Angkat Isu Sebagai Pembeda

Angkat Isu Sebagai Pembeda
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Kreativitas industri clothing tak hanya diperlihatkan dari sisi desain, pemilihan tema atau isu desain pun menjadi faktor pembeda untuk menonjolkan karakter.

Menurut salah seorang pemilik Wadezig!, Ridho Alhadi, sejak awal berdirinya Wadezig!, selalu mengangkat tematik sebagai pembeda dengan produk lain. "Dari awal berdiri bikin rilis produk berdasarkan tema yang lagi pengen angkat," ujarnya.

Misalnya ketika sedang hangat-hangatnya perang Irak, tema itulah yang diangkat atau ketika sekarang mendekati akhir tahun tema yang diangkat "The End of The Beginning".

Walaupun diakui Ridho pemilihan isu tidak selalu yang aktual, tak harus juga berbau politik,tapi cukup relevan dalam kacamata Wadezig!. "Pemilihan tema tergantung mood. Pergantiannya paling cepat tiga bulan sekali," ujar Ridho.

Untuk tahun 2008 misalnya, hanya dua isu yang diangkat. Awal tahun temanya 'Decade 5thn Wadezig' dan 'The End of The Begining' untuk akhir tahun.

Selain punya tema sendiri, Wadezig! juga punya ciri khas lain. Yaitu mereka punya artist series yang merupakan hasil kerjasama dengan para seniman lokal.

"Artist Series kerjasama dengan seniman lokal untuk produksi desain kolaborasi," tuturnya. Selain seniman lokal Wadezig juga pernah kerjasama dengan seniman Singapura.

Para seniman tersebut membuat desain masing-masing dan Wadezig! yang merilis produknya. Untuk kerjasama t'shirt baru dua seniman yang diajak kolaborasi. Selain t'shirt, Wadezig! juga pernah bekerjasama dengan fotografer dalam pembuatan kalender Wadezig.

Kerjasama dengan seniman ini juga tak selalu rutin, tergantung apakah ada seniman yang mau diajak kerjasama atau tidak. "Ya, kalau lagi mood saja," ujarnya.

Disinggung mengenai endorse band-band lokal, Ridho mengaku Wadezig belum secara eksklusif mengendorse band-band lokal. Hanya sebatas support pada even-even tertentu. "Belum ada yang cocok dengan Wadezig. Pada dasarnya kita pengen ngangkat seninya bukan cuma bandnya," pungkas Ridho.

Dari Nitip Jadi Tempat Titipan

Dari Nitip Jadi Tempat Titipan
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Tidak bisa ditolak, kalau pengusaha clothing kian hari kian bertambah angka. Dari mulai skala besar dengan produksi gede-gedean sampai skala kecil yang hanya memproduksi beberapa lusin saja.

Seperti halnya Blaze yang memulai usaha clothingnya hanya dengan memproduksi beberapa lusin t'shirt. Awalnya pun tanpa toko. Dodi, pengelola Blaze mengatakan, pemilik Blaze, Firdaus Patriaman, melalui label Bloodsheedrain, sejak 2002 memasarkan produknya dengan menitipkan pada distro-distro.

"Bisa dikatakan Blaze mulai dari nol," ungkap Dodi. Melihat label Blodsheedrain mendapat sambutan yang cukup hangat, maka dua tahun lalu, Blaze pun memiliki rumah sendiri di Jalan Sultan Agung Tirtayasa.

Jika sebelumnya Blaze menitipkan barangnya, setelah memiliki toko, gantian Blaze yang menjadi tempat penitipan clothing-clothing terutama yang skala kecil dengan jumlah produksi hanya beberapa lusin.

"Ya, saling mmebantulah. Toh kita juga awalnya dari nitip," papar Dodi.

Sekitar 40-60 clothing pun menitipkan produknya di Blaze. Meski dari sisi penjualan label Blaze, Bloodsheedrain tetap lebih unggul.

Setiap bulan, kata Dodi, pasti ada saja clothing baru yang ingin menitipkan barangnya. Tapi Blaze juga tidak sembarangan menerima setiap label clothing. Kualitas tetap dikedepankan, kalau perlu mencari sendiri clothing yang sesuai.

"Kita nggak nerima desain-desain yang lebih mengarah ke pornografi atau yang melanggar norma-norma," ujarnya

Dodi menuturkan memang tidak semua clothing-clothing tersebut mendapat sambutan baik. Kalau sudah seperti itu, Balze memberikan tenggat selama tiga bulan. Jika tidak laku dijual maka terpaksa dimasukan ke dalam gudang.

Hal itulah yang menjadi salah satu alasan clothing baru cepat gulung tikar. Belum muncul sudah tenggelam.

Gandeng Band Indie Produksi Merchandise

Gandeng Band Indie Produksi Merchandise
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Jika merchandise band biasanya datang dari bandnya sendiri, lain halnya dengan Blaze yang coba jemput bola dengan menawarkan pembuatan merchandise pada band-band Indie khususnya yang beraliran underground.

"Kita menawarkan band-band untuk kerjasama dan dibuatkan merchandisenya oleh kita," tutur penelola Blaze, Dodi. Band-band Indie biasanya butuh dana segar. Dengan adanya merchandise, tanpa harus mengeluarkan biaya produksi mereka bisa dapat uang.

Setiap band hanya bisa memilih satu item merchandise apakah itu t'shirt, sweater, tas dan jaket dan lain-lain. Setiap band hanya mengeluarkan satu desain yang diproduksi secara terbatas yaitu 50 pieces.

Saat ini Blaze sudah menggandeng 8 band indie antara lain, Alice, Jihad, Diego, Hell Beyond, Outright juga Caravan.

Pangsa pasar band-band tersebut memang lebih spesifik tapi cukup kuat karena didominasi oleh komunitas. Band-band underground biasanya memiliki kedekatan secara langsung dengan penggemarnya sehingga penjualan mercahndise pun bisa dibilang sangat lumayan.

Selain merchandise band-band lokal, Blaze juga menyediakan merchandise band-band mancanegara buatan Thailand. Untuk harga hampir semuanya rata. Berada di kisaran Rp 80 ribu.

Gaun Simple untuk Pesta dari Sofie'sticated

Gaun Simple untuk Pesta dari Sofie'sticated
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Menjadi keinginan setiap orang khususnya kaum wanita untuk tampil istimewa ketika diundang ke sebuah pesta. Keinginan untuk tampil beda membuat banyak wanita jauh-jauh hari sudah menyiapkan kebutuhan dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki.

Pemilihan segala pernik termasuk kostum pun seringkali menjadi begitu memusingkan. Mungkin tak harus glamour. Tampilan manis dengan minidress simple pun bisa jadi salah satu pilihan tepat untuk gaya busana pesta.

Coba saja ubek-ubek Sofie'sticated yang menyediakan busana-busana untuk kaum hawa. Menurut Siti, penjaga toko Sofie'sticated baju-baju yang disediakan bukan buatan Sofie'sticated tapi berasal dari berbagai tempat termasuk Jakarta.

Dalam toko kecil yang berada di Jalan Dipatiukur No 70 B ini, dari sekian item yang disediakan, baju pesta adalah baju favorit yang paling banyak diincar.

Minidress-minidress cantik model kemben atau babydoll tergantung dengan penonjolan sisi feminin yang lebih kental. Model-model tersebut biasanya di padu padankan dengan legging yang juga tengah jadi tren. Gaya fashion yang cocok untuk yang ingin tampil simple dan girlie tanpa harus tampil berlebihan.

Sofie'sticated tak hanya menawarkan minidrees. Blouse-blouse ringan berbahan lembut, sepatu, tas, aksesoris aksesoris bernuansa natural atau jeans dan t'shirt untuk yang ingin tampil lebih tomboy.

Untuk harga dress dari mulai Rp 100-Rp 185 ribu, tas Rp 85-Rp 120 ribu, sepatu Rp 240-Rp 280 ribu, aksesoris Rp 50-Rp 65 ribu. Semoga penampilan pun jadi lebih sophisticated!

Warna-Warni Overcoat di Yello

Warna-Warni Overcoat di Yello
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Tren terus berganti, ada yang berulang atau berkembang bersamaan dengan perkembangan budaya dan ide-ide kreatif yang melingkupinya. Mengubah kestatisan menjadi kedinamisan, termasuk dalam balutan fesyen yang sepertinya kian jago dalam urusan menumpahkan ide.

Kedinamisan itu pula yang ditawarkan Yello, House of Clothes yang berada di Jalan Laswi No. 1K. Seperti kekakuan overcoat yang disulap menjadi overcoat-overcoat penuh warna dengan ragam mode yang sarat dengan dinamika. Apalagi untuk para pekerja yang menuntut penampilan rapih sekaligus tak membosankan.

Nita, penjaga Yello mengatakan overcoat-overcoat khas Yello banyak dicari oleh wanita pekerja. “Khas kita memang overcoat. Biasanya model-model overcoat banyak dicari oleh para pekerja sepulang dari kantor,” ujarnya.

Overcoat dalam bentuk long coat hingga selutut atau blazer-blazer modis dengan kerah unik. Overcoat yang biasanya dipakai untuk musim dingin ini memang dibuat dari bahan-bahan tebal. Misalnya bahan suede, corduroy atau bahan lainnya yang tak hanya enak dipandang tapi menghangatkan.

Melihat konsep House of Clothesnya Yello tentu saja bukan hanya overcoat. Banyak item fesyen lain yang juga menawarkan kedinamisan. Meski model-modelnya terbilang tidak pasaran tapi tidak ketinggalan zaman. Model-model blus yang sedang in saat ini dengan panjang hingga lutut atau minidress juga long dress dengan warna-warna lembut.

Keberagaman produk Yello sekaligus terbatas di saat bersamaan mengundang pelanggan yang tidak sedikit. Kalau boleh dibandingkan menurut Nita antara pelanggan dan pembeli baru perbandingannya 60 berbanding 40 persen.

Yello sendiri sebenarnya berada di bawah label Robe Noerm. Sehingga setiap itemnya bukan berlabel Yello tapi Robe Noerm. Menurut Manager Robe Noerm, Iis, seperti halnya distro, sebelumnya Robe Noerm juga menyediakan label clothing lain. Tapi beberapa tahun ini Robe Noerm menjual hanya labelnya sendiri dengan perluasan item produk. Tak hanya pakaian tapi bergerak ke produk lainnya seperti sepatu, tas, dompet, aksesoris dan lain-lain.

Untuk overcoat harganya berkisar antara Rp 139 ribu-Rp 219 ribu, dress antara Rp 19 ribu-Rp 300 ribu, t’shirt dari Rp 69 ribu-Rp 90 ribu. Dalam suasana ruangan minimalisnya Yello akan membawa pada atmosfer belanja yang cukup nyaman.

Produk Robe Noerm selain bisa didapatkan di Yello juga ada di toko Robe Noerm di 18 Park, Jalan Martadinata dan Bandung Trade Center (BTC) Jalan Terusan Pasteur.

Let's Get Rock di Rockstar

Let's Get Rock di Rockstar
rivki - detikBandung

Bandung - Musik cadas yang tak pernah surut pendukung kian kemari mulai dilirik peluang usahanya. Setiap penikmat musik rock berlomba ingin tampil bak sang idola walau hanya sekedar mengenakan merchandise kelompok musik pujaannya. Peluang ini pula yang kemudian diambil Ridho Trisonly dalam menghargai sebuah karya seni sekaligus pemenuhan hasrat penikmat musik cadas untuk menjadi seorang Rock star.

Di tengah membanjirnya barang-barang aspal (asli tapi palsu) musik cadas, Juni 2005 Ridho memberanikan untuk medirikan usaha merchandise khusus musik rock bernama Rockstar dengan lisensi yang bisa dikatakan terjamin.

“Gue mendirikan Rockstar karena gue menghargai hasil karya orang lain, kasihan hasil karya orang lain kalau tidak kita hargai,” ujar Ridho saat ditemui detikbandung di Jalan Tirtayasa No.34 Bandung.

Untuk jenis barang yang dijualnya ia khususkan bertemakan rock yang ia pesan langsung dari perusahaan atau record luar negeri yang melinsensi produk-produk khusus rock dengan cara beli putus.

"Jadi kalau barangnya tidak laku juga itu sudah resiko," Kata Ridho.

Bukan hanya pakaian yang ditawarkan di Rockstar, kaset, baju, gelang, atau sepatu menjadi pilihan para penggila musik rock. “Di sini menjual enam kategori produk seperti aksesoris, Boots and Shoes, Poster, records, action figures dan apparels, dan genre-nya Musik, Movie And Life Style, semuanya bertemakan rock,” ujar Ridho.

Harga pakaian yang dijual di Rockstar sendiri berkisar dari Rp 185 ribu-Rp 250 ribu. Selain grup rock yang sedang naik daun di kalangan muda-mudi, grup-grup musik legendaris diakuinya masih menjadi favorit pengunjung yang singgah di tempatnya.

"Band-band legendaris seperti The Beatles dan The Doors masih digemari oleh pembeli di sini,” tutur pria lulusan ITB ini.

Diakuinya pula pembeli yang datang ke Rockstar tidak memiliki patokan usia tertentu, dari mulai ABG sampai dengan usia kepala lima hadir dan menjadi pelanggan d tempatnya.

“Pembeli di sini usianya mulai dari anak SMP sampai orang yang berumur 50 tahun, dengan kelas sosial yang beragam," jelasnya.

Tolak Jadi Spion Pembajakan di Negeri Sendiri

Tolak Jadi Spion Pembajakan di Negeri Sendiri
Rivki - detikBandung

Bandung - Menjual produk-produk musik rock luar negeri berlisensi membuat pemilik Rocstar Ridho Trisonly dipercaya. Bahkan sempat ditawari oleh perusahaan merchandise rock luar negeri untuk menjadi spion di negeri sendiri terhadap produk-produk luar negeri yang dibajak. Namun tawaran tersebut ditolak.

"Saya tidak mau tahu usaha orang lain, kalau memang mereka ingin memberantas pembajak, kenapa mereka tidak ke sini saja," Kata Ridho saat detikbandung berkunjung ke tempat usahanya di Jalan Tirtayasa No 34, Bandung.

"Setiap orang mempunyai rezekinya masing-masing, jadi gue tidak peduli mau membajak atau apa, yang penting kita sama-sama usaha," sambungnya lagi.

Setiap usaha selalu menemui kendala. Bagi Ridho, kendala yang dihadapi adalah nilai kurs dolar yang tidak menentu sehingga dirinya mengaku kesulitan jika harus menghitung berapa jumlah pengeluaran dan pendapatan yang dipatok oleh Rockstar

"Misalnya bulan ini harganya segini, bulan depan belum tentu harganya sama. Otomatis modal dan keuntungan yang didapatkan tiap bulan berbeda," ujar Ridho mencontohkan.

Perkembangan rock yang pesat, mau tak mau membuat Rockstar harus mengupdate barang-barang yang ditawarkannya.

"Tergantung bulannya, kalau bulan menjelang puasa hingga bulan akhir tahun, biasanya gue memperbanyak stok barang karena pada bulan tersebut pembelinya ramai. Kadang-kadang dalam satu bulan kita pernah tidak memperbaharui barang yang ada di toko."

Bukan hanya pakaian yang ditawarkan di Rockstar, kaset, baju, gelang, atau sepatu menjadi pilihan para penggila musik rock.

"Di sini menjual enam kategori produk seperti aksesoris, Boots and Shoes, Poster, records, action figures dan apparels, dan genre-nya Musik, Movie And Life Style, semuanya bertemakan rock," ujar Ridho.

Untuk pakaian, bukan hanya kelompok-kelompok musik yang sedang tren di kalangan remaja, grup-grup band legendaris seperti The Beatles dan The Doors menjadi favorit pengunjung yang singgah ke tempatnya.

Curahan Hati Koil dalam Clothing

Curahan Hati Koil dalam Clothing
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Sudah bukan rahasia. Selain manggung, banyak grup-grup musik yang memiliki usaha sampingan di bidang clothing. Tak terkecuali Koil. Grup musik beraliran rock yang digawangi Otong, Doni, Imo dan Leon ini ternyata cukup berhasil dalam usaha clothing mereka melalui label god.incorporated atau cukup dipanggil god.inc.

Di sinilah para personel Koil menumpahkan curahan hati mereka yang tidak tertuang melalui musik. Desain-desain yang terwujud dalam setiap produk mereka merupakan hasil ciptaan personel Koil sendiri. Lihat saja bagaimana goresan tangan mereka di outlet god.inc yang berada di kawasan distro Jalan Sultan Agung.

Menurut Store Manager Paulus Ferdinand god inc berdiri tahun 2000 tapi bukan dengan nama god inc melainkan Ommunium. Nama ini mengingatkan kita pada satu toko buku di depan kampus Unpar, Jalan Ciumbuleuit yang pernah diulas detikbandung beberapa waktu lalu. Di mana produk-produk yang dijual saat itu campur-campur antara buku dan clothing.

Tapi karena memiliki konsep usaha yang berbeda maka akhirnya para pendiri Ommuniuum ini memutuskan untuk memisahkan diri. Ommunium sendiri kini populer sebagai toko buku meski di dalamnya juga ada penjualan clothing. Untuk Koil sendiri akhirnya memilih nama god.incorporated untuk nama baru label mereka.

Paulus menuturkan, god.inc sendiri dibagi dua bagian, yaitu toko yang khusus menjual produk-produk god.inc dan Godstore yang memuat label-label clothing lain.

"Awalnya hanya produk-produk god Inc tapi banyak teman-teman yang mau nitip akhirnya god.inc pun menjual produk label clothing lain," tutur Paulus. Sebanyak 60 clothing bergabung di tempat ini misalnya Platform, Volta, Horny, juga label clothing lainnya. Banyaknya clothing ini otomatis mengambil tempat yang lebih besar daripada outlet khusus produk god.inc sendiri.

Untuk produk god.inc, selain menjual merchandise Koil juga menjual merchandise band Kubik. Di mana salah satu personel Kubik, Adam turut membantu dalam penggarapan musik Koil.

Fokus god.inc sendiri memang di kaos. Tapi peluang untuk memproduksi produk-produk lainnya pun tidak begitu saja ditinggalkan. Tak kurang dari 15 item produk diproduksi misalnya celana, topi, syal, tas, sepatu dan produk lainnya.

Soal manajemen, personel Koil sendiri yang langsung terjun. Namun menurut Paulus, selama dua tahun terakhir jadwal manggung mereka yang cukup padat tidak memungkinkan mereka untuk mengelola manajemen god.inc. Sehingga untuk pengelolaan di lapangan akhirnya mereka harus mulai menyerahkan tanggung jawab pada orang lain.

"Tapi untuk desain masih para personel Koil yang megang," tutur Paulus.

Menurut Paulus, sampai saat ini para personel Koil dan manajemen god.inc terus berusaha untuk mengembangkan usaha clothing mereka agar lebih profesional. Di tengah atmosfer persaingan distro yang kian kompetitif, Paulus menganggap mereka masih berada di tengah persaingan yang sehat bahkan saling membantu.

Ingin tahu lebih banyak tentang god.inc? Klik godincorporated.multiply.com.

Bergaya Black in Black

god.incorporated
Bergaya Black in Black
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Gothic, istilah yang muncul dari satu zaman di Eropa ini seringkali diidentikan dengan kegelapan. Sampai saat ini istilah gothic pun masih terus digunakan sebagai bentuk penggambaran terhadap sesuatu bernuansa hitam atau hal-hal berbau kegelapan. Baik itu untuk musik juga fashion dan gaya dandanan.

Mungkin kesan itu pula yang muncul ketika melihat desain-desain khas dari god.inc yang didominasi dark style ini. Hal itu diakui Store Manager god.inc Paulus ferdinand yang mengatakan banyak juga yang bilang kalau gaya god.inc ini beraliran gothic.

Paulus sendiri mengaku tidak tahu pasti bagaimana konsep gaya gothic ini tapi yang pasti 90 persen kaos god.inc berwarna hitam. Nggak tanggung-tanggung memang, kaos hitam masih juga disablon dengan warna hitam.

"Black in black," tutur Paulus. Menurutnya begitulah ekspresi musik para personel Koil yang berperan sebagai desainer yang dituangkan dalam bentuk gambar.

Untuk sebagian kaos memiliki temanya tersendiri. Hal itu disesuaikan dengan moment keluarnya album baru Koil. Setiap merchandise dibuat dengan versi yang berbeda dan tak selalu black in black.

Bahkan Desember lalu, god.inc sempat memajang kostum manggung Koil yang secara eksklusif dijual pada publik. Beberapa action figure yang terpajang di dalam toko pun menjadi pajangan menarik yang bisa dilihat oleh para pengunjung. Sayangnya koleksi salah seorang personel Koil ini tidak dijual.

Paulus menambahkan, jalur band juga cukup efektif untuk memperkuat penjualan produk god.inc. Selain kuatnya komunitas fans Koil, secara tidak langsung personel Koil turut mempromosikan god.inc dengan menggunakan produk god.inc saat mereka manggung. "Itu lumayan efektif meningkatkan penjualan. "god.inc ada karena Koil," ujarnya.

Sedangkan untuk band lainnya, god.inc tidak mengendorse band tertentu tapi sekadar membantu. god.inc memberikan produk mereka pada beberapa band. Jika band tersebut suka tanpa merasa terpaksa mereka memakai produk god.inc. tercatat nama band seperti The Massive termasuk Ahmad Dhani yang juga sempat bekerjasama dengan Koil.

Kaos 'Nakal' Ciri Khas Sunda

Kaos 'Nakal' Ciri Khas Sunda
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Menyampaikan pesan positif tak selalu dengan cara-cara politis atau kata-kata diplomatis. Kata-kata ringan bernada sentilan pun bisa jadi pesan yang menarik asal dikemas dengan kreatif.

Misalnya Baong, label clothing yang masih terbilang baru ini mencoba mengemas pesan tersebut di dalam setiap desain kaosnya. Baong adalah kosakata Sunda yang berarti nakal. Maka kata-kata 'nakal' pun dipilih sebagai bentuk pengungkapan pesan yang ingin disampaikan.

Tapi bukan nakal dalam artian sebenarnya. Nakal di sini lebih mengarah pada kata jahil yang bisa membuat orang tertarik membaca sekaligus juga teringatkan. Seperti halnya nama Baong yang sudah begitu nyunda, menurut pemilik Baong, Ahmad, konsep Baong pun memang tak jauh dari tema-tema kesundaan.

"Kita coba mengangkat tema-tema Sunda untuk mengingatkan kembali orang Sunda terhadap budayanya yang hilang," ujar Ahmad ditemui di stand Baong di Festival Imlek Ciwalk. Sehari-harinya kaos Baong ini bisa ditemui di lantai dasar Plaza Cihampelas Walk.

Baong yang baru lahir tujuh bulan lalu itu mengangkat tema keseharian masyarakat Sunda dengan kata-kata yang mudah dicerna, ringan dan unik. Kritik sosial yang coba disampaikan tidak dalam bahasa-bahasa berat yang membuat dahi berkerut tapi kata-kata yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.

"Tema-tema kita gampang dicerna dan akrab dengan kehidupan sehari-hari," ucap Ahmad.

Misalnya kalimat yang diambil dari permainan anak zaman baheula 'paciwit-ciwit lutung si lutung pindah ka luhur'. Anda ingatkan dengan permainan tersebut? Kritik sosial lain dibalut dalam kalimat 'kata istri ke-3 kakek sayah dari ibu dulu Mah Bandung teh sejuk!. Kalimat itu untuk mengingatkan kalau Bandung dulu begitu sejuk dengan kerindangan pohon dibandingkan kondisi Bandung saat ini.

Tak hanya desain, Baong pun menunjukan ukuran kaos dengan bahasa Sunda. Untuk ukuran S dengan kata sereg (sempit, ukuran M dengan kata mejeh (pas), ukuran L dengan kata logor (longgar) dan ukuran XL dengan kata xumpah logor. Harga kaos berada di kisaran Rp 60-Rp 79 ribu. Selain kaos, merchandise lain yang dijual adalah pin.

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons