Kaus Dagadu Laris Manis, Terjual 40.000 Potong Sebulan



Kamis, 24 September 2009 | 18:56 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Mohamad Final Daeng

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Kaus Dagadu yang menjadi salah satu ikon Kota Yogyakarta pada libur Lebaran ini laris manis diserbu pembeli. Kebanyakan pembeli adalah pemudik yang mencari buah tangan untuk dibawa pulang ke kota masing-masing seusai libur panjang Lebaran ini.

Suasana padat terlihat di Unit Gawat Dagadu (UGD), outlet Dagadu terbesar dari tiga outlet di Yogyakarta, Kamis (24/9). Parkir kendaraan pembeli memenuhi Jalan Pakuningratan, lokasi UGD, hingga sepanjang sekitar 100 meter dan sempat menimbulkan kemacetan kecil.

Heri Azis (55), warga Bintaro, Jakarta, khusus menyempatkan datang ke Yogyakarta dari perjalanan mudiknya di Purworejo hanya untuk membeli kaus-kaus yang dikenal dengan desain-desain kreatifnya ini. "Saya bersama rombongan keluarga setiap tahun selalu datang ke sini untuk membeli kaus Dagadu," katanya.

Kaus-kaus itu ada yang dipakai sendiri dan ada juga yang untuk oleh-oleh bagi kerabat dan teman di Jakarta. "Kalau membeli makanan kan cepat habis, kalau kaus kan bisa awet dipakai sampai Lebaran tahun depan lagi," katanya.

Hal serupa juga dikemukakan Giri (31), warga Sentul, Bogor, yang membeli delapan potong kaus Dagadu. "Saya sebenarnya mudik ke Solo. Ini sudah mau pulang, tapi mampir dulu ke Yogya membeli oleh-oleh," katanya.

Giri menyatakan, tidak ada anggaran khusus untuk membeli oleh-oleh itu. "Fleksibel saja. Kalau ada yang desainnya bagus saya beli. Hari ini habis hampir Rp 500.000 untuk membeli kaus," katanya.

A Noor Arief, direktur sekaligus salah satu pemilik Dagadu, menyatakan bahwa pada saat libur Lebaran seperti ini, penjualan bisa mencapai dua kali lipat dari bulan biasa. Kalau penjualan di bulan biasa mencapai sekitar 20.000 potong. "Kalau liburan panjang seperti ini bisa mencapai 40.000 potong sebulan," katanya.

Untuk menyiasati agar konsumen tidak bosan, Arief mengatakan bahwa pihaknya selalu memperbarui desain setiap satu bulan sekali. Khusus menyambut libur Lebaran ini, Dagadu menyiapkan tujuh desain baru kaus dengan tema "Roemah Moedik".

"Tema besarnya juga masih dikaitkan dengan perayaan 17 Agustus dan isu nasionalisme yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan masyarakat," ujar Arief.

Beramal lewat Kaus


general, people ~ {September 11th, 2008 - 1:09 am}

BANYAK cara berkampanye untuk memerangi HIV/AIDS di dunia. Salah satunya dengan menggelar penjualan busana seperti yang dilakukan Julia Roberts, 41.
Si ‘Pretty Woman’ itu bekerja sama dengan desainer Italia Giorgio Armani mengeluarkan produk baru berupa kaus dengan label bertuliskan Red atau singkatan dari revolution, evolution, devotion.

Julia pun menyempatkan melukis gambar pohon yang menjadi gambar utama pada kaus karya Armani itu. Di balik kaus terdapat tanda tangan Julia Roberts.
‘’Kata Red diambil dari nama produk atau merek penggalangan dana untuk Global Fund guna memerangi AIDS, tuberkulosis, dan malaria,’’ jelas Julia.

Sebetulnya Armani telah menjual produk fesyen berlabel Red sejak 2006 dan telah terkumpul uang senilai US$110 juta. Bergabungnya Julia dengan rumah mode Imperio Armani merupakan kedua kalinya. Sebelumnya Julia juga terlibat dalam penggalangan dana amal untuk HIV/AIDS, tepatnya tahun lalu. Kala itu, Julia mengenakan gelang kulit bergambar pohon.(Reuters/M-6)

SLANK Jual Kaus Gratis Album


Pipit
Published 09/28/2009 - 9:15 a.m. GMT

Pembajakan yang makin merajalela membuat Slank jengah, tapi Slank punya strategi. Strategi ini tergolong unik. Jika biasanya band-band lain gencar memasarkan kaset dan VCD album terbarunya, Slank yang beranggotakan Kaka, Bimbim. Ridho dan Abdee, malah jualan kaus untuk mempromosikan album terbarunya.

Cara ini dinilai efektif untuk menghindari pembajakan yang kian merajalela. Kaus dengan hadiah kaset dan VCD album baru Slank akan dijual dengan seharga Rp 50.000.

“Jadi kalau biasanya orang beli album dapat kaus, kita malah jualan kaus, gratis album.” ujar Kaka tersenyum.

Album yang dijual adalah album “Anthem for The Broken Hearted” yang tahun lalu sudah dirilis di AS, dan kini kembali dirilis di negeri sendiri atas permintaan penggemar setia Slankers. “Sekarang baru bisa dirilis di Indonesia, kebetulan juga ada permintaan dari para penggemar,” ujar Kaka, saat ditemui disela-sela manggung di salah satu stasiun TV, akhir September lalu.

Impian merilis album di Amerika sudah mulai dirintis sejak tahun 2006. Dari lagu-lagu pilihan yang tergabung dalam ‘Anthem for The Broken Hearted’ ini, aransemennya tidak banyak yang diubah. Bimbim menambahkan “Masih ada aranseman asli dari dari lagu-lagu terdahulu, hanya beberapa saja yang dirubah sedikit.” katanya.

Selain itu slank juga akan mengangkat tema peristiwa peledakan Bom Kuningan. Kata Bimbim, tema ini membawa pesan bahwa teror bom tidak pernah bisa dibenarkan dengan dalil apa pun

Melestarikan Cagar Budaya Surabaya Dalam Kaus



Kamis, 26 Maret 2009

Mengkoleksi sejarah Surabaya tidak lagi monopoli foto, tulisan maupun lukisan. Setidaknya, itulah cara pandang baru yang digagas Kuncarsono Prasetyo. Sejak setahun lalu, lelaki 31 tahun ini mulai mendokumentasikan semua warisan budaya Surabaya dalam bentuk kaus dengan merak dagang Sawoong.

Awalnya desain tidak hanya tentang Surabaya, ada banyak desain yang umumnya berkarekter pop art. Langgam desain yang lagi tren. "Namun diperjalanannya, yang laku adalah desain yang berbau cagar budaya Surabaya, aneh ya," kata Kuncar saat dihubungi detiksurabaya.com, Rabu (25/3/2009).

Sejak saat itu dia kemudian mengubah konsep awal. Menggarap urusan desain dengan lebih serius selain mengejar kualitas bahan. Dia banyak riset dan mengumpukan foto dokumentasi sejarah Surabaya, termasuk buku dan koran tempoe doloe sampai bertemu para ahli sejarah.

"Ini semua agar hasil desain Sawoong tidak menjadi bahan tertawaan karena salah mengambil tema," ungkapnya. Selain kaus, dia juga memproduksi pin yang bergambar beragam bangunan bersejarah Kota Pahlawan.

Bersama sejumlah anak muda yang ahli desain grafis, Kuncar melakukan terobosan desain. Karakternya diputuskan tunggal yaitu retro dengan aroma heritage atau warisan budaya.

Agar lebih berbau tempo dulu, uniknya semua tulisan dalam desainnya menggunakan ejaan van Ophuijsen, ejaan melayu pasar yang populer sejak 1901. Tidak hanya desain di kaus, di brosur, desain banner, hingga desain webnya juga karekternya sama. Pilihan huruf di kata kata juga disesuaikan dengan karakter huruf art deco yang.

"Tren desain di masa akhir kolonialisme," katanya bangga.

Hasilnya bisa dilihat sekarang. Hampir semua gedung dan kawasan bersejarah di kota ini mejeng sudah di kaus. Mulai Hotel Majapahit, Balai Kota, Gedung Brantas, Jalan Panggung, Stasiun Semut, Balai Pemuda, Gedung Cerutu, hingga Pintu Air Jagir.

Bahkan karena kekuatan risetnya, dia berani menghadirkan latar belakang kisah tiap gedung. Misalnya Balai Kota yang dibangun 1920-1925 oleh arsitek CG Citroen.

Atau yang lebih lengkap adalah kisah Gedung Brantas di Jl Pahlawan 116. Sawoong menghadirkan riwayatnya. Mulai nama De Prootel, kantor redaksi koran De Soerabiasche Handelsblad, menjadi koran Soeara Asia, berubah menjadi Surabaja Post.

"Saya kisahkan sosok wartawan pejuang A Aziz dalam kisah gedung ini," ujar Kuncar.

Belakangan karena risetnya semakin dalam, Sawoong juga mengangkat tema lain. Di antaranya iklan promosi dagang Surabaya yang diambil dari iklan sebuah surat kabar 1931.

Ini unik karena kalimatnya campuran bahana melayu pasar dan Belanda. Juga desain prangko yang terbit tahun 1935 plus stempel Surabaya. "Saya tidak hanya menjual kaus, namun mempromosikan sejarah Kota Surabaya yang mulai memudar," ujar pengusaha muda ini.

Modal Cekak
ika kini Sawoong telah berkibar dengan dua gerai dan sebuah website untuk penjualan online, modal awalnya ternyata hanya Rp 4 juta. Pertengahan 2007, dia memulai dengan memproduksi100 kaus. Masing-masing desain jadi dicetak 10 kaus. Modal yang cukup tipis itu pun ludes, apalagi kaosnya saat itu belum diminati.

"Bingung memikirkan kaus menumpuk di rumah, saya beranikan membuka konter," ungkapnya. Dengan modal utangan Rp 5 juta, lulusan FISIP Unair ini pun nekat memilih menyewa gerai di City of Tommorrow (Cito). Belakangan karena terobosan desain itu, Sawoong semakin dikenal sebagai tempat cinderamata Surabaya.

Hampir semua agen perjalanan wisata perusahaan modal asing di kota ini, hingga Dinas Pariwisata menggiring tamunya ke Sawoong. Transaksi lewat online juga semakin sibuk. Belum lagi pesanan kaus promosi dan perusahaan.

Sejak empat bulan lalu Kuncar tidak lagi berbagi garapan kaus ke temannya, karena satu set masin jahit dan mesin potong sudah mampu dibelinya, melengkapi dua set alat sablon yang sudah ada.

Dia juga menyewa rumah untuk workshop di kawasan Sidotopo Wetan. Ada lima pekerja di workshop, enam tenaga marketing dan bagian administasi.

"Sekarang rata-rata omzet perusahaan di kisaran Rp 4 juta per hari," kata arek Suroboyo ini. Kini counternya tidak hanya satu di Cito, namun juga mulai menjajah di mal lain. Giliran pengunjung di Jembatan Merah Plasa 1 yang dibidik.

Tahun 2009 ini, Kuncar tengah menyiapkan membuka dua cabang Sawoong lagi di mal lain. "Saya juga sedang menjajaki kerja sama membuat rumah Sawoong di tengah kota. Tempat bertemunya para penggila ide kreatif sekaligus promosi Surabaya," ungkap dia.

Kini Kuncar bisa tersenyum, bisnis sekaligus upaya untuk ikut melestarikan cagar budaya yang ada di Kota Pahlawan mulai menuai hasil.(gik/gik)

Achmad Dhani Rilis Koleksi Kaus

Tak hanya piawai merangkai musik, Achmad Dhani rupanya berbakat jadi designer, baru baru ini pentolan grup band Dewa tersebut melauching koleksi kaus hasil rancangannya.


Untuk merealisasikan proyek bisnis fesyen tersebut, Dhani bekerja sama dengan Lee Cooper, brand ternama asal Inggris.

"Kami senang bekerja sama dengan Ahmad Dhani. Kebetulan tahun ini Lee Cooper juga mengusung tema koleksi yang bernapaskan musik. Untuk itulah, kesempatan emas ini tidak kami sia-siakan," tutur Marketing Manager Lee Cooper Indonesia, Suharti Sadja saat berbincang dengan okezone, Senin (19/5/2009).

Suharti menjelaskan, pihak Lee Cooper bertugas memproduksi kaus yang didesain khusus Ahmad Dhani. Namun, produksi kaus tahap awal masih ada campur tangan dari Lee Cooper. Artinya, tidak seutuhnya desain tersebut karya Dhani, melainkan ada perbaikan di sana-sini oleh tim kreatif Lee Cooper.

"Desain karya Dhani lebih dominan pada produksi tahap kedua. Saat itulah kemampuan Dhani mendesain kaus benar-benar teruji," tambah Suharti.

Kaus ala Dhani pun tak banyak memanfaatkan variasi warna, kecuali putih dan hitam, yang menjadi warna favorit ayah tiga anak ini. Sementara untuk desain kaus sendiri, Dhani bermain dengan gambar orang, grafis, dan tagline tulisan.

"Kami akan memproduksi kaus tersebut dengan ukuran lebih bervariasi, mulai XS, S, M, L, XL. Jadi, koleksi XS masih bisa dipakai wanita bertubuh ramping, karena kaus tersebut memang membidik pasar pria dan wanita," sebutnya.

Rencananya, kaus ala Ahmad Dhani tersebut dipasarkan di 22 gerai Lee Cooper di seluruh Indonesia pada 22 Mei mendatang. Selain itu, pihak Dhani sendiri juga akan memasarkan ke seluruh jaringan Manajemen Republik Cinta.
(sumber:okezone)

Perajin Kaus Kampanye Rugi Rp 4 M

BANDUNG, (PR).-
Sejumlah perajin Sentra Kaus Suci Kota Bandung mengalami kerugian hingga Rp 4 miliar akibat kampanye pemilu legislatif beberapa waktu lalu. Masih banyaknya pesanan kaus kampanye calon anggota legislatif (caleg) yang belum dibayar membuat sejumlah perajin terancam bangkrut.

Menurut Ketua Koperasi Sentra Kaus Suci Marnawi Munamah kepada "PR", Rabu (15/4), kerugian diperkirakan mencapai kisaran Rp 3 miliar-Rp 4 miliar. Jumlah itu berasal dari beberapa perajin kaus yang melayani order kaus kampanye dalam jumlah besar, sedangkan perajin yang menerima order kecil tidak mengalami kerugian.

"Pihak asosiasi tetap akan memberikan dukungan dan membantu advokasi para perajin kaus yang dirugikan. Bagaimanapun mereka bagian dari keluarga besar Sentra Kaus Suci dan kami akan membantu sampai masalah ini selesai dan para perajin mendapatkan haknya," katanya.

Marnawi mengatakan, pihaknya sedang menyusun laporan mengenai masalah kerugian itu. Ia mengungkapkan, apabila sampai batas waktu pengumuman resmi pengangkatan caleg menjadi anggota legislatif belum juga ada pelunasan, pihaknya akan memerkarakan masalah tersebut kepada pengadilan.

Sementara pemilik Planet Production di Sentra Kaus Suci, Wawan Gunawan, kebingungan dengan banyaknya tunggakan. "Saya rugi besar karena sekitar 220.000 pieces lebih atau senilai Rp 1 miliar belum dibayar. Itu karena beberapa caleg belum melunasi sisa kewajiban pembayaran order kaus hingga batas waktu yang sudah disepakati," ucapnya.

Menurut dia, caleg yang menunggak berasal dari berbagai macam daerah dan partai politik. Sebagian besar caleg yang belum membayar berasal dari luar Pulau Jawa. Wawan mengatakan, tunggakan terbesar berasal dari salah seorang caleg DPR RI dari Sulawesi Utara yang menunggak sekitar Rp 570.000.000,00 atau sekitar 130.000 kaus. Padahal, sebelumnya sudah disepakati pembayarannya pada awal April sebelum pemilu.

"Keuntungan dari kaus kampanye kan hanya sedikit, jadi ruginya hampir sama dengan jumlah yang ditunggak, apalagi saya juga memiliki rekanan yang belum dibayar. Saya jadi pusing mikirin-nya, bisa-bisa usaha saya bangkrut," ujarnya dengan nada lemas.

Ia mengakui, dari lima belas caleg yang belum membayar, beberapa berniat membayar. Namun, ujar dia, beberapa caleg sulit sekali dihubungi. Sementara untuk caleg yang jauh akan ditempuh jalur hukum karena sebagian besar sudah melalui perjanjian tertulis, sedangkan yang dekat akan didatangi langsung. "Ada dua caleg dari Kota Banjar yang belum bayar. Kami pun akan segera menagihnya langsung," ungkapnya.

Hal senada dikatakan pemilik CV Rovolin, Lumbangaol yang mengaku rugi sekitar Rp 2,3 miliar. Ia mengungkapkan, setidaknya ada empat parpol yang seharusnya sudah melunasi sisa tunggakan saat pembuatan atribut kampanye selesai dilakukan. Beberapa caleg, kata dia, juga masih menunggak hingga sekitar Rp 1 miliar.

"Tunggakan paling besar itu berasal dari satu parpol baru. Order atribut kampanye mereka berasal dari DPP pusat di Jakarta. Tapi bukan hanya partai itu yang masih menunggak kepada kami," ujar Gaol. (A-190)***

Berkah dari Usaha Kaus Dakwah


Kamis, 7 Mei 2009 | 10:10 WIB

KOMPAS.com — Anda mungkin tergelitik dengan banyolan khas yang tertulis pada kaus buatan Joger, Dagadu Yogya, atau gambar dan tulisan ala C59. Nah kali ini, dari Kota Kembang muncul lagi pendatang terbaru di bisnis kaus. Bedanya, tulisan dan gambar pada produk mereka menggunakan slogan dakwah.

"Dengan memproduksi kaus, kami ingin mewarnai dan memberi aura positif," ujar Lucky Rahmat, Manajer PT Diplus Indonesia, sang produsen kaus religi.

Bisnis kaus dakwah ini bermula dari pertemuan rutin Ihaqi, kelompok pelatihan manajemen berbasis religi dengan anggota sekitar 6.000 orang. Dari pertemuan itulah tercetus ide membuat merchandise. Erick, pemilik PT Diplus, memutuskan mencetak kaus bernada dakwah. Modal awalnya Rp 10 juta.

Awalnya, Ihaqi hanya memproduksi 100 kaus. Proses pembuatannya pun masih menumpang pada pabrik kaus kenalan Erick. Karena menuai respons bagus, Erick memproduksi lebih banyak lagi. Dari hanya kaus, ia mulai membuat pin, topi, serta tas kecil tempat mukena dan Al Quran.

Masing-masing produk selalu bergambar dan bertuliskan pesan-pesan religi, misalnya bertutiskan 'Senyum Itu lbadah" dan "Muslim Ritual Pray".

Saat ini, kata Lucky, perusahaannya memproduksi 6.000 kaus setiap dua bulan. Adapun produksi pin sekitar 5.000 buah per bulan, topi dengan tiga model sekitar 900 buah per bulan, dan tas sekitar 200 buah setiap bulan. Semua merchandise tersebut dipajang di gerai Ihaqi yang terletak di Jalan Trunojoyo, Bandung.

Untuk kaus anak-anak, Ihaqi membanderol produknya dengan harga Rp 50.000 per helai. Kaus lengan panjang untuk perempuan harganya Rp 90.000 per kaus, dan kaus lengan pendek untuk laki-laki Rp 80.000.

Lucky mengatakan, dalam sebulan bisa melego 2.500 lembar kaus, sedangkan penjualan aksesori lain, seperti pin sebanyak 2.000 unit per bulan, topi 100 buah, dan tas 100 buah per bulan. Dari penjualan itu, Lucky meraup omzet Rp 150 juta sebulan. Sekitar 20 persennya masuk kantongnya sebagai keuntungan.

Andalkan agen

Bagi Lucky, prospek bisnis ini cukup bagus. Lucky menyebut peluangnya besar karena sebagian besar penduduk Indonesia adalah Muslim.

Dari mutu produk, kata Lucky, Ihaqi membidik segmen kelas menengah. "Kami tak bisa main terlalu ke bawah karena bahan baku yang kami gunakan juga bukan sembarangan," katanya, berpromosi. Sementara kelas atas, belum tentu suka dengan produk ini karena biasanya mereka lebih memilih kaus branded.

Kata Lucky, pada hajatan Ina Craft di Jakarta April lalu, produk Ihaqi ternyata banyak diminati. Bahkan, langsung mendapat tiga agen yang siap membeli produk Ihaqi dalam jumlah besar, yakni dari Bogor, Cirebon, dan Balikpapan. Mereka ini umumnya meminati kaus dan pin. Hingga berakhirnya Ina Craft, Ihaqi mampu menjual hingga 1.200 lembar kaus.

Saat ini Lucky sedang membentuk komunitas agen Ihaqi. Dia berniat merekrut agen dari tingkatan SMP, SMU, perguruan tinggi, hingga ibu-ibu pengajian. Sebab, Lucky menilai, pemasaran lewat agenlah yang paling cepat.

Jika agen sudah mencapai 50 orang, Ihaqi memberikan pelatihan entrepreneurship gratis. (Dupla Kartini PS/Kontan)

Jati Diri Bandung dalam Kaus


Sabtu, 17 Januari 2009 | 08:01 WIB

MENARA Eiffel di Paris. Demikian obyek utama gambar desain yang tercantum di kaus itu. Namun, menara ini diletakkan pada posisi terbalik. Bagian pucuk justru ada di bawahnya. Terbalikkah kita membacanya?

Ternyata tidak. Desain pada salah satu kaus Mahanagari ini ternyata merupakan suatu bentuk satire atas kondisi Bandung. Di belakang kaus yang didesain Febrian, mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung ini, memunculkan sebuah simbol tanda tanya besar dan huruf Bandung.

"Bandung yang dulu katanya indah, sampai dijuluki 'Paris van Java', sekarang ini kan sudah berubah," tutur Direktur Mahanagari Ben Wirawan (32), Jumat (16/1) di salah satu tokonya di Mal Cihampelas Walk sambil membalikkan ibu jarinya ke bawah untuk menjelaskan makna Menara Eiffel terbalik di kaus itu.

Jika desain di atas sarat kritik sosial, desain lainnya pun tidak kalah menggelitik. Sebuah kaus berdesain gambar mirip perut buncit. Lengkap pula dengan pusarnya. Di sebelahnya tertulis kata-kata: Kebanyakan jajan makanan di Bandung. Kemudian, salah satu desain yang lagi ngetop, tampilannya sekilas mirip kaus anak-anak hardcore, tetapi tertulis: Tempat Pemakaman Umum Cikutra Bandung.

Alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB itu menuturkan, konten-konten yang ditampilkan tradisional, kolonial, dan kontemporer. Meskipun sama-sama mengusung ikon kota dan ikut menonjolkan permainan kata di dalam desain kausnya, Ben Wirawan menolak disamakan dengan Dagadu (Yogyakarta) ataupun Joger di Bali yang lebih dulu muncul. Harga kaus yang disebut Bandung Pisan ini antara Rp 75.000 dan Rp 80.000.

Menurut Hanafi Salman (32), pendiri Mahanagari yang lainnya, kaus bisa menjadi media berkampanye. Dalam hal ini tentu bukanlah politik. Melainkan, kampanye budaya, pariwisata, dan keunggulan Kota Bandung. Berbeda dengan label clothing lainnya, Mahanagari pun ikut aktif ambil bagian, baik dalam kampanye-kampanye budaya, maupun soal lingkungan.

Desain bungkus (packaging-nya) pun unik, terbuat dari karton yang didesain ala folder file-file jinjing. Ada empat macam bungkusnya yang masing-masing mengangkat persoalan heritage, perlindungan habitat burung-burung, Gua Pawon, dan Bandung Utara. Packaging ini, ujar Ben, jadi bisa dibawa ke kampus-kampus atau kantor sehingga, secara tidak langsung, bisa menjadi media kampanye pula. Departemen Perindustrian pun menganugerahi penghargaan atas desain ini.

Edisi terbatas

"Beda lagi dengan Siloka. Label kaus yang satu ini memilih desain yang simpel yang penekanannya lebih pada font (huruf) Bandung. Font Bandung itu selalu kami buat lebih besar dari gambar lainnya karena Bandung inilah yang jadi identitas," ujar Firmansyah, Pemilik Siloka. Toko label ini bertempat di Jalan Laswi Nomor IA. Gedung Sate, Gedung Merdeka, dan Cepot adalah obyek-obyek desain yang dominan di kaus ini.

Namun, salah satu ciri khas Siloka, tiap-tiap desain itu tidak diproduksi lebih dari dua lusin (24 buah) kaus. Jika sudah habis, maka tidak dibuat lagi. Diakuinya, konsep ini adalah bawaan umum dari pola distro. Pembeli seolah-olah akan merasa memiliki barang terbatas limited atau eksklusif. Tiap buahnya, kaos ini dihargai Rp 50.000. Pembelinya, ucapnya, mayoritas turis luar negeri, khususnya Malaysia.*

Kreativitas Jangan Pernah Mati


Sabtu, 1 November 2008 | 06:06 WIB

Di tengah gejolak nilai tukar rupiah saat ini, pengusaha industri kaus di Bandung, Jawa Barat, tetap bertahan. Mereka kreatif memanfaatkan euforia pilkada dan pemilu. Ada pula yang jeli bermain di ceruk pasar atau niche market.

Para pekerja di Planet Kaos di Jalan Surapati, bilangan Suci, Bandung, Rabu (29/10), sibuk bekerja. Dadi (30) dan Yadi (45) sejak pagi menjahit kaus berwarna merah dan kuning. Ian (28) memotong-motong kain berwarna hijau. Itu bukan warna pelangi, tetapi warna kaus pesanan partai politik. Menjelang pemilihan anggota legislatif, pengusaha kaus di Bandung kebanjiran order.

Persoalan ekonomi yang tengah melanda dunia seakan tidak lewat Kota Bandung. Setidaknya, sampai hari ini pekerja di Planet Production itu tetap sibuk berproduksi. ”Selama masih banyak yang pesen kaus, saya tetap saja kerja,” kata Dadi.

Ade Sutarsih (53), yang membuka gerai di samping Planet Production, sibuk mencatat dan menata bahan kaus pesanan pelanggan. ”Ini kaus pesanan dari toko-toko. Saya hanya memotong-motong terus nanti dijahit keponakan saya,” ujar pemilik gerai kaus Muararajeun Sport.

Ade bekerja dibantu keponakannya, Dewi Nurjanah, yang bersama empat pekerjanya mendapat bagian menjahit dan mencetak kaus. Seminggu terakhir, Ade sebenarnya ketar-ketir juga karena nilai rupiah terus melemah. Sekarang harga bahan baku kaus dari Rp 51.000 per kilogram menjadi Rp 54.000 per kilogram. Namun, kekhawatiran itu tak sebesar ketika krisis moneter melanda negeri ini tahun 1997. Saat itu usaha Ade, yang mempekerjakan 30 orang, ambruk.

Kali ini Ade mencoba strategi baru agar usahanya tetap bertahan meskipun modal minim dan kondisi rupiah masih tak menentu. Ade hanya menerima pembuatan kaus dari pelanggan yang mau membawa bahan baku sendiri. Ini untuk memperkecil modal. Muararajeun Sport tinggal memotong, menjahit, dan mencetak sesuai pesanan. Pola ini tentu tidak mudah karena pelanggan belum terbiasa.

Namun, pelanggan setia Ade tertarik dengan cara ini karena biayanya lebih murah daripada membeli jadi. ”Sekarang tak kurang dari 30 toko dan distro (distribution outlet) langganan ke saya,” kata Ade yang enggan menyebutkan omzet. Kiat lainnya adalah dengan mengambil keuntungan moderat. Meskipun untuk sepotong kaus hanya untung Rp 200, Ade tetap berani mengerjakan pesanan. Ini semata-mata untuk membangun kepercayaan pelanggan.

Lain lagi kiat Lutfi (29), pemilik Kubiq Shop. Ia menerima pesanan semua jenis kaus asal pelanggan bersedia membayar uang muka di atas 60 persen. Besaran ini cukup untuk membeli bahan baku. Untuk benang jahit dan kebutuhan percetakan ia mengambil dari modal usaha.

Lutfi meminta uang muka minimal 60 persen untuk menutupi modal yang cekak sekaligus demi keamanan usaha. Sebab, tak jarang pelanggan enggan membayar kekurangan biaya. Kini usaha Lutfi relatif maju. Keuntungannya mencapai Rp 15 juta per bulan. Dia juga mendapat pesanan dari berbagai kota, termasuk dari luar Jawa. ”Sekarang saya sedang mengerjakan pesanan dari Bangka Belitung. Lumayan, nilainya puluhan juta rupiah,” ujarnya.

Pemilik industri kaus Planet Production, Wawan Gunawan (52), mengaku hampir setiap hari ditelepon pabrik penstok kain bahan baku kaus. Mereka meminta Wawan jangan mudah mengeluarkan barang karena bahan baku kemungkinan akan sulit didapat dalam sepekan ke depan.

Wawan menduga, pabrik itu tetap memproduksi, tetapi menimbun barang menunggu harga naik. Ini tentu saja merugikan pengusaha kaus. ”Kenaikan bahan baku kaus memang sangat terasa bagi pengusaha besar,” kata Wawan yang omzetnya mencapai Rp 1,5 miliar per bulan.

Meskipun saat ini banyak partai politik dan politisi memesan kaus kampanye hingga jutaan potong, Wawan hanya menerima pesanan kaus dalam jumlah ratusan ribu. Ia menangguhkan pesanan berjumlah satu juta potong ke atas. Alasannya, harga bahan baku belum menentu. ”Kalau sudah telanjur sepakat harga, kemudian harga bahan baku naik, saya bisa rugi banyak,” ujarnya.

Wawan kini lebih waspada. Menjelang Pemilu 2004, dia mendapatkan pesanan kaus dari salah satu calon presiden dan wakil presiden sebanyak 1 juta kaus senilai Rp 5 miliar. Untuk memenuhinya, dia meminjam modal bahan kaus dari beberapa pengusaha. Begitu kaus selesai dikerjakan, hanya sebagian yang diambil pemesan. Sisanya ditinggalkan di tempat Wawan. ”Mau saya simpan di mana barang sebanyak itu. Akhirnya, saya kirim saja ke rumah pemesan,” ujarnya.

”Kunci menjalankan usaha ini adalah bisa dipercaya konsumen, tepat waktu, menjaga kualitas, dan cermat menghitung. Kalau ini tidak bisa dijalankan, pengusaha sendiri yang rugi,” kata Wawan.

Pengusaha kaus berlabel C-59, Marius Widyarto Wiwied (52), merasakan betul dampak dampak krisis moneter 1997. Saat itu dia mempekerjakan 1.500 orang yang kemudian menganggur. ”Tapi saya tak mau memecat mereka,” ujarnya.

Sebagai jalan keluar, Wiwied tidak hanya membuat kaus khusus C-59. Dia menerima order cetak, jahit, atau sekadar obras kaus. Yang penting, karyawannya tetap bekerja.

Untuk menekan biaya produksi, Wiwied meminta pekerjanya bekerja di rumah masing- masing agar biaya listrik lebih murah karena dihitung sebagai listrik rumah tangga, bukan industri. Pekerjanya yang sejak awal dididik menjadi wirausaha ini tak kesulitan. Belakangan, mereka bahkan mampu mandiri dan menjadi rekanan bisnis C-59. Sekitar 800 pemilik usaha kaus di bilangan Suci adalah bekas karyawan Wiwied. Selain itu, tak kurang dari 100 rumah tangga di Kampung Cigadung menjadi industri rumahan membantu C-59.

Kini C-59 bertahan dengan 300 karyawan resmi dan ratusan rekanan. Omzet mencapai 50.000 lembar kaus per bulan. Selain memasok ke berbagai daerah di penjuru Tanah Air, C-59 juga membuka jaringan di Jepang dan Malaysia. ”Saya juga sedang melirik Dubai dan Tunisia,” kata Wiwied.

Ia juga bermain di niche market, misalnya dia tertarik untuk mengangkat tema suku Asmat dengan sasaran pasar ekspatriat yang bekerja di PT Freeport, Papua, atau tema orangutan untuk para bule yang peduli lingkungan. Isu aktual, seperti korupsi, batik, dan wayang, juga dia transformasikan ke dalam desain kaus. ”Intinya, kreativitas jangan pernah mati dan kita harus jeli melihat pasar,” ujarnya.

Monique Kocke, Lewat Kaus "Parental" Raup Puluhan Juta Rupiah


Senin, 20 April 2009 | 08:46 WIB

KOMPAS.com — Ibu satu anak berusia 30 tahun ini mendirikan Parental Advisory Baby Clothing, sebuah distro baju anak. Desainnya tak biasa. Misalnya, t-shirt bertuliskan: Kill Sinetron-Kids Against Television, Where’s My Fuckin’ Milk, atau gambar gajah dan tulisan: It’s an elephant not a penis. Menyeramkan? Ya. Tapi, Monique punya misi lain di balik desain yang ia gagas.

Kapan bikin Parental Advisory Baby Clothing (PABC)?
Sekitar akhir 2006. Ide awalnya sih karena saya enggak menemukan distro anak yang sesuai selera. Tahun-tahun itu di Bandung banyak distro buka, tapi 90 persen cuma menjual produk untuk remaja dan dewasa, enggak ada produk buat anak. Saya juga enggak begitu tertarik dengan baju anak yang kebanyakan ada.
Nah, kebetulan waktu itu saya baru saja melahirkan. Akhirnya terpikir membuat baju anak. Itu pun tadinya cuma buat anak sendiri atau buat anak teman-teman.

Punya latar belakang desain?
Enggak. Saya lulusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran, Bandung. Jadi, saya masuk bisnis pakaian ini ya ibaratnya terjun bebas saja. Selain karena soal selera, saya juga melihat ada peluang di situ. Ya sudah, jalan deh.

Kenapa memilih nama PABC?
Karena dari awal, idenya ingin membuat baju anak yang agak nyeleneh. Selain itu, ada misi yang ingin saya sampaikan. Kalau melihat desain atau kata-katanya, baju-baju PABC kata orang terlalu kasar untuk anak-anak. Padahal, justru sebetulnya saya ingin supaya orangtua yang membeli baju buat anaknya bisa menjelaskan maksudnya ke anak. Anak dapat bimbingan (parental advisory). Jadi, bukan hanya bikin tanpa ada makna apa-apa di balik desain. Rata-rata, desain atau kata-kata PABC ada sejarahnya.

Misalnya?
Contohnya t-shirt bertuliskan Kill Sinetron; Kids Against Television. Itu karena menurut saya, anak sekarang enggak bisa hidup tanpa televisi. Sementara acara buat anak-anak di televisi kita sekarang ini kayaknya enggak ada edukasinya, enggak ada yang pas. Baru sekarang ada "Si Bolang" atau "Laptop Si Unyil" lumayanlah. Sebelum-sebelumnya kan sinetron melulu. Hampir di semua stasiun televisi ada sinetron, dari pagi sampai malam. Jadi, kapan jam-jam anak bisa nonton?
Celakanya kalau orang tua juga suka sinetron. Supaya anaknya diam, anak diajak nongkrong di depan televisi, nonton sinetron. Yang ada anak mengikuti adegan di sinetron. Orang marah-marah, memaki-maki enggak jelas. Itu kan membunuh karakter anak.

Contoh lain?
Ada t-shirt tulisannya Where’s My Fuckin’ Milk? Lumayan laku. Penjualannya bagus terus meski sudah beberapa produksi ulang (repeat). Misi tulisan di desain itu adalah supaya ibu-ibu muda mau memberi ASI eksklusif minimal 6 bulan ke anaknya. Syukur-syukur 2 tahun. Soalnya ada kecenderungan, orang sekarang lebih mementingkan pekerjaan ketimbang hak anak. Nah, minum ASI itu hak anak. Ada kekhawatiran yang enggak perlu, seperti, “Aduh kalau saya nyusuin, bentuk badan jadi berubah”, “Saya enggak punya waktu nyusuin karena harus kerja,” dan sebagainya yang buat saya sangat tidak masuk akal.

Anda sendiri memberi ASI ke putri Anda?
Saya termasuk yang kurang beruntung enggak bisa memberi ASI eksklusif ke anak saya, Magia Calluella Chaszta Az-Zurra (2,8). Waktu itu habis melahirkan, saya harus menjalani operasi, masuk ICU 2 hari. Jadi, enggak bisa langsung kasih ASI. Setelah operasi, ASI jadi terhambat. Saya sudah coba bermacam cara, tapi enggak bisa keluar juga. Saya menyesal sekali. Bukan mau irit, tapi karena itu hak anak. Kalau saya bisa membayar, berapa pun saya akan bayar supaya saya bisa kasih ASI eksklusif ke anak saya. Tapi mungkin saya memang tidak beruntung, ya. Jadi, tolong kalau bisa memberi ASI esklusif, kasihlah anak ASI eksklusif. Kalau bisa yang alami, kenapa harus kasih susu pabrikan?

Efektif enggak pesan-pesan itu disampaikan lewat desain t-shirt?
Cukup efektif karena desain sangat berbicara. Desain Kill Sinetron tadi misalnya, ternyata banyak orang tua yang memang enggak setuju dengan acara-acara yang ada di televisi.

Orang yang enggak mengerti bisa-bisa berkomentar, “Kok kalimatnya seperti itu?”
Makanya ada product knowledge. Jadi kalau ada konsumen, kami jelaskan satu-satu maksud kalimatnya apa. Pernah ada yang berkomentar, “Gila, ini apa-apaan sih maksudnya? Ya saya sih mencoba berpikir positif saja, menerima itu sebagai masukan. Tapi, rata-rata konsumen yang beli di sini adalah pelanggan tetap yang sudah enggak kaget lagi. Ada sih satu-dua orang yang bilang, “Oh, ternyata ada desain begini buat anak?” Ya kami jelaskan saja. Jadi, kami enggak sekadar jual tanpa makna atau misi.

Pendekatan ke pelanggan personal sekali, ya
Betul. Kami ajak pembeli ngobrol dan memberi pengertian. Tapi sejauh ini enggak ada yang komplain sampai ngotot yang gimana gitu. Kami malah banyak melakukan kerjasama, misalnya jadi sponsor acara anak-anak. Jadi, enggak cuma sekadar jualan.

Sekilas seperti kaus dewasa yang dipakai anak, ya?
Bisa jadi ada yang melihat begitu. Tapi anak sekarang lebih kritis, lho. Banyak pelanggan yang datang anaknya memilih sendiri. Karena saya punya anak, jadi saya tahu juga. Dan memang orang tua harus menjelaskan.

Siapa sih yang membuat desain dan kalimat-kalimatnya?
Saya dibantu teman saya, Phaerly. Karena saya enggak punya latar belakang desain, biasanya kalau ada ide di benak langsung eksekusinya saya serahkan ke dia. Saya bikin gambar gunung aja pakai penggaris ha-ha-ha. Paling kalau ada yang kurang saya kasih masukan.

Sekarang sudah ada berapa desain?
Lebih dari 60 desain. Mayoritas warnanya memang hitam, putih, dan abu-abu. Kami sengaja pilih warna-warna tua karena baju anak-anak sekarang kan kebanyakan warna-warna pastel. Kami ingin beda. Dan ternyata banyak yang bilang justru lebih menarik. Karena itu tadi, warna mainstream-nya kan warna-warna pastel yang colourfull. Kami juga pikirkan bahan dan sablon seperti apa yang yang nyaman buat anak-anak.
Model kausnya juga panjang. Kebanyakan baju anak kan pendek di bagian torsonya. Nah, saya sengaja modifikasi. Saya masih ingat kultur orang Timur, kalau bajunya pendek pusarnya jadi kelihatan. Saya lihat masih banyak kok orangtua yang enggak kepingin pusar anaknya kelihatan. Model memanjang kayaknya juga lebih enak daripada ngatung.

Selain kaus, apalagi yang dijual PABC?
Macam-macam, dari diapers bag, tas anak, topi, jaket, celana, sepatu, sandal. Pasarnya lumayan bagus kok. Omzet per bulan kalau sedang ramai bisa Rp 70 juta. Meskipun sekarang sudah mulai banyak brand lain. Di Bandung aja ada sekitar 5 brand yang konsepnya mirip-mirip PABC. Cuma enggak tahu ya, mungkin orang tahu PABC lebih awal, jadi mereka biasanya membandingkan sama produk-produk PABC. Tapi banyak saingan justru bagus karena kami jadi harus berpikir, bikin saya terpacu.

Rencana bisnis ke depannya seperti apa?
Yang jelas saya mau ekspansi. Banyak sih yang minta atau menawarkan kerja sama, cuma belum ada yang menawarkan display sendiri. PABC ini kan baju anak, kalau display-nya disatukan sama baju dewasa, susah. Enggak kelihatan. Apalagi warna-warna kami warna dewasa.

Soal anak, pola pendidikan seperti apa sih yang Anda terapkan?
Saya dan suami sangat terbuka ke anak. Hal-hal yang masih tabu buat sebagian orang, saya sampaikan ke anak. Contohnya pendidikan seks, sudah saya kenalkan ke Magia sejak dini. Jadi, ia sudah tahu lho, proses kelahiran dia, dia keluar dari mana, dia punya vagina, menstruasi itu apa, dan sebagainya. Tapi tentu disesuaikan dengan perkembangannya. Hal-hal kecil seperti ini menurut saya justru jadi starting point yang harus disampaikan sejak dini.

Sambil bisnis, enggak repot punya anak balita ?
Saya selalu mengajari Magia untuk mandiri. Jadi, saya hampir enggak pernah merasakan repotnya punya anak balita. Saya enggak pernah gendong dia, tidur sendiri, saya tinggal pergi juga enggak rewel. Paling-paling dia nanya, “Ibu mau ke mana? Oh, mau nyari duit ya? Buat beli susu ya?” Dari lahir sampai sekarang enggak pernah pakai pembantu atau baby sitter. Semua saya kerjakan sendiri. Dia juga enggak pernah nonton televisi, kecuali acara musik. Kalau musik, 2-3 jam dia betah. Kalau pas kebetulan lihat adegan sinetron, dia malah suka nanya, “Kenapa sih orangnya marah-marah? Memang siapa yang nakal, kok dimarahin?”

Masih suka masak buat suami dan anak?
Oh masih. Suami saya, Mulki Fajar, seorang konsultan IT, jadi kami punya kesibukan sendiri-sendiri. Eh, memasak itu ternyata menyenangkan lho, bisa menghilangkan stres ha-ha. (Hasto Prianggoro/Nova)

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons