub kultur masyarakat urban dianggap bisa menjadi sesuatu yang menarik untuk remaja.

Namun, menuju proses itu sempat terjadi kontra dari beberapa pihak skater Bandung hingga memunculkan propaganda-propaganda di kalangan skater akan keberadaan skate park di 18th Park. Issue yang menyebar ternyata memberikan efek positif bagi keberadaan 18th Park sendiri.

Anak muda Bandung menjadi lebih tahu eksistensi 18th Park sebagai salah satu tempat tongkrongan, bagi skater atau siapapun. Dari situlah muncul kata konspirasi. Di satu sisi, konspirasi bisa diartikan sebagai sebuah sinergi. Sinergi yang terjadi dalam satu lingkungan dengan atmosfer persaingan yang sehat.

Nama 18th Park sendiri dipilih dengan alasan yang cukup sederhana, karena tempat ini berada di Jalan R. E Martadinata No. 18. Park sendiri bisa diartikan taman, atau sebuah kawasan.

18th Park yang berdiri Mei 2006 lalu, diibaratkan Endy seperti melting pot, yaitu lelehan dari beragam hal baik industri clothing maupun komunitas remaja. Bukan sekedar kawasan belanja tapi bisa menjadi muara yang menampung aktivitas apapun, seperti seminar, talkshow, fashion show, acara musik, skate, pemotretan, dan lain-lain.

Dari sisi pemasaran, dengan luas sekitar 4000 m2, lokasi 18th Park yang strategis menjadi tempat yang cukup representatif untuk distro clothing.

Distro atau distribution clothing diartikan Endy sebagai kemauan yang tinggi untuk beradaptasi dari sisi pemasaran. Karena berbicara mengenai distro tak hanya tentang fashion, tapi juga komunitas berikut industri kreatif di belakangnya.

Lebih dari 22 distro berada di bawah manajemen 18th Park yang dipilih secara selektif. Dilihat dari prospek bisnisnya, kualitas dan style. Konsep setiap distro di 18th park pun berbeda-beda yang juga merepresentasikan setiap perbedaan.

Misalnya Skaters yang nge-skate, Dutcman yang militer, Black ID yang identik dengan musik, Thyo Pernik tempatnya pernak-pernik, juga ada yang berbau adventure hingga tempat monovideo atau film dan lain -lain.

Jelajahi juga distro lainnya seperti TRB/ Folker, Pro Shop, Castle Rock, Mighty/Verbotten, Naps, Roben Norm, 18th shop, Diery, Warning, jail, Tandem, RBG, Rockster, Plan B. Mondo Vidco dan D'joker.

Selain belanja, bisa juga ngopi dulu di cafenya yang homy, lengkap dengan internet dan PS3 untuk para gamers. Ikut bermain skate atau sekedar menonton di skate park, makan risoles di De' risol atau jika beruntung datang di saat sedang berlangsungnya even musik.

18th Park sempat beberapa kali menyelenggarakan even-even musik underground. Tak sedikit pengunjung yang datang, bahkan sempat membuat manajemen kelabakan saking tak tertampungnya. Kalaupun hanya sekedar kongkow-kongkow saja, 18th Park sangat terbuka. Untuk itulah 18th Park ada.

Resolusi 18th Park tahun ini adalah merubah penampilan visual, menyelenggarakan acara-acara, even-even musik ataupun lomba-lomba, misalnya lomba grafiti.

Oke, siapkah anda berkonspirasi di 18th Park?

(ema/ern)

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons