Kaus Desain Pelesetan Rengkuh Pasar Lokal

YOGYAKARTA, KOMPAS - Semakin ketatnya persaingan dalam industri pakaian membuat beberapa produsen kaus dengan desain pelesetan khas Yogyakarta harus memperluas jangkauan pasar. Namun demikian, tidak semua strategi pemasaran yang diterapkan mendapat respons positif dari konsumen. Beberapa jenis kaus pelesetan tersebut dapat ditemui di hampir semua pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Tempat-tempat itu mulai dari emperan toko di sepanjang Jalan Malioboro sampai yang memiliki gerai sendiri seperti merek Dagadu atau Sarapan.

Marketing Communication Officer PT Aseli Dagadu Djokja Daniell Alkam selaku produsen kaus oblong Dagadu mengemukakan, Jumat (28/9), bisnis kaus berdesain pelesetan di Yogyakarta memang cukup menjanjikan. Iklim kehidupan warga Yogyakarta yang kreatif amat mendukung tumbuhnya bisnis tersebut, bahkan Yogyakarta telah menjadi kutub tren tersendiri bagi desain kaus pelesetan secara nasional. "Masyarakat Yogyakarta umumnya sadar bahwa mereka punya produk yang unik, namun kesadaran ini tidak lagi didukung dengan tindakan nyata, seperti memakai produk kaus yang juga memiliki nilai budaya tersebut," ujar Daniell.

Padahal, tanpa adanya dukungan konsumsi pada tingkat masyarakat lokal, perlahan-lahan usaha kaus pelesetan bisa terpuruk. Tanda- tanda ke arah ini pun sudah bisa dilihat dengan semakin maraknya pertumbuhan gerai kaus berdesain modern, seperti distro atau butik, yang ada di Yogyakarta.

Menyiasati hal ini, Daniell mengatakan sudah menyiapkan strategi untuk merengkuh kembali pasar lokal, di antaranya menggiatkan komunikasi dengan masyarakat dan memudahkan perolehan produk di tempat belanja yang bernilai strategis, seperti Unit Gawat Dagadu (UGD) di Jalan Pakuningratan, Pos Pelayanan Dagadu (Posyandu) di Mal Malioboro, dan Djawatan Pelayanan Resmi Dagadu (DPRD) di Plaza Ambarukmo. "Adapun salah satu bentuk komunikasi itu kami lakukan di bulan puasa ini dengan menggelar omus atau obrolan menjelang buka puasa.

Melalui acara semacam itu, kami juga bisa memperkenalkan produk-produk baru," kata Daniell. Sejumlah produsen kaus pelesetan lain juga mencoba menarik minat masyarakat lokal dengan membuka gerai di pusat perbelanjaan. Sayang tidak semua pengunjung tertarik untuk membeli produk mereka. Seperti gerai kaus pelesetan berdesain ucapan khas pelawak Tukul Arwana yang ada di Plaza Ambarrukmo. Menurut salah seorang penjaga gerai tersebut, produknya sempat laku ketika acara yang dipandu Tukul sedang marak. Namun, saat ini penjualan relatif sepi karena minim desain baru. (YOP)

Cerianya Kaus Pelangi

Siapa tak kenal Nidji, band top yang terdiri atas Giring, Rama, Ariel, Adrie, Andro, dan Randy? Tak hanya konsep musik yang memadukan unsur-unsur rock, pop, progresif, dan funk, penampilan Nidji juga penuh warna seperti pelangi.

Maklum saja, nama Nidji pun diambil dari "niji", kata dalam bahasa Jepang yang berarti pelangi. Tak heran kalau sang vokalis, Giring, kerap memakai baju kaus bercorak pelangi.

Kini, kaus bermotif pelangi itu menjadi tren di kalangan anak baru gede (ABG). Yang memakainya bukan cuma para fan Nidji. Dari cewek, cowok, orang tua, hingga anak-anak suka mengenakannya.

Kaus yang ngetop dengan nama kaus pelangi atau laskar pelangi itu tidak beda dari kaus bergambar barong khas Bali atau kaus bergambar candi ala Yogyakarta. Bahannya pun sama, yakni dari katun rayon, santung, atau kaus.

Yang membedakan hanya gambar motif. Seperti namanya, kaus pelangi menonjolkan motif abstrak dengan permainan warna-warni yang ceria dan mencolok.

Kaus pelangi dalam bahasa fashion lebih dikenal sebagai tie-dye yang dipopulerkan oleh kaum Hippies atau Flower Generation pada era 1960-an.

Istilah tie-dye sendiri memang dipakai untuk menggambarkan proses pembuatan seni tekstil ini. Memang, biasanya baju ini dibuat dari kaus putih yang kemudian diikat lalu dicelupkan ke zat pewarna untuk menghasilkan motif abstrak berwarna tertentu.

Kaus pelangi kini tidak lagi hanya dijumpai di distro-distro favorit. kaus itu dengan mudah bisa ditemukan di pusat-pusat perbelanjaan modern sampai pasar-pasar baju tradisional. Harganya pun murah meriah, dari Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu per potong dalam berbagai ukuran.

Homsiatun, 25 tahun, karyawan gerai Tas & Accessories di Gading Food City, Kelapa Gading, mengaku, dalam sehari kaus tersebut laku empat sampai lima potong.

"Kalau hari Sabtu dan Minggu untuk yang harganya Rp 25 ribu bisa laku sampai tujuh potong dan yang Rp 35 ribu laku empat potong," dia menjelaskan kepada Tempo Gading, Jumat pekan lalu.

Menurut dia, model yang sering dicari pembeli adalah kaus laskar pelangi dengan tali yang berada di pinggang. Karena stok yang tersedia terbatas, banyak yang terpaksa memesan.

Begitu pula pengakuan Ana, penjaga toko baju di Hypermall Kelapa Gading. Dalam sehari gerainya bisa menjual lima potong, sedangkan pada akhir pekan bisa mencapai tujuh potong.

Motif yang banyak dicari para ABG, kata Ana, adalah yang bercorak gambar. Sedangkan para ibu lebih menyenangi model daster. Harga kaus model daster adalah Rp 50 ribu.

Wanti, 27 tahun, salah satu penyuka kaus pelangi, mengaku membeli karena bahannya yang tipis, tidak terlalu panas, terasa nyaman, dan adem saat dipakai. "Lagi pula ketika dicuci, ternyata tidak luntur," ujar dia.

Rohman, salah seorang pengunjung gerai yang dijaga Ana, mengaku sedang mencari model kaus laskar pelangi yang berbeda dari yang lainnya. Setelah berputar-putar mengelilingi Hypermall, ia akhirnya mendapatkan model unik.

"Saya menemukan model kaus laskar pelangi dengan kerah karet. Selama ini kan kaus laskar pelangi yang saya lihat model kerahnya selalu dibordir," katanya kepada Tempo Gading, Senin lalu.

Nah, jika ingin tampil ceria penuh warna seperti pelangi, mengapa tak coba kaus laskar pelangi? DODY HIDAYAT | M. FAHRIZAL

Industri Kaus Surapati Belum Tergali

BANDUNG, (PR).-
Sentra industri kaus Jalan Surapati Bandung dinilai mempunyai nilai lebih yang dapat mendukung program klaster industri tekstil dan produk tekstil (TPT), yakni sebagai titik masuk bagi industri tersebut. Hal ini dikemukakan berdasarkan hasil survei diagnostik dan pemetaan industri TPT Jawa Barat yang difokuskan pada sentra industri kaus Jalan Surapati oleh PT Perkindo.

Hasil survei ini dipresentasikan dalam sebuah acara Forum Group Discussion yang diselenggarakan oleh PT Perkindo bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat pada Senin (14/8) di Galeri Ciumbuleuit, Jalan Ciumbuleuit Bandung.

Dalam paparannya, Asep Efendi, perwakilan dari PT Perkindo, mengatakan sentra kaus Surapati merupakan salah satu potensi yang masih belum tergali dan menjadi perhatian pemerintah. Padahal, berdasarkan survei yang dilakukannya transaksi usaha industri inti kaus Surapati mencapai lebih dari Rp 5 miliar/bulan.

Produk kaus ini tidak ditujukan pada pasar internasional, tetapi hanya pasar lokal. "Jika dipersentase, hampir 96% untuk pasar domestik, sedangkan sisanya ekspor," ujar Asep. Namun, harus diakui bahwa industri di Surapati ini masih menggunakan sablon hand made, sehingga mampu bersaing dengan pasar domestik maupun produk impor lain.

Dalam surveinya, Asep juga menemukan bahwa belanja pemerintah untuk produk kaus dan atribut lainnya cukup tinggi. "Bisa dibilang belanja pemerintah mempunyai nilai transaksi paling tinggi untuk usaha kaus Surapati," tuturnya. Sejumlah dinas seringkali memesan pakaian olahraga, topi, atau perlengkapan pakaian pemerintah lainnya.

Menurut Asep, kios atau outlet yang ada di sepanjang jalan Surapati mencapai lebih dari 269 mencakup industri inti yang berada di pinggir jalan. Setiap industri kaus didukung oleh industri pendukung, yakni jasa desain, jasa sablon, jasa bordir, dan jasa jahit yang masing-masing berdiri sendiri.

Industri kaus ini mulai menggeliat mulai tahun 1982. Meskipun telah melalui rentangan waktu yang cukup panjang, usaha kaus ini masih dalam proses pencarian identitas. Hal ini didorong oleh keinginan para pemilik usaha kaus untuk menjadikan wilayah Surapati sebagai sentra industri wisata belanja, layaknya Cihampelas atau Cibaduyut. Keinginan ini disampaikan salah seorang pengurus Koperasi Sentra (Kopsen) Kaus Surapati, Drs. H. Asep H. Anshari.

Menurut Asep Anshari, kendala yang dihadapi pengusaha kaus adalah masih rendahnya apresiasi masyarakat terhadap produk mereka. Ke depan, Asep Anshari menginginkan setiap pengusaha kaus mampu menciptakan desain sendiri, tidak hanya menunggu diberikan desain.

Kepala Subdin Bina Program Disperindag Jawa Barat, Ir. Hj. Hani Yuhani, M.P.M, mengatakan, kelemahan pengusaha kaus Surapati yakni mereka masih berorientasi job order. "Wisatawan butuh barang yang siap beli, siap jadi untuk oleh-oleh. Sementara, selama ini kebanyakan industri kaus di Surapati belum menyediakan bahan jadi," ungkapnya. (A-155)***

Bisnis Kaus Sablon Banjir Order

BANDAR LAMPUNG (Lampost):
Bisnis penjualan kaus oblong sablon sangat diminati masyarakat Bandar Lampung. Ini terbukti dengan lakunya kaus sablon yang dijual perajin sablon asal Solo di Artomoro dan Ramayana.

Menurut Krisna, perajin sablon asal Solo, Selasa (26-10), dalam sehari bisa 200-an kaus sablon yang terjual. "Usaha ini baru digelar sepekan di sini, tetapi sudah mampu menghabiskan 1.000 kaus sablon yang dipesan masyarakat Bandar Lampung," katanya.

Krisna mengatakan harga kaus sablon bervariasi tergantung ukuran. Untuk ukuran kaus nomor 5 dijual Rp12.500 (sudah termasuk upah sablon), nomor 6 Rp15 ribu, nomor 8 dijual Rp17.500, nomor 10 dijual Rp20 ribu, nomor 12 dijual Rp22.500, nomor 14 dijual Rp25 ribu, nomor 16 dijual Rp27.500, dan paling besar nomor 18 dijual Rp30 ribu.

Gambar yang disediakan untuk sablon pun bermacam-macam, terdiri dari Spiderman, Mickey Mouse, Tom and Jerry, Tweety, Superman, aneka jenis huruf untuk nama. "Kami memberi keleluasaan konsumen memilih sendiri gambar yang akan disablon," katanya.

Menurut Krisna, untuk bahan baku berupa kaus, pewarna dan alat sablon dipasok langsung dari Solo. "Jika stok kaus oblong habis, kami segera menghubungi pabrik kaus oblong yang sudah lama menjadi rekanan kami di Solo," ujarnya.

Jika konsumen membawa kaus sendiri, kata Krisna, hanya dibebankan upah sablon untuk satu huruf Rp1.000 dan gambar Rp5 ribu. "Biasanya dalam sehari, omzet yang bisa diperoleh paling minim Rp2 juta, tetapi kalau hari Minggu bisa mencapai Rp3 juta-an," katanya.

Krisna mengatakan pangsa pasar kaus sablon di Bandar Lampung sangat bagus, di mana peminatnya anak-anak dan remaja tanggung. Usaha penjualan kaus sablon ini dilakukan berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya, untuk Bandar Lampung ini yang pertama.

Dari pantauan Lampung Post, meskipun tempat usaha kaus sablon tersebut menyewa tempat yang relatif sempit, tapi antrean panjang orangtua untuk memesan kaus sablon anaknya di lantai dasar Artomoro cukup panjang. "Antrean panjang ini sudah sejak pagi hingga menjelang magrib," kata Krisna.

Menurut Krisna, omzet yang diperoleh per hari bisa menutupi biaya sewa tempat seluas 2x3 meter selama sebulan Rp2,5 juta. "Rencananya penjualan kaus sablon di Bandar Lampung ini hingga akhir Lebaran, tetapi jika dilihat peminatnya masih banyak akan diteruskan sampai semuanya dilayani," kata Krisna.

Krisna mengatakan usaha kaus sablonnya ini memunyai beberapa cabang yang tersebar di Yogyakarta dan Solo. "Sebab itu, kami melakukan penjualan keliling untuk mengetahui pangsa pasar di satu kota termasuk Lampung, jika memungkinkan pasarnya akan membuka cabang di sini," katanya.n ORA/E-1

Stres Melanda Perajin Kaus Kampanye

Stres ternyata tak hanya dialami para calon anggota legislatif (caleg) yang kalah dalam pemilu legislatif (pileg) lalu. Para perajin kaus kampanye di Jalan Suci, Kota Bandung juga menderita tekanan psikis yang sama.

Bagaimana tidak. Pemilu kemarin meninggalkan jejak utang yang menggunung bagi para perajin kaus tadi, berasal dari pesanan kaus kampanye yang sampai sekarang tertunggak dan tidak jelas pelunasannya.

Pemilu 2009 memang sangat berbeda dengan Pemilu 2004. Berharap memperoleh berkah dari keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menetapkan pemilihan caleg berdasarkan suara terbanyak, ternyata sangat berlebihan. Kenyataannya, para perajin kaus kampanye itu harus gigit jari, bahkan memperoleh "warisan" berupa utang besar akibat para pemesan mengemplang untuk melunasi kewajiban.

Pada awalnya memang menjadi berkah. Ini bahkan telah dirasakan sejak dua tiga bulan menjelang dimulainya masa kampanye terbuka 16 Maret 2009. Order berdatangan dari seluruh Indonesia dengan jumlah ratusan ribu kaus, topi, dan rompi.

Dibandingkan dengan Pemilu 2004, order Pemilu 2009 ini mengalami kenaikan signifikan. Menurut Ketua Koperasi Perajin Kaus Jalan Suci dan Asosiasi Perajin Kaus Sentra Suci Marnawi Munamah, nilai order Pemilu 2004 hanya mencapai Rp 5 miliar, sedangkan total keseluruhan nilai order di Sentra Kaus Suci Kota Bandung selama Pemilu 2009 ini mencapai Rp 15 miliar.

Akan tetapi, ternyata harapan tinggal harapan. Niat hati meraih untung yang dapat malah buntung atau bingung. Inilah yang dialami para perajin Sentra Kaus Suci. Harapan Pemilu 2009 akan menjadi berkah atau kesempatan besar untuk menangguk keuntungan, ternyata sebaliknya. Sejumlah partai, caleg, dan pihak pemesan yang semestinya melunasi sisa pembayaran order, setelah pemungutan suara 9 April 2009, tiba-tiba menghilang dan mendadak sulit dihubungi.

Masalah jadi tambah rumit tatkala tidak sedikit perajin yang mendapat order itu ternyata bukan langsung dari caleg, tapi melalui pihak ketiga yang tidak jelas hubungannya dengan caleg bersangkutan. Hasilnya, ketika utang yang menumpuk ditagih, para perajin hanya dipingpong.

Padahal ratusan ribu kaus, topi, dan rompi sudah dikirim sesuai pesanan pada saat kampanye lalu. Meski belum ada pelunasan, selama ini perajin tetap mengirim pesanan hanya berdasar kepercayaan bahwa si pemesan (caleg) akan membayar atau melunasi utangnya.

Namun, sampai berakhirnya masa kampanye hingga penghitungan suara belakangan ini, para pemesan belum juga melunasi. Tentu saja ini membuat beberapa perajin kaus terancam rugi dan bangkrut.

Tidak tanggung-tanggung, kerugian itu mencapai miliaran rupiah. Padahal, modal yang telah dikeluarkan perajin tidak sedikit, termasuk modal kepercayaan dari pabrik bahan kaus.

Lumbangaol, pemilik CV Rovolin, mengaku telah menambah modal Rp 1,1 miliar demi mengerjakan order dari kantor pusat salah satu partai di Jakarta senilai Rp 3 miliar. Sampai sekarang, ternyata masih menunggak hingga mencapai Rp 2,3 miliar.

"Belum lagi utang-utang saya ke pabrik kaus yang sampai sekarang terus menagih," katanya.

Ihwal order yang diterima dari kantor pusat salah satu partai di Jakarta itu, Gaol mengaku pengerjaannya melalui tiga tahap sesuai Surat Perintah Kerja (SPK) yang ditandatangani langsung oleh ketua partai tersebut. Akan tetapi, dari ketiga tahap itu hanya tahap pertama yang dibayar, sedangkan dua tahap berikutnya belum juga dibayar, repotnya nilainya mencapai Rp 2,3 miliar.

"Setiap saya tagih, alasannya dibuat-buat. Mereka bilang kualitasnya jelek. Kalau komplain soal kualitas kenapa tidak komplain sejak pengerjaan tahap pertama? Komplain itu muncul setelah barang-barang itu dipakai. Ini kan akal-akalan. Saya tempuh dengan cara kekeluargaan, memang ada respons, tapi dipingpong," katanya.

Pengalaman sama dialami H. Wawan Gunawan pemilik Planet Production. Dari Rp 4 miliar total order kampanye yang dikerjakan, hingga waktu yang disepakati masih ada 25 persen yang belum juga dilunasi pemesan. Repotnya, pemesan kebanyakan dari luar Jawa.

Seperti Gaol, Wawan berusaha terus menghubungi pihak pemesan, tapi belum juga ada realisasi kecuali janji-janji. Bahkan, ada juga pemesan yang handphone-nya tak bisa lagi dihubungi.

**

KERUGIAN perajin kaus kampanye dalam pemilu kali ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Sejak awal, saat order membeludak selama masa kampanye, mereka juga diliputi perasaan waswas. Disadari, bahwa keuntungan dari order kampanye tidak terlalu besar dibandingkan dengan mengerjakan order pesanan kaus sekolah atau instansi lain. Untung yang kecil itu sangat tidak sebanding dengan risiko besar kerugian yang kini mulai dikeluhkan.

Bukan sekali dua kali para perajin kaus kampanye ditinggalkan pemesannya yang masih menunggak uang pelunasan. Bahkan, di kalangan perajin kaus, ulah para pemesan order kampanye itu bukan lagi cerita baru.

Hampir dalam setiap musim kampanye, pemilu ataupun pilkada, selalu terdengar ada perajin kaus yang dirugikan akibat ulah pemesan.

Jangankan order pemesanan yang langsung dari caleg atau tim suksesnya, yang langsung ditandatangani ketua partai lewat SPK saja, seperti dialami Gaol, tetap tidak menjamin pembayaran lancar. Sejak awal kampanye dulu para perajin menyambut ramainya order itu dengan harap-harap cemas.

Wawan menyebut order pemilu sebagai untung-untungan, sama dengan berjudi. Apalagi, ia hanya menerapkan aturan pembayaran di muka atau down payment (DP) 50% dari nilai order. Ini sangat berisiko, tambahan lagi sering kali pemesan belum mau membayar pelunasan sebelum barang dikirim. Meski begitu barang terpaksa tetap dikirim walau pemesan belum melunasi.

"Sama dengan gambling, berjudi. Sampai sekarang saya deg-degan. Stres tak hanya dialami caleg yang kalah. Kami juga stres karena pesanan banyak yang belum dibayar. Kami juga tambah stres bila mengetahui caleg yang kalah dan tercatat sebagai pemesan itu stres. Ini berarti harapan untuk melunasi utang ke kami menjadi sangat kecil," ujarnya.

Order yang belum dibayar ke Wawan nilainya mencapai Rp 1 miliar . Meski nilai itu "hanya" 25% dari nilai total omzetnya selama kampanye, tapi bagaimana pun ini menjadi pengalaman dan pelajaran berharga buat dia.

"Ini jadi pelajaran buat kampanye pemilihan presiden (pilpres) nanti. Saya ingin minta pembayaran order lunas saja. Produksi kaus kampanye akan disesuaikan dengan dana yang telah dibayar. Kami tidak mau rugi dua kali," katanya. (Ahda Imran)***
Penulis:
Back

Monique Kocke: Kaus Parental Untuk Edu


Ibu satu anak berusia 30 tahun ini mendirikan Parental Advisory Baby Clothing, sebuah distro baju anak. Desainnya tak biasa. Misalnya, t-shirt bertuliskan: Kill Sinetron-Kids Against Television, Where’s My F*ckin’ Milk, atau gambar gajah dan tulisan: It’s an elephant not a penis. Menyeramkan? Ya. Tapi, Monique punya misi lain di balik desain yang ia gagas.

Kapan bikin Parental Advisory Baby Clothing (PABC)?
Sekitar akhir 2006. Ide awalnya sih karena saya enggak menemukan distro anak yang sesuai selera. Tahun-tahun itu di Bandung banyak distro buka, tapi 90 persen cuma menjual produk untuk remaja dan dewasa, enggak ada produk buat anak. Saya juga enggak begitu tertarik dengan baju anak yang kebanyakan ada.
Nah, kebetulan waktu itu saya baru saja melahirkan. Akhirnya terpikir membuat baju anak. Itu pun tadinya cuma buat anak sendiri atau buat anak teman-teman.

Punya latar belakang desain?
Enggak. Saya lulusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran, Bandung. Jadi, saya masuk bisnis pakaian ini ya ibaratnya terjun bebas saja. Selain karena soal selera, saya juga melihat ada peluang di situ. Ya sudah, jalan deh.

Kenapa memilih nama PABC?
Karena dari awal, idenya ingin membuat baju anak yang agak nyeleneh. Selain itu, ada misi yang ingin saya sampaikan. Kalau melihat desain atau kata-katanya, baju-baju PABC kata orang terlalu kasar untuk anak-anak. Padahal, justru sebetulnya saya ingin supaya orangtua yang membeli baju buat anaknya bisa menjelaskan maksudnya ke anak. Anak dapat bimbingan (parental advisory). Jadi, bukan hanya bikin tanpa ada makna apa-apa di balik desain. Rata-rata, desain atau kata-kata PABC ada sejarahnya.

Misalnya?
Contohnya t-shirt bertuliskan Kill Sinetron; Kids Against Television. Itu karena menurut saya, anak sekarang enggak bisa hidup tanpa televisi. Sementara acara buat anak-anak di televisi kita sekarang ini kayaknya enggak ada edukasinya, enggak ada yang pas. Baru sekarang ada "Si Bolang" atau "Laptop Si Unyil" lumayanlah. Sebelum-sebelumnya kan sinetron melulu. Hampir di semua stasiun televisi ada sinetron, dari pagi sampai malam. Jadi, kapan jam-jam anak bisa nonton?
Celakanya kalau orang tua juga suka sinetron. Supaya anaknya diam, anak diajak nongkrong di depan televisi, nonton sinetron. Yang ada anak mengikuti adegan di sinetron. Orang marah-marah, memaki-maki enggak jelas. Itu kan membunuh karakter anak.

Contoh lain?
Ada t-shirt tulisannya Where’s My F*ckin’ Milk? Lumayan laku. Penjualannya bagus terus meski sudah beberapa produksi ulang (repeat). Misi tulisan di desain itu adalah supaya ibu-ibu muda mau memberi ASI eksklusif minimal 6 bulan ke anaknya. Syukur-syukur 2 tahun. Soalnya ada kecenderungan, orang sekarang lebih mementingkan pekerjaan ketimbang hak anak. Nah, minum ASI itu hak anak. Ada kekhawatiran yang enggak perlu, seperti, "Aduh kalau saya nyusuin, bentuk badan jadi berubah", "Saya enggak punya waktu nyusuin karena harus kerja," dan sebagainya yang buat saya sangat tidak masuk akal.

Anda sendiri memberi ASI ke putri Anda?
Saya termasuk yang kurang beruntung enggak bisa memberi ASI eksklusif ke anak saya, Magia Calluella Chaszta Az-Zurra (2,8). Waktu itu habis melahirkan, saya harus menjalani operasi, masuk ICU 2 hari. Jadi, enggak bisa langsung kasih ASI. Setelah operasi, ASI jadi terhambat. Saya sudah coba bermacam cara, tapi enggak bisa keluar juga. Saya menyesal sekali. Bukan mau irit, tapi karena itu hak anak. Kalau saya bisa membayar, berapa pun saya akan bayar supaya saya bisa kasih ASI eksklusif ke anak saya. Tapi mungkin saya memang tidak beruntung, ya. Jadi, tolong kalau bisa memberi ASI eksklusif, kasihlah anak ASI eksklusif. Kalau bisa yang alami, kenapa harus kasih susu pabrikan?

Efektif enggak pesan-pesan itu disampaikan lewat desain t-shirt?
Cukup efektif karena desain sangat berbicara. Desain Kill Sinetron tadi misalnya, ternyata banyak orang tua yang memang enggak setuju dengan acara-acara yang ada di televisi.

Orang yang enggak mengerti bisa-bisa berkomentar, "Kok kalimatnya seperti itu?"
Makanya ada product knowledge. Jadi kalau ada konsumen, kami jelaskan satu-satu maksud kalimatnya apa. Pernah ada yang berkomentar, "Gila, ini apa-apaan sih maksudnya? Ya saya sih mencoba berpikir positif saja, menerima itu sebagai masukan. Tapi, rata-rata konsumen yang beli di sini adalah pelanggan tetap yang sudah enggak kaget lagi. Ada sih satu-dua orang yang bilang, "Oh, ternyata ada desain begini buat anak?" Ya kami jelaskan saja. Jadi, kami enggak sekadar jual tanpa makna atau misi.

Pendekatan ke pelanggan personal sekali, ya
Betul. Kami ajak pembeli ngobrol dan memberi pengertian. Tapi sejauh ini enggak ada yang komplain sampai ngotot yang gimana gitu. Kami malah banyak melakukan kerjasama, misalnya jadi sponsor acara anak-anak. Jadi, enggak cuma sekadar jualan.

Sekilas seperti kaus dewasa yang dipakai anak, ya?
Bisa jadi ada yang melihat begitu. Tapi anak sekarang lebih kritis, lho. Banyak pelanggan yang datang anaknya memilih sendiri. Karena saya punya anak, jadi saya tahu juga. Dan memang orang tua harus menjelaskan.

Siapa sih yang membuat desain dan kalimat-kalimatnya?
Saya dibantu teman saya, Phaerly. Karena saya enggak punya latar belakang desain, biasanya kalau ada ide di benak langsung eksekusinya saya serahkan ke dia. Saya bikin gambar gunung aja pakai penggaris ha-ha-ha. Paling kalau ada yang kurang saya kasih masukan.

Sekarang sudah ada berapa desain?
Lebih dari 60 desain. Mayoritas warnanya memang hitam, putih, dan abu-abu. Kami sengaja pilih warna-warna tua karena baju anak-anak sekarang kan kebanyakan warna-warna pastel. Kami ingin beda. Dan ternyata banyak yang bilang justru lebih menarik. Karena itu tadi, warna mainstream-nya kan warna-warna pastel yang colourfull. Kami juga pikirkan bahan dan sablon seperti apa yang yang nyaman buat anak-anak.

Model kausnya juga panjang. Kebanyakan baju anak kan pendek di bagian torsonya. Nah, saya sengaja modifikasi. Saya masih ingat kultur orang Timur, kalau bajunya pendek pusarnya jadi kelihatan. Saya lihat masih banyak kok orangtua yang enggak kepingin pusar anaknya kelihatan. Model memanjang kayaknya juga lebih enak daripada ngatung.

Selain kaus, apalagi yang dijual PABC?
Macam-macam, dari diapers bag, tas anak, topi, jaket, celana, sepatu, sandal. Pasarnya lumayan bagus kok. Omzet per bulan kalau sedang ramai bisa Rp 70 juta. Meskipun sekarang sudah mulai banyak brand lain. Di Bandung aja ada sekitar 5 brand yang konsepnya mirip-mirip PABC. Cuma enggak tahu ya, mungkin orang tahu PABC lebih awal, jadi mereka biasanya membandingkan sama produk-produk PABC. Tapi banyak saingan justru bagus karena kami jadi harus berpikir, bikin saya terpacu.

Rencana bisnis ke depannya seperti apa?
Yang jelas saya mau ekspansi. Banyak sih yang minta atau menawarkan kerja sama, cuma belum ada yang menawarkan display sendiri. PABC ini kan baju anak, kalau display-nya disatukan sama baju dewasa, susah. Enggak kelihatan. Apalagi warna-warna kami warna dewasa.

Soal anak, pola pendidikan seperti apa sih yang Anda terapkan?
Saya dan suami sangat terbuka ke anak. Hal-hal yang masih tabu buat sebagian orang, saya sampaikan ke anak. Contohnya pendidikan seks, sudah saya kenalkan ke Magia sejak dini. Jadi, ia sudah tahu lho, proses kelahiran dia, dia keluar dari mana, dia punya vagina, menstruasi itu apa, dan sebagainya. Tapi tentu disesuaikan dengan perkembangannya. Hal-hal kecil seperti ini menurut saya justru jadi starting point yang harus disampaikan sejak dini.

Sambil bisnis, enggak repot punya anak balita ?
Saya selalu mengajari Magia untuk mandiri. Jadi, saya hampir enggak pernah merasakan repotnya punya anak balita. Saya enggak pernah gendong dia, tidur sendiri, saya tinggal pergi juga enggak rewel. Paling-paling dia nanya, "Ibu mau ke mana? Oh, mau nyari duit ya? Buat beli susu ya?" Dari lahir sampai sekarang enggak pernah pakai pembantu atau baby sitter. Semua saya kerjakan sendiri. Dia juga enggak pernah nonton televisi, kecuali acara musik. Kalau musik, 2-3 jam dia betah. Kalau pas kebetulan lihat adegan sinetron, dia malah suka nanya, "Kenapa sih orangnya marah-marah? Memang siapa yang nakal, kok dimarahin?"
Memang cukup kreatif dan kontroversial juga usaha yang dikelola oleh ibu muda ini. Tetapi di balik kontroversialnya, ia membawa visi dari setiap product-nya. Dan itulah yang disukai dan dicari oleh konsumennya.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : kompas.com

Cendera Mata Kaus Lawang Sewu

Semarang & Sekitarnya
04 Maret 2009

BAGI wisatawan yang pernah datang ke Semarang, bandeng presto, lumpia, dan wingko babad bukan sesuatu yang asing lagi untuk dibawa pulang sebagai buah tangan khas Semarang. Begitu pula dengan Lawang Sewu, Gereja Blenduk, Tugu Muda, Stasiun Tawang, dan Kelenteng Sam Poo Kong yang merupakan bangunan bersejarah di Kota Semarang.

Tapi, bagaimana bila para wisatawan itu membawa pulang bangunan bersejarah lengkap dengan kisah asal-usulnya? Tentu bisa mereka bisa membawa pulang itu semua bukan dalam bentuk miniatur, buku, foto ataupun gambar, tapi dalam bentuk kaus.

Ya, kaus-kaus dengan gambar bangunan, makanan, dan permasalahan Kota Semarang ini bisa jadi alternatif cendera mata. Beragam desain khas Semarang ditawarkan.

’’Selama ini banyak orang mencari cendera mata dari Semarang yang tahan lama dan tidak cepat habis. Maka dari itu kami memproduksi kaos-kaos bergambarkan ciri khas Semarang,’’ kata Indri Pristiowati dari Jolali KaoSemarang di Jl Brigjend Katamso No 20.

Tak cuma bangunan bersejarah atau landmark Semarang yang tertera dalam kaus-kaus hasil desain sang suami, Heru Setyabudi, yang dijual dengan harga Rp 55.000 - Rp 60.000. Ada pula permasalahan kota dan bahasa Semarangan.

Simak saja salah satu tulisan dalam kaus produksi Jolali yang banyak digemari anak muda. Semarang kaline banjiiir, Aja sumelang ora dipikiiir, Kalau cuma dipikir, mana bisa banjir berakhir?

Apalagi ditambah dengan ilustrasi gambar mobil yang terpaksa didorong karena terjebak banjir, sepeda motor yang macet, dan becak yang juga terpaksa didorong, membuat kaus ini banyak diburu.

’’Wisatawan dari luar kota seperti Kendari, Manokwari, Medan, Surabaya, Jakarta,
Lhokseumawe, banyak yang menggemari kaus Tugu Muda. Kalau yang dari luar negeri seperti Jerman, Belanda, Jepang, suka desain sederhana seperti warna hitam putih pada Gereja Blenduk,’’ tutur pemilik toko yang baru dibuka 4 September 2008 itu.

Ada pula wisatawan yang meski tidak tahu arti bahasa Semarangan seperti asem ëik, gombal mukiyo, barange krenyeh, ndhes, bakule nggedhebus, dan marahi nggondhuk yang tertera dalam kaos, tetap saja membelinya.
Mengukur Langsung Selain itu, jika ingin membawa pulang Lawang Sewu lengkap dengan gambar denah, sejarah, serta tiga dimensinya, Masjid Agung Jawa Tengah dengan site plan, sejarah, dan detail dua dimensinya, atau Stasiun Tawang dengan sejarah dan denah lokasinya, bisa membelinya dengan harga Rp 40.000 - Rp 75.000 di Gambpang Sembarangan Jl Ruko Tri Lomba Juang No 8.

Menurut Manager Gambpang Sembarangan Veronica Graciawati, kaus khas Semarangan ini menampilkan gambar-gambar teknik arsitektur bangunan kuno bersejarah yang dibuat khusus dengan pengukuran langsung di lapangan.

’’Untuk proses desain butuh waktu lama, karena kami harus mengukur langsung dan menggambarnya. Jadi, ukuran gambar di kaus dibuat sesuai skala bangunan aslinya,’’ katanya

Selain kaus, Gambpang Sembarangan juga menyediakan cendera mata dalam bentuk mug, sandal, tas, pengganjal pintu, pin, gantungan kunci, jam dinding, dan bakiak dengan harga terjangkau.

’’Banyak orang Semarang yang mborong untuk dibagikan kepada sanak saudara di luar kota,’’ katanya. (Fani Ayudea-37)

Sukses Kaus, Lirik Distro

Entrepreneurs Wed, 18 Feb 2009 15:17:00 WIB

Bagi sosok Wawan Gunawan, pemilik Planet Production di Jl Surapati Bandung, terjun ke bisnis kaus tidak disesalinya. Malah, kini dia mulai mengembangkan kerajaan bisnis kaosnya itu ke usaha distribution outlet (distro) yang identik dengan anak muda.

Sejak memulai usahanya pada 1998, tidak terhitung berapa banyak potong kaus yang sudah dikerjakannya.

Bisnisnya ini berawal setelah krisis moneter pada 1997, ketika kaus impor dari mancanegara semakin mahal. Akhirnya, banyak yang memproduksi sendiri untuk dijual di pasar dalam negeri.

Kemudian pada 2000-an, tumbuh kaus yang diproduksi di rumahan untuk dipasarkan di jaringan distro, seperti merek 347, Ouval, Airplane atau Eat.

"Industri kaus Suci tumbuh ketika krisis ekonomi tengah melanda negeri ini pada 1998. Ketika itu, banyak yang kehilangan pekerjaan dan beralih ke usaha sablon kaus. Banyak juga yang mendirikan warung kaus dan terbukti kaus memberi kami penghidupan sampai hari ini," katanya bercerita.

Sebelum sukses menjadi perajin terbesar di sentra kaus Suci, dia hanya perajin kecil yang mengerjakan kaus limpahan dari perajin lainnya. Namun, 2 tahun kemudian, tepatnya pada 1998, karena keseriusannya tersebut, akhirnya mampu memiliki pelanggan sendiri.

"Mesin saja tidak punya, pesanan yang dikerjakan pun lemparan dari perajin lainnya. Namanya juga order lemparan, pasti mendapatkan jatah yang sedikit," kata pria kelahiran 13 Maret 1957 ini.

Usahanya mulai berkembang setelah mendapatkan pesanan dari salah satu partai peserta pemilu pada 1999 sebanyak 200.000 potong kaus. Ketika itu, jumlah itu terhitung sangat besar mengingat perajin lainnya hanya mendapatkan pesanan sekitar setengahnya saja.

Sejak saat itu, nama Planet Production mulai dikenal hingga puncaknya terjadi pada 2004, karena mendapatkan pesanan pengerjaan kaus kampanye pemilihan presiden sebanyak 1 juta potong kaus.

Nama Planet Production pun semakin terdengar di telinga para pemesan kaus, yang sebagian besar adalah partai politik. Bahkan, tidak jarang pula setiap parpol tersebut memberikan referensi Planet Production kepada parpol lainnya.

"Sekarang, alhamdulillah sudah punya mesin sendiri sekitar 100 unit mesin obras, 20 unit mesin jahit, dengan jumlah pekerja mencapai 120 orang. Pesanan pun datang hampir dari tiap provinsi," katanya.

Khusus untuk pembuatan kaus pilkada, Planet Production banyak menerima pesanan sejak 2004.

Menurut Wawan, pesanan untuk pilkada lumayan besar jumlahnya, mencapai sekitar 300.000 potong per bulan. Kaus itu biasanya dibuat dari bahan hyget yang murah dengan harga jual Rp 5.000 per potong.

Satu partai atau calon kepala daerah biasa memesan sekitar 5.000 potong untuk satu desain. Keuntungan yang dikantongi hanya sekitar 5%. "Tak besar untungnya, tapi kalau pesanan banyak dan terus, itu bisa menghidupi produksi," kata Wawan.

Namun, dia mengingatkan saat high season seperti sekarang, menjelang pemilihan calon legislatif dan presiden 2009, perajin kaus harus ekstra hati-hati. Pasalnya, banyak rekan usahanya yang merugi saat pemilu 2004, bahkan sampai gulung tikar, karena pesanan kaus tidak dibayar.

"Seorang perajin merugi Rp85 juta karena ada beberapa parpol yang tidak menebus pesanan kaus," katanya.

Bidik distro

Melihat kesuksesan yang diraih Planet Production, kini banyak yang ikut mendirikan industri rumahan kaus di Bandung.

Bagi Wawan, industri kaus bukan sekadar mengejar keuntungan ekonomi, melainkan juga merupakan proses mengembangkan karyawan menjadi manusia mandiri dan produktif.

Hal itu dibuktikan dengan adanya keinginan para pekerja kaus untuk mengembangkan usahanya sendiri. Dengan kata lain, mengekor kesuksesan bosnya.

Kini dia mempunyai empat pabrik, dengan produksi rata-rata 500.000 potong kaus per bulan. Jika tidak dalam musim pemilu, dia memproduksi kaus untuk memenuhi pesanan dari berbagai perusahaan, seperti perusahaan rokok, operator telepon seluler, atau perbankan.

Wawan berencana mengembangkan usahanya dengan membuka sejumlah distro di Kota Bandung. Meskipun belum memiliki merek sendiri, lulusan Akademi Industri dan Niaga pada 1980 ini sangat serius menggarapnya.

Bahkan, seandainya memiliki dana yang cukup, pria yang sempat mengenyam pendidikan Teknik Industri di Universitas Pasundan ini berkeinginan untuk turut membuka cabang Planet Production di kota lain.

"Rencana ke depan, akan membidik distro, sekarang baru punya satu distro, meskipun hanya produksi saja. Nah, tahun ini, selain menambah jumlah distro, saya juga akan punya merek sendiri," terang ayah tiga putra ini.

Rencana ekspansi tersebut akan mulai dikerjakan setelah pengerjaan pesanan untuk kampanye calon legislatif dan presiden selesai.

Meskipun terhitung baru di dunia distro, tidak menyurutkan niatnya untuk tetap berkecimpung dan harus bersaing dengan kreativitas anak muda. Dia yakin, dirinya cukup profesional dan ahli dalam menjalankan usaha distro.

"Usaha distro sedikit berbeda dengan mengerjakan kaus partai, dibutuhkan quality control yang benar dan memang harus ahli dan kreatif," katanya.

Di bisnis distro, Planet Production harus bersaing dengan usaha sejenis yang sudah berdiri lebih dahulu di Jalan Sultan Agung-Trunojoyo, yang telah melejit dan mendapatkan tempat di hati anak muda. (redaksi@bisnis.co.id)

Ajijah
Kontributor Bisnis Indonesia

Sumber: Bisnis Indonesia

Cerita Surabaya dalam Sebuah Kaus






Ditulis oleh : Lisa Febriyanti, Feb 27, 2009, di Usaha Kreatif

Dari namanya saja, CakCuk, sudah langsung bisa ditengarai dari mana brand ini berasal. Yup, ini adalah salah satu kreasi arek-arek Suroboyo. Dengan memanfaatkan bahasa lokal, CakCuk mengisi ruang kreativitas di Surabaya. Dan itu diaplikasikan pada media yang tak pernah usang di makan zaman, kaus.

Jika Bali punya Joger, Jogja punya Dagadu, Surabaya pun sudah punya CakCuk. Produsen kaus CakCuk memang menangkap segala napas khas Surabaya yang dituangkan dalam gambar dan kata-kata dalam designya. Disajikan dengan lugas, kadang dengan parodi dari brand-brand ternama, dipadu dengan lokalitas daerah yang kental. Bukan hanya menarik, CakCuk yang berkibar dengan tagline Kata Kata Kota Kita, kerap mengundang senyum atau bahkan misuh-misuh sendiri jika melihat designnya. Suroboyo pol, pokoke.

Ada juga design lain dengan frasa-frasa nakal yang dikaitkan dengan lokalisasi terbesar se Asia Tenggara, Dolly. Kata Dollywood misalnya, dipajang bersama dengan kata Hollywood dan Bollywood. Biasanya, design yang berhubungan dengan Dolly ini kerap membuat orang tersenyum. Tapi ada juga design-design yang bicara tentang sejarah Surabaya.

CakCuk saya kenal sejak dua tahun yang lalu saat pulang ke Surabaya. Awalnya, produsen memanfaatkan ruang pameran untuk memperkenalkan produknya. Dengan memajang banner contoh-contoh designnya, counter CakCuk tak pernah sepi pengunjung.

Sekarang ini, CakCuk sudah membuka outlet kecil di Jl. Dharmawangsa. Saya pikir, pemilihan lokasi di sana pas, karena Jl. Dharmawangsa tak jauh dari pusat kota dan banyak kampus yang bertebaran di sana. Di outlet kecil itu, puluhan design dan warna dipajang. Sepanjang pengamatan saya, designnya pun terus bertambah dan makin menggelitik.

Perluasan produk pun mulai dijalankan. Jika semula hanya kaus, CakCuk sekarang juga menawarkan tas dan sandal. Untuk kaus, ukuran S hingga XL dipatok dengan harga Rp49.000, untuk ukuran XXL harga bertambah Rp10.000. Bahan kausnya pun enak dipakai dan tidak melar. Sedangkan untuk tas selempang, bisa dibawa pulang dengan harga Rp10.000.

Kreativitas lokal tak pernah mati. Sentuhan yang jeli dalam melihat pasar, mampu meningkatkan daya saing dengan pasar global. Bayangkan saja, Surabaya bukanlah kota wisata, seperti Bali dan Jogja, tapi Surabaya punya banyak cerita lokal yang menarik dan jika diramu dengan kreativitas bisa menjadi usaha yang cukup menjanjikan. Jadi, sekarang jika cari oleh-oleh dari Surabaya, tak melulu kerupuk udang atau petis saja, CakCuk-in saja!

catatan: foto diambil dari koleksi pribadi

Kaus "Cap Duit"

Coba lihat baik-baik, logo apa saja yang tercantum di dada kaus pemain bola. Semua logo itu artinya uang atau duit, sebab logo sponsor itu hasil rundingan serius antara kesebelasan finalis Liga Champions dengan suatu perusahaan. Entah itu bank, maskapai penerbangan, perusahaan otomotif dan elektronik, merek bir, hotel sampai kasino, itu sah-sah saja tercetak di kaus bagian dada pemain yang keringatan dan jungkir balik di lapangan.

Pemasangan logo sponsor di kaus pemain zaman sekarang sudah terang-terangan dan kagak pake malu-malu lagi. Semua finalis jagoan itu akan berlari-lari memainkan bola sebagus mungkin sambil mengenakan kaus kebanggaan berikut logo sponsor yang berani bayar mahal. Cuma sayangnya, di antara semua kesebelasan itu ada yang unik.

Coba lihat dan perhatikan kaus FC Barcelona, apakah Ronaldinho cs yang kausnya loreng biru-merah itu ada logonya. Sebab, kaus Barcelona sampai tutup tahun 2006, memang polos-polos saja. Meski klub kaya raya dari Spanyol ini seumur-umur emoh pake sponsor, meski mulai 2007 akan memakai logo juga, bermerek "Unicef". Uang pemasukan sponsornya akan diserahkan bundar-bundar ke badan sosial PBB. Bravo!

Sponsor dalam dunia olahraga memang sudah merambah ke mana-mana. Malah pesta olimpiade yang seharusnya kelas "amatiran" dunia sejak dua dekadean ini mottonya yang "citius altius fortius", mungkin jamak kalau diimbuhi kata "sponsorius". Dunia panggung olahraga memang arena ngeceng dan gelanggang nampang paling tepat buat logo perusahaan besar. Penonton, suporter, dan pemirsa tayangan peristiwa olahraga, khususnya sepak bola, memang menjadi incaran sponsor untuk menyertakan logo atau nama perusahaan sebagai penyandang dana.

Sepak bola yang konon tontonan olahraga paling top menjadi sasaran utama. Tercatat kesebelasan Ajax dari Belanda menjadi kesebelasan voetbal pertama di Eropa yang berani nempelin merek ABN AMRO di kausnya di gelanggang Liga Champions 1995. Sejak itu pula, perusahaan besar lain pun ikut mengincar kesebelasan yang mau deal agar mau disponsorinya. Mulailah logo sponsor menjadi hiasan dada dan punggung kostum pemain kelas dunia.

Warna ada maknanya

Kaus berbahan tahan robek dengan celana pendek menjadi kostum bola sejak permainan ini distandarkan organisasi dunia. Dulu ya dulu, begitu kisahnya "jadul" alias jaman dulu, kaus dengan warna-warninya, konon memiliki makna dan arti keramatnya. Katanya kata, warna merah menjadi warna favorit karena dianggap macho, berani, garang macam dongeng film Rambo. Warna biru yang juga amat disukai, katanya anggun dan harmoni, damai dan indah.

Pokoknya warna-warni khusus itu menjadi merek khas tiap kesebelasan nasional ataupun klub sepak bola. Warna pun menjadi lambang dan "karakter" setiap kesebelasan.

Soal kaus saja, tahun akhir 1980-an pernah turun tim penelitian psikologi. Pakar ilmu kejiwaan ini sempat membahas dan menganalisis dan akhirnya berstetmen: "Warna-warni seragam pemain sepak bola, itu suatu ekspose yang rada ekshibisionis kalau pemain bola itu hendak dirinya diperhatikan lawan, juga pemujanya," begitu katanya. Juga jenis warna pun sempat dihimpun dari berbagai sudut positif dan negatifnya. Hingga tersebutlah kalau ada warna yang "ragu-ragu, banci, lemes, ketakutan, kematian, dan lainnya".

Kini yang terjadi pun terjadi sudah. Finalis Liga Champions yang tahun 2007 akan mejeng dengan kostum full sponsor. Mereka akan terang-terangan pakai kaus "cap duit", tanpa malu-malu dan malu-maluin klubnya. Juga asal tahu saja, misalnya Manchester United yang pasang logo AIG, duit kontrakkannya setahun 14,13 juta poundsterling. Malah, perusahaan minyak Tamoil dari Libya berani bayar 15 juta pound untuk sponsorin Juventus.

Samsung berani bayar per tahun untuk Chelsea sebanyak 10 juta pound, Liverpool menerima 5 juta pound per tahun dari Carlsberg, Real Madrid dapat 14 juta pound dari BenQ yang telkomnya Taiwan. Tottenham Hotspur dibayar 8,5 juta pound oleh Mansion yang punya rumah judi. Arsenal pun menerima 5,5 pound per tahun dari Emirates, termasuk penamaan Emirates bagi stadion selama 10 tahun yang dibayar lagi 1.000 juta pound.

Berapa banyak rupiahnya, ya hitung saja kalau kurs poundsterling itu sebiji menjadi 18.000-an rupiah, jadi berapa rupiah kalau 15 juta pound itu.

Wah, banyak uang gara-gara kaus bola "cap duit". Mudah-mudahan kesebelasan Indonesia yang kini masih ribut-ribut dengan ribet, soal pemasangan logo merek rokok di kostumnya, bakalan terima rezeki dari sponsornya. Namun, katanya ada klub menolak karena hanya kebagian berita, bukan berjuta-juta uang rupiah. Payah!

RUDY BADIL Wartawan, Tinggal di Jakarta

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons