Bisnis Kaus Tematik Raup Omzet Rp 55 Juta


Kamis, 26 Maret 2009 | 09:03 WIB

KOMPAS.com — Semakin banyak bermunculan toko baju alternatif atau biasa disebut distro. Menawarkan desain unik dan konsep kreatif, bisnis distro tumbuh subur, khususnya di kota-kota besar. Agaknya orang semakin menyukai produk yang beda dari produk kebanyakan untuk menunjukkan kesan eksklusif.

Sebagian besar distro fokus menggarap pasar remaja dan dewasa. Masih jarang yang melirik pangsa pasar anak anak. Memang, penjual baju anak-anak sudah sangat banyak. Tapi, yang memasarkan dengan konsep distro masih jarang. Ini jelas celah pasar yang menarik untuk digarap.

Peluang inilah yang dengan jeli dimanfaatkan Mukhiban Isnan. Mengusung merek dagang Alit Kids, lelaki berusia 28 tahun ini membuka distro khusus pakaian para bocah. "Target pasar saya adalah anak-anak umur 1-8 tahun," kata Isnan.

Laiknya produk yang dijual di distro, Isnan memasarkan pakaian anak-anak yang berbeda di distronya. Ia membuat desain khusus dengan tema edukatif untuk kaus anak-anak yang dia pasarkan. Temanya beragam. Misalnya, tema cita-cita, pesan bijak, belajar, motivasi, sayang keluarga, dan nuansa Muslim. "Sengaja saya bikin tema edukatif sebagai nilai plus usaha ini," tutur Isnan.

Pemasaran kaus tematik buatan Isnan tak hanya sebatas wilayah Yogyakarta. Kini ia juga sudah mengirim produknya ke Jakarta, Bandung, Balikpapan, Samarinda, dan Makassar.

Isnan memulai usaha ini sejak Juli 2008. "Modal awal saya cuma Rp 5 juta," bebernya. Dengan duit segitu, ia membeli bahan baku kaus dan membayar upah penjahit.

Margin kotor 80 persen

Ketika mulai menekuni bisnis ini, Isnan dan istrinya hanya memiliki delapan tenaga penjahit lepas. Kapasitas produksinya 250 kaus per bulan. Seiring meningkatnya permintaan, kini ia mempekerjakan tenaga penjahit lepas dengan kapasitas produksi 1.500 kaus per bulan.

Kini Isnan bisa meraup omzet Rp 55 juta per bulan. Dari omzet ini, ia mengantongi keuntungan kotor sekitar 80 persen. Lantaran konsep usahanya adalah distro yang menggunakan layanan agen atau toko, laba kotor itu harus dipangkas biaya distribusi. Jadi, "Laba bersih saya sekitar 50 persen, sebab 30 persen lainnya buat jatah agen," paparnya.

Bukan hanya laba usaha ini yang tebal, menurut Isnan, peluang bisnis distro juga menjanjikan. Asal konsisten dengan kualitas produksi dan bahan kaus, konsumen produk ini tak pernah berkurang. Apa lagi, pemain di bisnis baju anak tematik ini juga masih jarang. "Bisnis baju anak banyak. Tapi, yang tematik seperti saya paling hanya dalam hitungan jari," ujarnya.

Berdasarkan pengalaman Isnan, kunci sukses di bisnis ini adalah kejelian melihat selera pasar. "Kita harus melihat apa yang sedang disukai pasar," tandasnya.

Selain itu, bisnis ini harus ditunjang oleh strategi pemasaran yang andal. Salah satu cara efektif, menurut Isnan, untuk memasarkan produk ini adalah dengan berpameran. "Sejak pertama kali membuka usaha sampai sekarang saya rajin ikut pameran," imbuhnya

Selain pameran, Isnan memasang produknya di dunia maya. "Dengan mode pemasaran seperti ini, jika sekarang mau membuka dengan modal di bawah Rp 5 juta juga bisa," bebernya. Dalam perhitungan Isnan, dengan modal sebesar itu sudah bisa membuat kaus. Tinggal menyusun konsep dan desain menarik sehingga orang berminat membeli produk Anda. (Dessy Rosalina/Kontan)

Serba Ringan dan Nyaman dari Up2date


Sabtu, 20 Desember 2008 | 09:28 WIB

Meski siluet yang ditawarkan tak banyak berbeda dari koleksi sebelumnya, tampilan yang ringan dan moderen berhasil membuat koleksi siap pakai up2date ini terlihat lebih urban dan nyaman dipakai.

Bahan kaos spandeks, yang sebetulnya ringan dan nyaman, bukanlah bahan yang lazim dipakai sebagai busana muslim. Tapi, dengan permainan cutting dan konsep padu padan, spandeks menjelma menjadi busana muslim yang berpenampilan ringan dan trendi.

Hal tersebut dibuktikan oleh up2date, merek busana muslim moderen dalam peragaan tunggal perdananya yang bertajuk Transconic 2009 di hotel Four Seasons, Jakarta (17/12) lalu. Transconic, yang merupakan gabungan dari kata transformasi dan iconic itu, memiliki arti perpindahan posisi. "Kami berharap terjadi perpindahan kesan busana muslim sebagai sesuatu yang berat, menjadi sesuatu yang lebih nyaman," kata Tia Wigati, mewakili manajemen up2date.

Meski busana muslim Indonesia telah berkibar sejak lama, namun penggunaannya masih pada kesempatan-kesempatan tertentu saja. Menurut Tia, salah satu faktor penghambatnya adalah kenyamanan. Karena itulah, lewat penggunaan bahan yang nyaman dipakai di cuaca tropis, seperti spandeks, busana muslim bisa dipakai sepanjang tahun layaknya memakai produk busana non muslim.

Busana, tak terkecuali busana muslim, selalu berdekatan dengan perkembangan mode dan gaya hidup. Pengguna busana muslim saat ini pun merupakan penikmat mode yang menginginkan penampilan modis.

Menampilkan 80 rancangan terbarunya, up2date menyajikan parade busana muslim yang tidak saja berani dalam penggunaan bahan, tapi juga dalam warna. Selain memakai warna monokrom dan gelap, beberapa rancangan dikontraskan dengan warna aksesoris. Pada sesi mutation, konsep tumpuk semakin terlihat dengan penggunaan warna matang seperti biru laut, kunyit, dan merah.

Selain spandeks, ditampilkan juga busana yang terbuat dari katun dan rajut. Berbeda dengan produk busana muslim yang ada, koleksi up2date hampir tidak menggunakan unsur dekoratif berupa manik, payet atau kristal. Sesuatu yang serius pun menjadi lebih fun dan trendi dengan ditinggalkannya unsur-unsur dekoratif tadi.

Meski sangat mendukung mobolitas pemakainya, lewat tampilan yang lebih fokus pada bahan dan desain, namun Tia menegaskan koleksinya tetap berpegang pada kaidah dasar busana muslim, yakni panjang, tertutup, dan tidak transparan.

AN

Bisnis Baby Store Online: Untung Cepat, Tak Repot Sewa Tempat (2)


Rabu, 4 Maret 2009 | 18:15 WIB
Laporan wartawan NOVA Ester

Sedikit berbeda dengan usaha yang dimiliki Inge, di www.nenenshop.com milik Brenda Yudistira (31)ini, kita akan menemukan pakaian anak yang bertuliskan kata-kata lucu, seperti ‘ASI is the breast' dan ‘Bunda's Shopping Partner'. Khusus untuk kaos print, ibu dari Lavanya Eliana ini, memberikan harga Rp65 ribu perbuahnya.

Setelah cukup lama berjualan secara online, Brenda kemudian membuka toko yang diberi nama senada dengan website-nya, Nenenshop, di daerah Senopati, Jakarta Selatan. "Membuka toko keperluan bayi yang berusia di bawah 5 tahun sebenarnya tujuan awal kami. Namun, untuk membangun brand ‘Nenen', kami merasa harus memulainya dengan online dulu di tahun 2006," ujar Brenda ketika ditemui di tokonya.

Saat itu, ibu satu anak ini mengeluarkan uang sekitar Rp800 ribu untuk biaya domain dan hosting selama setahun. Selanjutnya, ia mengaku tidak menyiapkan budget khusus untuk membeli barang-barang yang akan dijualnya. "Sedikit demi sedikit, barang-barangnya terkumpul. Semuanya mengalir begitu saja."

Selain kaos, nenenshop juga menjual berbagai baby room, baby bath, buku-buku, care and safety, parcel, makanan, mom's corner, dan mainan. Dan selain melalui distributor, Brenda juga mendapatkan barang-barangnya dari beberapa desainer local, seperti Little Big, Zaralde, HDY, Proclay Art, Zero To Five, Tili, Babadah, dan lainnya. Harga barang-barang di atas berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp3 juta, dimana barang yang termurah itu diberikan untuk finger puppet, sedangkan yang termahal untuk stroller.

Brenda menyediakan proses pemesanan yang praktis dan aman. Caranya, masukan produk yang diinginkan dalam shopping cart, klik check out, dan lihat jumlah total biaya pesanan. Kemudian pemesan menuliskan data lengkap pada lembar konfirmasi yang telah disediakan. Lalu tunggu email konfirmasi balasan yang menyatakan pemesan sudah bisa mentransfer uangnya."Untuk pembayaran, pembeli tinggal memilih berbagai cara pembayaran melalui transfer langsung, melalui atm, via sms banking atau online banking. Tunggu saja dalam waktu 2-3 hari, barang pesanan pasti sudah sampai di tempat tujuan."

Brenda, yang menjalankan usaha ini dibantu penuh sang suami, Yudhistira (31), selalu meng-update barang-barang jualannya minimal 1 bulan sekali. Agar konsumennya selalu mengetahui perubahan yang dilakukannya, Brenda selalu meng-email mereka. Selain itu, Brenda juga aktif mengikuti beberapa milis, blog maupun situs-situs yang terkait dengan dunia bayi. "Saya rasa itu sangat membantu saya untuk mengenalkan Nenen kepada masyarakat dan membangun jaringan."

Dari "Hippie" hingga Distro


Minggu, 21 September 2008 | 05:25 WIB
Laporan Wartawan Kompas, Ninuk Mardiana Pambudy & Budi Suwarna

RABU (17/9) siang itu terasa terik. Pendingin ruang di dalam Bloop, distro di kawasan Tebet Utara, Jakarta Selatan, tidak banyak menolong. Toko berukuran sekitar 200 meter persegi itu penuh dengan pengunjung berbagai umur meski didominasi remaja berseragam putih-abu-abu.

”Saya langganan Bloop sejak kelas 2 SMA. Desain kaosnya bagus-bagus, enggak ada di tempat lain,” kata Iren (21), mahasiswi semester 5 Jurusan Perbankan Yayasan Administrasi Indonesia (YAI).

Iren tetap rajin datang ke sana sebulan sekali atau dua kali karena merasa distro itu ”gue banget”. ”Harganya juga cocok dengan barangnya,” tambah Iren.

Di dalam distro—singkatan dari distribution outlet—penampilan penjaganya tak beda dengan pengunjung, memakai jins dan kaos dan yang laki-laki juga memanjangkan rambut dan diatur acak.

Dengan lantai semen aci, T-shirt tergantung di setiap sudut, ada topi, tas, hingga sepatu perempuan bergaya gladiator, dan mayoritas pengunjung remaja yang datang berombongan, segera terasa distro memang punya ciri independen.

Ada merek yang mengkhususkan diri pada desain dengan warna hitam dan gaya gotik, ada yang mengambil figur babi dalam berbagai bentuk, ada juga yang mengambil bentuk tokoh kartun.

Identitas dan keterbatasan

Distro menjadi muara dari kreativitas anak muda dalam produksi pakaian yang mereka sebut clothing. Yang membedakan dengan ritel biasa, distro dan industri clothing menghidupi dan hidup dari komunitas seperti komunitas band indie dan skateboard.

Distro Hey Folks di Jalan Bumi, Jakarta Selatan, misalnya, didirikan tahun 2006 oleh enam anggota band indie Ballads of the Cliché untuk memanfaatkan rumah kontrakan tempat mereka nongkrong. ”Kalau hanya untuk nongkrong sayang juga. Akhirnya, kami bikin distro,” papar Frederick Rheinhard alias Erick (26), Rabu (17/9) dini hari.

Hey Folks menjual kaos grup band indie, pin, majalah, kaset bekas, piringan hitam bekas, tas, hingga topi. Sebagian dibuat sendiri oleh Hey Folks dengan mengusung Ballads of the Cliché sebagai ciri khas. Yang lain titipan produk grup band indie lain. Dengan cara ini, Hey Folks membangun komunitas yang menjadi pengunjung setia distro itu.

”Awalnya karena kebutuhan membangun identitas, tetapi dalam situasi serba terbatas. Maka, lahirlah industri clothing dan distro,” kata Ketua Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) Tubagus Fiki Chikara Satari (32).

Menurut Fiki, distro sudah ada sejak tahun 1993-1994, tetapi berkembang penuh tahun 1998. Perkembangan itu tidak lepas dari krisis keuangan Indonesia yang menyebabkan remaja dan anak muda tidak mampu lagi membeli barang impor sebagai penanda identitas.

Mulailah satu-dua orang mencoba membuat sendiri perlengkapan komunitas mereka, mulai dari kaos, tas, topi, sepatu, bahkan papan skateboard. Modal mereka mulai dari beberapa ratus ribu rupiah, bahkan ada yang hanya Rp 300.000.

”Ternyata, teman-teman di kelompok mereka tertarik dan mau membeli. Jadi, awalnya sama sekali bukan bisnis, melainkan benar-benar untuk identitas diri,” jelas Fiki.

Kata independen menunjukkan mereka memang tidak berafiliasi dengan industri ritel dan bisnis garmen besar. Ini lagi-lagi berangkat dari keterbatasan, yaitu modal untuk memasok ke ritel besar. Sementara bila memasok ke distro, kuantitas tak perlu besar.

”Boleh empat potong sampai selusin. Dengan produksi kecil itu sebetulnya produk juga jadi eksklusif,” kata Theresia Alit Widyasari, bungsu dari tiga bersaudara pemilik distro Bloop dan Endorse. Di situ pula keunggulan industri clothing karena mereka memproduksi berbagai desain dalam kuantitas kecil sehingga terjaga eksklusivitas produk mereka.

Distro tidak bisa lepas dari komunitas sehingga distro harus rajin membuat paket promosi yang berhubungan dengan komunitas, antara lain mensponsori pertunjukan band indie, membuat lomba skateboard, sampai membuat majalah promosi.

Fiki memiliki bus yang berkeliling ke berbagai kota di Jawa Barat. Selain menawarkan produk, bus itu juga berfungsi sebagai sarana membangun komunitas dan menularkan pengetahuan kepada distro di kota-kota luar Bandung.

”Bus itu dilengkapi sound system 4.000 watt. Bisa bikin pertunjukan band indie. Juga ada layar televisi plasma di belakang bus,” jelas Fiki yang memiliki merek Airplane.

Berbeda

Distro dan industri clothing kini sudah menjadi industri besar meskipun pelakunya banyak yang berskala kecil atau amat kecil. Menurut Fiki, setidaknya terdapat 400 industri clothing dan distro di Bandung dengan omzet Rp 25 miliar per bulan. Distro pun sudah menyebar di 94 kota di Indonesia.

Mode indie di Indonesia memiliki beberapa kemiripan dengan apa yang terjadi di Barat atau di Jepang. Komunitas anak muda yang merasa tak terwakili identitasnya oleh mode utama dan jaringan ritel besar mencari jawaban dengan modenya sendiri.

Di Tokyo lahir gaya Harajuku yang terbagi menjadi belasan subgaya. Di Barat lahir beatnik pada tahun 1950-an, hippie pada 1960-an, dan punk pada 1980-an dengan subgaya seperti skinhead, hardrock, dan heavymetal.

Gaya hippie mencirikan diri mereka dengan baju motif berbunga, baju dengan jurai di bagian tepi, dan rambut panjang, sementara punk menegaskan identitas mereka melalui rantai, jins koyak, serta rambut berdiri dan dicat pucat.

Mereka sengaja menjaga jarak dan membedakan diri dari kelompok budaya utama di masyarakat. Meskipun kelompok ini ada dari kelompok minoritas, tetapi di Barat motornya adalah anak muda kelas menengah (Fred Davies, 1994, Fashion, Culture, and Identity).

Meski begitu, pada pergantian abad ke-20, arus utama mode mulai mengadopsi berbagai gaya yang berasal dari pinggir, yang ”liyan”. Desainer muda yang muncul pada era itu, entah karena mengalami sendiri atau karena melihat, dan ingin muncul dengan ”gaya berbeda” lalu mengadopsi gaya berpakaian ekstrem itu, seperti Jean-Paul Gauliter dan Vivienne Westwood pada awal karier mereka. Kini, keduanya adalah desainer dan pengusaha mode besar di arus utama.


Sumber : Kompas Cetak

Mengintip Peluang Baju Lukisan Tangan


Senin, 28 Juli 2008 | 06:02 WIB

Setiap orang pasti merasa bangga jika disain pakaian yang dikenakannya cuma satu-satunya di dunia. Apalagi kalau pakaian tersebut merupakan perpaduan antara bahan tekstil berkualitas baik dengan seni lukis bernilai tinggi. Wajar saja kalau harga yang harus dibayarkan untuk memiliki pakaian tersebut sangat mahal.

Peluang itulah yang dimanfaatkan pasangan suami istri Yudi Yudiantara dan Gilang Kancana, pemilik galeri E'Mouw Painted Textiles di Kota Bandung. Yudi bertutur, dari awal, ia dan istrinya memang sengaja menjalani bisnis tersebut. Sejak menikah di awal tahun 2000, dua sejoli ini memang berniat berwiraswasta. "Tapi, kami ingin membuat kerajinan yang beda. Suatu kerajinan yang secara desain dan prosesnya tidak gampang ditiru orang," kenang Yudi.

Akhirnya pilihannya jatuh pada meneruskan usaha keluarga Yudi, yaitu membuat pakaian yang dibubuhi karya seni lukis. Pemain di bidang usaha ini memang jarang. Sang istri lantas membuat beragam sketsa lukisan berikut model pakaian yang elegan dan mengikuti tren fashion saat itu. Setidaknya, dibutuhkan waktu selama satu tahun untuk membuat disain-disain baru guna menggusur desain warisan keluarga yang memang sudah ketinggalan zaman.

Pameran pertama yang diikuti Yudi digelar bulan Juli 2001 di Bandung. Awalnya, untuk memperkenalkan pakaian kreasi baru itu memang terasa berat. Terutama karena harganya yang lumayan mahal. Usai pameran itu, Yudi dan Gilang hanya mendapat pesanan 15 potong pakaian. Tapi bukannya lantas menyerah kalah. Keduanya justru semakin sering mengikuti pameran di beberapa kota di Indonesia. Akhirnya, semakin banyak penggemar pakaian lukis datang sendiri ke galeri mereka di Bandung

Rajin ikut pameran

Dengan dibantu lima orang karyawan, saat ini produksi pakaian lukis merek E'MouW bisa mencapai angka 100 potong setiap bulan. "Ada atau tidak ada pesanan, kita tetap memproduksi sebanyak itu, baik berbahan sutera atau polyester," kata Yudi.

Tahun lalu, ia mengaku mendapat pesanan 480 blouse dari sebuah perusahaan swasta untuk seragam karyawatinya. Pesanan itu ia mampu diselesaikannya dalam 2,5 bulan. Di luar itu, Yudi juga pernah mengikuti pameran sampai luar negeri, diantaranya Kuala Lumpur, New Delhi, serta Berlin, Jerman.

Harga satu potong pakaian lukis bervariasi. Mulai dari Rp 75.000 sampai Rp 5 juta. Harga yang paling murah untuk kaos berbahan polyester yang dilukis dengan cat tekstil pigmen, sementara yang paling mahal berupa gaun malam berbahan sutera yang dilukis menggunakan cat tekstil reaktif.

Selain karena faktor bahan baku, perbedaan harga itu, menurut Sarjana Teknik Mesin Institut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta ini, juga dihitung dari tingkat kerumitan dan lamanya proses pengerjaan. "Ada kaos yang harganya sampai Rp 250.000 menggunakan cat tekstil reaktif. Itu pengerjaannya bisa tiga hari sampai seminggu. Sementara, kalau yang menggunakan cat tekstil pigmen bisa murah karena satu hari sudah bisa selesai," terangnya.

Untung, Yudi bukanlah seseorang yang pelit ilmu. Menurutnya, ada beberapa tahap yang harus dilakukan untuk membuat pakaian lukis. Pertama, kain sutera, katun, atau polyester berwarna putih diberi pola dasar terlebih dulu.

Setelah itu, kain tersebut direndam dan diberi warna dasar sesuai yang diinginkan. Baru setelah itu dilukis sesuai pola. Setelah itu, kain berpola itu dipanaskan. Untuk bahan sutera, pemanasan menggunakan steam. Sementara, yang berbahan polyester cukup pakai setrika. Tujuannya, supaya warna tidak berubah dan menempel di bahan. Setelah itu, baru tahap finishing.

"Kalau ada warna yang kurang, kami tambahin. Kelihatannya sederhana. Tetapi, begitu praktek tetap saja rumit. Soalnya, sering.timbul warna yang enggak sesuai," jelas Yudi.

Dengan harga jual segitu, wajar kalau Yudi dan Gilang bisa mengantongi omzet rata-rata Rp 30 juta setiap bulan. Selain itu, dari harga jual di atas, paling tidak mereka mengutip keuntungan sebesar 50 persen. Maklum, produk pakaian lukis ini sangat erat hubungannya dengan karya seni yang perlu dihargai tinggi.

Ke depan, Yudi dan Gilang berencana mengembangkan bidang usahanya. Tidak hanya membuat pakaian lukis, tetap juga akan dimanfaatkan untuk menjamah usaha disain interior. "Harganya bisa sampai Rp 10 juta untuk jasa disain interior. Bentuknya bisa lukisan buat hiasan dinding atau pemisah ruangan," tambahnya. (Gentur Putro Jati)

Cihampelas Yang Harus Tetap Khas



Kamis, 5 Juni 2008 | 06:15 WIB

Serombongan gadis muda yang tengah berwisata duduk berderet di kedai makanan di Jalan Banda, Kota Bandung. Seorang di antaranya berambut panjang. "Yuk jalan-jalan ke Cihampelas. Masak, liburan di Bandung enggak ke Cihampelas," ujar si rambut panjang riang sambil beranjak memberikan ajakan.

Kota Bandung sangat identik dengan Kawasan Cihampelas. Berdasarkan legenda, sebutan Cihampelas berasal dari nama kolam pemandian yang terletak di sisi jalan kecil Cihampelas, yaitu Jalan Taman Hewan. Kata Cihampelas konon berasal dari nama pohon Hampelas yang pada saat pembuatan kolam tahun 1904 banyak tumbuh di sekitar kolam.

Pencitraan Cihampelas sebagai pusat perbelanjaan busana mulai berlangsung sejak 28 tahun lalu. Pada tahun 1980, Kawasan pertokoan Cihampelas terkenal dengan produk khasnya , yaitu pakaian berbahan kain denim atau sering disebut jeans.

Kekhasan Cihampelas dengan jeans mulai melegenda bersamaan dengan ramainya Kawasan Cibaduyut sebagai sentra produksi sepatu. Kekhususan dua tempat ini dengan produknya jeans dan sepatu menjadikan sejumlah wisatawan kurang merasa afdol jika belum bertandang.

Seiring berkembangnya sejumlah factory outlet atau FO pada tahun 2000 yang banyak menawarkan pakaian jadi sisa ekspor, kawasan pertokoan Cihampelas ikut menghanyutkan diri dengan menamai diri menjadi FO. Waktu itu, keramaian jalanan Cihampelas sempat terpecah karena banyaknya FO yang bertebaran di penjuru Kota Bandung.

Setelah FO bermunculan, pertokoan Cihampelas mulai beralih dari fokus pakaian jeans ke jenis pakaian lain, entah celana, jaket, kemeja, topi, hingga tas. "Kami mulai melengkapi diri," kata General Manajer Korek Api Jeans Group, Soenyali Soly, Selasa (4/6) di Bandung.

Untuk mendongkrak minat pengunjung, PT korek Api Guna Mandiri yang mengelola 16 buah toko di sepanjang Jalan Cihampelas memilih trik menempelkan nama-nama tokoh komik legendaris. Personifikasi tokoh-tokoh komik legendaris luar negeri tersebut bahkan diekspose secara berlebih dalam bentuk patung-patung raksasa, entah itu Batman, Superman, Spiderman, Tarzan, Cat Woman hingga yang terbaru Ironman.

"Kami memang sengaja memilih nama-nama tokoh yang abadi dan menampilkannya secara mencolok agar pengunjung terkesan. Jika produk kami ditampilkan begitu saja, mungkin dagangan kami tak ada bedanya dengan toko-toko lainnya," ungkap Soly.

Menangkap prospek bisnis di Kawasan Cihampelas, Tahun 2004, PT Karya Abadi Samarga akhirnya membangun mal berciri open air concept dengan nama Cihampelas Walk atau Ciwalk. Pusat perbelanjaan yang dibangun di atas bekas pabrik daging PT Mantrus pada era penjajahan Belanda tersebut berusaha menampilkan diri sebagai mal yang asri.Tak heran, beberapa pohon berukuran besar tetap dibiarkan berdiri kokoh di sekitar kawasan mal dan bahkan ditambah dengan sejumlah pohon baru sebagai peneduh.

"Konsep Ciwalk disesuaikan dengan situasi Kota Bandung yang sejuk dan asri. Wisatawan entah dari Jakarta atau daerah lain barangkali sudah terbiasa berkunjung ke mal. Karena itu, mal Ciwalk menawarkan suasana yang Bandung banget," kata General Manajer Ciwalk Chairiah.

Sebagai mal berkonsep terbuka, pengunjung dapat bebas berjalan-jalan menikmati suasana dan menghirup udara segar sembari berbelanja. Bermacam-macam restoran ditampilkan dengan kursi pengunjung berada di luar ruangan. Sementara, pengunjung yang tak berbelanja pun dapat duduk santai di kursi-kursi pelataran mal.

Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati bermacam-macam hiburan, seperti billiar, karaoke, bioskop, hingga talent box dimana orang bisa bernyanyi sepuas mungkin kemudian merekam sendiri suara dan aksinya dalam bentuk kepingan compact disk.

Kehadiran Ciwalk semakin menambah ke gairahan Kawasan Cihampelas. Di hari biasa, sekitar 3.000 mobil singgah di Ciwalk dan bahkan pada akhir pekan 7.000 mobil silih berganti memasuki mal tersebut. Tak heran, jalanan di sepanjang Cihampelas selalu dipadati kendaraan bermotor.

Karena potensi bisnis wisata yang menjanjikan, Pemerintah Kota Bandung telah menetapkan Kawasan Cihampelas menjadi salah satu bagian dari lima kawasan revitalisasi wisata. Empat kawasan wisata Kota Bandung lainnya adalah Cibaduyut dengan produ k sepatunya, Suci dengan produk kaos, Cigondewah dengan produk kain, dan Binong Jati dengan produks rajut.

Wiwin Fitriani, seorang wisatawan domestik asal Tangerang mengaku kerepotan ketika harus jalan dan menyeberang Jalan Cihampelas. "Mau jalan aja sulitnya minta ampun. Semua jalan habis dipakai mobil , sepeda motor, parkir, dan kaki lima," keluhnya.

Menurut Wiwin, Cihampelas telah banyak berubah dengan padatnya kendaraan bermotor , rusakknya jalan, serta udara yang mulai panas. Produk-produk yang ditawarkan di Cihampelas sebenarnya ada juga di tempat lain, seperti Tanah Abang dan Mangg a Dua. Bahkan, kadang barang-barang di sana jauh lebih bagus dan murah. Tetapi, orang banyak memilih tempat ini karena suasananya. Jadi, agar tetap mengesankan, Cihampelas harus tetap mempertahankan kekhasannya, tambahnya. (A01)

Alexandra, Bisnis Distro Modal Pinjaman

Selasa, 9 Desember 2008 | 12:44 WIB

Muda usia, tapi penuh prestasi. Tak hanya mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional lewat lukisan indahnya, mojang kelahiran Bandung, 17 April 1990 ini juga giat mengumpulkan rupiah lewat bisnis distro. "Mumpung masih muda," demikian alasan pemilik nama Alexandra ini penuh semangat.

Kecil-kecil kamu sudah sibuk berbisnis sambil terus melukis. Kenapa?
Karena saya masih muda jadi harus semangat terus. Mumpung masih muda saya ingin melakukan banyak hal. Kalau usia saya sudah terlalu tua, belum tentu saya akan mendapatkan kesempatan yang sama. Saya melihat banyak orang sukses karena memulai karirnya dari nol, sejak mereka masih sangat muda dan belum memiliki apa pun. Saya bisa berada di posisi sekarang juga kan karena sudah memulainya sejak awal.

Memang sudah senang melukis dari kecil?
Iya. Aku melukis sejak usia balita. Pertama sih, cuma corat-coret di atas kertas, lama-lama diseriusin sama orangtua dengan rajin mengikutsertakan aku di berbagai lomba lukis. Ini sejak TK. Dari situ aku beberapa kali menang lomba lukis antar sekolah di Bandung, se-Jawa Barat, hingga tingkat internasional.

Pertama kali mendapatkan penghargaan internasional?
Juara internasional pertamaku waktu di Niigata, Jepang, dimana aku dapat medali perak. Saat itu usiaku masih 12 tahun, sekitar kelas 6 SD. Peserta dari Indonesia banyak sekali, lo, karena yang ikut kan, bukan dari sanggar Papa aja. Makanya ketika medalinya dikirim ke sini, aku senang bukan main.
(Di ajang internasional, Alexandra selain pernah mendapatkan Silver Prize di The 6th Niigata Biennial International Children Art Exibition tahun 2002, juga menjuarai The 12th International Competition of Children's and Youth Art Creativity "Always Green Always Blue" Polandia tahun 2002 dan 2007, Morizo and Kiccoro Special Prize pada "One Hundred Tales of Morizo and Kiccoro Picture Contest" Aichi, Jepang tahun 2005, The 4th International Children Art Biennale, Bangladesh tahun 2006)

Memang orangtua yang mengarahkan kamu menjadi pelukis?
Papa dan kakekku memang pelukis. Tapi mereka sama sekali tidak mengarahkan aku. Bakat itu keluar begitu saja. Ya, mungkin karena sudah turunan, ya. Kebetulan Papa juga kan punya sanggar lukis di Bandung jadi aku bisa ikutan belajar di sana. (Alexandra tak ingin nama Ayah-Ibunya dipublikasikan. Ia tak mau orang melihat dirinya dari siapa yang menjadi orangtuanya)

Tapi kenapa kamu malah buka distro, bukannya galeri?
Waktu aku kelas 2 di SMP St Alloysius, Bandung, aku dikasih project bikin kaos di kelasku. Ternyata, kaos buatanku disukai teman-teman dari kelas lain. Sejak itu aku mulai kebanjiran order untuk bikin kaos pesanan mereka.

Nah, tepat di depan sekolahku kan, banyak sekali berdiri distro dan butik-butik baru. Dari situ timbul keinginan punya distro sendiri. Akhirnya, setahun kemudian, aku membuka distro sendiri, Soul Artist, enggak jauh dari sekolah juga. Tepatnya di Jalan Bahureksa.

Enggak mengganggu urusan melukis?
Tapi, aku tetap kok, melukis. Kalau tidak ada halangan, tahun depan aku ingin pameran tunggal. Sekarang sedang berusaha menambah koleksi lukisan, supaya cukup untuk pameran. Kan, biasanya lukisan yang dibutuhkan minimal 30 buah. Sedangkan aku baru punya belasan.

Enggak ada konsep khusus untuk pameran tunggalku nanti. Karena ini baru pertama kali, aku hanya ingin menampilkan apa adanya aku dulu, tidak mengotakkan diri pada satu tema khusus.

Sekarang, aku sedang menyelesaikan satu lukisan di atas kanvas sepanjang 1,8 meter. Ya, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa selesai.

Dari sekian banyak lukisan yang kamu buat, mana yang paling berkesan?
Semua lukisan yang kubuat sangat berkesan dan punya makna sendiri. Aku terbiasa membuat lukisan yang berawal dari sebuah inspirasi. Jadi enggak pernah asal melukis, selalu ada konsepnya. Semua punya cerita tersendiri.
Ada sih, beberapa karyaku, entah itu di media lukis atau T-Shirt yang tidak dengan mudah dimengerti orang. Menurutku ini wajar aja, karena mungkin orang lain belum pernah memiliki pengalaman seperti yang kualami. Jadi tentu dia sulit mengartikan karyaku.

Aliran lukisan yang kamu pilih?
Lukisanku sekarang lebih ke kontemporer. Dulu, karena masih dalam tahap pembelajaran, jadi suka ganti-ganti. Sekarang sih, aku sudah yakin di kontemporer. Aku pilih kontemporer karena alirannya menganut paham bebas dan tidak terpaku pada satu pakem.
Salah satu pelukis favoritku adalah Chris Lewis yang dari Amerika Serikat. Dia itu pelukis yang senang sekali melukis objek naturalis dengan menggunakan cat minyak.

Distro kamu ini awalnya dibuka dengan modal sendiri?
Wah, darimana uangnya? Enggaklah. Papa kok, yang memberi modal awalnya. Tapi alhamdulillah, dalam waktu beberapa tahun saja aku sudah bisa melunasinya kembali.

Produk yang dijual, kamu desain sendiri?
Iya. Tapi ada juga beberapa T-Shirt yang dijual di sini yang bukan label clothing aku, melainkan clothing milik temanku, tapi kebetulan aku juga yang mendesain. Selain itu aku juga menjual T-Shirt band-band luar negeri seperti Amerika Serikat yang kupesan melalui online.

Bagaimana kamu membagi waktu antara belajar, melukis, dan bisnis?
Nilaiku di sekolah sih, standar-standar aja, ya (saat ini Alexandra sekolah di SMU 3 Bandung, jurusan IPA). Pulang sekolah, biasanya aku di distro dan Café.
(Distro milik Alexandra satu bangunan dengan Café Remboelan yang merupakan kafe milik orangtuanya. Jadi, setiap hari, sambil menjaga butiknya, Alexandra juga bertugas menjaga kafe orangtuanya)

Kadang aku juga mengerjakan lukisanku di sini. Di waktu luang, aku menghabiskan waktu dengan nge-band bareng teman-teman. Selain itu aku juga sedang membuat beberapa lagu untuk bikin demo album sebagai penyanyi solo.

Kamu bermusik juga?
Iya. Aku punya dua band, salah satunya bernama Demons Good for Children. Di kedua band tersebut aku berperan sebagai vokalis dan dua-duanya juga beraliran metal hardcore. Sedangkan di proyek solo, aku lebih bermain di pop alternative. Aku sadar masyarakat kita belum terbiasa dengan aliran musik yang keras makanya aku pilih yang sedikit lembut. Hehehe.

Kenapa hardcore?
Enggak tahu juga, ya. Mungkin karena terpengaruh Mamaku yang juga suka hardcore.

Bisa main alat musik?
Bisa juga (sambil tertawa). Aku menguasai gitar dan piano. Aku ikut les piano sejak kelas 2 SD hingga 1 SMP. Setelah itu les gitar selama 3 tahun. Sekarang karena sudah mengerti bagaimana bermain musik dengan baik jadi tidak les lagi. Tinggal memantapkan saja.

Kalau bisa memilih, kamu mau jadi pelukis, penyanyi, atau pebisnis, sih?
Kalau ditanya begitu, aku akan jawab ingin menjalani semuanya. Tapi, jujur, prioritasku sebenarnya ingin jadi penyanyi solo. Makanya aku serius sekali berupaya merampungkan demo album soloku. Kalau sudah selesai, aku ingin segera kirim ke label rekaman, Aksara atau Sony.

Tetapi melukis akan jalan terus?
Tetap akan kuasah karena ini kan juga salah satu anugerah Tuhan buat aku. Setelah lulus SMU nanti aku mau coba daftar beasiswa ITB untuk jurusan desain seni rupa. Ngomong-ngomong, aku masuk SMU 3 Bandung ini juga beasiswa karena prestasi di bidang lukis.
Intinya, aku tidak mau stuck di satu bidang keahlian saja. Aku masih muda. Aku mau mengoptimalkan semua kemampuanku hingga tak terbatas. Aku tidak mau apa yang kumiliki hanya berhenti di sini saja.

Pesan untuk anak-anak seusiamu?
Capailah apa yang bisa kamu capai sekarang. Jangan tunggu nanti!

Ester

Menjual Jakarta Lewat Desain

Selasa, 7 April 2009 | 13:44 WIB
Laporan wartawan WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

APA yang Anda cari jika Anda berkesempatan mengunjungi sebuah kota baik di dalam maupun luar negeri. Daftar panjang akan jadi jawabnya. Tapi setidaknya, ada satu yang paling penting, sesuatu sebagai cinderamata, sebagai memori, kenangan, peringatan akan tempat yang pernah Anda kunjungi itu. Barangkali tak hanya melulu untuk sebuah kenangan, karena bisa jadi itu sebagai simbol kebanggaan atas kota atau bagian dari kota tertentu. Sangat lumrah juga cinderamata jadi oleh-oleh buat mereka yang barangkali belum berkesempatan mengunjungi satu tempat.

Setidaknya sudah sejak 1500 tahun lalu para pelancong punya kebiasaan membawa pergi sesuatu dari tempat yang mereka kunjungi. Bentuknya bisa apa saja, dari yang sangat sederhana dan tanpa biaya semisal batu karang atau kerang dari laut hingga ke emblem, asbak, tas, tempat rokok, topi, kaos, mug, atau bahkan lukisan dan patung.

Terserah pilih yang mana, sesuai kocek. Yang penting, suvenir menjadi salah satu kekuatan dan penunjang pariwisata sebuah kota.

Bagaimana dengan Jakarta? Jakarta boleh dengan sombong dan lantang menyebut diri sebagai ibukota, sebagai kota metropolitan, bahkan megapolitan. Entahlah, sampai di mana kepahaman pemerintah, khususnya Pemprop DKI, akan apa arti semua label itu. Di benak hampir semua orang sekarang, Jakarta identik dengan macet. Tentu masih berderet lagi citra Jakarta yang tak enak didengar.

Menggerakkan wisatawan, baik dalam maupun luar negeri, untuk tak sekadar transit di Jakarta tapi menetapkan Jakarta sebagai tujuan tentu jadi tak mudah dengan semua kondisi yang kini sedang terjadi. Ditambah tak efektifnya pihak Dinas Pariwisata DKI yang tak juga mendorong tumbuhnya usaha kecil menengah (UKM) yang bersaing di bidang suvenir, khusus Jakarta, tentunya.

Buktinya? Di mana ada pusat jajan segala sesuatu yang khas Jakarta atau pusat suvenir yang juga khas Jakarta? Paling-paling Anda dirujuk ke Setu Babakan, kampung Betawi yang jadi pengganti cagar budaya Condet. Itu pun tak bakal memenuhi apa yang Anda ingin dapatkan. Lantas, di mana Anda bisa mendapatkan kaos, pin, topi, mug, gantungan kunci, atau apapun berbau Jakarta yang tak bergambar lagi-lagi Monas. Sesuatu yang lebih kreatif, menarik, mengundang orang, Jakarta sekalipun, untuk merogoh kocek.

Suatu hari di suatu acara di tahun ini, Warta Kota menangkap ada gelagat yang menjanjikan, ada seorang anak muda yang membuka stan mungil dan menjual segala sesuatu tentang Jakarta. Paling mencolok memang kaos. Desainnya, cukup beragam dan dengan kualitas yang tidak memalukan. Malah, tak ada gambar Monas kali ini. Di meja mungil ternyata ada juga pin. Desain yang menyegarkan, karena belum pernah ada.

Jakarta 1527, begitu bunyi label-nya, dengan latar gambar peta Jakarta. Ternyata, sebelum ini, Warta Kota sudah melihat kaos produksi Jakarta 1527 berdesain menara Museum Sejarah Jakarta bertuliskan sesuatu tentang salah satu acara di museum. Dan, glow in the dark, pula! Ternyata, itu salah satu produk anak muda bernama Agustinus ini.

Pemberian nama atau label Jakarta 1527 dengan peta Jakarta dimaksudkan agar warga Jakarta ingat, cikal bakal Jakarta dimulai tahun tersebut. Yaitu ketika Pelabuhan Sunda Kelapa diserang tentara Demak pimpinan Fatahillah dan pada 1527 Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa serta menamakannya Jayakarta.

Penjualan suvenir ini kini tak hanya ada di beberapa museum, seperti Museum Bank Mandiri, tapi juga di setiap ada acara khususnya yang terkait dengan museum. Agus, begitu dia biasa dipanggil, juga tak melupakan warga lain yang tak sempat hadir ke acara di mana dia menggelar produk. Maka masuklah Google, ketik Jakarta 1527. Dari sana, Anda bisa melihat produk dan kemudian pesan. Setelah membayar, pesanan diantar.

Satu hal lagi, Anda tak perlu bingung mencarikan suvenir jika ada rekan atau tamu anda bertandang ke Jakarta atau memberikannya sebagai hadiah. Lagian, di Jakarta kan tak cuma ada Monas. Gali lagi lebih dalam, ada yang jauh lebih menarik yang bisa dijadikan suvenir khas Jakarta.

Dagadu, Merayu Lewat Kaus, Omzet Pun Miliaran

Senin, 29 September 2008 | 07:23 WIB

KATA-kata ternyata bukan cuma ampuh merayu pasangan agar luluh hatinya. Namun, kata-kata pun lumayan sedap dipandang. Buktinya, kaus oblong yang cuma menampilkan kata-kata bukannya gambar laku keras.

Berkat menjual kata-kata pada kaus oblong, beberapa kelompok anak muda yang melakoni bisnis ini bisa menggaet fulus jutaan rupiah per hari. Saban hari, Dagadu, produsen kaus asal Yogyakarta menggaet pemasukan rata-rata Rp 5,5 juta per hari. Dalam satu bulan, Dagadu bisa meraup omset sekitar Rp 1 miliar. Jika memasuki masa liburan sekolah, Lebaran, dan akhir tahun, pemasukan bisa lebih banyak lagi.

"Pada hari-hari biasa kami bisa menjual 2.000-3.000 oblong setiap bulan. Belum merchandise lainnya. Saat musim liburan seperti Lebaran atau Tahun Baru, penjualan kami bisa menyentuh 5.000 potong," kata salah seorang pendiri Dagadu Djokdja, Ahmad Nur Arief.

Semula, Dagadu Djokdja berawal dari keisengan 25 mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ditawari membuka kios kaki lima di Malioboro Mall pada 1994. Untuk itu, mereka berpatungan sampai akhirnya terkumpul Rp 4 juta yang kemudian dijadikan modal awal.

Dengan modal itu, mereka memproduksi cinderamata kaus oblong khas Yogyakarta. Oblong dengan desain kreatif dan penuh plesetan. "Waktu itu oblong adalah favorit kami semasa masih mahasiswa. Jadi kalau tidak diapresiasikan masyarakat, bisa kami pakai sendiri. Masalah penamaan juga hanya spontan saja," tutur Arief yang juga sebagai Managing Director Daagadu Djokdja ini.

Pada 19 Januari 1994, mereka membuka 'dasaran' di lower ground Malioboro Mall. Saat itu dijadikan sebagai hari lahir Dagadu. Untuk menunjukkan lokalitas asal cinderamata, mereka kemudian menambahkan kata 'Djokdja' dengan ejaan lama. Kreativitas plesetan mereka ternyata meledak. Kini, 14 tahun sudah mereka sukses memplesetkan Yogyakarta.

Produk mereka pun tak hanya oblong, tapi juga beragam merchandise seperti pin, topi, dompet, mug, kunci, stiker, sweater, dan banyak lagi. Dengan konsep menjadi cinderamata alternatif, Dagadu Djokdja telah menjadi oleh-oleh khas Yogyakarta. Gerai mereka pun berkembang menjadi tiga, Posyandu (Pos Pelayanan Dagadu) di Malioboro Mall, UGD (Unit Gawat Dagadu) di Pakuningratan, dan DPRD (Djawatan Pelajanan Resmi Dagadu) di Ambarukmo Plaza. Selain itu juga ada gerai maya yang disebut pesawat atau Pesanan Lewat Kawat dan melayani pembelian secara online.

Arief mengaku sempat direpotkan dengan bermunculannya produk-produk imitasi yang bertebaran di setiap sudut kota. Padahal, pihaknya telah mengurus perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan mendaftarkan beberapa merek dagangnya. Untuk mengatasinya, Dagadu berulang kali melancarkan kampanye ke masyarakat agar tidak memakai produk bajakan. "Kami terus malakukan sosialisasi tentang Marilah PD (Percaya Diri) dengan ciptaan kita sendiri dan marilah kita malu memakai ciptaan orang lain. Tapi terus terang beberapa teman-teman agak pesimis dengan hal itu," kata Arief.

Selain itu, Dagadu mengganti desainnya secara berkala. Dalam seminggu ada empat desain baru yang diluncurkan dan dalam setahun terdapat puluhan desain baru. Desain yang ditampilkan selalu memerhatikan situasi dan kondisi yang ada dalam masyarakat. "Singkatnya sesuai zaman agar masyarakat tidak bosan," kata Arief.

Menurut Arief, peluang dalam bisnis ini masih terbuka lebar. Modalnya tidak mahal dan dapat menghasilkan pemasukan berlipat. Yang penting adalah kreatif agar tetap eksis.

ANI

Belanja Kebutuhan Si Kecil Lewat Dunia Maya: Telepon, Barang Pun Datang (1)

Rabu, 5 November 2008 | 09:48 WIB

Zaralde

Adalah Ninit Yunita (30) dan Muti Hudiyana (30), dua sekawan yang punya mimpi sama sejak masih berteman di bangku SMU, yakni punya bisnis yang bisa dijalankan dari rumah.

Setelah masing-masing menikah dan punya anak, hasrat berbisnis dari rumah tersebut ternyata semakin besar. Akhirnya, tepat 1 Februari 2008, keduanya lantas meluncurkan www.zaralde.com. Nama ini adalah singkatan dari kedua nama anak Muti dan Ninit, yaitu Aisya Tazara (putra Muti), dan Aldebaran Rahman Adhitya (putra Ninit). Situs ini menyediakan aneka kaos untuk anak-anak (belakangan juga untuk ayah dan bunda).

Kaos yang mereka tawarkan unik, karena berdesain simpel, dengan tulisan-tulisan yang menggelitik. Misalnya, Dangerously beautiful, Most loved by daddy, Cute is my middle name, I'm a genius, atau Got milk?

Kenapa online? "Itu adalah pilihan kami karena Ninit tinggal di Singapura sehingga agak sulit kalau kami membuka toko biasa. Dengan toko online, mau berdomisili di mana saja, tidak jadi hambatan. Selain itu, biaya juga dapat dihemat karena tidak harus membayar sewa tempat maupun listrik, seperti jika memiliki toko," jelas Muti.

Berdasarkan pengalaman sebagai ibu, Ninit dan Muti memilih menjual kaos dengan alasan produk tersebut dapat digunakan sehari-hari. "Batita, kan, biasanya ganti baju beberapa dalam sehari, jadi perlu butuh banget kaos yang bahannya nyaman dan tidak panas. Selama ini tak mudah menemukan kaos yang lucu dan bagus untuk usia batita."

Dari sinilah keduanya sepakat menetapkan target pasar, ibu muda yang baru punya anak. "Setiap ibu pasti ingin anaknya tampil dengan kaos yang nyaman sekaligus lucu desainnya. Nah, hampir semua orang tersenyum bila melihat anak-anak yang mengenakan kaus zaralde," ujar Ninit dan Muti yang yakin produk mereka bakal memikat pembeli.

"Masalahnya, kan, enggak mudah menemukan kaos anak-anak dengan desain kata-kata yang positif, simpel, dan lucu. Itu kelebihan kami. Kebanyakan yang ada di pasaran, kan, kaos anak-anak bergambar saja."

Promosi dari Mulut ke Mulut

Ternyata jalan pemikiran Ninit dan Muti tak meleset. Bisnis mereka berkembang pesat dan mendapat respon yang sangat positif dari pasar. "Para konsumen senang dengan t-shirt kami. Puas dengan bahan dan desainnya. Baru sebentar ada di situs, sudah sold out."

Yang membuat keduanya tambah senang, "Cita-cita kami bekerja di rumah dan tetap produktif, tercapai. Jadi, tetap ada di dekat anak sehingga bisa memantau perkembangannya setiap hari," papar Ninit yang juga seorang penulis novel laris.

Sementara ini, Zaralde baru menyediakan ukuran hingga usia 36 bulan. "Sekarang kami sedang menyiapkan untuk anak di atas 36 bulan." Tak hanya itu, Ninit dan Muti pun memikirkan pengembangan produk di luar t-shirt. "Saat ini, selain t-shirts, zaralde juga menyediakan diaper bag, diaper clutch, t-shirt satu set untuk ayah-ibu-anak agar kompak, t-shirt untuk ibu hamil, dan juga nursing cover untuk kenyamanan ibu memberikan ASI di mana saja," jelas Muti yang sering kesulitan mengikuti event pameran gara-gara partnernya tinggal beda negara.

Lalu, trik apa yang dilakukan keduanya agar pembeli selalu tertarik kembali? "Kami mengedepankan desain baru, kualitas bagus, dan menangani web dengan serius. Serius di sini dalam arti membalas e-mail atau merespon dengan cepat. Pasti semua pembeli ingin dilayani dengan cepat, kan?"

Untungnya, para konsumen yang puas mempromosikan zaralde ke teman-temannya. "Jadinya promosi dari mulut ke mulut. Ini ternyata sangat ampuh," ujar Muti yang memberi servis pengiriman gratis bagi pembelian minimal Rp 300 ribu, ke seluruh wilayah Indonesia.

Bagi Tugas

Untuk urusan desain, dilakukan sendiri oleh Ninit dan Muti. Sementara materi kaos diproduksi di Bandung. "Rasanya lebih puas bila menangani sendiri. Selain itu, Muti yang juga ilustrator dengan latar belakang arsitek, sudah tidak asing lagi dengan dunia desain," jelas Ninit.

Soal modal, keduanya menggunakan UKM. "Dari awal kami enggak mengeluarkan modal yang besar. Tapi alhamdulillah, usaha ini terus berkembang. Yang paling penting adalah tekad dan niat kami menjalankan bisnis dengan serius," jelas keduanya yang mempelajari seluk beluk bisnis secara otodidak.

"Kami berdua belajar dari pengalaman. Terkadang bertanya juga kepada suami. Mereka sangat mendukung usaha kami," ujar Muti yang mengakui, tak mudah menyatukan dua pribadi berbeda dalam sebuah kerja bersama. "Awalnya pasti ada sedikit perbedaan pendapat. Hanya saja kami coba membiasakan diri. Jika ada sesuatu yang kurang berkenan, harus langsung dibicarakan. Lama-lama, kan, kelihatan pola kerjanya dan saling merasa cocok," papar Muti.

Pembagian tugas pun dilakukan. Berhubung Ninit tinggal di Singapura, "Saya di bagian produksi, sementara Ninit di bagian website. Kaos, kan, diproduksi di Bandung, jadi kalau ada pemesanan barang, saya yang menjalankan di sini," cerita Muti sambil memberi tips berbisnis ala Zaralde.

"Yang paling penting dalam menjalankan bisnis online adalah keseriusan, niat yang kuat, kerja keras, dan juga komitmen. Meski terlihat simpel, bisnis online cukup memakan waktu dan diperlukankan keseriusan. Selain itu, karena kami bekerja di rumah, harus bisa mengatur waktu antara urusan rumah tangga dan pekerjaan. Porsinya harus sesuai. Jadi, tidak ada yang terabaikan."

Krisis ekonomi yang diprediksi bakal terjadi, diyakini keduanya tak akan memengaruhi bisnis yang tengah mereka jalani. "Kami yakin, ke depannya zaralde memiliki prospek yang bagus karena tren belanjaonlineakan terus berkembang. Selain lebih nyaman, juga lebih praktis dan hemat. Konsumen tak harus keluar rumah hanya untuk membeli kaos anak. Cukup pesan, transfer, lalu kaos akan kami kirim."

Noverita K. Waldan

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons