Cihampelas Yang Harus Tetap Khas



Kamis, 5 Juni 2008 | 06:15 WIB

Serombongan gadis muda yang tengah berwisata duduk berderet di kedai makanan di Jalan Banda, Kota Bandung. Seorang di antaranya berambut panjang. "Yuk jalan-jalan ke Cihampelas. Masak, liburan di Bandung enggak ke Cihampelas," ujar si rambut panjang riang sambil beranjak memberikan ajakan.

Kota Bandung sangat identik dengan Kawasan Cihampelas. Berdasarkan legenda, sebutan Cihampelas berasal dari nama kolam pemandian yang terletak di sisi jalan kecil Cihampelas, yaitu Jalan Taman Hewan. Kata Cihampelas konon berasal dari nama pohon Hampelas yang pada saat pembuatan kolam tahun 1904 banyak tumbuh di sekitar kolam.

Pencitraan Cihampelas sebagai pusat perbelanjaan busana mulai berlangsung sejak 28 tahun lalu. Pada tahun 1980, Kawasan pertokoan Cihampelas terkenal dengan produk khasnya , yaitu pakaian berbahan kain denim atau sering disebut jeans.

Kekhasan Cihampelas dengan jeans mulai melegenda bersamaan dengan ramainya Kawasan Cibaduyut sebagai sentra produksi sepatu. Kekhususan dua tempat ini dengan produknya jeans dan sepatu menjadikan sejumlah wisatawan kurang merasa afdol jika belum bertandang.

Seiring berkembangnya sejumlah factory outlet atau FO pada tahun 2000 yang banyak menawarkan pakaian jadi sisa ekspor, kawasan pertokoan Cihampelas ikut menghanyutkan diri dengan menamai diri menjadi FO. Waktu itu, keramaian jalanan Cihampelas sempat terpecah karena banyaknya FO yang bertebaran di penjuru Kota Bandung.

Setelah FO bermunculan, pertokoan Cihampelas mulai beralih dari fokus pakaian jeans ke jenis pakaian lain, entah celana, jaket, kemeja, topi, hingga tas. "Kami mulai melengkapi diri," kata General Manajer Korek Api Jeans Group, Soenyali Soly, Selasa (4/6) di Bandung.

Untuk mendongkrak minat pengunjung, PT korek Api Guna Mandiri yang mengelola 16 buah toko di sepanjang Jalan Cihampelas memilih trik menempelkan nama-nama tokoh komik legendaris. Personifikasi tokoh-tokoh komik legendaris luar negeri tersebut bahkan diekspose secara berlebih dalam bentuk patung-patung raksasa, entah itu Batman, Superman, Spiderman, Tarzan, Cat Woman hingga yang terbaru Ironman.

"Kami memang sengaja memilih nama-nama tokoh yang abadi dan menampilkannya secara mencolok agar pengunjung terkesan. Jika produk kami ditampilkan begitu saja, mungkin dagangan kami tak ada bedanya dengan toko-toko lainnya," ungkap Soly.

Menangkap prospek bisnis di Kawasan Cihampelas, Tahun 2004, PT Karya Abadi Samarga akhirnya membangun mal berciri open air concept dengan nama Cihampelas Walk atau Ciwalk. Pusat perbelanjaan yang dibangun di atas bekas pabrik daging PT Mantrus pada era penjajahan Belanda tersebut berusaha menampilkan diri sebagai mal yang asri.Tak heran, beberapa pohon berukuran besar tetap dibiarkan berdiri kokoh di sekitar kawasan mal dan bahkan ditambah dengan sejumlah pohon baru sebagai peneduh.

"Konsep Ciwalk disesuaikan dengan situasi Kota Bandung yang sejuk dan asri. Wisatawan entah dari Jakarta atau daerah lain barangkali sudah terbiasa berkunjung ke mal. Karena itu, mal Ciwalk menawarkan suasana yang Bandung banget," kata General Manajer Ciwalk Chairiah.

Sebagai mal berkonsep terbuka, pengunjung dapat bebas berjalan-jalan menikmati suasana dan menghirup udara segar sembari berbelanja. Bermacam-macam restoran ditampilkan dengan kursi pengunjung berada di luar ruangan. Sementara, pengunjung yang tak berbelanja pun dapat duduk santai di kursi-kursi pelataran mal.

Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati bermacam-macam hiburan, seperti billiar, karaoke, bioskop, hingga talent box dimana orang bisa bernyanyi sepuas mungkin kemudian merekam sendiri suara dan aksinya dalam bentuk kepingan compact disk.

Kehadiran Ciwalk semakin menambah ke gairahan Kawasan Cihampelas. Di hari biasa, sekitar 3.000 mobil singgah di Ciwalk dan bahkan pada akhir pekan 7.000 mobil silih berganti memasuki mal tersebut. Tak heran, jalanan di sepanjang Cihampelas selalu dipadati kendaraan bermotor.

Karena potensi bisnis wisata yang menjanjikan, Pemerintah Kota Bandung telah menetapkan Kawasan Cihampelas menjadi salah satu bagian dari lima kawasan revitalisasi wisata. Empat kawasan wisata Kota Bandung lainnya adalah Cibaduyut dengan produ k sepatunya, Suci dengan produk kaos, Cigondewah dengan produk kain, dan Binong Jati dengan produks rajut.

Wiwin Fitriani, seorang wisatawan domestik asal Tangerang mengaku kerepotan ketika harus jalan dan menyeberang Jalan Cihampelas. "Mau jalan aja sulitnya minta ampun. Semua jalan habis dipakai mobil , sepeda motor, parkir, dan kaki lima," keluhnya.

Menurut Wiwin, Cihampelas telah banyak berubah dengan padatnya kendaraan bermotor , rusakknya jalan, serta udara yang mulai panas. Produk-produk yang ditawarkan di Cihampelas sebenarnya ada juga di tempat lain, seperti Tanah Abang dan Mangg a Dua. Bahkan, kadang barang-barang di sana jauh lebih bagus dan murah. Tetapi, orang banyak memilih tempat ini karena suasananya. Jadi, agar tetap mengesankan, Cihampelas harus tetap mempertahankan kekhasannya, tambahnya. (A01)

Alexandra, Bisnis Distro Modal Pinjaman

Selasa, 9 Desember 2008 | 12:44 WIB

Muda usia, tapi penuh prestasi. Tak hanya mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional lewat lukisan indahnya, mojang kelahiran Bandung, 17 April 1990 ini juga giat mengumpulkan rupiah lewat bisnis distro. "Mumpung masih muda," demikian alasan pemilik nama Alexandra ini penuh semangat.

Kecil-kecil kamu sudah sibuk berbisnis sambil terus melukis. Kenapa?
Karena saya masih muda jadi harus semangat terus. Mumpung masih muda saya ingin melakukan banyak hal. Kalau usia saya sudah terlalu tua, belum tentu saya akan mendapatkan kesempatan yang sama. Saya melihat banyak orang sukses karena memulai karirnya dari nol, sejak mereka masih sangat muda dan belum memiliki apa pun. Saya bisa berada di posisi sekarang juga kan karena sudah memulainya sejak awal.

Memang sudah senang melukis dari kecil?
Iya. Aku melukis sejak usia balita. Pertama sih, cuma corat-coret di atas kertas, lama-lama diseriusin sama orangtua dengan rajin mengikutsertakan aku di berbagai lomba lukis. Ini sejak TK. Dari situ aku beberapa kali menang lomba lukis antar sekolah di Bandung, se-Jawa Barat, hingga tingkat internasional.

Pertama kali mendapatkan penghargaan internasional?
Juara internasional pertamaku waktu di Niigata, Jepang, dimana aku dapat medali perak. Saat itu usiaku masih 12 tahun, sekitar kelas 6 SD. Peserta dari Indonesia banyak sekali, lo, karena yang ikut kan, bukan dari sanggar Papa aja. Makanya ketika medalinya dikirim ke sini, aku senang bukan main.
(Di ajang internasional, Alexandra selain pernah mendapatkan Silver Prize di The 6th Niigata Biennial International Children Art Exibition tahun 2002, juga menjuarai The 12th International Competition of Children's and Youth Art Creativity "Always Green Always Blue" Polandia tahun 2002 dan 2007, Morizo and Kiccoro Special Prize pada "One Hundred Tales of Morizo and Kiccoro Picture Contest" Aichi, Jepang tahun 2005, The 4th International Children Art Biennale, Bangladesh tahun 2006)

Memang orangtua yang mengarahkan kamu menjadi pelukis?
Papa dan kakekku memang pelukis. Tapi mereka sama sekali tidak mengarahkan aku. Bakat itu keluar begitu saja. Ya, mungkin karena sudah turunan, ya. Kebetulan Papa juga kan punya sanggar lukis di Bandung jadi aku bisa ikutan belajar di sana. (Alexandra tak ingin nama Ayah-Ibunya dipublikasikan. Ia tak mau orang melihat dirinya dari siapa yang menjadi orangtuanya)

Tapi kenapa kamu malah buka distro, bukannya galeri?
Waktu aku kelas 2 di SMP St Alloysius, Bandung, aku dikasih project bikin kaos di kelasku. Ternyata, kaos buatanku disukai teman-teman dari kelas lain. Sejak itu aku mulai kebanjiran order untuk bikin kaos pesanan mereka.

Nah, tepat di depan sekolahku kan, banyak sekali berdiri distro dan butik-butik baru. Dari situ timbul keinginan punya distro sendiri. Akhirnya, setahun kemudian, aku membuka distro sendiri, Soul Artist, enggak jauh dari sekolah juga. Tepatnya di Jalan Bahureksa.

Enggak mengganggu urusan melukis?
Tapi, aku tetap kok, melukis. Kalau tidak ada halangan, tahun depan aku ingin pameran tunggal. Sekarang sedang berusaha menambah koleksi lukisan, supaya cukup untuk pameran. Kan, biasanya lukisan yang dibutuhkan minimal 30 buah. Sedangkan aku baru punya belasan.

Enggak ada konsep khusus untuk pameran tunggalku nanti. Karena ini baru pertama kali, aku hanya ingin menampilkan apa adanya aku dulu, tidak mengotakkan diri pada satu tema khusus.

Sekarang, aku sedang menyelesaikan satu lukisan di atas kanvas sepanjang 1,8 meter. Ya, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa selesai.

Dari sekian banyak lukisan yang kamu buat, mana yang paling berkesan?
Semua lukisan yang kubuat sangat berkesan dan punya makna sendiri. Aku terbiasa membuat lukisan yang berawal dari sebuah inspirasi. Jadi enggak pernah asal melukis, selalu ada konsepnya. Semua punya cerita tersendiri.
Ada sih, beberapa karyaku, entah itu di media lukis atau T-Shirt yang tidak dengan mudah dimengerti orang. Menurutku ini wajar aja, karena mungkin orang lain belum pernah memiliki pengalaman seperti yang kualami. Jadi tentu dia sulit mengartikan karyaku.

Aliran lukisan yang kamu pilih?
Lukisanku sekarang lebih ke kontemporer. Dulu, karena masih dalam tahap pembelajaran, jadi suka ganti-ganti. Sekarang sih, aku sudah yakin di kontemporer. Aku pilih kontemporer karena alirannya menganut paham bebas dan tidak terpaku pada satu pakem.
Salah satu pelukis favoritku adalah Chris Lewis yang dari Amerika Serikat. Dia itu pelukis yang senang sekali melukis objek naturalis dengan menggunakan cat minyak.

Distro kamu ini awalnya dibuka dengan modal sendiri?
Wah, darimana uangnya? Enggaklah. Papa kok, yang memberi modal awalnya. Tapi alhamdulillah, dalam waktu beberapa tahun saja aku sudah bisa melunasinya kembali.

Produk yang dijual, kamu desain sendiri?
Iya. Tapi ada juga beberapa T-Shirt yang dijual di sini yang bukan label clothing aku, melainkan clothing milik temanku, tapi kebetulan aku juga yang mendesain. Selain itu aku juga menjual T-Shirt band-band luar negeri seperti Amerika Serikat yang kupesan melalui online.

Bagaimana kamu membagi waktu antara belajar, melukis, dan bisnis?
Nilaiku di sekolah sih, standar-standar aja, ya (saat ini Alexandra sekolah di SMU 3 Bandung, jurusan IPA). Pulang sekolah, biasanya aku di distro dan Café.
(Distro milik Alexandra satu bangunan dengan Café Remboelan yang merupakan kafe milik orangtuanya. Jadi, setiap hari, sambil menjaga butiknya, Alexandra juga bertugas menjaga kafe orangtuanya)

Kadang aku juga mengerjakan lukisanku di sini. Di waktu luang, aku menghabiskan waktu dengan nge-band bareng teman-teman. Selain itu aku juga sedang membuat beberapa lagu untuk bikin demo album sebagai penyanyi solo.

Kamu bermusik juga?
Iya. Aku punya dua band, salah satunya bernama Demons Good for Children. Di kedua band tersebut aku berperan sebagai vokalis dan dua-duanya juga beraliran metal hardcore. Sedangkan di proyek solo, aku lebih bermain di pop alternative. Aku sadar masyarakat kita belum terbiasa dengan aliran musik yang keras makanya aku pilih yang sedikit lembut. Hehehe.

Kenapa hardcore?
Enggak tahu juga, ya. Mungkin karena terpengaruh Mamaku yang juga suka hardcore.

Bisa main alat musik?
Bisa juga (sambil tertawa). Aku menguasai gitar dan piano. Aku ikut les piano sejak kelas 2 SD hingga 1 SMP. Setelah itu les gitar selama 3 tahun. Sekarang karena sudah mengerti bagaimana bermain musik dengan baik jadi tidak les lagi. Tinggal memantapkan saja.

Kalau bisa memilih, kamu mau jadi pelukis, penyanyi, atau pebisnis, sih?
Kalau ditanya begitu, aku akan jawab ingin menjalani semuanya. Tapi, jujur, prioritasku sebenarnya ingin jadi penyanyi solo. Makanya aku serius sekali berupaya merampungkan demo album soloku. Kalau sudah selesai, aku ingin segera kirim ke label rekaman, Aksara atau Sony.

Tetapi melukis akan jalan terus?
Tetap akan kuasah karena ini kan juga salah satu anugerah Tuhan buat aku. Setelah lulus SMU nanti aku mau coba daftar beasiswa ITB untuk jurusan desain seni rupa. Ngomong-ngomong, aku masuk SMU 3 Bandung ini juga beasiswa karena prestasi di bidang lukis.
Intinya, aku tidak mau stuck di satu bidang keahlian saja. Aku masih muda. Aku mau mengoptimalkan semua kemampuanku hingga tak terbatas. Aku tidak mau apa yang kumiliki hanya berhenti di sini saja.

Pesan untuk anak-anak seusiamu?
Capailah apa yang bisa kamu capai sekarang. Jangan tunggu nanti!

Ester

Menjual Jakarta Lewat Desain

Selasa, 7 April 2009 | 13:44 WIB
Laporan wartawan WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

APA yang Anda cari jika Anda berkesempatan mengunjungi sebuah kota baik di dalam maupun luar negeri. Daftar panjang akan jadi jawabnya. Tapi setidaknya, ada satu yang paling penting, sesuatu sebagai cinderamata, sebagai memori, kenangan, peringatan akan tempat yang pernah Anda kunjungi itu. Barangkali tak hanya melulu untuk sebuah kenangan, karena bisa jadi itu sebagai simbol kebanggaan atas kota atau bagian dari kota tertentu. Sangat lumrah juga cinderamata jadi oleh-oleh buat mereka yang barangkali belum berkesempatan mengunjungi satu tempat.

Setidaknya sudah sejak 1500 tahun lalu para pelancong punya kebiasaan membawa pergi sesuatu dari tempat yang mereka kunjungi. Bentuknya bisa apa saja, dari yang sangat sederhana dan tanpa biaya semisal batu karang atau kerang dari laut hingga ke emblem, asbak, tas, tempat rokok, topi, kaos, mug, atau bahkan lukisan dan patung.

Terserah pilih yang mana, sesuai kocek. Yang penting, suvenir menjadi salah satu kekuatan dan penunjang pariwisata sebuah kota.

Bagaimana dengan Jakarta? Jakarta boleh dengan sombong dan lantang menyebut diri sebagai ibukota, sebagai kota metropolitan, bahkan megapolitan. Entahlah, sampai di mana kepahaman pemerintah, khususnya Pemprop DKI, akan apa arti semua label itu. Di benak hampir semua orang sekarang, Jakarta identik dengan macet. Tentu masih berderet lagi citra Jakarta yang tak enak didengar.

Menggerakkan wisatawan, baik dalam maupun luar negeri, untuk tak sekadar transit di Jakarta tapi menetapkan Jakarta sebagai tujuan tentu jadi tak mudah dengan semua kondisi yang kini sedang terjadi. Ditambah tak efektifnya pihak Dinas Pariwisata DKI yang tak juga mendorong tumbuhnya usaha kecil menengah (UKM) yang bersaing di bidang suvenir, khusus Jakarta, tentunya.

Buktinya? Di mana ada pusat jajan segala sesuatu yang khas Jakarta atau pusat suvenir yang juga khas Jakarta? Paling-paling Anda dirujuk ke Setu Babakan, kampung Betawi yang jadi pengganti cagar budaya Condet. Itu pun tak bakal memenuhi apa yang Anda ingin dapatkan. Lantas, di mana Anda bisa mendapatkan kaos, pin, topi, mug, gantungan kunci, atau apapun berbau Jakarta yang tak bergambar lagi-lagi Monas. Sesuatu yang lebih kreatif, menarik, mengundang orang, Jakarta sekalipun, untuk merogoh kocek.

Suatu hari di suatu acara di tahun ini, Warta Kota menangkap ada gelagat yang menjanjikan, ada seorang anak muda yang membuka stan mungil dan menjual segala sesuatu tentang Jakarta. Paling mencolok memang kaos. Desainnya, cukup beragam dan dengan kualitas yang tidak memalukan. Malah, tak ada gambar Monas kali ini. Di meja mungil ternyata ada juga pin. Desain yang menyegarkan, karena belum pernah ada.

Jakarta 1527, begitu bunyi label-nya, dengan latar gambar peta Jakarta. Ternyata, sebelum ini, Warta Kota sudah melihat kaos produksi Jakarta 1527 berdesain menara Museum Sejarah Jakarta bertuliskan sesuatu tentang salah satu acara di museum. Dan, glow in the dark, pula! Ternyata, itu salah satu produk anak muda bernama Agustinus ini.

Pemberian nama atau label Jakarta 1527 dengan peta Jakarta dimaksudkan agar warga Jakarta ingat, cikal bakal Jakarta dimulai tahun tersebut. Yaitu ketika Pelabuhan Sunda Kelapa diserang tentara Demak pimpinan Fatahillah dan pada 1527 Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa serta menamakannya Jayakarta.

Penjualan suvenir ini kini tak hanya ada di beberapa museum, seperti Museum Bank Mandiri, tapi juga di setiap ada acara khususnya yang terkait dengan museum. Agus, begitu dia biasa dipanggil, juga tak melupakan warga lain yang tak sempat hadir ke acara di mana dia menggelar produk. Maka masuklah Google, ketik Jakarta 1527. Dari sana, Anda bisa melihat produk dan kemudian pesan. Setelah membayar, pesanan diantar.

Satu hal lagi, Anda tak perlu bingung mencarikan suvenir jika ada rekan atau tamu anda bertandang ke Jakarta atau memberikannya sebagai hadiah. Lagian, di Jakarta kan tak cuma ada Monas. Gali lagi lebih dalam, ada yang jauh lebih menarik yang bisa dijadikan suvenir khas Jakarta.

Dagadu, Merayu Lewat Kaus, Omzet Pun Miliaran

Senin, 29 September 2008 | 07:23 WIB

KATA-kata ternyata bukan cuma ampuh merayu pasangan agar luluh hatinya. Namun, kata-kata pun lumayan sedap dipandang. Buktinya, kaus oblong yang cuma menampilkan kata-kata bukannya gambar laku keras.

Berkat menjual kata-kata pada kaus oblong, beberapa kelompok anak muda yang melakoni bisnis ini bisa menggaet fulus jutaan rupiah per hari. Saban hari, Dagadu, produsen kaus asal Yogyakarta menggaet pemasukan rata-rata Rp 5,5 juta per hari. Dalam satu bulan, Dagadu bisa meraup omset sekitar Rp 1 miliar. Jika memasuki masa liburan sekolah, Lebaran, dan akhir tahun, pemasukan bisa lebih banyak lagi.

"Pada hari-hari biasa kami bisa menjual 2.000-3.000 oblong setiap bulan. Belum merchandise lainnya. Saat musim liburan seperti Lebaran atau Tahun Baru, penjualan kami bisa menyentuh 5.000 potong," kata salah seorang pendiri Dagadu Djokdja, Ahmad Nur Arief.

Semula, Dagadu Djokdja berawal dari keisengan 25 mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ditawari membuka kios kaki lima di Malioboro Mall pada 1994. Untuk itu, mereka berpatungan sampai akhirnya terkumpul Rp 4 juta yang kemudian dijadikan modal awal.

Dengan modal itu, mereka memproduksi cinderamata kaus oblong khas Yogyakarta. Oblong dengan desain kreatif dan penuh plesetan. "Waktu itu oblong adalah favorit kami semasa masih mahasiswa. Jadi kalau tidak diapresiasikan masyarakat, bisa kami pakai sendiri. Masalah penamaan juga hanya spontan saja," tutur Arief yang juga sebagai Managing Director Daagadu Djokdja ini.

Pada 19 Januari 1994, mereka membuka 'dasaran' di lower ground Malioboro Mall. Saat itu dijadikan sebagai hari lahir Dagadu. Untuk menunjukkan lokalitas asal cinderamata, mereka kemudian menambahkan kata 'Djokdja' dengan ejaan lama. Kreativitas plesetan mereka ternyata meledak. Kini, 14 tahun sudah mereka sukses memplesetkan Yogyakarta.

Produk mereka pun tak hanya oblong, tapi juga beragam merchandise seperti pin, topi, dompet, mug, kunci, stiker, sweater, dan banyak lagi. Dengan konsep menjadi cinderamata alternatif, Dagadu Djokdja telah menjadi oleh-oleh khas Yogyakarta. Gerai mereka pun berkembang menjadi tiga, Posyandu (Pos Pelayanan Dagadu) di Malioboro Mall, UGD (Unit Gawat Dagadu) di Pakuningratan, dan DPRD (Djawatan Pelajanan Resmi Dagadu) di Ambarukmo Plaza. Selain itu juga ada gerai maya yang disebut pesawat atau Pesanan Lewat Kawat dan melayani pembelian secara online.

Arief mengaku sempat direpotkan dengan bermunculannya produk-produk imitasi yang bertebaran di setiap sudut kota. Padahal, pihaknya telah mengurus perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan mendaftarkan beberapa merek dagangnya. Untuk mengatasinya, Dagadu berulang kali melancarkan kampanye ke masyarakat agar tidak memakai produk bajakan. "Kami terus malakukan sosialisasi tentang Marilah PD (Percaya Diri) dengan ciptaan kita sendiri dan marilah kita malu memakai ciptaan orang lain. Tapi terus terang beberapa teman-teman agak pesimis dengan hal itu," kata Arief.

Selain itu, Dagadu mengganti desainnya secara berkala. Dalam seminggu ada empat desain baru yang diluncurkan dan dalam setahun terdapat puluhan desain baru. Desain yang ditampilkan selalu memerhatikan situasi dan kondisi yang ada dalam masyarakat. "Singkatnya sesuai zaman agar masyarakat tidak bosan," kata Arief.

Menurut Arief, peluang dalam bisnis ini masih terbuka lebar. Modalnya tidak mahal dan dapat menghasilkan pemasukan berlipat. Yang penting adalah kreatif agar tetap eksis.

ANI

Belanja Kebutuhan Si Kecil Lewat Dunia Maya: Telepon, Barang Pun Datang (1)

Rabu, 5 November 2008 | 09:48 WIB

Zaralde

Adalah Ninit Yunita (30) dan Muti Hudiyana (30), dua sekawan yang punya mimpi sama sejak masih berteman di bangku SMU, yakni punya bisnis yang bisa dijalankan dari rumah.

Setelah masing-masing menikah dan punya anak, hasrat berbisnis dari rumah tersebut ternyata semakin besar. Akhirnya, tepat 1 Februari 2008, keduanya lantas meluncurkan www.zaralde.com. Nama ini adalah singkatan dari kedua nama anak Muti dan Ninit, yaitu Aisya Tazara (putra Muti), dan Aldebaran Rahman Adhitya (putra Ninit). Situs ini menyediakan aneka kaos untuk anak-anak (belakangan juga untuk ayah dan bunda).

Kaos yang mereka tawarkan unik, karena berdesain simpel, dengan tulisan-tulisan yang menggelitik. Misalnya, Dangerously beautiful, Most loved by daddy, Cute is my middle name, I'm a genius, atau Got milk?

Kenapa online? "Itu adalah pilihan kami karena Ninit tinggal di Singapura sehingga agak sulit kalau kami membuka toko biasa. Dengan toko online, mau berdomisili di mana saja, tidak jadi hambatan. Selain itu, biaya juga dapat dihemat karena tidak harus membayar sewa tempat maupun listrik, seperti jika memiliki toko," jelas Muti.

Berdasarkan pengalaman sebagai ibu, Ninit dan Muti memilih menjual kaos dengan alasan produk tersebut dapat digunakan sehari-hari. "Batita, kan, biasanya ganti baju beberapa dalam sehari, jadi perlu butuh banget kaos yang bahannya nyaman dan tidak panas. Selama ini tak mudah menemukan kaos yang lucu dan bagus untuk usia batita."

Dari sinilah keduanya sepakat menetapkan target pasar, ibu muda yang baru punya anak. "Setiap ibu pasti ingin anaknya tampil dengan kaos yang nyaman sekaligus lucu desainnya. Nah, hampir semua orang tersenyum bila melihat anak-anak yang mengenakan kaus zaralde," ujar Ninit dan Muti yang yakin produk mereka bakal memikat pembeli.

"Masalahnya, kan, enggak mudah menemukan kaos anak-anak dengan desain kata-kata yang positif, simpel, dan lucu. Itu kelebihan kami. Kebanyakan yang ada di pasaran, kan, kaos anak-anak bergambar saja."

Promosi dari Mulut ke Mulut

Ternyata jalan pemikiran Ninit dan Muti tak meleset. Bisnis mereka berkembang pesat dan mendapat respon yang sangat positif dari pasar. "Para konsumen senang dengan t-shirt kami. Puas dengan bahan dan desainnya. Baru sebentar ada di situs, sudah sold out."

Yang membuat keduanya tambah senang, "Cita-cita kami bekerja di rumah dan tetap produktif, tercapai. Jadi, tetap ada di dekat anak sehingga bisa memantau perkembangannya setiap hari," papar Ninit yang juga seorang penulis novel laris.

Sementara ini, Zaralde baru menyediakan ukuran hingga usia 36 bulan. "Sekarang kami sedang menyiapkan untuk anak di atas 36 bulan." Tak hanya itu, Ninit dan Muti pun memikirkan pengembangan produk di luar t-shirt. "Saat ini, selain t-shirts, zaralde juga menyediakan diaper bag, diaper clutch, t-shirt satu set untuk ayah-ibu-anak agar kompak, t-shirt untuk ibu hamil, dan juga nursing cover untuk kenyamanan ibu memberikan ASI di mana saja," jelas Muti yang sering kesulitan mengikuti event pameran gara-gara partnernya tinggal beda negara.

Lalu, trik apa yang dilakukan keduanya agar pembeli selalu tertarik kembali? "Kami mengedepankan desain baru, kualitas bagus, dan menangani web dengan serius. Serius di sini dalam arti membalas e-mail atau merespon dengan cepat. Pasti semua pembeli ingin dilayani dengan cepat, kan?"

Untungnya, para konsumen yang puas mempromosikan zaralde ke teman-temannya. "Jadinya promosi dari mulut ke mulut. Ini ternyata sangat ampuh," ujar Muti yang memberi servis pengiriman gratis bagi pembelian minimal Rp 300 ribu, ke seluruh wilayah Indonesia.

Bagi Tugas

Untuk urusan desain, dilakukan sendiri oleh Ninit dan Muti. Sementara materi kaos diproduksi di Bandung. "Rasanya lebih puas bila menangani sendiri. Selain itu, Muti yang juga ilustrator dengan latar belakang arsitek, sudah tidak asing lagi dengan dunia desain," jelas Ninit.

Soal modal, keduanya menggunakan UKM. "Dari awal kami enggak mengeluarkan modal yang besar. Tapi alhamdulillah, usaha ini terus berkembang. Yang paling penting adalah tekad dan niat kami menjalankan bisnis dengan serius," jelas keduanya yang mempelajari seluk beluk bisnis secara otodidak.

"Kami berdua belajar dari pengalaman. Terkadang bertanya juga kepada suami. Mereka sangat mendukung usaha kami," ujar Muti yang mengakui, tak mudah menyatukan dua pribadi berbeda dalam sebuah kerja bersama. "Awalnya pasti ada sedikit perbedaan pendapat. Hanya saja kami coba membiasakan diri. Jika ada sesuatu yang kurang berkenan, harus langsung dibicarakan. Lama-lama, kan, kelihatan pola kerjanya dan saling merasa cocok," papar Muti.

Pembagian tugas pun dilakukan. Berhubung Ninit tinggal di Singapura, "Saya di bagian produksi, sementara Ninit di bagian website. Kaos, kan, diproduksi di Bandung, jadi kalau ada pemesanan barang, saya yang menjalankan di sini," cerita Muti sambil memberi tips berbisnis ala Zaralde.

"Yang paling penting dalam menjalankan bisnis online adalah keseriusan, niat yang kuat, kerja keras, dan juga komitmen. Meski terlihat simpel, bisnis online cukup memakan waktu dan diperlukankan keseriusan. Selain itu, karena kami bekerja di rumah, harus bisa mengatur waktu antara urusan rumah tangga dan pekerjaan. Porsinya harus sesuai. Jadi, tidak ada yang terabaikan."

Krisis ekonomi yang diprediksi bakal terjadi, diyakini keduanya tak akan memengaruhi bisnis yang tengah mereka jalani. "Kami yakin, ke depannya zaralde memiliki prospek yang bagus karena tren belanjaonlineakan terus berkembang. Selain lebih nyaman, juga lebih praktis dan hemat. Konsumen tak harus keluar rumah hanya untuk membeli kaos anak. Cukup pesan, transfer, lalu kaos akan kami kirim."

Noverita K. Waldan

Menggocek Laba dari Merchandise Klub Sepak Bola

Selasa, 13 Januari 2009 | 10:37 WIB

Diakui atau tidak, sepakbola telah menjadi bisnis yang cukup menggiurkan. Banyak peluang bisnis yang kita kembangkan di seputar sepak bola. Salah satunya merchandise atau pernak pernik klub sepak bola ternama. Banyak suporter mencari barang ini. Jelas, ini peluang Bisnis yang menjanjikan.

Sepakbola merupakan olahraga yang sangat populer di dunia. Anak-anak hingga orang tua menyukai olahraga satu ini. Penggemarnya yang bejibun dan tersebar di seantero dunia itu, menjadikan sepakbola lebih dari olahraga. Kini, sepak bola telah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan.

Salah satu bisnis yang berkembang pesat di seputar sepak bola adalah pernak pernik atau atribut (merchandise) Atribut sepakbola yang paling gampang kita temui adalah' kaos berlogo kesebelasan tertentu. Banyak toko menjajakan kaos klub-klub besar dunia, khususnya klub Eropa.

Namun, masih jarang kita menemui toko menjual kaos kesebelasan lokal. Padahal, kebutuhannya tidak sedikit. Dengan jeli, Daeng Uki menangkap peluang ini. Ia membuat pernak pernik yang dibutuhkan para suporter Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM).

Ia mulai menekuni bisnis ini sejak 2004 lalu. Modal awalnya hanya Rp 500.000. Modal ini ia menggunakan memesan 30 kaos. Daeng kemudian menyablon kaos itu dengan gambar dan tulisan bertema PSM. Dalam sekejap, kaos buatannya ludes dibeli suporter PSM yang berjuluk The Macz Man.

Belakangan, Daeng tidak hanya membuat kaos, tapi juga merchandise lain, seperti stiker, gantungan ID Card, PIN, dan syal. Khusus untuk bahan rajutan syal, Daeng memesan dari Malang dan Bandung. "Di Makassar belum ada yang bikin dalam jumlah banyak," ujarnya.

Seiring perkembangan zaman, desain pernak pernik buatan buatan Daeng semakin bervariasi. "Kini, saya bikin yang mirip-mirip distro," ajarnya. Hasilnya, tak hanya para The Macz Man yang puas, masyarakat Makassar secara umum pun mulai menggemari atribut karya Daeng.

Harga pernak pernik buatan Daeng bervariasi. Harga kaos, misalnya, Rp 30.000, syal Rp 40.000, stiker Rp 5.000, gantungan ID card Rp 1.000, dan PIN Rp 5.000. Uniknya, dari setiap pernak pernik yang terjual, Daeng mendonasikan Rp 1.500 untuk klub PSM. "Ini wujud kecintaan saya terhadap PSM. Keuangan mereka kan enggak selalu bagus," ujarnya. Di luar itu, Daeng juga berjualan gelang bertuliskan "Save for PSM" seharga Rp 10.000 untuk mendukung dana klub itu.

Daeng mengaku, bisnisnya tidak selalu ramai. "Penjualan saya meningkat kalau PSM sedang banyak pertandingan, apalagi kalau sering menang," katanya. Saat musim liburan sekolah juga menjanjikan peruntungan lumayan.

Bila penjualan sedang ramai, dalam sebulan, omzet Daeng mencapai Rp 5 juta. Jika sedang sepi omzet Daeng hanya sekitar Rp 3 juta per bulan. Dari omzet sebesar itu, Daeng mencuil laba sekitar 5 persem-7 persen. (Kontan/Anastasia Lilin)

Kaus? Ya Bandung Lah...

Minggu, 12 Oktober 2008 | 05:33 WIB

BANDUNG bukan saja ibu kota Priangan, tetapi juga ibu kota per-kaus-an. Di ibu kota Provinsi Jawa Barat ini, kaus oblong alias T-shirt telah menjadi industri rakyat. Kaus menjadi penghidupan ribuan orang yang terlibat dalam proses pembuatannya.

Mari kita tengok kawasan Suci, sentra industri kaus di seputar Jalan Surapati, Cicaheum, Bandung. Di kawasan ini ada tak kurang dari 300 produsen kaus. Musim pemilihan kepala daerah alias pilkada—terlebih pemilu—merupakan masa panen bagi pelaku usaha kaus di Suci beserta ribuan karyawan mereka.

”Untuk kaus pilkada gubernur di Bandung kemarin saja, pesanan mencapai 8 juta potong. Jumlah itu menyebar, dikerjakan oleh banyak pabrik,” kata Marius Widyarto Wiwied, pengusaha kaus merek C59.

Tahun 2008 ini memang menjadi masa panen besar. Pasalnya, di negeri yang sedang dimabuk demokrasi ini, pada kurun 2008 terjadi 40 pilkada, mulai pemilihan bupati, wali kota, dan gubernur. Dan jangan lupa, calon anggota legislatif alias caleg DPR dan DPRD juga ikut pesan kaus yang tentu saja bergambar diri sendiri sedang memakai jas berdasi. Pesanan itu datang dari berbagai penjuru seperti Kalimantan Timur, Lampung, Palembang, Bali, sampai Mimika.

Setiap pilkada, datang pesanan antara 15.000 sampai 500.000 potong kaus. Setidaknya itu menurut catatan Marnawie Munamah, Ketua Umum Koperasi Perajin Sentra Kaus Suci. ”Nomor (urut) belum turun saja sudah banyak yang memesan. Apalagi, setelah penentuan nomor urut calon, pesanan bisa dua kali lipat,” kata Marnawie.

Mengapa para pemesan memilih Bandung? Menurut Wawan Gunawan, pengusaha kaus dari konfeksi Planet Production, sentra kaus Bandung bekerja dengan semangat pasukan gerak cepat. Industri milik Wawan yang didukung 125 karyawan, misalnya, mampu melayani 25.000 kaus dalam sehari.

Wawan mulai berbisnis kaus sejak tahun 1998. Kini, sudah punya empat pabrik, dengan produksi rata-rata 500.000 potong kaus per bulan. Kaus itu umumnya diproduksi untuk memenuhi pesanan dari berbagai perusahaan, seperti perusahaan rokok, operator telepon seluler, atau perbankan. Sejak tahun 2004, dia banyak menerima order kaus untuk pilkada.

Menurut Wawan, pesanan untuk pilkada lumayan besar jumlahnya, mencapai sekitar 300.000 potong per bulan. Kaus itu biasanya dibuat dari bahan hyget yang murah dengan harga jual Rp 5.000 per potong. Satu partai atau calon kepala daerah biasa mesan sekitar 5.000 potong per satu desain. Keuntungan yang dikantongi hanya sekitar lima persen. ”Tak besar untungnya, tapi kalau pesanan banyak dan terus, itu bisa menghidupi produksi,” kata Wawan.

Dalam musim ramai pesanan itu, Wawan dan kawan-kawan mesti waspada. Pada tahun 2004, banyak rekan usahanya merugi, bahkan sampai gulung tikar, karena pesanan kaus tidak dibayar. Aris, seorang pengusaha kaus, merugi Rp 85 juta karena ada beberapa parpol yang tidak menebus pesanan kaus. Woah!

Penghidupan mandiri

Industri kaus di Bandung tumbuh sejak tahun 1980-an. Pada awal era itu, usaha kaus dikerjakan beberapa produsen saja, seperti C59, Christine Collection, dan Q. ”Saya masih memproduksi sekitar 60.000 potong pe bulan untuk kaus pesanan dan 50.000 potong untuk ritel,” kata Widyarto Wiwied, pendiri C59 yang termasuk pelopor bisnis per-kaus-an Bandung.

Setelah krisis moneter tahun 1997, kaus impor dari mancanegara semakin mahal. Akhirnya banyak yang memproduksi sendiri untuk dijual di pasar dalam negeri. Tahun 2000-an, tumbuh kaus yang diproduksi di rumahan untuk dipasarkan di jaringan distro, seperti dengan merek 347, Ouval, Airplane, Evile, dan Eat.

Industri kaus Suci tumbuh justru ketika krisis ekonomi tengah melanda negeri ini tahun 1998. Orang-orang yang kehilangan pekerjaan saat itu bertahan hidup dengan menyablon kaus dan mendirikan warung kaus di sekitar Suci. Kaus rupanya memberi mereka kehidupan sampai hari ini.

Salah satunya adalah Yayan Suryana (38) yang telah tiga tahun ini hidup dari pembuatan kaus di Suci. Mula-mula pria asal Majalaya, Kabupaten Bandung, ini kebagian peran sebagai buruh perapih jahitan bahan kaus dengan bayaran Rp 200.000 per minggu. Itu tiga tahun lalu. Dengan belajar dan dukungan dari majikan, perlahan ia mengerti berbagai proses produksi kaus.

”Sekarang saya naik pangkat jadi tukang obras. Nanti kalau sudah ada modal dan keahliannya bertambah, saya ingin mandiri. Majikan saya sudah mengatakan akan membantu bila anak buahnya ingin membuka usaha sendiri,” kata Yana.

Beberapa pengusaha kaus Bandung menggunakan semangat memandirikan karyawan. Farhad, Kepala Produksi Undersight, salah satu produsen clothing di Bandung, mengatakan, industri kaus tidak sekadar melulu mengejar ekonomi. Proses mandiri membuat manusia menjadi lebih produktif. Hal itu dibuktikan adanya keinginan pekerja untuk mandiri mengembangkan usahanya.

Perry Tristianto, pengusaha sejumlah factory outlet (FO) di Bandung, misalnya, mendorong karyawannya untuk membuka usaha sendiri. Evita Farizca (33) adalah salah seorang karyawan di usaha FO milik Perry yang kini mempunyai usaha clothing sendiri sejak setahun lalu. Siang kerja di FO milik Perry, malam hari ia jalankan usaha pembuatan kaus bermerek 789.

”Modalnya hanya pesanan kaus dari teman. Saya membuat desain, membeli bahan, dan menjahitkan ke konfeksi. Kemudian saya pinjam uang dari teman untuk beli mesin jahit besar,” katanya.

Seluruh proses produksi—mulai dari membuat desain kaus, membeli bahan, memotong, menjahit, menyablon, sampai mengepak—dikerjakan sendiri. Usaha Evita berkembang. Kini dia bisa membeli beberapa mesin jahit sendiri, alat sablon, printer besar, dan printer untuk membuat film desain kaus. Karyawannya sekitar sembilan orang.

Menurut Widyarto Wiwied, jumlah perajin kaus rumahan di Bandung sekitar 800 orang. Adapun jumlah produsen kaus pabrikan di Bandung sekitar 100 pabrik. Kelompok distro di Jalan Sultan Agung-Trunojoyo sekitar 20-an toko distro. Itu belum termasuk di pelosok lain Bandung seperti Jalan Riau, Sultan Agung, dan lainnya. Soal merek yang banyak beredar dan dikenal di Bandung, mungkin jumlahnya mencapai 500 merek.

Rezeki kaus dari satu produsen itu menyiprat juga ke para pendesain, penjahit, penyuci, sampai pengepak. Bahkan lebih jauh lagi ke tukang es durian dan tukang jajanan yang dipastikan berjualan di depan FO atau distro di Bandung.

Kaus terbukti menghidupi rakyat—dan menjadi pakaian rakyat. Maka, jangan ganggu penghidupan rakyat. (Cornelius Helmy/ Dwi Bayu Radius)

Cornelius Helmy Herlambang,Dwi Bayu Radius

Tukang Sablon

Senin, 20 Oktober 2008 | 15:43 WIB

Tukang Sablon
Oleh: Hujan

Saiman masih duduk menatap screen berbingkai dan rakel yang menempel di tembok kiosnya. Sudah delapan bulan musim kampanye kali ini berlalu, namun belum ada satu partai pun yang memesan keperluan kampanye. Padahal, kampanye kali ini berbeda dengan musim kampanye yang sudah-sudah. Selain lama waktu yang menggunakan perhitungan wanita hamil, yakni sembilan bulan, kampanye kali ini diikuti puluhan partai.

Beberapa musim kampanye yang lalu, ketika hanya ada tiga partai, usaha keluarga Saiman mengalami puncak kejayaan. Apalagi ketika itu orderan kaos dan umbul-umbul dari Partai Beringin Karya terus membanjiri meja kerjanya. Berton-ton banyaknya. Hingga setiap usai pemilu, Saiman bisa menunaikan haji ke tanah Mekkah.

Agaknya, perubahan peta politik di negeri ini membuat usaha Saiman ikut berubah. Hingga suatu hari dia hanya mencetak kaos-kaos orderan anak punk. Sekali dua kali, dia mencetak logo pengajian ibu-ibu tingkat RW atau spanduk seminar mahasiswa yang keuntungnya sama-sekali minim, dan seterusnya.

Detik berlalu mengganti menit, hingga hitungan bulan. Hanya satu dua partai yang sempat datang ke tempat praktiknya. Namun begitulah, selain hanya sekadar menanyakan ongkos produksi, partai yang datang pun adalah partai kecil dengan jumlah orderan yang kecil pula.

“Pfuh,” keluh Saiman sambil menyeka keringat wajahnya dengan lengan kaos oblong bergambar lanskap Kota Jogja.

“Mudah-mudahan hari ini si Karyo singgah,” ujarnya dengan wajah berkerut. Lelaki paruh baya itu kemudian berpindah duduk ke depan kiosnya.

Angin siang berhembus dari balik seliweran angkot yang melintas di depan kiosnya. Saiman menahan kantuk. Matanya masih keliaran diantara orang-orang yang lalu lalang di tepi jalan.

Dua hari yang lalu memang sempat ada pembicaraan soal order sejumlah kaos dari Partai Bintang di Hati Rakyat atau biasa disingkat Partai Barat. Namun ketika itu belum disepakati jumlah orderan dan harga yang pantas. Kepada Solihin, asistennya, Saiman sempat menggerutu.

“Sebenarnya saya tak begitu memusingkan soal ideologi. Tapi Partai Barat ini…”

“Memangnya kenapa Bang Haji?” tanya Solihin. Dadanya kembang kempis mengatur udara yang masuk mengisi paru-parunya.

“Ah, sudahlah. Yang penting kau tahu saja…” ujar Saiman terputus.
***

Saiman masih menunggu Karyo. Sementara dua pembantunya masih mengerjakan sparasi dan undangan dalam jumlah pesanan yang kecil. Iya, undangan pesta nikahan.

Dahulu Saiman sempat memiliki duabelas orang pembantu, serta peralatan cetak yang sudah modern di zaman itu. Tapi itu cerita lalu, ketika Partai Beringin Karya atawa biasa disingkat Partai Berkarya masih menguasai pemilu dan selalu memesan ribuan kaos cetak.

Sekarang sudah beda. Sepuluh pekerjanya sudah mandiri. Bahkan sebagian dari mereka ada yang membuka usaha cetak sendiri. Termasuk Solichin, yang kemarin sore memutuskan berhenti.

“Bang Haji,” ujar Solichin, “susu anak saya yang bungsu belum dibeli. Saya…” keluh Solichin.

“Kenapa Solichin?” tanya Saiman.

“Tidak Bang Haji, saya ditawari kerja di tempat lain,” sambung Solichin dengan wajah yang kuyu. Saiman masih mendengar keluhan pekerjanya itu.

“Tapi besok si Karyo akan datang, kau di sini dulu lah. Barangkali jumlah ordernya besar,” kata Saiman mencoba memberi pengertian.

“Saya minta maaf Bang Haji, saya sudah janji akan bergabung di sana. Saya tak mungkin lagi menolak Bang Haji,” suara Solichin sayup-sayup terdengar.

Saiman pun kecewa. “Kalau sekadar beli susu ataupun keperluan anakmu, kau bisa meminta saja,”

“Saya sudah menjadi pengurus ranting Partai Barat…” ujar Solichin dengan nada yang datar. Saiman henyak.

***

Sebuah mobil berhenti di depan kios Saiman. Saiman menjorokkan tubuhnya memastikan siapa yang datang. Dari dalam mobil turun Karyo. Dengan dandanan dendi, tak lupa kaca mata hitam ala hunter menempel di atas rambutnya. “Bang Haji!” seru Karyo.

Dengan tawa dipaksa, Saiman menyongsong kedatangan Karyo. “Waalaikumsalam,” ujar Saiman sambil menyodorkan tangan kanannya memersilakan Karyo masuk.

“Sepi Bang Haji,” Karyo berbasa-basi. Saiman mengangguk sambil memerintahkan seorang pembantunya membersihkan sisa potongan kertas yang berserakan di atas lantai.

“Yah, beginilah, cuma orderan undangan dengan partai kecil,”jawab Saiman bersungut-sungut sambil mengambil duduk di belakang meja. Karyo menarik nafas sejenak, kemudian ikut mengambil duduk di depan meja. Mereka pun duduk berhadapan.

“Jadi?” tanya Saiman.

“Iya Bang Haji. Kemarin itu saya dapat proyek mencetak dua ribu kaos kerah. Tapi buat petinggi-petinggi itu,” jawab Karyo.

“Iya, saya punya bahan yang bagus. Tebal tapi dingin dan meresap keringat. Cocok untuk untuk petinggi dan jurkam Partai Berkarya. Jenis polyster juga ada. Tinggal cetakannya, mau dengan pigmen , plastisol atau foam ? Yang flocking juga ada,” ujar Saiman dengan semangat. Karyo diam saja sambil terus menajamkan tatapannya ke arah Saiman.

“Saya punya desain khusus untuk menambah tampilan pada kaos. Jadi petinggi dan jurkam Partai Berkarya punya nilai lebih dalam penampilan. Bukankah penampilan itu sebuah strategi?” papar Saiman sambil memerintahkan anak buahnya mengambil contoh kain.

Karyo merobah posisi duduknya jadi sedikit menyamping. Disilangkannya kaki kirinya di atas lutut kanan.

“Terus untuk kader Partai Berkarya gimana? Apakah proyek buat itu ada di sampeyan juga?” tanya Saiman. Karyo berdehem. Raut wajahnya semakin kecut.

Seorang pembantu Saiman datang menghampiri dengan membawa contoh jenis kain. “Nah ini dia, saya punya harga khusus buat sampeyan,” kata Saiman membentang jenis kain. Karyo bergeser kembali menghadap Saiman.

“Solichin dimana?” tanya Karyo sambil memerhatikan langkah pembantu Saiman yang membawa contoh kain.

“Ah, tak tahu diuntung dia!” damprat Saiman. Tiba-tiba cuaca siang itu semakin panas.

“Kenapa bang Haji?” tanya Karyo.

“Dia pergi dan jadi kader Partai Barat,” tukas Saiman dengan wajah masam.

“Nah, apa-apaan itu? Dia banting setir?” tanya Karyo sambil menggerak-gerakkan cuping hidungnya.

“Saya sudah bilang, ini bukan sekadar masalah ideologi. Saya sudah katakan, kalau memang mau main di partai monggo, tapi jangan partai itu. Partai itu kan komunis yang nyaru,” ujar Saiman. Karyo diam. Menunggu umpatan Saiman selanjutnya.

“Begitu ya Bang Haji?” sambung Karyo sejurus.
“Iya, bahkan sejak Zaman Baru. Meskipun ganti nama tetap saja komunis. Sekali komunis tetap komunis,” tambah Saiman dengan nada tinggi.

“Tapi Bang Haji, sekarang mereka kuat. Bahkan Partai Berkarya mulai tergangggu suaranya,” potong Karyo.

“Mau kuat kek, tetap saja. Saya kenal isi perut orang-orangnya. Apalagi si Solichin. Gara-gara tidak saya kasih pinjaman langsung masuk Partai Barat. Itu artinya kader Partai Barat memang orang-orang brengsek, seperti si Solichin. Sontoloyo!”geram Saiman. Karyo mengangguk. Bibir tebalnya mengembang.

“Mas Karyo, sampeyan ngerti, saya ini hanya pemilik sablonan. Tidak ikut-ikut pusing soal partai. Semakin banyak partai, saya senang. Semakin lama kampanyenya saya gembira. Kalau perlu sepanjang tahun kampanye. Tapi…”
“Tapi kenapa Bang Haji?”
“Ah tidak. Ini soal keyakinan saja. Sejujurnya saya tidak suka dengan partai itu, makanya saya selalu tolak orderan dari partai itu. Mendingan terima order dari partai gurem, biar kecil jumlahnya, yang penting bukan komunis,”lanjut Saiman.

“Ah, tapi ‘kan Bang Haji cari uang dari sablon. Kok malah nolak rezeki?”
“Saya bukan nolak rejeki mas Karyo,” ujar Saiman sambil menyerahkan sampel kain bakal kaos yang akan disablon.
“Jadi kalau bukan nolak rejeki, lantas apa?” tanya Karyo mendekatkan wajahnya ke arah Saiman.
“Saya mau mengajarkan soal sikap kepada pegawai-pegawai saya,” tambah Saiman.
“Lha? Sikap? Memangnya tukang sablon punya sikap?” tanya Karyo sambil meraih dan meraba sebuah sampel kain.
“Iya, punya. Termasuk menolak orderan partai Barat,” cetus Saiman dengan singkat. Wajahnya dibuang ke arah jalan.

Di luar angin siang menerbangkan debu dan sampah yang berserakan di jalanan.
“Ck,ck,ck, luar biasa. Sikap Bang Haji layak ditiru pegawai lain,” geleng Karyo sambil tangannya terus memilah dan memeriksa sampel kain.
“Jadi gimana, sudah ketemu bahannya?” tanya Saiman mengingatkan. Karyo tersenyum kecut, sambil meletakkan kembali sampel kain yang ada di atas meja.

“Begini Bang Haji,” kata Karyo sambil meletakkan sampel-sampel kain kembali ke atas meja. “kedatangan saya ke sini sebenarnya mau mengabarkan, kalau order dua hari lalu belum bisa diputuskan,” ujar Karyo dengan suara yang pelan. Saiman menahan nafasnya. Dikerutkannya dahinya hingga matanya yang sipit nyaris terlihat memejam.

“Maksudnya?” tanya Saiman setelah sempat tertegun beberapa detik.
“Pengurus cabang sudah menunjuk orang lain untuk proyek baju petinggi partai,”
“Lalu?” tanya Saiman dengan nada kecewa.
“Saya kebagian kerja mengurus bendera dan umbul-umbul partai. Tapi tenang Bang Haji, orderannya kali ini jumlahnya cukup banyak. Soalnya basis kami di Kota A siap bergerak dan turun pada minggu-minggu akhir masa kampanye,” ujar Karyo sedikit membujuk.

“Begitu saja?”

Karyo menganggukkan kepalanya berkali-kali. “Iya, saya akan mengabari Bang Haji dua hari lagi.”

***

Beberapa minggu sejak kabar dari Karyo diterima, kios Saiman semakin sepi. Sudah tak kelihatan pula dua pekerjanya. Konon dua pekerja Saiman yang tersisa itu memilih masuk partai dan ikut merayakan pesta lima tahunan.

***

Sore ini, lelaki kurus setengah baya duduk di atas kursi kecil. Tangan kirinya yang kotor akibat tumpahan super tinner menggenggam hair dryer. Sementara tangan kanannya sibuk mengatur garis pola baju.

“Assalamualikum Bang Haji,” seru seseorang dari luar. Suaranya nyaris hilang terbawa hujan yang sejak siang turun dengan deras.

Saiman menoleh ke belakang. Tatapannya menelusuri pintu kiosnya yang terbuka. “Waaalikumsalam,” jawab Saiman tak seberapa lama.

Solichin masuk sambil mengibas-kibaskan bajunya dari tempias air hujan. Saiman bangkit, dengan tatapan tajam dipandanginya Solichin dari kaki hingga ke ujung kepala.

“Ada apa?” tanya Saiman.
“Berkunjung Bang Haji,”jawab Solichin sambil berdiri gugup memandang Saiman.
“Berkunjung? Berkunjung ya?”
“Iya Bang Haji, saya rindu suasana di sini,”
“Hm, mau kembali bekerja?”tanya Saiman mengejek.
“Tidak Bang Haji, cuma mau nawarin orderan,” balas Solichin dengan nada yang datar.
“Apa?”
“Iya Bang Haji, saya dapat proyekan membuat baju dan bendera partai,”

“Kamu dapat proyekan?” tanya Saiman tak percaya. “memangnya kamu sudah punya massa? Punya basis?” tanya Saiman sinis.
“Sudah Bang Haji”
“Dimana?” tanya Saiman sambil menyambar handuk kecil yang tergantung di dekat pintu masuk. Sambil melangkah mendekati Solichin lelaki itu membersihkan tangannya dari tumpahan super tinner.
“Kota A,” jawab Solichin. “malah teman-teman kita dulu yang kerja di sablon ini membantu saya menggalang massa di sana,” sambung Solichin sambil memberanikan diri melangkah masuk.
“Ah, yang benar? Kamu bergurau? Bukankah Kota A itu basisnya Partai Berkarya?”tanya Siaman ingin memastikan.
“Alhamdulilah Bang Haji, dalam tempo sebulan, massanya berhasil digembosi. Malah sekarang aktivisnya pada lompat pagar” terang Solichin dengan senyum kemenangan.
“Lompat pagar? Maksudnya?”
“Partai Berkarya masih menerapkan gaya politik Era Zaman Baru. Kebijakan partainya masih mendahulukan orang-orang lama. Mereka tidak memberi tempat bagi anak muda, jadi.. ya… mereka masuk partai kami Bang Haji,” kata Solichin.
“Naudzubillahimindzalik!”seru Saiman sambil memelototkan sepasang biji matanya.
“Meski sama-sama partai warisan Zaman Baru, tapi partai kami lebih mendapat simpati, karena Partai Barat pernah dzalimi partai penguasa pada masa Zaman Baru,”sambung Solichin membanggakan partainya.
“Allahuakbar, pergi kau!”hardik Saiman sambil mengusir Solichin keluar dari kiosnya.
“Tapi Bang Haji…”

***

Menjelang senja hujan masih turun. Di luar, jalanan mulai merangkak sepi dari orang-orang yang lalu-lalang.

Sebuah mobil angkutan umum berisi massa kampanye melintas di depan kios Saiman. Sementara sisa sorak sorai massa masih terdengar menyusup dari balik suara tetes hujan dan sayup azan.

Di dalam kiosnya Saiman terus menyemprotkan udara panas dari hair dryernya ke kain yang telah dicetak. Lelaki kurus itu sadar kalau pada musim kampanye kali ini dia tak akan mendapatkan orderan dari partai mana saja. Mungkin.


Cikini, 22 Juli 2008

1) Kain saring terbuat dari nylon, biasanya dibingkai dalam frame berbahan kayu
2) Kuas untuk meratakan tinta pada cetakan.
3) Cat yang biasa dipakai untuk kaos berwarna terang karena sifatnya yg menyerap kedalam kain.
4) Cat berbahan dasar minyak, dengan kemampuan istimewa untuk mencetak dot/raster super kecil dengan hasil prima. Untuk mengeringkan cat ini biasanya dibutuhkan sinar infra merah.
5) Cat timbul
6) Cat dengan bentuk jadi seperti beludru

Jelang Lebaran, Distro Gelar Diskon

Sabtu, 12/09/2009 17:41 WIB
Jelang Lebaran, Distro Gelar Diskon
Baban Gandapurnama - detikBandung


Bandung - Momen lebaran dimanfaatkan sejumlah distro di Jalan Trunojoyo Bandung menggelar diskon besar-besaran. Pengelola distro tak lagi menjual barang dagangan mereka dalam toko, namun di halaman distro menggunakan tenda, mirip bazar.

Pantauan detikbandung deretan distro yang berada di Jalan Trunojoyo menjual dagangan mereka di tenda-tenda di area parkir distro. Diskon yang mereka pasang cukup menggiurkan, hingga 50 persen. Bahkan ada distro yang menawarkan Rp 100 ribu bisa dapat empat kaos.

Beberapa distro yang menggelar diskon di antaranya Black Jack, Proge, dan Flo. Terlihat puluhan konsumen yang rata-rata anak muda berjejal memilih-milih baju yang dijual.

Agung Fauzi (19), salah satu pengujung mengaku merasa sangat diuntungkan dengan diskon yang diberikan distro. "Ya senang sekali, apalagi saya bisa dapat kaos dengan hanya Rp 100 ribu. Maklum, saya kan dikasih uang terbatas," ujar Agung.
(ern/ern)

Dagadu Pamerkan Kaos Oblong 35 Tokoh Jogja

Joko Widiyarso - GudegNet


Jogja dan kaos oblong adalah dua hal yang tak mungkin bisa dipisahkan dari sebuah nama yakni Dagadu. Sebuah nama yang telah hampir 15 tahun menjadi ikon kaos oblong dan penyedia sejumlah pernik dan cinderamata khas Jogja.

Bagi Dagadu Djokdja, kaos obong tak hanya menjadi benda kasual yang patut dipakai kemudian ditanggalkan begitu saja. Kaos oblong bisa menjadi benda sentimentil yang penuh kenangan, bahkan menjadi ikon bagi seseorang yang pernah mengenakannya.

Dengan alasan di atas, PT Aseli Dagadu Djokdja akan menggelar pameran bertajuk "Oblong Klangenan" dengan merangkul politisi, seniman, budayawan, pengusaha, dan pejabat Jogja untuk berpartisipasai dalam pameran tersebut.

"Pameran 'Oblong Klangenan' akan melibatkan tokoh potensial punya kontribusi besar bagi Jogja seperti almarhum Affandi, almarhum Sapto Rahardjo, Mbah Maridjan, dll," kata Ketua Panitia Pameran "Oblong Klangenan" Iqbal Rekarupa di Yogyakarta, Senin (23/03).

Nantinya, Dagadu akan memamerkan sejumlah kaos oblong kebanggaan para peserta yang mempunyai nilai historis pada 26-29 Maret 2009 mulai pukul 09.00-21.00 WIB di Centro, Plaza Ambarrukmo Yogyakarta.

Pameran "Oblong Klangenan" juga akan diwarnai dengan senjumlah kegiatan seperti workshop, obrolan seputar oblong dan potensinya, lomba lukis oblong anak, serta hiburan dan permainan.

Pada pameran nanti, tokoh yang turut andil adalah almarhum Affandi, almarhum Bagong Kussudiardja, almarhum Sapto Rahardjo, Mbah Maridjan, Walikota Herry Zudianto, Susilo Nugroho, Amien Rais, Djoko Pekik, Butet Kertaerdjasa, Bambang Paningron, Dyah Suminar, Hamzah, Pudjo Wijianto, Ambar Pollah, Didik Nini Thowok, Djuwarto, Ohg Hari Wahyu, Ahmad Noor Arief, personel Sheila On Seven, Heri Dono, Arief Budiman, Bob Sick, Sujud Kendang, Kuss INdarto, personel Shaggy Dog, Kelik Pelipur Lara, dan Roy Suryo.

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons