Galeri Kayoe, Bagaikan di Rumah Sendiri

Bandung - Istilah galeri terkadang diidentikkan dengan nuansa formal dan eksklusif. Namun di Galeri Kayoe, pengunjung akan merasa menikmati karya seni di rumah sendiri.

Menurut pemilik galeri, Supriyanto galeri ini memang sengaja ditata sedemikian rupa untuk menciptakan atmosfer rumah bagi pengunjungnya. Di sini akan dimanjakan dengan berbagai karya seni yang didominasi bahan kayu.

"Biasanya orang takut duluan untuk masuk galeri. Di sini saya upayakan orang jangan takut masuk ke galeri," tuturnya.

Karya yang ditampilkan mulai dari patung, hiasan serta karya andalan Supriyanto, miniatur rumah dari kayu. Diungkapkan Supriyanto karya miniatur rumah dari kayu memang karya andalannya yang telah banyak dikenal masyarakat.

"Biasanya pengunjung yang datang ke sini mencari miniatur rumah," paparnya.

Dirinya memang mengawali galeri ini dengan karya miniaturnya tersebut. Galeri yang awalnya dibuka di kediamannya di Dago Atas makin diminati. Oleh karena itu dirinya memutuskan membuka galeri yang lebih besar. Karya-karya lain seperti patung-patung maupun hiasan beberapa merupakan karya pegawainya. Tersedia juga karya seni dari luar daerah, seperti Jawa Tengah.

Tidak hanya karya dari kayu, di sini juga terdapat berbagai lukisan dan furnitur dengan cita rasa seni dan keantikan. Furnitur yang ditawarkan merupakan peninggalan dari jaman penjajahan. Umurnya mencapai puluhan tahun bahkan seabad lamanya.

"Nilai sejarahnya tinggi, karena dulu yang memiliki furnitur seperti ini pasti bukan orang biasa. Furnitur juga paling banyak dicari pengunjung yang datang ke sini," jelasnya.

Karya-karya yang dipamerkan ditawarkan dengan harga yang bervariasi dan cukup terjangkau. Untuk lukisan biasanya Rp 500 ribu ke atas. Sementara untuk miniatur rumahnya seharga Rp 400 ribu ke atas. Namun produk-produk yang sederhana seperti gantungan kunci dan hiasan-hiasan kecil ditawarkan mulai dari Rp 5.000.

Namun Supriyanto menekankan yang menjadi ciri khas dari galerinya yakni suasana kekeluargaan. Apalagi juga tersedia makanan dan minuman, yang disebut Supriyanto dengan Waroeng Kayoe. Menurutnya tidak jarang para seniman berkumpul di galeri ini.

"Yang paling penting, bisa menikmati seni sambil mengobrol dan bersantai," tukasnya.

Tertarik menikmati galeri rumahan ini? Anda dapat mengunjunginya di Jalan Ir H Juanda, di sebelah Hotel Sheraton Bandung.(twi/lom)

Gorengan Garing, Oleh-oleh Khas Bandung

Bandung - Pulang melancong, tak afdol rasanya jika tanpa membawa buah tangan. Dari mulai makanan ringan, berat sampai cinderamata unik untuk pajangan rumah.

Misalnya camilan-camilan serba goreng-gorengan yang tak akan sulit ditemui di kota Bandung, terutama yang dekat dengan tempat belanja atau terminal.

Gorengan tempe, goreng oncom atau goreng sale pisang. Tempe sudah biasa, oncom, begitupun sale pisang, namun ketika dibalut racikan tepung dan terigu akan menjadi penganan renyah dan menggoda.

Ero (43) seorang penjual oleh-oleh khas Bandung warung Megarasa, JL Cibaduyut, menuturkan cara pembuatan gorengan ini. Untuk gorengan tempe misalnya, tempe diiris tipis-tipis. Campur adonan tepung beras, tepung terigu, telur, bawang putih, ketumbar, kencur dan tentunya penyedap rasa. Tempe yang sudah diiris-iris dicelupkan pada adonan tepung kemudian digoreng.

Setelah setengah matang, tempe diangkat dari wajan kemudian diamkan selama setengah jam. Setelah itu tempe digoreng kembali hingga garing.

Tempe harus digoreng dua kali menurut Ero agar tempe menjadi garing. "Jika cuma satu kali tempe akan lembek," tutur Ero yang sudah berjualan selama 10 tahun.

Proses pembuatan yang sama juga berlaku bagi oncom dan sale pisang. Hasilnya akan menjadi gorengan garing dengan rasa kriuk-kriuk.

Untuk satu perempat gorengan seharga Rp 7.500. Jika ingin membagikan pada seluruh sanak famili sepertinya harus membeli dalam jumlah banyak.

Diungkapkan Ero, para pembelinya kebanyakan wisatawan luar Bandung. Sehingga akhir pekan akan selalu ramai dikunjungi. Tidak seperti hari biasa yang sepi-sepi saja," keluhnya.

Ah, tak akan rugi membeli gorengan khas Bandung yang satu ini. Gorengan tempe dan oncom khususnya tak hanya enak disantap sebagai camilan, tapi akan menjadi pelengkap nikmat nasi yang mengepul hangat. Ehm... kriuk...kriuk.

(ema/ern)

Taman Centrum, 'Miliknya' Putih Abu-abu

Bandung - Puluhan siswa-siswi SMAN 5 Bandung, Jl Belitung berkelompok-kelompok sambil asyik berfoto, Selasa (13/5/2008). Di bagian tengah taman, undakan, atau pinggir taman yang dinaungi pohon besar yang rimbun.

Menurut pengakuan Zahra, siswa kelas III SMAN 5 mereka sedang berfoto untuk buku tahunan karena sebentar lagi akan menyelesaikan masa-masa di bangku SMU.

Kegiatan berfoto ini mungkin hanya satu bagian dari pemanfaatan Taman Centrum yang ada di Jl Belitung ini. Zahra menuturkan setiap harinya bahkan akhir pekan, Taman Centrum senantiasa ramai terutama oleh siswa-siswi dari SMUN 5 karena lokasi sekolah persis berada di samping taman.

Keramaian terlihat terutama saat istirahat pada pukul 09.30 WIB dan pulang sekolah pada pukul 13.00 WIB.

Taman Centrum, demikian nama taman ini. Meski lokasinya begitu strategis karena berada di lokasi arus lalu lalang kendaraan, mungkin tak banyak yang tahu nama taman ini.

Memang tak seluas taman Tegallega, tak sesejuk Taman Lansia, atau tak serimbun Taman Hutan Raya Juanda, tapi Taman Centrum bisa pula jadi pilihan untuk sesaat melepas penat.

Taman Centrum tidak terlalu luas. Sebuah bundaran berada di pusat taman. Di sana pula terletak batu peresmian Taman Centrum yang ditandatangani oleh Walikota Daerah Tingkat II Bandung, Wahyu Hamijaya pada 7 April 1994.

Dalam batu peresmian tersebut dinyatakan bahwa pembangunan Taman Centrum juga atas bantuan dari PLN cabang Bandung dan AKLI DPC Bandung.

Seorang tukang parkir di dekat Taman Centrum menyatakan Taman Centrum sudah ada sejak dahulu kala. Dulu, alasnya baru berupa tanah yang pusatnya masih sebagai empang. Tidak seperti sekarang, Taman Centrum sudah beralaskan batu.

Bentuk Taman Centrum sendiri lebih terlihat seperti lingkaran. Di pinggir-pinggir taman ada beberapa anak tangga yang melingkar. Para siswa biasanya duduk di anak tangga tersebut sambil menikmati aneka jajanan yang dijual dipinggir Taman.

Tak jarang pula di antara mereka memanfaatkan arena olahraga basket sederhana yang menjadi salah satu penarik bagi para siswa untuk mendatangi tempat ini.

Di beberapa sudut taman terdapat bundaran-bundaran seperti yang ada di pusat taman. Bundaran yang dibatasi oleh tembok yang ditengahnya terdapat pohon besar yang rimbun. Bundaran tersebut lebih mirip miniatur tanaman dalam pot. Pagar besi bercat putih mengelilingi taman, namun yang dipagari hanya yang membatasi taman dengan jalan raya.

Tak hanya para siswa, para pemakai pemandian umum Tirtamerta yang ada di dekat Taman Centrum pun seringkali menjadikan taman ini tempat beristirahat.
Taman Centrum dilalui oleh angkot jurusan Kalapa-Dago dan Kalapa-Ledeng. Sekitar seratus meter sebelum Taman Lalu Lintas.

(ema/ern)

Aksi Penghormatan Terhadap Soekarno Digelar di Banceuy

Bandung - Pameran foto amatir dan aksi sosial sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap mantan presiden RI, Soekarno digelar di monumen penjara Banceuy, Jl ABC, Komplek Banceuy Permai, Minggu (6/4/2008). Aksi yang mengambil tema 'Seboeah Cerita Dari Penjara" ini merupakan rangkaian dari Program Pernik Bandung yang sebelumnya digelar Klab Aleut di Hotel Surabaya.

Menurut koordinator aksi dari Klab Aleut, Ardi Aliudin, Program Pernik Bandung untuk mengingatkan bahwa di Bandung banyak cagar sejarah. Selain itu, lanjut Ardi, acara ini bisa dikatakan sebagai tindakan keprihatinan untuk mengingatkan perjuangan Soekarno. "Agar masyarakat juga bisa memahami arti perjuangan," ungkap Ardi disela-sela aksi.

Ardi memaparkan, berdasarkan literatur sejarah yang mereka pahami, Soekarno pernah dipenjara di penjara Banceuy selam 8 bulan dilanjtkan selama 4 tahun di penjara Sukamiskin. Selain soekarno, ungkap Ardi, tokoh perjuangan lain yang juga pernah dipenjara di penjara Banceuy yaitu Suprihadi Nata.

Dalam aksi ini dipajang sebanyak lima frame yang berisi berisi kronologis perjuangan Soekarno. Dua frame lainya memuat cover koran jaman dahulu yang juga menggambarkan perjuangan soekarno. Selain itu, dipajang pula 18 belas buah foto termasuk foto Soekarno, Gedung Indonesia Menggugat dan bangunan-bangunan cagar sejarah lainya yang memiliki keterkaitan dengan perjuangan Soekarno.

Setelah aksi ini Ardi mengaku akan melakukan aksi selanjutnya di penjara Sukamiskin. "Tapi belum tahu kapan," ujarnya. Ardi menambahkan, Klab Aleut merupakan komunitas wisata dan apresiasi sejarah yang kini sudah beranggotakan 70 orang.
(ema/ema)

Tahura Dago Pakar Oase di Kota Bandung

Bandung - Bandung heurin ku tangtung (Bandung sangat padat-red), hal ini dapat dilihat tatkala anda menyambangi Bandung di akhir pekan. Keadaan ini berpengaruh terhadap kondisi udara yang semakin panas. Lalu di mana jika ingin mendapatkan udara segar yang menjadi ciri khas kota yag berjuluk parijs van java ini.

Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Djuanda dapat menjadi pilihan tujuan wisata. Udara Bandung yang sudah mulai panas, membuat Tahura bisa menjadi salah satu oase di Kota Bandung. Tempat ini menyuguhkan panorama hutan di Kawasan Bandung utara yang menjadi penyumbang udara bersih dan pasokan air. Selain itu, anda pun bisa mengenal berbagai jenis flora dan fauna yang terdapat di Tahura ini.

Kawasan ini dulunya merupakan bagian dari Kelompok Hutan Lindung Pulosari dan diubah fungsinya menjadi Taman Wisata Curug Dago dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 575/Kpts/Um/8/1980.

Pada kurun waktu 1980 hingga 1984 atas dasar prakarsa dari sesepuh Jawa Barat diantaranya Bapak Mashudi serta kajian teknis pakar lingkungan ITB dan Unpad serta dukungan dari pemerintah pada waktu itu mengusulkan agar fungsi kawasan TWA Curug Dago ditingkatkan sebagai Tahura Ir H Djuanda.

" Pemilihan nama Ir H Djuanda merupakan bentuk penghargaan kepada pahlawan yang berasal dari tempat Tahura tersebut berada" ujar Kepala Balai Tahura Ir H Djuanda, Beben Tresna Chandra.

Terletak sekitar 7 km dari pusat kota Bandung, Tahura lebih dikenal dengan nama Dago Pakar. Lokasi ini bisa ditempuh hanya dengan 20 menit dari Jl Ir H Juanda dan sekitar 50 menit dari pusat kota (alun-alun). Dengan menggunakan angkutan umum hanya bisa sampai di terminal Dago. Untuk sampai ke lokasi wisata Dago Pakar, kita bisa berjalan kaki dengan medan yang menanjak. Namun bila enggan berjalan anda dapat menggunakan ojeg.

Goa Jepang, goa Belanda, curug Dago dan hutan alam yang indah bisa kita nikmati di kawasan ini. Goa Belanda dan Goa Jepang merupakan peninggalan masa penjajahan Jepang dan Belanda yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan dan juga sebagai gudang senjata.

Pada jaman kolonial Belanda, taman ini pernah dibangun waduk untuk pusat tenaga listrik karena memiliki sumber air yang sangat banyak, yang kemudian saat ini dimanfaatkan oleh PDAM sebagai sumber sumur resapan.

Untuk memasuki goa, biasanya akan dipandu oleh pemandu yang ada di sekitar situ. Namun bila ingin masuk sendiri, disitu juga disediakan senter–senter yang bisa disewa.

Bagi yang suka hiking dari Dago Pakar kita bisa menembus ke Maribaya. Dalam perjalanan ke Maribaya yang menempuh jarak kurang lebih 5 km kita akan menemui aliran sungai Cikapundung beserta Curug (Air Terjun Dago), Curug lalay, Curug Omas serta wisata air panas Maribaya.

Untuk sarana penunjang, pihak pengelola Tahura menyediakan sejumlah gazebo-gazebo yang terkadang dimanfaatkan oleh para pengunjung sebagai tempat ngariung ketika menikmati bekal. Selain itu terdapat panggung terbuka, mushola dan tempat bermain anak. Pengunjung reguler biasanya memadati tempat ini saat akhir pekan, sedangkan rombongan dari sekolah atau tim penelitian biasanya datang di hari-hari biasa.

Nah, sudah tahu bukan tempat yang anda akan datangi di akhir pekan ini? (ern/ern)

Wisata Olahraga di Curug Cimahi

Bandung - Dengan kondisi geografis yang dikeliling gunung, tak heran jika di Bandung tersebar tempat wisata alam. Ikon wisata di kawasan Bandung Utara, Gunung Tangkuban Perahu misalnya. Namun selain itu masih banyak tempat wisata alam lain yang tak kalah menarik di kawasan ini, salah satunya Curug Cimahi.

Kata Curug yang adalah bahasa Sunda, berarti air terjun. Sedangkan nama Cimahi berasal dari nama sungai yang mengalir di atasnya yaitu Sungai Cimahi yang berhulu di Situ (danau) Lembang dan mengalir ke Kota Cimahi.

Menurut Rokib, warga asli yang sehari-hari mengelola parkir, nama Cimahi berasal dari bahasa Sunda yaitu cai mahi yang berarti airnya mencukupi. "Walaupun kemarau panjang, air terjun ini tetap mengalir dan mencukupi pasokan air ke Kota Cimahi. Bahkan jika Situ Lembang yang menjadi hulunya pun kering, aliran Sungai Cimahi tetap ada karena sumbernya tak hanya dari danau saja tetapi dari mata air yang berada di sekitar aliran sungai ini," papar Rokib.

Curug Cimahi terletak di Jalan Kolonel Masturi, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Ada beberapa alternatif jalan yang bisa dipilih. Kebanyakan yang digunakan ialah jalur Cimahi dan jalur Lembang. Jika Anda memakai kendaraan pribadi atau travel untuk mencapai tempat ini dari pusat Kota Bandung, cukup menyusuri jalur Ciheudeung menuju Cisarua.

Jika menggunakan kendaraan umum, dari kota Cimahi jalan termudah adalah dari Terminal Pasar Atas Cimahi jurusan Cimahi-Cisarua dengan tarif berkisar Rp 5000. Sementara jika dari Kota Bandung, bisa menggunakan angkutan jurusan St.Hall-Lembang dari Stasiun Kota, kemudian dilanjutkan dengan angkutan umum jurusan Lembang-Cisarua, dan turun persis di depan pintu gerbang Wana Wisata Curug Cimahi.

Dari pusat kota Bandung, perjalanan dapat ditempuh menuju terminal Ledeng, dilanjutkan dengan angkutan Ledeng-Parongpong. Dari terminal dilanjutkan memakai angkutan jurusan Parongpong-Padalarang. Ongkos yang dikeluarkan berkisar Rp 10 ribu.

Letak pintu gerbang wana wisata ini persis di sebelah terminal Cisarua. Setelah membayar tiket masuk Rp 3000/orang, kita dihadapkan 520 anak tangga yang terbuat dari batu dengan jarak 500 meter untuk menuju lokasi air terjun.
Saat berkunjung, disarankan fisik dalam kondisi fit, karena perjalanan pulang yang mendaki akan menguras banyak tenaga. Selain itu, perlu juga membawa perlengkapan jas hujan dan baju hangat karena suhu di tempat ini berkisar 18-22 derajat Celsius.

"Selain berwisata, di sini bisa juga berolah raga karena medan yang dilalui cukup berat untuk menuju lokasi air terjun dari gerbang ini. Oleh karena itu, pengunjung yang berwisata ke tempat ini didominasi anak muda," ujar Mahdar Juhana, petugas Wana Wisata Curug Cimahi.

Kawasan ini dikelola oleh Perhutani dengan luas 26 hektar, namun yang baru dikelola baru sekitar 2 hektar di lokasi air terjun. Batuan cadas dan tanah gembur dikombinasikan dengan kondisi geografis yang curam, sehingga disarankan berhati-hati jika hujan karena jalanan menjadi licin dan berkabut.

Pemandangan air terjun sudah terlihat ketika memasuki gerbang. Air terjun ini memiliki ketinggian 85 meter dan mengeluarkan suara yang keras ketika pancaran airnya meyentuh bebatuan yang berada di kakinya. Di bawah kaki air terjun ini terdapat kolam, jika musim kemarau atau keadaan normal anda dapat membasuh kaki dan bermain air di sini. Sebaiknya jika membawa benda elektronik seperti handphone atau kamera digital, usahakan agar terlindungi.

Fasilitas yang telah disediakan pihak pengelola di antaranya shelter yang terdapat di pinggir jalur dari gerbang menuju air terjun, serta musola dan kamar kecil. Selain itu terdapat beberapa warung milik warga yang menjual makanan dan minuman yang biasanya buka pada hari-hari ramai seperti akhir pekan dan liburan.(lom/lom)

Mengintip Bintang di Observatorium Bosscha

Bandung - Kegelapan langit malam bagi sebagian orang memberikan ketakutan, namun di tempat wisata ini kegelapan malam sangat diharapkan. Observatorium Bosscha dapat menjadi alternatif tempat wisata di Lembang yang menawarkan paket wisata pendidikan astronomi. Namun bukan berarti tempat ini hanya dibuka di malam hari, karena tak hanya bisa mengintip benda-benda di langit, suasana alam dan bangunan tempo dulu yang sarat akan sejarah jadi objek lain yang jangan dilewatkan.

Bosscha dibangun 1 Januari 1923 oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Sebagai bentuk penghargaan atas jasa Karel Albert Rudolf (K.A.R) Bosscha yaitu seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar yang menyandang dana utama dalam pembangunan observatorium, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.

Pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha menjadi bagian dari ITB. Selanjutnya, tempat ini difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia. Obeservatorium Bosscha merupakan satu-satunya observatorium di Asia Tenggara yang mengamati belahan Bumi selatan.

Dalam kapasitasnya sebagai tempat tujuan wisata, Observatorium Bosscha memberikan pendidikan dan pengetahuan astronomi bagi pelajar maupun masyarakat. Jika berniat datang ke tempat ini pada siang hari terdapat tiga sesi kunjungan yaitu pada jam 09.00 WIB, 12.00 WIB, dan 15.00 WIB yang buka setiap hari. Kunjungan pada malam hari dimulai dari pukul 17.00 WIB hingga 20.00 WIB dan hanya dilakukan selama tiga hari per bulannya, penentuan waktu ditentukan oleh pihak pengelola berdasarkan kondisi cuaca.

"Pelajar yang datang ke sini berasal dari semua kalangan, dimulai taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Ada dua sesi yang dilakukan saat berkegiatan di Bosscha, pertama penjelasan mengenai benda-benda langit atau pengetahuan astronomi kemudian dilanjutkan dengan penjelasan pengamatan di ruang peneropongan" ujar astronom ITB, Mochamad Irfan.

Tarif masuk yang dikenakan pada pengunjung yaitu sebesar Rp 3000 untuk pelajar dan Rp 5000 untuk umum. Jika memakai kendaraan pribadi atau travel, untuk mencapai Observatorium Bosscha dari pusat kota Bandung menuju ke arah Lembang dapat ditempuh selama 30 menit. Bagi yang memakai kendaraan umum, dari pusat kota Bandung ke arah terminal ledeng dilanjutkan dengan angkutan St.Hall-Lembang atau Ledeng-Subang. Di jalan raya Bandung-Lembang sebelum pertigaan arah Cisarua, berbelok ke kanan menaiki bukit yang menjadi lokasi observatorium. Untuk pengunjung yang memakai kendaraan bus atau kendaraan umum, dari tempat ini dapat memilih memakai jasa angkutan ojeg atau berjalan kaki sekitar 4 km.

Observatorium Bosscha berada di daerah Lembang yang memiliki ketinggian 1300 meter di atas permukaan laut. Tak heran tempat ini memiliki suhu udara yang cukup menusuk tulang di malam hari. Selain itu, alasan pemilihan daerah Lembang sebagai tempat pembangunan observatorium ini karena kondisi geologinya yang stabil serta di daerah ini pada masa lalu masih jarang terdapat permukiman penduduk dan kawasan sekitarnya masih berupa lahan yang ditumbuhi pepohonan.

"Seharusnya permukiman yang dibangun di sekeliling observatorium harus berada di area sekitar dua hingga lima kilometer, dengan semakin padatnya permukiman di sekeliling tempat ini secara tidak langsung berpengaruh terhadap penurunan aktifitas penelitian dan pengamatan," papar Mochamad Irfan.


(ema/ema)

Seni Rajah Modern, Aset Wisata Kota Bandung

Bandung - Bandung sebagai kota jasa dan wisata tak hanya memiliki distro dan ribuan jajanan lezat yang wajib disambangi. Satu bentuk sub kultur seperti tato pun kini menjadi ikon baru wisata, tak hanya di kota Bandung, juga Jawa Barat.

Kent Tatoo Studio & Piercing. Studio tato dan tindik yang berdiri sejak 8 September 1990 ini mendapatkan penghargaan oleh dari Dinas Pariwisata Kota Bandung sebagai salah satu aset kebudayaan dan pariwisata Jawa Barat. Didirikan oleh Yusefthia Suwardi yang akrab dipanggil Kent Kent.

Ketika ditemui di studio utama Kent Studio,Jl Wangsareja Gg Ardisasmita No 20, manager studio, Ari yang didampingi salah satu senimannya Kent Tatoo, Bunda mengatakan Kent Studio tak hanya dipublikasikan di Jawa Barat. Sebuah tabloid Taiwan pun pernah memuat tentang Kent Studio.

Tato yang dahulu dianggap sebagai simbol premanisme dan kekerasan kini bisa digunakan untuk menutupi kekurangan tubuh. Itulah salah satu permintaan para pelanggan Kent Tattoo khususnya kaum hawa. Bunda menuturkan, banyak wanita yang meminta tato dibuat untuk menutupi bagian-bagian tubuh yang kurang enak dipandang. Misalnya, bagian perut yang memiliki bekas operasi usus buntu atau bekas luka lainnya.

Biasanya, tato dibuat sesuai dengan anatomi tubuh pelanggan. Sehingga tak hanya aman tetapi memenuhi unsur estetika. "Misalnya jika tato akan dipasang di bagian tangan maka akan gambarnya pun disesuaikan dengan anatomi tangan si pelanggan," tutur Ari.

Kent Tattoo sudah mendapatkan berbagai sertifikat dari banyak lembaga sebagai bentuk dukungan atas legalitasnya. Jadi, untuk para pelanggan yang ingin 'merajah' tubuhnya tak perlu takut untuk mengunjungi Kent Tatto karena dari segi medis, Kent Tattoo terbilang aman. Meski demikian, harus dipikirkan matang-matang sebelum menato tubuh. Menurut Bunda, biasanya setiap pelanggan ditanya terlebih dahulu tentang kesungguhannya agar tidak menyesal di kemudian hari.

Tak hanya rekomendasi dari Dinas Pariwisata, sebagai pionir budaya tato menato di Bandung, Kent Tattoo sudah mencetak berbagai prestasi. Salah satunya masuk ke Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan prestasi melukis pada tubuh (body painting) dengan peserta terbanyak pada Mei 2007 dan sederetan prestasi lainnya.

Jika sudah mantap untuk menato tubuh, bisa datang ke Kent Tattoo, bisa ke studio utama yang cukup berliku-liku di gang kecil atau ke Metro Soekarno Hatta Estate, Jl Venus Timur 10. Selain di Bandung, Kent Tattoo membuka cabangnya di Lampung, Palembang dan Surabaya. Tersedia juga jasa tindik atau piercing. Penasaran informasi lengkapnya? Silakan klik www.kent-tattoo.com.
(ema/twi)

Taman Buru Gunung Masigit dan Kareumbi yang Terlupakan

Bandung - Mendengar kata taman buru, tentu pikiran kita langsung membayangkan seorang pemburu yang menembus hutan, membawa senapan memburu hewan-hewan hutan yang ganas.

Tahukah anda, di daerah kabupaten Bandung, terdapat kawasan hutan buru yang bernama Taman Buru Gunung Masigit dan Kareumbie?

Gunung Masigit dan Kareumbie berada di tiga kabupaten di Jawa Barat. Pintunya terletak di Desa Leuwiliang, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Sebelum tiba pada lokasi ini bila dari Bandung kita akan melewati obyek wisata Curug Cinulang. Apabila sudah memasuki area Taman Buru, sudah masuk ke wilayah Kabupaten Sumedang dan sisanya masuk Kabupaten Garut.

Di kawasan ini terdapat beberapa pusat sumber mata air yang terkenal di antaranya, Sungai Cimanggu dan Sungai Citarik.

Kawasan dengan luas 12.420 hektar ini memiliki potensi biotik flora yang terdiri dari hutan alam dan tumbuh-tumbuhan serta fauna. Jika beruntung, anda masih bisa menemukan macan tutul.

Untuk menuju taman buru, bila anda dari Bandung melewati Cicalengka, yang kemudian dilanjutkan ke Sindangwangi yang jaraknya kira-kira 43 kilometer. Jarak dari Sindangwangi ke lokasi sekitar tiga kilometer.

Sayangnya kondisi jalan buruk, tidak beraspal dan kadang berbatu. Setelah melewati jembatan yang terbuat dari kayu, anda akan tiba di area taman buru.

Kondisi Taman Buru juga sudah tidak terawat. Bahkan ada kantor polisi hutan yang kosong dan beberapa kaca kantornya pecah berantakan.

Menurut sumber dari Dinas Kehutanan Jawa Barat, Taman Buru Gunung Masigit dan Kareumbi diresmikan pada 1976. Meski sudah berjalan 22 tahun, pengelolaan kawasan ini belum mencapai sasaran seperti yang diharapkan, karena belum ada kebijakan yang jelas tentang rencana pengembangan.

Semoga di masa mendatang, pengelolan Taman Buru bisa lebih baik, agar menjadi obyek wisata hutan yang menarik.


aan_sevianto@yahoo.com
alamat: cikutra123(lom/lom)

Menyusuri 10 Jejak Stilasi Bandung Lautan Api

Bandung - Setiap sejarah meninggalkan jejaknya sendiri. Begitupun dengan peristiwa Bandung Lautan Api yang diperingati hari ini, Senin (24/3/2008). Mungkin tidak banyak yang tahu, kalau jejak peristiwa tersebut tidak hanya ada disimbolkan dalam tugu yang berada di Lapangan Tegallega Bandung. Namun beberapa stilasi dibuat untuk mengabadikan perjalanan sejarah yang melingkupi peristiwa Bandung Lautan Api.

Stilasi bisa disebut sebagai monumen mini. Stilasi Bandung lautan Api memiliki konsep bentuk dan bangun dasar berupa prisma tegak, vertikal di atas silinder pipih, geometrik yang memperlihatkan kesederhanaan. Di atas stilasi, dibuat bunga khas Bandung, bunga patrakomala.

Sebanyak 10 stilasi dibuat di beberapa titik sebagai tanda spot-spot yang pernah para pejuang dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Di desain oleh seniman kenamaan Bandung, Sunaryo bekerjasama dengan Bandung Heritage, stilasi ini dibangun di tahun 1997.

Stilasi 1 berada di kawasan Dago, tepatnya Jl Ir H. Juanda-Sultan Agung. Stilasi berada di depan gedung bekas kantor berita Jepang, Domei yang sudah ada sejak tahun 1937. Menurut catatan sejarah, di kantor berita inilah untuk pertama kalinya teks proklamasi dibaca oleh rakyat Bandung.

Beralih ke Jl Braga, di sanalah stilasi 2 berada. Di persimpangan Jl Braga dan Jl Naripan terletak gedung Bank Jabar yang dahulu bernama Gedung Denis. Di gedung ini, pada Oktober 1945, pejuang Bandung Moeljono dan E. Karmas melakukan perobekan bendera Belanda.

Dari Jl Braga menuju Jl Asia Afrika. Di jalan ini tepatnya di Gedung Asuransi Jiwasraya, stilasi ke 3 bisa ditemukan. Dahulu, gedung ini digunakan sebagai markas resimen 8 yang dibangun pada tahun 1922. Menurut kesaksian kol. TNI H. Daeng Kosasih Ardiwinata, pada tanggal 13 Oktober 1945, pimpinan TKR sedang melakukan rapat di gedung ini yang disebutkannya sebagai Gedung NILMIJ, sebelah utara alun-alun.

Stilasi 4 berada di sebuh rumah yang terletak di Jl Simpang. Di tempat inilah dilakukan perumusan serta diambilnya keputusan pembumihangusan kota Bandung. Perintah untuk meninggalkan kota Bandung pun dikomandoi dari rumah ini. Rumah tersebut kini dijadikan tempat tinggal dan maish dalam bentuk aslinya.

Cukup jauh untuk menuju stilasi 5 yang berada di Jl Oto Iskandardinata-Jl Kautamaan Istri. Di Jl Dewi Sartika sebagai salah satu jalur yang dilalui untuk menuju wilayah Bandung Selatan terletak stilasi 6. Dalam sebuah rumah yang juga markas komando Divisi III Siliwangi pimpinan kol. A.H. Nasution. Tempat ini dulunya bernama Regentsweg. Rumah tersebut kini sudah dibongkar.

Untuk mencapai stilasi 7, dari Jl Dewi Sartika menyusuri Jalan Sasakgantung. Melewati perkampungan padat di sisi sungai Cikapundung. Jalan 1000 punten seringkali menjadi sebutan karena jalan di perkampungan ini sempit, sehingga harus cukup sering mengucapkan punten (permisi-red) ketika melewati penduduk yang biasa bersantai di depan rumah. Di persimpangan Jl Lengkong Tengah dan Jl Lengkong Dalam di sanalah stilasi 7 berdiri. Tempat ini merupaka tempat tinggal indo Belanda.

Setelah menyeberangi sungai Cikapundung sampailah di stilasi ke 8. Stilasi 8 berada di Jl Jembatan baru yang merupakan salah satu garis pertahanan pejuang saat terjadi pertempuran Lengkong. Menurut kesaksian Endang Momo dalam catatan sejarah, di tempat ini para pejuang bertahan dari pkl. 08.00-14.00 WIB. Saat itu antara Jl Ciateul-haji Umar diserang bom oleh sekutu.

Selepas dari Jl Jembatan baru, kembali menyusuri pinggir sungai untuk menuju stilasi 9. Stilasi 9 berada di SD ASMI, Jl Asmi. Bangunan utama gedung tidak banyak mengalami perubahan. Tempat ini digunakan sebagai markas pemuda pejuang, PESINDO dan BBRI sebelum terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api.

Dari Jl Asmi menuju Jl M.Toha sebagai jalur utama pengungsian. Stilasi 10 berada di depan sebuah gereja yang terletak di jalan ini. Gereja ini dahulu merupakan gedung pemancar NIROM yang digunakan untuk menyebarluaskan proklamsi kemerdekaan ke seluruh Indonesia dan dunia. Di seberang stilasi inilah, di Taman Tegallega, sebuah tugu kokoh bernama tugu Bandung Lautan Api berdiri. (Sumber : Bandung Heritage).(ema/ern)

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons