Seni Rajah Modern, Aset Wisata Kota Bandung

Bandung - Bandung sebagai kota jasa dan wisata tak hanya memiliki distro dan ribuan jajanan lezat yang wajib disambangi. Satu bentuk sub kultur seperti tato pun kini menjadi ikon baru wisata, tak hanya di kota Bandung, juga Jawa Barat.

Kent Tatoo Studio & Piercing. Studio tato dan tindik yang berdiri sejak 8 September 1990 ini mendapatkan penghargaan oleh dari Dinas Pariwisata Kota Bandung sebagai salah satu aset kebudayaan dan pariwisata Jawa Barat. Didirikan oleh Yusefthia Suwardi yang akrab dipanggil Kent Kent.

Ketika ditemui di studio utama Kent Studio,Jl Wangsareja Gg Ardisasmita No 20, manager studio, Ari yang didampingi salah satu senimannya Kent Tatoo, Bunda mengatakan Kent Studio tak hanya dipublikasikan di Jawa Barat. Sebuah tabloid Taiwan pun pernah memuat tentang Kent Studio.

Tato yang dahulu dianggap sebagai simbol premanisme dan kekerasan kini bisa digunakan untuk menutupi kekurangan tubuh. Itulah salah satu permintaan para pelanggan Kent Tattoo khususnya kaum hawa. Bunda menuturkan, banyak wanita yang meminta tato dibuat untuk menutupi bagian-bagian tubuh yang kurang enak dipandang. Misalnya, bagian perut yang memiliki bekas operasi usus buntu atau bekas luka lainnya.

Biasanya, tato dibuat sesuai dengan anatomi tubuh pelanggan. Sehingga tak hanya aman tetapi memenuhi unsur estetika. "Misalnya jika tato akan dipasang di bagian tangan maka akan gambarnya pun disesuaikan dengan anatomi tangan si pelanggan," tutur Ari.

Kent Tattoo sudah mendapatkan berbagai sertifikat dari banyak lembaga sebagai bentuk dukungan atas legalitasnya. Jadi, untuk para pelanggan yang ingin 'merajah' tubuhnya tak perlu takut untuk mengunjungi Kent Tatto karena dari segi medis, Kent Tattoo terbilang aman. Meski demikian, harus dipikirkan matang-matang sebelum menato tubuh. Menurut Bunda, biasanya setiap pelanggan ditanya terlebih dahulu tentang kesungguhannya agar tidak menyesal di kemudian hari.

Tak hanya rekomendasi dari Dinas Pariwisata, sebagai pionir budaya tato menato di Bandung, Kent Tattoo sudah mencetak berbagai prestasi. Salah satunya masuk ke Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan prestasi melukis pada tubuh (body painting) dengan peserta terbanyak pada Mei 2007 dan sederetan prestasi lainnya.

Jika sudah mantap untuk menato tubuh, bisa datang ke Kent Tattoo, bisa ke studio utama yang cukup berliku-liku di gang kecil atau ke Metro Soekarno Hatta Estate, Jl Venus Timur 10. Selain di Bandung, Kent Tattoo membuka cabangnya di Lampung, Palembang dan Surabaya. Tersedia juga jasa tindik atau piercing. Penasaran informasi lengkapnya? Silakan klik www.kent-tattoo.com.
(ema/twi)

Taman Buru Gunung Masigit dan Kareumbi yang Terlupakan

Bandung - Mendengar kata taman buru, tentu pikiran kita langsung membayangkan seorang pemburu yang menembus hutan, membawa senapan memburu hewan-hewan hutan yang ganas.

Tahukah anda, di daerah kabupaten Bandung, terdapat kawasan hutan buru yang bernama Taman Buru Gunung Masigit dan Kareumbie?

Gunung Masigit dan Kareumbie berada di tiga kabupaten di Jawa Barat. Pintunya terletak di Desa Leuwiliang, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Sebelum tiba pada lokasi ini bila dari Bandung kita akan melewati obyek wisata Curug Cinulang. Apabila sudah memasuki area Taman Buru, sudah masuk ke wilayah Kabupaten Sumedang dan sisanya masuk Kabupaten Garut.

Di kawasan ini terdapat beberapa pusat sumber mata air yang terkenal di antaranya, Sungai Cimanggu dan Sungai Citarik.

Kawasan dengan luas 12.420 hektar ini memiliki potensi biotik flora yang terdiri dari hutan alam dan tumbuh-tumbuhan serta fauna. Jika beruntung, anda masih bisa menemukan macan tutul.

Untuk menuju taman buru, bila anda dari Bandung melewati Cicalengka, yang kemudian dilanjutkan ke Sindangwangi yang jaraknya kira-kira 43 kilometer. Jarak dari Sindangwangi ke lokasi sekitar tiga kilometer.

Sayangnya kondisi jalan buruk, tidak beraspal dan kadang berbatu. Setelah melewati jembatan yang terbuat dari kayu, anda akan tiba di area taman buru.

Kondisi Taman Buru juga sudah tidak terawat. Bahkan ada kantor polisi hutan yang kosong dan beberapa kaca kantornya pecah berantakan.

Menurut sumber dari Dinas Kehutanan Jawa Barat, Taman Buru Gunung Masigit dan Kareumbi diresmikan pada 1976. Meski sudah berjalan 22 tahun, pengelolaan kawasan ini belum mencapai sasaran seperti yang diharapkan, karena belum ada kebijakan yang jelas tentang rencana pengembangan.

Semoga di masa mendatang, pengelolan Taman Buru bisa lebih baik, agar menjadi obyek wisata hutan yang menarik.


aan_sevianto@yahoo.com
alamat: cikutra123(lom/lom)

Menyusuri 10 Jejak Stilasi Bandung Lautan Api

Bandung - Setiap sejarah meninggalkan jejaknya sendiri. Begitupun dengan peristiwa Bandung Lautan Api yang diperingati hari ini, Senin (24/3/2008). Mungkin tidak banyak yang tahu, kalau jejak peristiwa tersebut tidak hanya ada disimbolkan dalam tugu yang berada di Lapangan Tegallega Bandung. Namun beberapa stilasi dibuat untuk mengabadikan perjalanan sejarah yang melingkupi peristiwa Bandung Lautan Api.

Stilasi bisa disebut sebagai monumen mini. Stilasi Bandung lautan Api memiliki konsep bentuk dan bangun dasar berupa prisma tegak, vertikal di atas silinder pipih, geometrik yang memperlihatkan kesederhanaan. Di atas stilasi, dibuat bunga khas Bandung, bunga patrakomala.

Sebanyak 10 stilasi dibuat di beberapa titik sebagai tanda spot-spot yang pernah para pejuang dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Di desain oleh seniman kenamaan Bandung, Sunaryo bekerjasama dengan Bandung Heritage, stilasi ini dibangun di tahun 1997.

Stilasi 1 berada di kawasan Dago, tepatnya Jl Ir H. Juanda-Sultan Agung. Stilasi berada di depan gedung bekas kantor berita Jepang, Domei yang sudah ada sejak tahun 1937. Menurut catatan sejarah, di kantor berita inilah untuk pertama kalinya teks proklamasi dibaca oleh rakyat Bandung.

Beralih ke Jl Braga, di sanalah stilasi 2 berada. Di persimpangan Jl Braga dan Jl Naripan terletak gedung Bank Jabar yang dahulu bernama Gedung Denis. Di gedung ini, pada Oktober 1945, pejuang Bandung Moeljono dan E. Karmas melakukan perobekan bendera Belanda.

Dari Jl Braga menuju Jl Asia Afrika. Di jalan ini tepatnya di Gedung Asuransi Jiwasraya, stilasi ke 3 bisa ditemukan. Dahulu, gedung ini digunakan sebagai markas resimen 8 yang dibangun pada tahun 1922. Menurut kesaksian kol. TNI H. Daeng Kosasih Ardiwinata, pada tanggal 13 Oktober 1945, pimpinan TKR sedang melakukan rapat di gedung ini yang disebutkannya sebagai Gedung NILMIJ, sebelah utara alun-alun.

Stilasi 4 berada di sebuh rumah yang terletak di Jl Simpang. Di tempat inilah dilakukan perumusan serta diambilnya keputusan pembumihangusan kota Bandung. Perintah untuk meninggalkan kota Bandung pun dikomandoi dari rumah ini. Rumah tersebut kini dijadikan tempat tinggal dan maish dalam bentuk aslinya.

Cukup jauh untuk menuju stilasi 5 yang berada di Jl Oto Iskandardinata-Jl Kautamaan Istri. Di Jl Dewi Sartika sebagai salah satu jalur yang dilalui untuk menuju wilayah Bandung Selatan terletak stilasi 6. Dalam sebuah rumah yang juga markas komando Divisi III Siliwangi pimpinan kol. A.H. Nasution. Tempat ini dulunya bernama Regentsweg. Rumah tersebut kini sudah dibongkar.

Untuk mencapai stilasi 7, dari Jl Dewi Sartika menyusuri Jalan Sasakgantung. Melewati perkampungan padat di sisi sungai Cikapundung. Jalan 1000 punten seringkali menjadi sebutan karena jalan di perkampungan ini sempit, sehingga harus cukup sering mengucapkan punten (permisi-red) ketika melewati penduduk yang biasa bersantai di depan rumah. Di persimpangan Jl Lengkong Tengah dan Jl Lengkong Dalam di sanalah stilasi 7 berdiri. Tempat ini merupaka tempat tinggal indo Belanda.

Setelah menyeberangi sungai Cikapundung sampailah di stilasi ke 8. Stilasi 8 berada di Jl Jembatan baru yang merupakan salah satu garis pertahanan pejuang saat terjadi pertempuran Lengkong. Menurut kesaksian Endang Momo dalam catatan sejarah, di tempat ini para pejuang bertahan dari pkl. 08.00-14.00 WIB. Saat itu antara Jl Ciateul-haji Umar diserang bom oleh sekutu.

Selepas dari Jl Jembatan baru, kembali menyusuri pinggir sungai untuk menuju stilasi 9. Stilasi 9 berada di SD ASMI, Jl Asmi. Bangunan utama gedung tidak banyak mengalami perubahan. Tempat ini digunakan sebagai markas pemuda pejuang, PESINDO dan BBRI sebelum terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api.

Dari Jl Asmi menuju Jl M.Toha sebagai jalur utama pengungsian. Stilasi 10 berada di depan sebuah gereja yang terletak di jalan ini. Gereja ini dahulu merupakan gedung pemancar NIROM yang digunakan untuk menyebarluaskan proklamsi kemerdekaan ke seluruh Indonesia dan dunia. Di seberang stilasi inilah, di Taman Tegallega, sebuah tugu kokoh bernama tugu Bandung Lautan Api berdiri. (Sumber : Bandung Heritage).(ema/ern)

Miniatur Rumah Tradisional Jawa ala Bandung

Bandung - Para pengrajin dengan apik membuat ukiran-ukiran kayu yang hanya berjarak milimeter demi milimeter. Ukiran-ukiran tersebut dibuat untuk memperindah miniatur rumah tradisional yang sedang dibuatnya.

Miniatur rumah tradisional di buat oleh sejumlah pengrajin asal Jawa Timur di Kayoe Galeri, Jl Ir Juanda No 386. Alasan itulah yang membuat rumah khas Madura, Jawa Timur menjadi menu utama rumah tradisional yang dijadikan miniatur di galeri ini selain pemiliknya adalah asli Jawa Timur.

Sebelumnya, di tahun 2002-2003, Kayoe Galeri menjadi galeri handycraft yang menjual aneka kerajinan lokal Bandung, termasuk pula kerajinan dari Sumedang. Selepas itu bergerak ke ranjang antik, mebel antik dari Jawa dan barang-barang kerajinan lainnya.

Pada tahun 2005, seorang pengrajin yang juga sebagai kakak ipar pemilik, Budiyanto, memiliki ide untuk membuat miniatur rumah tradisional. Bermodalkan ide, kreatifitas dan keuletan miniatur rumah tradisional Madura berikut ukiran-ukiran khasnya dibuat sebagai salah satu bentuk pengejawantahkan dari seni kriya.

Ukiran bunga mawar besar merupakan ciri khas yang menonjol dari rumah khas Madura yang diakui Budiyanto untuk menghasilkan ukiran minimatur seapik aslinya yang membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan satu miniatur rumah. Standar waktu dalam menyelesaikan satu miniatur rumah yaitu empat hari yang dikerjakan oleh dua orang pengrajin. Dalam satu minggu bisa menyelesaikan 2 buah miniatur rumah.

Awalnya berupa sketsa, setelah itu dibuatlah rangka rumah dari kayu kamper. Lem kayu digunakan untuk memudahkan pemasangan rangka. Ketika pengerjaan rangka selesai, mulai dibuat bagian-bagian rumah, dari mulai dinding, jendela, pintu berikut ukiran-ukiran yang sudah didesain sebelumnya. Alat-alat yang digunakan diantaranya gergaji triplek, bor, alat pemahat dan lain-lain.

Untuk rumah khas Madura misalnya, bagian untuk bagian depan rumah ada teras yang masih satu atap dengan rumah induk, kemudian dibuat bagian rumah induk dengan beberapa ruangan kecil di dalamnya. Barulah selepas itu sebagai tahap akhir ditutupi dengan atap sirep yang terbuat dari triplek. Miniatur rumah tradisional yang unik pun bisa langsung dibawa pulang.

Seringkali miniatur-miniatur rumah tersebut lengkap dengan isinya seperti kasur, kursi dan interior rumah lainnya. Meskipun bisa juga mendapatkan miniatur rumah yang kosong tanpa isi. Untuk satu rumahnya seharga Rp 300-500 ribu untuk ukuran 30x30 centimeter dengan tinggi 28 centimeter. Tak hanya rumah tradisional khas Madura, Kayoe Galeri juga membuat miniatur rumah tradisional sunda dan miniatur lainnya sesuai pesanan.

Miniatur lainnya yang dibuat seperti pos ronda dengan harga Rp 150 ribu, gerobak, gazebo, miniatur komplek rumah lengkap dengan pagar yang dijual seharga Rp 800 ribu.

Jika tertarik untuk memiliki rumah sebenarnya, bisa didapatkan di Cafe Rumah Payung di Jl Rancakendal dibeli dengan harga Rp. 40-80 juta. Rumah tradisional asli Jawa Timur yang berbahan baku kayu jati bisa dibeli dengan harga Rp 40-80 juta, tergantung ukurannya. Rumah-rumah tersebut bisa dibongkar pasang.

Menurut Budiyanto, respon masyarakat Bandung cukup positif terhadap keberadaan kriya miniatur rumah tersebut. Meskipun mayoritas pelanggannya berasal dari Jakarta yang kebetulan juga dari mereka menginap di hotel Sheraton yang lokasinya dekat dengan Kayoe Galeri.

Kayoe Galeri pernah mengikuti pameran-pameran yang diselenggarakan Dekranasda juga Pasar seni ITB. Permintaan untuk ekspor pernah ada namun Budi mengaku belum siap untuk bisa sampai ekspor. Keterbatasan SDM menjadi alasan. Para pengrajin yang ada di Kayoe Galeri tidak memiliki latar belakang perkayuan hingga dibutuhkan pelatihan yang cukup untuk mendapatkan keahlian membuat miniatur rumah. "Dari dinas peternakan pernah meminta dibuatkan maket," ucap Budi.

(ema/ern)

Tempe Malang dari Bandung

Tempe Malang dari Bandung
Pratiwi Ester Novita Manik - detikBandung

Bandung - Jalan-jalan ke Bandung tidak lengkap jika tidak membawa buah tangan tempe khas Bandung. Di antara tempe khas Bandung, terdapat tempe yang punya ciri khas sendiri, tempe Malang namanya.

Meski menggunakan nama Malang, tempe ini merupakan oleh-oleh khas Bandung. Sindang Laris, satu-satunya distributor tempe Malang di Bandung. Perbedaan tempe ini terletak pada pengolahannya. Sebelum dimasak, kulita atau ari-ari tempe benar-benar dibersihkan. Berbeda dengan tempe lain, yang ketika dimasak masih tersisa kulit atau ari-ari.

Pemilik Sindang Laris, Dedih Sutardi mengemukakan perbedaan itu sangat mempengaruhi rasa dan kualitas tempe. Jika tempe lain kualitasnya tahan 15 hari, di sini bisa bertahan hingga satu setengah bulan.

Selain tempe, oleh-oleh lain yang menjadi andalan adalah oncom. Keduanya merupakan salah satu dari seratusan jenis oleh-oleh yang tersedia di Sindang Laris. Beberapa jenis yang merupakan buatan sendiri adalah sale pisang, kentang dan lain-lain. Sementara jenis oleh-oleh lain merupakan barang titipan dari produsen lain.

"Sebelum diterima untuk dititip di sini juga, kami seleksi rasa dan kualitasnya," tutur Dedih.

Harga tempe di sini ditawarkan Rp 24 ribu per kilogram, sementara untuk oncom seharga Rp 26 ribu per kilogram.

"Memang harganya sedikit lebih mahal dari yang lain, tapi kualitas juga lebih dari yang lain," jelas Dedih.

Kios Sindang Laris ini dapat ditemui di Jalan Ahmad Yani, di bagian depan dekat pintu masuk Pasar Kosambi, mulai pukul 06.00 WIB sampai 21.00 WIB.

Selamat berburu oleh-oleh!

(twi/ern

Pesona Indahnya Bandung Malam Hari dari Caringin 3

Pesona Indahnya Bandung Malam Hari dari Caringin 3
Pengirim: Victor Pinangkaan - detikBandung

Bandung - Caringin 3 mungkin kedengaran kurang akrab, khususnya bagi pendatang baru di Bandung. Dari daerah ini Bandung malam hari terlihat indah.

Walaupun tidak terlalu berada di puncak, sudut pandang dari Caringin 3 sangat luar. Kelap-kelip lampu kota, menampilkan pemandangan yang hanya bisa dilihat pada waktu malam dan saat langit cerah.

Jika memperhatikan lebih teliti, terlihat jelas pada lampu sepanjang jalan layang Kiara Condong yang memang terlihat membentuk huruf A. Apabila kita beruntung, mungkin dapat melihat bintang dan pegunungan sebelah selatan Bandung.

Caringin 3 terletak 5 km dari Jalan Suci, masuk dari jalan Padasuka Cicaheum. Kita akan lebih dulu melewati tempat wisata lain yaitu Saung Angklung Udjo yang terkenal.

Nama Caringin 3 disebut-sebut asalnya karena di daerah tersebut dahulu ada tiga buah pohon beringin besar. Namun sekarang hanya tinggal satu pohon yang tersisa.

Sangat disarankan melihat kondisi cuaca bila ingin berkunjung ke daerah ini. Jika mendung, gemerlap kota tidak akan terlihat. Pada malam-malam tertentu terutama malam Minggu, tempat ini banyak dikunjungi oleh muda-mudi.

Jalan untuk menuju Caringin 3 cukup bagus, sehingga mudah untuk dilalui kendaraan roda dua atau roda empat. Meski demikian, kondisi kendaraan harus baik, karena tanjakan yang harus dilewati cukup terjal dan panjang.

Setelah melewati Kecamatan Cimenyan, jalan hanya cukup dilalui satu mobil saja sehinggga terkadang harus antre. Untuk melepas lelah terdapat saung (warung) yang menjual minuman hangat dan mie rebus dengan harga terjangkau. Jangan lupa siapkan jaket tebal. Ketika sudah berada di Caringin 3, angin bertiup cukup kencang yang tentunya sangat dingin.


aan_seviant@yahoo.com
alama: cikutra123(lom/lom)

Republik Ganesha, Alternatif Oleh-oleh Bandung

Republik Ganesha, Alternatif Oleh-oleh Bandung
Pratiwi Ester Novita Manik - detikBandung

Bandung - Institut Teknologi Bandung (ITB), kampus idaman pelajar dari berbagai penjuru Indonesia. Menggunakan atribut ITB tentu membanggakan bagi para almamaternya. Namun, anda tidak harus tercatat sebagai mahasiswa atau almamater ITB untuk bisa menggunakan aneka atributnya.

Republik Ganesha, kios kecil yang menyediakan berbagai atribut berbau ITB, mulai dari t-shirt, pin, stiker, jaket dan tas tersedia di sini. Menurut Store Manager Republik Ganesha, Hendarsah, desain dan konsep yang ditawarkan merupakan karya orisinil dari kreativitas almamater ITB.

Pemilik dari Republik Ganesha, Chairul Novin, merupakan alumni ITB. Usaha ini berawal dari proyek kecil-kecilan membuat t-shirt kepanitiaan dalam beberapa acara kampus. Akhirnya usaha ini dikembangkan ke produk-produk lain, hingga kini sudah berjalan 4 tahun.

Desain karya mahasiswa FSRD ITB ini memang unik dan tidak dapat ditemukan selain di Republik Ganesha. Beberapa diantaranya, pin yang bertuliskan "Pernah Nitip Absen di ITB", t-shirt dan jaket yang didominasi logo-logo ITB. Selain desain yang orisinil, ungkap Hendarsah, bahan yang digunakan merupakan katun asli. Proses produksi juga dikerjakan sendiri. Tidak heran, jika produk-produk ini diminati baik oleh almamater ITB maupun dari luar kampus ITB.

"Biasanya paling laris menjelang liburan, karena sangat unik untuk dijadikan oleh-oleh," tutur Hendarsah.

Harga yang ditawarkan untuk produk-produk di sini cukup kompetitif. Pin ditawarkan mulai dari Rp 4 ribu sampai dengan Rp 6 ribu, t-shirt kisaran Rp 60 ribu, jaket mulai dari Rp 75 ribu sampai Rp 90 ribu dan tas ditawarkan mulai dari Rp 20 ribu sampai Rp 90 ribu.

Kios kecil yang berupa truk mini ini bisa ditemui di depan kampus ITB, Jalan Ganesha. Nah, jika anda ingin membawa oleh-oleh yang lain daripada yang lain, Republik Ganesha tentu bisa jadi alternatif pilihan.

(twi/ern)

Rumentang Siang, Rumah Seni Minim Perawatan

Rumentang Siang, Rumah Seni Minim Perawatan
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Seperti halnya gedung Asia Africa Culture Centre (AACC) yang bekas gedung bioskop Majestic, gedung kesenian ini bekas gedung bioskop Rivoli, Gedung Kesenian Rumentang Siang di Jalan Baranang Siang No 2, dekat Pasar Kosambi.

Pada masa itu, gedung kesenian yang baru ada adalah gedung Yayasan Pusat kebudayaan (YPK). Sebagai persembahan bagi para seniman, sebelum masa tugasnya berakhir, Gubernur Jawa Barat, Solihin GP membuatkan gedung kesenian Rumentang Siang di tahun 1975.

"Gedung Rumentang Siang merupakan peninggalan dari gubernur Solihin GP untuk para seniman," jelas pengelola GK. Rumentang Siang, Cece Raksa, yang sudah ikut mengelola sejak gedung ini berdiri.

Sebelum nama Rumentang Siang ditetapkan, nama Kandaga Bandung sempat dilontarkan oleh Walikota Bandung saat itu, Oce Djunjunan.

Penyair, Wahyu Wibisana lah yang mengajukan nama Rumentang Siang. Dalam bahasa Sunda, Rumentang diambil dari kata rentang-rentang yaitu samar-samar terlihat dari kejauhan untuk mendekat, sedangkan siang berarti nyata.

Secara keseluruhan, Rumentang Siang bisa diartikan ketika berbagai seniman dengan beragam kesenian dari berbagai daerah yang jauh masih samar-samar, tidak terlihat. Namun ketika ada GK. Rumentang Siang, keberadaan mereka akan lebih nyata.

Sebagai salah satu bangunan bersejarah peninggalan Belanda, pembangunan GK. Rumentang Siang tak merubah struktur bangunan. Hanya interior ruangan yang mengalami perubahan untuk dibangun sebuah panggung dan kamar rias.

Sejak pendiriannya hingga tahun 1982, berbagai kesenian unggulan daerah di gelar di tempat ini. Tak hanya itu, sampai tahun 2000, kerjasama kebudayaan dengan beberapa negara dijalin. Misalnya dengan Japan Foundation, British Council juga kedutaan besar Australia.

Namun, alasan tak ada biaya serta kemunduran kondisi gedung membuat kerjasama itu tak lagi dilakukan. Sarana prasarana seperti kursi, sound system dan light sistem tak cukup memadai.

"Kami tidak mungkin melakukan kerjasama dengan kondisi gedung yang sudah kurang bagus. Hingga kami harus berpikir 2 sampai 3 kali untuk melakukan itu. Lagipula tidak ada biaya, minimal untuk biaya produksi," tutur Cece.

Rumentang Siang berkapasitas 347 orang penonton. Dengan luas panggung 8 x 12 meter, sebenarnya kurang memenuhi syarat panggung sebuah pertunjukan. Diperlukan kedalaman panggung yang lebih dalam.

Cece mengaku, hingga sekitar pertengahan tahun 2003, Rumentang Siang masih mendapat kucuran dana dari pemerintah provinsi. Kini, pengelolaan Rumentang Siang tidak mendapatkan perhatian optimal dari pemerintah.

Untuk fisik bangunan, pengelolaan Rumentang Siang berada di bawah PT. Jasa Wisata, sementara untuk program dibawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung.

Antara tahun 2004-2005, Disbudpar pernah melakukan ronovasi panggung juga toilet. Namun, dari pihak Disbudpar sendiri mengakui bahwa secara administratif, GK. Rumentang Siang tidak di bawah Disbudpar, tapi di bawah PT. Jawi. Sehingga untuk pengelolaan fisik merupakan tanggung jawab PT. Jawi.

Cece mengharapkan akan dikeluarkannya Perda yang mengatur tanggung jawab pengelolaan fisik gedung. Di mana bukan lagi PT. Jawi yang bertanggung jawab, melainkan Disbudpar.

Saat ini hampir tidak ada biaya perawatan gedung. Untuk operasionalisasi lebih banyak mengandalkan dari hasil penjualan tiket petunjukan. Padahal, untuk satu bulan diperlukan anggaran sekitar Rp 8 juta, termasuk untuk honor karyawan.

"Delapan juta itu angka yang sudah sangat nge-pas," ujar Cece.

Setiap hari, GK. Rumentang Siang tak pernah sepi. Sebagai tempat latihan, baik tari atau teater maupun tempat berkumpulnya para seniman Bandung.

Agenda-agenda pertunjukan senantiasa menghangatkan GK sudah sekitar 80 tahun berdiri. Walaupun tak lagi sepadat masa-masa sebelumnya.

Seperti halnya 11 Februari hingga 1 Maret 2008 ini, sebuah festival tahunan kembali digelar, Festival Drama Basa Sunda (FDBS) oleh Teater Sunda Kiwari. (ema/ern)

Kukuruyuk Weekend, Wisata Belanja di Bandung Selatan

Kukuruyuk Weekend, Wisata Belanja di Bandung Selatan
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Target pemerintah untuk menjadikan Bandung Kota wisata sepertinya disambut hangat oleh warga bandung, tak terkecuali pengusaha. Para pengusaha Bandung untuk berlomba-lomba membuka tempat hang out untuk menarik wisatawan baik lokal maupun domestik.

Keinginan untuk membuat sebuah tempat hang out di Bandung Selatan yang menjadi ide awal dibukanya tempat wisata belanja baru, Kukuruyuk Weekend Market.

"Bandung Utara kan sudah banyak, kini giliran Bandung Selatan," tutur general manager Kukuruyuk Weekend Market, Mulia.

Kukuruyuk, nama yang unik hingga ketika mendengarnya mungkin akan langsung menarik anda untuk datang. Berada di kawasan komplek Mekar Wangi, Kukuruyuk Weekend Market didirikan di atas tanah seluar 2,5 hektar.

Jika bosan dengan suasana mall, Kukuruyuk akan memberikan nuansa yang berbeda. Suasana open airnya berikut penataan yang lebih cenderung tradisional, akan membawa pada atmosfer belanja yang tak biasa.

Ketika memasuki area ini, di sisi kiri anda akan langsung di sambut oleh permainan balonku di sayap kiri. Masuk lebih dalam sebuah rangkaian bambu yang mirip instalasi bambu berdiri.

Jika dialirkan air melalui alat-alat yang terpasang di beberapa titik bambu, akan menghasilkan suara musik. Bangunan ini dinamakan alun-alun bambu.

Sebanyak 200 stand berderet secara berkelompok sesuai dengan jenis dagangannya. Sebut saja art & craft, fesyen, aksesoris, furniture, permainan anak-anak dan lain-lain.

Pengisi stand mayoritas dari kelompok Usaha Kecil dan Menengah (KUKM). Pemilihan pengisi stand pun cukup selektif, selain harus unik juga harga yang relatif terjangkau.

Untuk kuliner, disediakan area food court terpisah yang luas. Menyediakan sekitar 60 pilihan stand yang menyediakan makanan nasinal dan internasional.

Sarana rekreasi untuk anak-anak, seperti area berkuda, balonku, flying fox 80 meter, tapolin modern dan lain-lain.

Untuk yang tradisional, permainan rakyat dari Komunitas HONG akan akan mengajak anda pada masa kecil dulu. Display permainan rakyat berikut workshopnya akan memberikan menjadi pengisi waktu yang cukup menyenangkan.

Setiap akhir pekan, terselip acara untuk memeriahkan suasana market. Untuk Minggu ini misalnya, aeroshow layang-layang cukup membuat para pengunjung terpukau.

Acara lain, nyanyian dari anak-anak jalanan asuhan almarhum Harry Rusli yang akan berkeliling dari stand ke stand. Selain itu, anak jalanan tersebut akan memberikan demo pembuatan kertas daur ulang kepada pengunjung.

Karena konsep Kukuruyuk tradisional, maka musik-musik yang dihadirkan pun bernuansa tradisional seperti musik dari bali, angklung, Kecapi dan lain-lain.

Tempat yang baru dibuka 22 Februari ini memiliki lokasi yang strategis. Terletak dalam kompleks Istana Mekar Wangi, dengan akses masuk dari Jl. Mochamad Toha (keluar di Tol M. Toha), Jl. Soekarno Hatta atau Jl. Cibaduyut.

(ema/ern)

Lautze 2 'Mengusung' Warna Merah

Lautze 2 'Mengusung' Warna Merah
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Melihat dari arsitektur luarnya, bangunan dengan dominasi warna merah ini tak terlihat seperti masjid. Nuansa etnis negeri bambunya lebih terasa ketika tahu mesjid ini bernama Masjid Lautze 2.

Masjid Lautze 2 yang terletak di Jl. Tamblong No. 27 Bandung ini, merupakan cabang kedua masjid Lautze di Jl. Lautze, Pecinan Jakarta yang didirikan 9 April 1991. Mulai dirintis pada pertengahan Ramadhan di Desember tahun 1996. Sedangkan untuk aktivitasnya dimulai sejak tahun 1997. Namun sampai sekarang status kepemilikan mesjid Lautze 2 masih mengontrak pada pemerintah kota.

Masjid Lautze 2 yang dibangun diatas tanah seluas 56 meter persegi ini berada di bawah Yayasan Haji Karim Oei. Nama Karim Oei diambil dari nama seorang tokoh Islam keturunan Tionghoa yang akrab dengan Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh nasional lain saat itu.

Hal itu bisa dibuktikan dengan terpampangnya sebuah potret Karim Oei yang berdampingan dengan Bung Karno dan Bung Hatta di dinding masjid.

Masjid Lautze memiliki misi untuk menjadi pusat aktivitas muslim khususnya muslim tionghoa, menjadi pusat literatur Cina, khususnya yang berkaitan dengan Islam dan Muslim Tionghoa, menjadi pusat kebudayaan Tionghoa Muslim, menjadi sarana pembauran antara etnis Tionghoa dengan etnis pribumi dan menjadi pusat aktivitas pembinaan muallaf.

Menurut salah seorang pengurus masjid, Muhammad Sulthonuddin yang biasa disapa Aang atau Toni ini, mayoritas para jemaah Mesjid Lautze 2 mengakui bahwa aspirasi mereka sebagai seorang muslim kurang terwadahi oleh masjid-masjid sekitar tempat tinggal mereka. Perlakuan dan pandangan masyarakat terhadap keberadaan muslim Tionghoa belum sepenuhnya bisa diterima.

Kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan masjid Lautze tak berbeda dengan kegiatan masjid-masjid pada umumnya. Hanya ada spesifikasi khusus konsultasi dan informasi Islam untuk warga Tionghoa.

Walaupun dalam kenyataannya, masyarakat pribumi pun banyak yang beribadah di masjid ini. Terlebih ketika shalat Jumat, jemaah bisa pebuh hingga ke trotoar.

Jika masyarakat Tionghoa agak enggan untuk berkonsultasi dengan mubaligh pribumi. Setiap hari Minggu masjid Lautze menghadirkan mubaligh keturunan Tionghoa dalam pengajian dari pukul 10.00-13.00 WIB.

"Setiap harinya, kami pun menerima siapapun, etnis Tionghoa khususnya yang ingin berkonsultasi tentang Islam. Jemaah yang datang banyak yang dari daerah yang jauh, seperti dari Cimahi, Cileunyi dan lain-lain," jelas Aang.

Aang menilai, ketika para sunan menyebarkan syiar Islam melalui pendekatan budaya, itu pulalah yang dilakukan masjid Lautze. Warna kuning dan merah yang dianggap sebagai warna sakral etnis Tionghoa dijadikan sebagai media pendekatan dakwah.

Dengan pendekatan seperti itu diharapkan para muslim Tionghoa tidak enggan untuk duduk dan beribadah di masjid Lautze 2.

"Meskipun kebanyakan masjid-masjid memakai warna hijau sebagai sunah rasul, tapi kan tidak ada yang melarang juga menggunakan warna lain," tambah Aang.

(ema/ern)

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons