Berburu Jaket Musim Dingin di Cimol

Berburu Jaket Musim Dingin di Cimol
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Jika anda ingin mencari jaket untuk menghangatkan badan di tengah cuaca Bandung yang kurang bersahabat beberapa hari terakhir ini, coba saja datang ke Cimol Gede Bage, Jalan Soekarno Hatta. Di sana anda bisa mendapatkan jaket dengan harga yang murah dari mulai Rp 15 ribu.

Untuk kualitas, silahkan buktikan sendiri. Karena meskipun barang seken, salah seorang pedagang khusus jaket, Tata (38) mengatakan Cimol menjadi salah satu tujuan untuk mencari jaket murah yang berkualitas. Jaket-jaket ini antara lain berasal dari Jepang dan Korea dengan berbagai merek.

Menurut Tata, penjualan jaket memiliki tren berbeda setiap tahunnya. Saat ini orang-orang lebih mencari jaket seken dari Jepang. Karena prosentase layak pakai jaket seken Jepang lebih besar daripada jaket Korea. "Untuk jaket Jepang biasanya masih layak pakai 50 persen tapi untuk jaket dari Korea di bawah 50 persen," tutur Tata yang sudah berjualan jaket di Cimol Gede Bage selama 4 tahun ini.

Tapi tidak semua jaket yang ada dalam satu bal (kumpulan pakaian atau jaket seberat 100 kilogram) adalah jaket seken. Sekitar 10 persen diantaranya adalah jaket-jaket baru dengan kondisi 95 persen masih bagus. Tata menjual jaket-jaketnya dari Rp 15 ribu sampai Rp 300 ribuan. termasuk jaket-jaket yang sering dicari oleh anggota pecinta alam yang harganya Rp 100 ribuan.

"Para pembeli tahu jaket dengan bahan berkualitas," ujarnya.

Pembeli jaket sendiri bisa dibilang fluktuatif. Ramainya pembeli juga tergantung dari jenis jaket yang tersedia, apakah menarik pembeli atau tidak. Datangnya musim penghujan pun tidak menjadi jaminan kalau pembeli mencari jaket-jaket tebal khusus musim hujan.

"Sekarang banyak orang yang mencari jaket yang aman baik untuk hujan maupun untuk panas," tutur Tata. Sebab, kata Tata, untuk cuaca Bandung orang-orang banyak yang mencari jaket yang bisa digunakan untuk segala suasana.

Seperti halnya Doni (25) yang datang ke Cimol Gede Bage hanya untuk membeli jaket. Selain harganya murah menurut Doni di Cimol juga banyak pilihan.

"Yang di toko harganya mahal-mahal. Mendingan di sini lebih murah dan banyak pilihan," tutur Doni sambil memilih-milih jaket. Doni mengaku meski musim hujan, jaket yang dia cari bukanlah jaket-jaket tebal tapi jaket yang bisa membuat nyaman.

Cimol, Harga Hemat Tapi Tetap Keren

Cimol, Harga Hemat Tapi Tetap Keren
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Menjamurnya factory outlet dan distro di Kota Bandung, ternyata tak cukup kuat untuk menggusur pasar pakaian-pakaian bekas alias Cimol. Label barang seken tidak menjadi halangan karena harganya yang murah dan model pakaian yang unik menjadi daya pikat.

Cimol yang diambil dari asal mulanya yaitu Cibadak Mall ini keberadaannya masih banyak dicari oleh masyarakat. Salah satu Cimol yang cukup terkenal di Bandung adalah Cimol Gede Bage, Jalan Soekarno Hatta, tepat di belakang Pasar Induk Gede Bage. Cimol Gede Bage yang diresmikan oleh Walikota Dada Rosada 2004 lalu ini tak hanya jadi tempat belanjanya urang Bandung tapi juga wisatawan luar kota.

Bahkan, bagi Sita (45) Cimol bisa menggeser kedudukan outlet-outlet yang menjual baju baru. Saat ini Sita lebih memilih berbelanja ke Cimol yang notabene barang bekas daripada harus berbelanja baju baru. "Saya berbelanja apa saja ke sini," ujar Sita ditemui tengah berbelanja di Cimol Gede Bage.

Menurut Sita, meskipun seken baju-baju di Cimol malah tambah bagus kalau dicuci. Lain halnya dengan baju baru yang biasa dia beli setelah dicuci malah mengkerut.

Sita pun tak khawatir dengan label seken karena menurutnya orang lain tidak akan pernah tahu kalau dia menggunakan baju seken. "Yang penting kelihatan keren. "Harga hemat tapi tetap keren," tambahnya.

Senada dengan Sita, Ari (24) juga termasuk penggemar barang-barang Cimol. Harganya yang murah serta model-model pakaiannya yang unik menjadi alasan utama Ari berbelanja ke Cimol Gede Bage. Ari mengaku setidaknya sebulan sekali dia berbelanja baju ke Cimol.

"Di sini pakaiannya malah lebih up to date di bandingkan di luar," tutur mahasiswi yang duduk di semester 10 jurusan hukum Unpad ini. Sekali belanja Ari hanya membawa Rp 100 ribu. Saking murahnya, dengan uang tersebut dia bisa dia membeli sampai tujuh potong pakaian.

Ari pun mengaku tidak malu kalaupun orang lain harus tahu kalau dirinya memakai baju seken. "Bangga lagi bisa pakai baju keren tapi harganya Rp 5.000," ujarnya sambil tertawa.

Ya, barangkali cuma di Cimol bisa didapatkan harga Rp 5 ribu. Tak sedikit penjual yang menyeru-nyerukan harga Rp 5 ribu tersebut untuk menarik para pengunjung. Asalkan cukup jeli dan sabar dalam memilih, dengan harga tersebut bisa mendapatkan pakaian layak pakai dan masih bagus.

Selain pakaian yang dijual, ada juga tas, sepatu, perlengkapan rumah tangga seperti taplak meja, gorden dan lain-lain. Pakaian pun hampir mencakup semua jenis pakaian seperti kemeja, celana bahan, celana jeans, blouse, long dress, ada juga gaun pengantin. Bahkan sampai pakaian dalam sekalipun dijual di sini. Barang-barang tersebut adalah barang-barang seken dari Jepang, Korea atau Taiwan.

Tata (38) mengatakan ada sekitar 1.000 an pedagang di Cimol Gede Bage saat ini. Para pedagang mendapatkan barang-barang seken tersebut dari broker. Para broker menjual kepada para pedagang dalam bentuk bal. Satu bal pakaian seberat 100 kilogram.

Bal-bal tersebut dijual sesuai dengan kelompoknya apakah kemeja, jaket, tas, gaun atau barang lainnya. Biasanya ketika bal baru dibuka harga pakaian harga barang akan lebih mahal. Karena pakaian-pakaian yang tingkatan kualitas dan modelnya lebih bagus masih cukup banyak.

Pakaian yang ada di bal memang memiliki tingkatan layak pakai yang berbeda-beda. Dari keadaannya 90 persen sampai di bawah 50 persen. Kuncinya pembeli harus lebih teliti. Namanya juga barang bekas tentu tak selalu mulus, penuh cacat atau kotor. Walaupun di antara barang-barang tersebut ada juga barang baru tapi jumlahnya jauh lebih sedikit.

"Setiap barang tidak ada yang sama. Paling banyak juga tiga buah pakaian yang sama motifnya," tutur Tata. Kebanyakan pembeli memang mencari pakaian yang unik. Bahkan untuk yang model-model baru banyak yang mencari ke Cimol.

Keunikan itu pula yang ternyata bisa menarik pembeli tak hanya dari masyarakat biasa. Kalangan selebritis seperti Aming pun termasuk pemburu baju-baju di Cimol Gede Bage.

Selain di Gede Bage, barang-barang seken sejenis bisa didapatkan di Cimol Jalan Kiaracondong dan di Gedung Dezon Jalan Asia Afrika.

Pemerintah Lebih Cinta Clothing Daripada Musik Cadas

Satu Tahun Insiden AACC
Pemerintah Lebih Cinta Clothing Daripada Musik Cadas
Andri Haryanto - detikBandung

Bandung - Pemerintah diminta untuk tidak menutup mata dari kejadian konser maut Beside yang berujung tewasnya 11 orang penonton konser, tepat satu tahun silam. Pemerintah terlalu mendiskreditkan komunitas musik underground.

Hal tersebut dikatakan ketua panitia Enk Ink Enk Aditya Arga Sasmita yang divonis 2,5 tahun oleh PN Bandung karena terbukti lalai dalam penyelenggaraan sebuah pertunjukan dan menyebabkan 11 orang penonton tewas, saat ditemui di Penjara Kebonwaru, Bandung, Senin (9/2/2009).

Kepada detikbandung Adit menuturkan jika selama ini scene indie Bandung termasuk yang terbesar di Asia Tenggara. Terlebih dengan kemunculan kreativitas kaum muda Bandung melalui produk distro dan clothingnya.

Namun, kata Adit, sangat disayangkan ketika pemerintah begitu concern dengan kelompok distro dan clothing ketimbang dengan komunitas underground. Padahal musik underground adalah cikal bakal tumbuhnya kreativitas distro dan clothing.

"Kita dideskreditkan. Kenapa hanya distro yang diayomi pemerintah, padahal cikal bakal disto dan clothing salah satunya tumbuh dari musik underground," jelas Adit.

"Jangan-jangan ada sesuatu di dalam yang hanya ingin dimanfaatkan pemerintah dengan mengayomi komunitas distro dan clothing, dan menyisihkan kamunitas musik underground," sambung Adit.

Adit mengatakan jika pemerintah tidak boleh menutup mata dari kejadian konser maut setahun silam. Setidaknya, kata Adit, pemerintah memberikan fasilitas memadai untuk komunitas yang dinilainya turut membesarkan nama Bandung dui kancah internasional.

"Pemerintah jangan tutup mata hanya karena kejadian kemarin," pungkasnya.

Meski harus mendekam 2,5 tahun di dalam penjara, Adit merasa tidak kapok dengan kejadian yang menewaskan 11 orang penonton pada saat konser grup band Beside. "Maju terus," tandasnya

Eat, Bergerilya dengan Konsep Baru

Eat, Bergerilya dengan Konsep Baru
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Kenal Eat? Jika anda kehilangan toko Eat di Jalan Trunojoyo dan Buah Batu, jangan khawatir, Eat tak akan pergi. Jumat lalu (06/02/2009), Eat baru launching temporary storenya di Jalan Cilamaya No 4, belakang Gedung Sate'.

Bukan tanpa alasan. Kepindahan Eat sebagai bentuk membentuk image baru, menjadi mandiri dengan konsep gerilya yang diilhami dari seorang negarawan Mao Tze Dong. "Kami namakan ini goerilla (gerilya) store," ujar Ratna Djuwita, Creative Communication Eat.

Dalam gerilyanya, Eat mencoba berubah total. Berupaya keluar dari cangkang bermetamorfosis menjadi sesuatu yang baru. Membuat sebuah gerakan clothing yang tetap mengusung sisi independen. Salah satunya yaitu dengan konsep store yang hanya didukung materi sederhana tapi bisa dibuat maksimal.

Misalnya, ornamen-ornamen gantungan baju yang hanya terbuat dari kawat, kardus-kardus-kardus bekas untuk display produk, atau lampu-lampu murah yang digantungkan di langit-langit. "Kami menggunakan barang-barang yang ada lalu dikreasiin," tutur Ratna.

Tapi bukan bermaksud untuk eksklusif, kata Ratna, Eat hanya menawarkan sesuatu yang baru, termasuk konsep promo dan produk. Untuk konsep produk sendiri mulai maret depan Eat akan membuat produk secara berkesinambungan. Di mana satu tahun hanya berpijak pada satu tema yang dikeluarkan dalam empat kali season.

Konsep seasinal produk Eat nantinya diakui Ademus (34) pemilik Eat karena dirinya ingin Eat keluar dari image distro. "Pengen naik kelas, bukan hanya lebih mahal atau eksklusif tapi merubah dari sisi sistem," ujarnya.

Menurut Ademus, distro biasanya begitu reaktif dengan tren. Sehingga perkembangan produk pun tidak lepas dari tren. Hal itulah yang ingin dirubahnya. Dengan sistem seasional produk lebih teratur dan membuatnya harus memperediksi pasar untuk beberapa bulan ke depan.

Image baru yang ingin dimunculkan Eat pun di sisi lain mencoba untuk melepaskan nama 347 dari Eat. Mungkin masih melekat diingatan para penggemar distro atau clothing kalau Eat dulu bergabung dengan label 347 dengan nama Eat 347.

Tapi dua tahun yang lalu manajemen Eat 347 memisahkan diri. Pisahnya manajemen tersebut berbuntut pada pembagian nama menjadi hanya Eat dan 347 kini dikenal dengan nama Uncle 347.

Lokasi outlet Eat dan 347 yang berdampingan di Jalan Trunojoyo membuat perpisahan manajemen itu tidak terlihat. Sehingga masih banyak yang mengira kalau Eat adalah 347 begitu pula sebaliknya. Salah satu cara untuk membentuk citra sendiri yaitu dengan memindahkan lokasi outlet.

Kembali ke Fitrah, Eat Rangkul Komunitas Elektronik

Kembali ke Fitrah, Eat Rangkul Komunitas Elektronik
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Distro dan clothing kini mulai menjauh dari akarnya semula yaitu komunitas. Padahal komunitas inilah yang membesarkan distro dan clothing menjadi sebuah industri kreatif besar di Bandung. Hal itulah yang membuat Eat, dengan konsep barunya kembali merangkul komunitas.

"Balik ke root. Dulu kita sangat gerilya, berbaur dan kini banyak yang melepaskan diri dari komunitas karena bisnis. Kita balik ke fitrahnya distro dan clothing dulu yang berjuang dari awal," tutur Ademus (34) pemilik Eat.

Komunitas elektronik adalah yang dirangkul Eat. Selain karena Ademus yang juga berprofsesi sebagai DJ, perkembangan scene elektronik juga di Bandung juga cukup baik.

Musik elektronik ini menurut Ademus menggunakan musim artifisial, alat elektronik, sintetik, memakai keyboard atau komputer. Meskipun di nilainya musik Bandung sendiri sampai saat ini masih berkiblat ke band bukan ke club yang memang tempatnya para penggiat musik elektronik.

"Kita tidak akan besar tanpa komunitas. Maka kita membesarkan komunitas sebagaimana mereka membesarkan kita," tambah Ratna Djuwita, Creative Communication Eat.

Menurut Ratna, kelak Eat akan membuat sesuatu bagi komunitas khususnya komunitas elektronik sehingga anggota komunitas bisa turut mengembangkan diri. Keseriusan Eat dalam menggandeng komunitas elektronik pun ditunjukan dengan interior temporary store Eat yang memajang perlengkapan DJ.

Tentu saja Ratna pun berharap tahun ini Eat bisa benar-benar beperan di komunitas. "Kami tak biarkan tergantung pasar. Tapi pasar yang mengikuti," ucapnya.

C59, Pelopor Clothing di Jawa Barat

C59, Pelopor Clothing di Jawa Barat
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Geliat industri fashion di Bandung sepertinya terus merekah. Didukung kreatifitas anak muda melalui distro dan clothing yang masih memperlihatkan kejayaannya. Tapi di tengah persaingan beragam label clothing, sepertinya nama besar brand C59 masih terus terngiang. Bahkan seperti akar yang keberadaannya tak bisa dilepaskan dari kreativitas Kota Bandung.

Tahun 2007 lalu, C59 mendapatkan Hade Award yang diberikan Disperindag dan Kreativity Independent Clothing Kommunity (KICK), sebagai pelopor industri clothing di Jawa Barat. Sang pelopor yang nama besarnya berawal dari sebuah rumah di Jalan Caladi No 59.

Kesuksesan C59 adalah buah dari tekad seorang Marius Widyarto (53) bersama istrinya Maria Goretti Murniati(53) yang memulai usaha di bidang kaos pada 12 Oktober 1980 lalu.

Usaha ini berawal dari sebuah ide yang tak biasa. Wiwied, demikian sapaan akrab Marius, mendapatkan modal awal dengan menjual kado pernikahan. Dari hasil penjualan tersebut Wiwied membeli satu buah mesin jahit dan dua mesin obras untuk menjalankan usahanya.

"Dari SMU saya sudah senang membuat kaos-kaos kelas atau kaos ekstrakurikuler," tutur Wiwied yang menghabiskan masa SMP dan SMU di Aloysius ini. Kesupelannya dalam bergaul dari satu komunitas ke komunitas lain mengasah kemampuan Wiwied dalam seni berinteraksi dengan orang lain.

Kemampuan bergaul itulah yang dia jadikan sebagai modal. Wiwied mencari klien dari komunitas ke komunitas. Bersama sang istri Wiwied pun bergerilya mencari klien yang ingin dibuatkan kaos.

Saat itu pengerjaan kaos pun masih dilakukan secara manual. Tapi dalam waktu singkat, C59 dapat menunjukan keunggulan produk dari mulai bahan kaos, jenis sablon dan tekhnik pengerjaan kaos.

Wiwied mengaku dirinya sempat kesulitan untuk mendapatkan modal agar usahanya bisa diperbesar. Namun berkat kegigihan Wiwied dalam membangun relasi. Wiwied pun berhasil menggandeng sebuah bank swasta yang bisa memberinya kucuran dana untuk mengokohkan nama C59.

Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1990 Wiwied berhasil mendirikan sebuah pabrik di Cigadung Permai yang dibangunnya dengan mencicil. Di pabrik ini, pembuatan kaos tak hanya dilakukan secara manual tapi sudah berbaur dengan teknologi.

Mulai saat itu, usaha Wiwied pun mengalami perluasan dari semula pembuatan kaos pesanan merambah ke retail. Di tahun yang sama pula Wiwied mendirikan toko retail yang pertama di Jalan Tikukur No 10.

Untuk mengukuhkan usahanya, pada tahun 1993-1994 C59 resmi berbentuk Perseroan Terbatas (PT) Caladi Lima Sembilan. Kini Wiwied mempekerjakan sekitar 300 karyawan. Bahkan kadang mencapai 700 karyawan jika sedang dibanjiri pesanan.

Sejak berubah menjadi perseroan, Wiwied mulai mengepakan sayap C59 ke luar Kota Bandung. Mendirikan toko dan bekerjasama dengan department-department store di beberapa kota untuk penjualan produk C59. Pada tahun 2000, C59 berani melangkah memasarkan produknya ke Eropa Tengah seperti Ceko, Slovakia dan Jerman. Begitupun di dalam negeri pemasaran si departemet-department store kian digencarkan.

Selain berada di departement-depertement store. Produk-produk C59 juga bisa ditemukan di showroom C59 Jalan Merak No 2.

Tetap Bertahan By Order

Tak pernah meninggalkan usaha awalnya melalui by order atau pesanan, sampai sekarang pun C59 masih menerima pesanan produksi kaos. Pesanan tak hanya datang dari instansi atau komunitas yang bersifat individu, tapi datang juga dari label-label lain yang ternama sampai beberapa clothing di Bandung.

"Kami juga memproduksi merek-merek besar dan beberapa merek clothing di Bandung," tutur PR & Marketing C59 Bambang Hariyanto. Dengan adanya kantor cabang di delapan kota, kata Bambang, C59 tak pernah sepi klien.

Meskipun diakui Bambang dari sisi retail penjualan menurun. Hal itu terjadi karena banyaknya pesaing dari luar dan adanya pemain-pemain baru dalam industri clothing di Bandung. Saat ini dalam satu bulan C59 bisa memproduksi sampai 6.000 pieces untuk pesanan di seluruh Indonesia.

Memburu Jas Hujan Army Look di Malabar

Memburu Jas Hujan Army Look di Malabar
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Hujan masih mengguyur Kota Bandung. Pepatah klasik ‘sedia payung sebelum hujan’ pun akan tetap berlaku. Untuk para pengguna kendaraan roda dua misalnya, jas hujan tentu harus sudah siap mengiringi setiap aktivitas di luar rumah.

Jas hujan bisa ditemukan di manapun. Tapi jika ingin mencari jas hujan murah dengan nuansa army look bisa menyambangi deretan kios-kios di Jalan Malabar Kosambi. Di kawasan ini hampir semua kios menjual produk yang sama yaitu perlengkapan militer seperti TNI/Polri dari seragam, tas, sabuk hingga sepatu. Termasuk diantaraya jas hujan.

Selain berada di Jalan Malabar para pedagang juga berada di pinggiran Jalan Ahmad Yani sampai ke batas belokan Jalan Kembang Sepatu. Tampak tergantung jas-jas hujan berupa ponco di pinggir-pinggir kios. Sedangkan jas-jas hujan dalam bentuk raincoat atau satu stel atasan bawahan berada dalam wadahnya yang digantungkan di atap kios.

Konon, sejak dulu kawasan ini sudah terkenal sebagai pusat penjualan perlengkapan militer. Seperti dinyatakan Iwan (60) yang sudah berjualan di tahun 1960. Menurut Iwan, dari tahun 1950 pun sudah banyak pedagang perlengkapan militer di kawasan itu. Tapi mereka berjualan hanya di emper-emper trotoar Jalan Ahmad Yani.

Keberadaan para pedagang yang cukup menganggu membuat pemerintah mengkonsentrasikan mereka di Jalan Malabar pada tahun 1994. Di sepanjang Jalan Malabar dibangun kios-kios untuk menampung para pedagang. Sejak itu kawasan ini pun dikenal dengan nama Hejoan (serba hijau-red). Karena produk yang mereka jual adalah perlengkapan militer atau TNI/Polri yang notabene didominasi warna hijau.

Produk-produk tersebut dikirim dari perusahaan-perusahaan konveksi yang ada di Badung dan Tasikmalaya. Secara resmi, para pedagang sudah mendapat izin dari pemerintah untuk menjual produk-produk tersebut.

Tapi tidak semua produk bisa dikonsumsi oleh umum. Untuk perlengkapan khusus TNI/Polri yang rawan disalahgunakan seperti seragam hanya dijual kepada anggota termasuk juga seragam satpam. Para pedagang akan meminta KTA pembeli untuk meyakinkan kalau mereka tidak menjual pada orang yang salah.

Tapi untuk jas hujan siapapun bebas untuk membeli. Maka tak heran di musim penghujan ini, beberapa pedagang mengalami sedikit peningkatan penjualan jas hujan. Suparno (37) misalnya yang mengatakan pendapatannya di musim hujan kebanyakan dari hasil penjualan jas hujan.

“Meningkatlah sampai 25 persen,” ujar pria yang disapa Parno ini. Menurut Parno, bahan jas yang digunakan sama dengan bahan untuk TNI/Polri walaupun dengan kualitas yang lebih rendah. Tapi untuk menghalau air dari tubuh sama efektifnya.

“Kalau bahan seperti ini tidak akan sobek,” tutur Parno sambil memegang jas hujan yang dijualnya. Harga jas hujan bervariasi. Untuk ponco loreng maupun hijau dijual Rp 30 ribu, sedangkan raincoat dijual antara Rp 40 ribu-Rp 55 ribu. Bagaimana, sudahkan anda memiliki jas hujan? Kenapa tidak untuk datang ke tempat ini.

(ema/ern)

Pernah Jadi Tujuan Wisatawan Malaysia dan Brunei

'Hejoan' di Malabar
Pernah Jadi Tujuan Wisatawan Malaysia dan Brunei
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Selain jadi tujuan masyarakat Bandung. Keberadaan kawasan Hejoan di Jalan Malabar Kosambi juga cukup dikenal sampai ke luar negeri. Konon para pelancong dari Malaysia atau Brunei Darussalam kerap berkunjung ke kawasan ini.

Tapi itu dulu, ungkap Suparno (37) salah seorang penjual. Selepas terjadinya penggusuran di kawasan ini, para pelanggan dari luar negeri pun hilang begitu saja.

Setahun yang lalu, tutur Suparno, tanah PJKA yang berada di Jalan Malabar dibeli oleh swasta. Padahal para pedagang berjualan di trotoar depan kawasan tersebut. Untuk memindahkan para pedagang dari kawasan tersebut, mereka diminta untuk membongkar kios dengan dalih akan ada perbaikan. Tapi ternyata keesokan hari setelah dibongkar, para pedagang mendapatkan tanah tempat mereka berjualan sudah dibenteng dan hanya menyisakan ruang trotoar selebar setengah meter.

Suparno mengaku sejak kejadian tersebut dia sempat berhenti berjualan sampai satu bulan. "Tapi karena kebutuhan ekonomi saya pun berjualan lagi," tutur Suparno yang sudah berjualan dari tahun 1993.

Tak hanya Suparno, pedagang lainnya di Jalan Malabar membangun kembali kiosnya. Sebagian pedagang pindah ke trotoar Jalan Ahmad Yani. Mereka pun membangun kiosnya seperti semula.

Sejak itu diakui Parno penjualan menurun. Para pelancong dari Malaysia maupun Brunei Darussalam yang biasa berkunjung tak pernah kelihatan. Bahkan di iklim pemilu yang biasanya mereka kebanjiran order kaos untuk kampanye pun kini tidak ada.

"Penjualan turun sampai 80 persen lah," tutur Parno enggan menyebutkan angka besarannya. Tapi Parno menyatakan dirinya mau tak mau harus tetap menjalankan usaha ini agar bisa bertahan hidup.

Sama halnya dengan Parno, Iwan (60) pun mengalami sepi order. "Kalau lagi pemilu biasaya suka banyak order sekarang mah tidak ada," ujar Iwan. Bahkan Iwan mengaku dalam beberapa hari terakhir ini penjualannya sangat sepi.

(ema/ern)

Nekat, Pakai Hantu Ambulan Buat Distro

Nekat, Pakai Hantu Ambulan Buat Distro
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Apa yang terlintas dalam ingatan anda ketika mendengar Jalan Bahureksa No 15? Mungkin anda akan langsung merinding begitu mengingat mitos adanya makhluk halus yang menjaga ambulan di rumah tua tersebut. Terlebih mitos tersebut sudah diangkat ke layar lebar dalam film berjudul Hantu Ambulan.

Keberadaan ambulan yang masih terparkir dengan jelas di halaman depan rumah tersebut memang cukup menarik perhatian.

Tak terkecuali buat empat orang anak muda, Bram, Eri, Dorre dan Andreas yang memanfaatkan keunikan tempat ini dan kemudian mengubahnya menjadi distro delapan bulan yang lalu.

Nama yang dipilih pun tidak jauh-jauh yaitu Ambulance Shop. Nggak heran siapapun yang melirik rumah tersebut cukup tertarik untuk datang.

"Pengunjung awalnya tertarik untuk melihat ambulan. Lama-lama ke toko dan belanja," ujar Hery (35) Pengelola Ambulance Shop.

Ketika memilih rumah ini sebagai lokasi toko, menurut Hery para owner tidak terganggu dengan mitos yang berkembang seputar ambulan yang ada di rumah tersebut. "Buat usaha ngapain mesti takut," ujar Hery.

Kenyatannya, mitos tersebut memang mempengaruhi penjualan. Apalagi, ucap Hery, ketika televisi menayangkan film Hantu Ambulan, keesokan harinya pembeli banyak yang datang. Sebab di film tersebut dengan jelas disebutkan alamat mitos hantu ambulan di Jalan Bahureksa No 15.

Hery sendiri tidak merasa ada yang aneh dengan tempat tersebut. Dia sempat menelusuri dan mencari asal-usul mitos. Namun yang ditemukannya hanyalah data yang simpang siur.

Sampai saat ini tidak ada keganjilan apapun. Pengunjung sekalipun menurut Hery tidak merasa seram untuk belanja dengan adanya ambulan tersebut.

"Bahkan sebelum belanja ada yang foto-foto dulu di dekat ambulan," ungkapnya.

Kesan rumah kuno di bagian dalam rumah tidak dibiarkan dalam keadaan aslinya. Nuansa rumah yang kuno dengan langit-langit yang tinggi dibuat lebih rendah 1,5 meter. Selainitu kaca-kaca patri dibungkus dalam balutan nuansa putih dan merah.

Jadi meskipun di luar dihiasi dengan adanya mobil ambulan ketika memasuki toko, atmosfer pun langsung berganti menjadi lebih ceria.(ema/ern)

Tidak Menjual Label Ambulan

Ambulance Shop
Tidak Menjual Label Ambulan
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Umumnya distro atau clothing menjual produk yang sesuai dengan nama toko. Tapi tidak dengan Ambulance Shop yang lokasinya menggunakan rumah mitos hantu ambulan di Jalan Bahureksa No 15.

Menurut Hery (35) Pengelola Ambulance Shop, label ambulance sendiri tidak dijual di toko ini. Walaupun pernah tercetus rencana untuk membuat label ambulance.

"Para ownernya sudah memiliki label sendiri," tutur Hery. Bram dengan label 'eek!', Eri label 'Ochikawa', Dorre label 'Lifewear' dan Andreas dengan label 'Rockin Jamesnya'.

Selain empat label tersebut, Ambulance Shop juga konsinyasi dengan sekitar delapan label yang rata-rata adalah label asal Jogyakarta.

Empat label utama di Ambulance Shop sendiri sebenarnya sudah bermain dalam industri distro sebelum Ambulance Shop berdiri. Selain menitipkan pada beberapa distro yang sudah ada, empat label tersebut juga menjelajah ke kota-kota lain di Indonesia.

Antusiasme kota lainnya terhadap label clothing di Bandung yang cukup tinggi membuat label-label Bandung terus dicari. Sehingga permintaan yang datang terus berkelanjutan.

Jadi bisa dibilang, dari sisi keuntungan, penjualan di luar toko lebih bagus dari penjualan toko. "Ambulance shop adalah front officenya," ujar Hery.

Misi yang samalah yang menggabungkan keempat label dalam satu toko. Kini para ownernya sedang bersiap-siap menunjukan produk mereka dalam perhelatan Kickfest di Jogjakarta yang sebentar lagi akan digelar.(ema/ern)

Pengusaha Clothing Minta Pajak Dihilangkan

Pengusaha Clothing Minta Pajak Dihilangkan
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Industri clothing atau distro yang dirintis sejak tahun 1996 kini sudah memasuki dekade kedua. Peran distro sebagai industri buah kreatif anak negeri sendiri jangan dipandang sebelah mata. Para pelaku distro pun berharap pemerintah mau support perkembangan industri ini dengan menghilangkan pajak bagi para pelakunya.

"Kalau pemerintah mau support industri ini minimal bantuin pajak," ujar Tubagus Fiki Chikara Satari atau Fiki, Ketua Kreativity Independent Clothing Community (KICK).

Seharusnya ketika industri ini bisa membuktikan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, jangan disulitkan dengan pajak. " Faktanya di lapangan tidak ada pengecualian," ujar Fiki.

Industri clothing, ungkap Fiki jangan dilihat dari jumlah transaksinya yang besar tapi lihat dari upaya merintisnya yang berawal dari nol.

Dalam perjalanannya ada trial dan error dan banyak pihak yang terlibat seperti vendor, desainer dan menyerap tenaga kerja yang luar biasa. Ketika disulitkan dengan pajak, bagi pelaku yang masih kesulitan modal, banyak yang tidak berani untuk terus maju. Apalagi persaingan di antara pelaku industri ini makin tinggi.

Fiki tidak berharap banyak, pemerintah jika ingin membantu industri ini terus maju hilangkan pajaknya sekalian. "Lebih baik tunjukin pro ekonomi kerakyatan. Ril rakyat yang ngejalanin," ujarnya.

(ema/ern)

Ditolak Distro, Malah Jadi Trendsetter

Ditolak Distro, Malah Jadi Trendsetter
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Awalnya sempat ditolak oleh distro-distro. Tapi kini banyak distro membutuhkan jasa Brian Aditiawarman (27), sang seniman airbrush.

Airbrush yang lebih dikenal untuk pewarnaan dalam industri otomotif ini dipopulerkan oleh Brian dalam industri tekstil tahun 2004. Sebelumnya Brian menggunakan airbrush untuk pewarnaan kendaraan.

Bagaimana akhirnya Bria bisa terjun ke industri fesyen?

"Karena Bandung kota fesyen terpikirkan juga kenapa airbrush tidak digunakan untuk fesyen," ujar Brian yang pernah berguru ke Singapura untuk memperdalam ilmu airbrush.

Tapi Brian tidak langsung membuka usaha sendiri. Tahun 2003, dia menjual jasa airbrush untuk butik. "Saat itu saya menggunakan airbrush untuk gaun pesta atau busana muslim," tutur lulusan Manajemen Universitas Maranatha ini.

Kala itu Brian menjual karyanya dengan tarif mahal. Berhubung komposisi cat airbrush yang tepat untuk tekstil belum dia temukan di Indonesia jadinya harus impor. "Satu botol 30 mililiter harganya 5 dollar," ujar Brian. Nggak heran harga yang dia tawarkan pun untuk satu gaunnya di angka ratusan ribu.

Tahun 2004, Brian bertemu dengan kawan yang bisa membuat komposisi cat airbrush khusus tekstil. "Akhirnya saya pun pakai cat merek sendiri," ujar Brian.

Dengan menggunakan cat milik sendiri, otomatis harga cat juga lebih murah hingga mempengaruhi harga jual ke konsumen.

Brian menutup kerjasamanya dengan butik. Dia mulai membuka usaha sendiri yaitu airbrush untuk t shirt. Untuk mendapatkan hasil yang optimal Brian mengaku harus melakukan eksperimen sampai beberapa kali. "Awalnya saya mengerjakan sendirian," ujar Brian.

Brian menuturkan, awalnya dia menawarkan karyanya kepada distro-distro tapi mereka menolak. Akhirnya Brian pun menitipkan kaos-kaosnya ke toko-toko baju biasa.

Dari sanalah kaos-kaos airbrush Brian mulai dikenal. Dia mulai kebanjiran pesanan jasa airbrush dari FO-FO juga distro, bahkan dari distro yang dulu sempat menolak tawarannya.

Brian sendiri belum menjual kaos airbrush dengan labek miliknya sendiri. Dia mengerjakan produksi untuk klien-kliennya.

Barulah tahun 2009, nama label milik Brian sendiri The Body Rave mulai diluncurkan. Bertepatan dengan pembukaan gerai barunya di Renariti Factory Outlet.

Menurut Brian, kini sudah ada yang mengikuti jejaknya dengan menggunakan airbrush sebagai pengganti sablon. Penggemar teknologi ini dinilainya juga kian meluas. Dalam satu bulan, Brian bisa memproduksi 2.000 pieces kaos.

Tahun 2007 lalu, Brian sempat akan memecahkan rekor MURI sebagai pelukis airbrush terbanyak dengan melukis di atas 10 ribu kaos dalam waktu 24 jam. Namun karena kekurangan sponsor hanya mendapatkan rekor sebagai pelukis airbrush tercepat. Dia berhasil melukis 30 kaos dalam waktu 1,5 jam.

Semprot Airbrush, Saingan Baru Sablon

Semprot Airbrush, Saingan Baru Sablon
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Teknik sablon pada kaos sepertinya punya saingan baru yaitu tekhnik airbrush. Meski belum terlalu populer tapi penggunaan teknologi airbrush mulai banyak diminati di bidang fesyen khususnya t'shirt.

Apa kelebihan t'shirt dibandingkan sablon? Brian menuturkan menggunakan airbrush ibarat menyemprotkan debu ke atas kain sehingga hasilnya lebih halus dibandingkan teknik pewarnaan manapun termasuk sablon.

Bahkan saat disemprotkan, tidak terlihat sama sekali cat yang disemprotkan pen brush. Tapi hasilnya langsung terlihat di permukaan kaos.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan airbrush. Pewarnaan airbrush bisa digunakan sampai ke bagian leher kaos. Hal ini tidak bisa dilakukan sablon.

Dibandingkan sablon proses awal airbrush tidak terlalu ribet. Cukup mencampurkan cat pada compressor lalu disemprotkan. Tidak seperti sablon yang harus mencetak lalu memindahkan film ke screen dan lain-lain.

"Tapi kalau dari sisi jumlah airbrush bisa kalah karena airbrush dilakukan satu per satu," aku Brian.

Airbrush bisa menggunakan berbagai macam warna dalam satu objek. Bisa membuat gradasi warna yang halus tanpa sekat-sekat yang kaku juga menimbulkan efek cahaya.

Tapi bedanya dengan sablon, harga airbrush bisa dibilang lebih mahal. Misalnya untuk harga kaos polos yang belum menggunakan airbrush Rp 40 ribu. Ditambah jasa airbrush yang bervariasi tergantung besar kecilnya objek yang akan digambar. Harganya dimulai Rp 50 ribu sampai Rp 250 ribu.

Jasa airbrush termahal adalah menggambar wajah yang bisa mencapai RP 400 ribu.

Kasual Formal Karya Perancang Abba

Kasual Formal Karya Perancang Abba
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Untuk orang Bandung mungkin belum terlalu mengenal label Abba, karya perancang Dien Zaen yang akrab disapa Abba ini. Abba memang lebih popular sebagai perancang untuk kalangan artis.

Dari Jakarta lah kiprahnya di dunia fesyen dimulai. Abba menuturkan dirinya mulai terjun menjadi seorang perancang pada tahun 1988 sebagai asisten perancang Ramli. Tahun 1989 Abba ikut kejuaran Lomba Perancang Femina dan masuk dalam enam besar untuk kategori busana ready to wear.

Diakui Abba saat ditemui di butiknya di Jalan Banda No 1 dia pernah merancang busana untuk sejumlah artis. “Saya pernah menyediakan busana Kahitna untuk album mereka pertama dan kedua, AB Three, Ruth Sahanaya, Elfa Singer dan artis lainnya,” ujar Abba.

Setelah kenyang berkiprah di Jakarta, Abba kembali ke tanah kelahirannya Bandung tahun 2003. Abba menyadari kepindahannya ke Bandung setidaknya bakal menurunkan konsumen. Apalagi menurut Abba konsumen Bandung masih kurang aware untuk menggunakan karya-karya dari perancang, tidak seperti di Jakarta. Meski berada di Bandung, Abba masih membuatkan busana untuk artis-artis langganannya.

"Tapi bagi saya, itu tidak masalah saya ingin tenang berkarya di Bandung," ujar Abba yang pernah bekerja sebagai perancang merek Lee Cooper di Los Angeles, Amerika Serikat ini.

Di Bandung, Abba mulai bergerak pada tren batik. Dengan mengusung rancangan batik Garutan Abba mencoba menawarkan rancangan yang berbeda. Namun tidak terlepas dari konsep rancangan Abba yang bersifat kasual formal.

Warna-warna terang dipilih Abba, karena menurutnya dengan warna-warna ini bisa membuat pemakainya terlihat lebih cerah. Aksen adu tabrak warna dan corak pun menjadi daya tarik lain busana rancangan Abba.

Selain batik, selama setahun ini Abba mulai merancang busana-busana muslim yang tak jauh dari kesan kasual formal. Menurut Abba, dia terinspirasi dari Ustadz Jefri yang selalu memakai gamish.

Namun gamish yang dirancangnya sengaja di desain lebih modern, tidak terlalu panjang dan terkesan simple. Begitupun untuk busana muslim perempuan, Abba membuat gamish modern dengan bentuk bagian bawah dibuat asimetris.

Di butik barunya di Jalan Banda, Abba juga membuka sebuah gallery handycraft dari para perajin Jogya.

Lukisan Berjalan di Atas Kaos

Lukisan Berjalan di Atas Kaos
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Inovasi sepertinya tiada henti. Sebelumnya muncul teknik pewarnaan dengan airbrush di atas kaos, kini muncul lagi handmade painting dengan melukis di atas kaos. Walaupun teknik ini bukan lagi sesuatu yang baru, tapi untuk dibuat di atas kaos dengan produksi yang cukup banyak masih terbilang langka.

Ide awal pembuatan kaos lukis ini datang dari Sutrisno (25) atau akrab dipanggil Trisno. Usia usaha handmade painting yang dirintisnya atas bantuan sang ayah Masran (60) ini, baru berumur enam bulan. Tapi untuk mewujudkan usaha ini Trisno mengaku membutuhkan waktu yang lama.

Menjadi desainer di sebuah perusahaan tekstil selama empat tahun, memberikan kesempatan pada Trisno untuk belajar tentang tekstil lebih banyak termasuk teknik pewarnaan.

"Sejak dulu saya sudah coba-coba mencari formula cat yang tepat agar bisa dilukis ke kaos.Saya sempat nanya-nyanya ke teman saya dari jurusan kimia," ujar Trisno.

Setelah lepas dari perusahaan tekstil, Trisno mulai menjalankan rencananya. Proses uji coba formula cat tidak sia-sia, Trisno pun akhirnya menemukan formula cat yang tepat. Butuh waktu sebulan baginya melakukan eksperimen menuangkan cat tersebut ke atas kaos.

Memang membutuhkan waktu yang lama. Tidak seperti sablon atau airbrush yang bisa dikerjakan dengan cepat, untuk menyelesaikan satu kaos saja membutuhkan waktu satu hari.

"Rata-rata satu orang bisa menyelesaikan 20 kaos per bulan. Ya kalau sebulannya mungkin kita bisa membuat 20 kaos," papar Trisno ditemui di tempat workhsopnya Jalan Situsari VI No 47 Buah Batu. Trisno tidak hanya membuat lukisan di atas kaos tapi juga sandal dan celana jeans.

Awalnya tentu saja membuat master desain terlebih dahulu. Barulah para pegawai Trisno yang notabene bukan pelukis ini menggambar mengikuti pola yang ada. "Kalau untuk gambar wajah pakai skala agar mirip," tuturnya.

Tidak harus mencicipi pendidikan seni, karena menurut Trisno dirinya pun mempelajari secara otodidak. Dia mentransfer kemampuanya pada pegawai-pegawainya yang notabene juga bukan pelukis.

"Yang penting memiliki jiwa seni dan imajinasi," ujar Trisno.

Nama Zzongga pun dijadikan Trisno sebagai brand merek kaosnya. Trisno membuka sebuah outlet di area komplek distro, Jalan Trunojoyo No 23 dan siap beradu dengan ide kreatif lainnya.

Kaos Lukis Zzongga Tembak Pasar Luar Bandung

Kaos Lukis Zzongga Tembak Pasar Luar Bandung
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Melukis pada media kaos bukanlah sesuatu yang mudah. Proses pembuatannya cukup lama sehingga tak heran bisa Sutrisno (25),yang akrab disapa Trisno, mematok harga yang tak murah untuk setiap kaosnya. Harga satu buah kaos harganya Rp 250 ribu, bisa dua kali lipat harga kaos di distro.

Diakui Trisno, hingga saat ini konsumen kaos lukis ini rata-rata dari luar Bandung khususnya Jakarta. "Untuk Bandung sendiri masih agak jarang karena mungkin harganya mahal," ujarnya.

Sejak awal Trisno memang menargetkan membuat outlet di Jakarta, karena diperkirakan pasar di Jakarta tidak akan terlalu sulit merogoh kocek untuk membeli kaos lukisnya. Namun sebagai umpan dia membuka dulu outlet Zzongga di Bandung, Jalan Trunojoyo No 23.

Meski mengaku cukup berisiko tinggi, mengingat pasar yang belum terbentuk sementara modal yang dikeluarkan sudah cukup banyak, namun Trisno optimistis usahanya akan berkembang. Penjajakan untuk mencoba menjual ke luar negeri pun sedang dijalani.

Tapi tak berarti Trisno meninggalkan pasar Bandung. Dia mengaku tak memfokuskan seluruh usahanya hanya pada lukis kaos. Ke depannya dia akan membuat produksi dalam bentuk sablon yang bisa diproduksi secara massal.

"Kalau masternya yang kaos lukis nanti kita akan perbanyak yang tipenya seperti master tersebut, tapi tidak sama persis, karena kasihan kan kalau yang beli kaos lukis nanti ada yang nyamain," ujarnya.

Begitupun dengan kaso lukis. Rencananya Trisno akan mendistribusikan ke distro-distro tapi disesuaikan dengan harga distro. "Desainnya lebih simple dan disesuaikan dengan harga distro," ucapnya.

Ditambahkan Trisno, kalaupun nanti Zzongga bergerak ke produksi yang lebih massal, desain-desainnya tetap akan berbeda.

Kaos Lukis Zzongga Mahal Karena Eksklusif

Kaos Lukis Zzongga Mahal Karena Eksklusif
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Harga mahal pun tentu saja bukan tanpa alasan. Selain prosesnya yang lama, kaos-kaos Zzongga ini dibuat eksklusif. Karena dilukis maka tidak ada satu pun objek yang sama. Kalaupun dibuat satu seri dari ukuran small sampai extralarge tetap saja dibuat dengan sentuhan yang berbeda.

"Menjadi kebanggaan untuk pemakainya karena tidak ada yang menyamai," ujar Trisno, pemilik Zzongga.

Beda halnya dengan sablon, hasil akhir lukis kaos, cat menyatu dengan pori-pori kaos sehinga teksturnya lebih halus. Tak jauh beda dengan airbrush, lukis kaos pun bisa memiliki gradasi warna yang cukup halus. Bahkan bisa jadi waran cat dibaurkan dengan warna dasar kaos sehingga sama sekali tidak terlihat warna asli dari kaosnya.

"Kita tidak terbatas warna bahkan bisa menggunakan sampai seribu warna," papar Trisno.

Permainan desain objek pun makin lama makin menggigit. Jika awal-awal objek yang dilukis lebih sederhana, kini Zzongga bermain dengan objek-objek rumit yang membutuhkan imajinasi yang lebih tinggi.

Menurut Trisno, pengembangan objek tersebut berdasarkan permintaan pasar. Dia melihat objek mana yang laku di pasaran maka objek tersebutlah yang dikembangkan. Sedangkan desain-desain favorit konsumen sampai saat ini adalah desain yang memuat unsur-unsur gothic.

Dalam perawatannya pun tidak sembarangan. Menurut Trisno jangan direndam terlalu lama paling hanya 15 menit. Kalau menggunakan mesin cuci jangan dikeringkan, cukup dijemur saja. Jangan juga terlalu sering dicuci karena warnanya akan lebih cepat pudar. Tapi jangan khawatir warna akan luntur. "Kalau dipakai jangan sering-sering sayang kan," candanya.
(ema/ern)

Berpetualang Bersama Eiger

Berpetualang Bersama Eiger
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Merek Eiger bukanlah nama asing. Meski merek ini bergaung sebagai brandnya olahraga-olahrga petualangan, tapi faktanya konsumen Eiger datang dari berbagai kalangan dan terus meningkat.

Konsultan Eiger Mamay S Salim yang juga turut melahirkan Eiger, mengatakan Eiger mencoba membangun image produk di masyarakat. Sehingga ketika image itu terbentuk, masyarakat umum pun akan mengenal nama Eiger sebagai merek yang concern menjual produk-produk adventurer.

Eiger lahir tahun 1993. Nama Eiger yang diambil dari nama gunung Eiger di Swiss ini dicetuskan oleh pemilik Eiger Ronny Lukito. Saat itu Eiger belum memiliki toko hanya sebatas rumah kontrakan yang difungsikan sebagai kantor.

Dimulai dengan tas, Eiger mencoba meraih pasar. Saat itu, ujar Mamay, dirinya ikut membantu dalam medesain tas-tas Eiger. Awalnya dengan mempelajari tas-tas mountanering dan climbing buatan luar negeri lalu memodifikasinya.

"Saat itu kita belum ada toko sendiri jadi penjualannya dititipkan ke department-departement store dan toko-toko kecil di pelosok Indonesia," tutur Mamay.

Diakui Mamay agak berat untuk mengangkat brand Eiger saat itu, karena harus bermain di antara merek-merek lain dengan segmen pasar yang sama dan sudah lebih dulu dikenal masyarakat. "Harus bermain di antara mereka dan mencari ceruk pasar yang tidak mereka garap," ujarnya.

Maka Eiger pun jadi produk alternatif. Dengan belajar dari produk pesaing dan berupaya menjadi beda, baik dari sisi harga maupun kualitas Eiger mulai memainkan peranannya. Misalnya dari sisi bahan baku, Eiger mencoba setingkat lebih tinggi daripada yang digunakan para pesaingnya.

"Tas banyak saat itu. Yang penting kita diterima dulu, Maka kita main di kualitas yang akan mempengaruhi harga kalau tidak lebih tinggi dari pesaing maka lebih rendah," ujar Mamay.

Hanya butuh waktu dua tahun untuk mengenalkan nama Eiger. Diakui Mamay penjualan saat itu mulai naik. Dari memproduksi 1.200 buah beranjak menjadi 6.000 buah.

Tahun 1998 Eiger baru memproduksi produknya sendiri. "Sebelumnya kita makloon, dengan desain tetap dari kita, namun karena ada ketidakpuasan dalam produksi khususnya sisi kualitas maka akhirnya membuka sendiri," tutur Mamay. Dengan diawali 2 tukang jahit kini Eiger sudah memiliki 800 penjahit dengan pabrik di Soreang.

Tahun 2003 adalah tahun melonjaknya penjualan produk Eiger dan stabil sampai sekarang. Kini Eiger memproduksi 35 ribu item produk dalam sebulannya yang masih dipasarkan ke seluruh Indonesia.

"Kita mengendalikan kualitas biar lebih tinggi dari yang lain harga tidak akan berbohong," papar Mamay.

Promosi Habis-Habisan Saat Krisis Moneter

Eiger
Promosi Habis-Habisan Saat Krisis Moneter
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Saat Indonesia mengalami krisis moneter tahun 1998, tidak menyurutkan langkah Eiger. Saat pelaku dunia usaha mengetatkan ikat pinggang, Eiger jor-joran melakukan promosi.

Dituturkan Mamay S Salim, konsultan Eiger, saat krisis moneter Eiger memberanikan diri promosi habis-habisan untuk menanamkan image pada masyarakat. Eiger mengambil kesempatan dari kosongnya ruang iklan.

"Ketika krisis masyarakat tidak punya uang saat lepas dari krisis mereka langsung ingat Eiger kalau ingin beli tas," ujar Mamay. Diakui Mamay pola itu cukup berhasil. Penjualan produk Eiger pun meningkat.

Selain promosi dalam bentuk iklan, berbagai ekspedisi termasuk pembuatan arena panjat dinding menjadi salah cara Eiger meraih hati pembeli.

Bagi Mamay cukup mudah mengukur keberhasilan Eiger yaitu banyak beredarnya barang-barang palsu yang mengatasnamakan Eiger di tengah masyrakat. Hal itu berarti brand merek Eiger sudah terekam dalam benak masyarakat dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Walaupun di satu sisi pemalsuan-pemalsuan ini tidak boleh dibiarkan menjamur.

Sutera Cacat yang Digemari

Sutera Cacat yang Digemari
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Sesuatu yang dibuang tak berarti tak menghasilkan. Kepompong cacat sekalipun masih bisa dimanfaatkan untuk membuat kain sutera. Bahkan hasil olahannya menjadi produk eksklusif dengan penggemar yang tak sedikit.

Misalnya produk kain sutera berbahan baku kepompong cacat dari Pa Tomo Hand Weaving Product. Menurut bagian produksi Pa Tomo Hand Weaving Product, Usiaty (50), kain-kain sutera cacat ini tak hanya digemari orang lokal tapi sudah terbang ke berbagai negara. Beberapa desainer Indonesia pun menjatuhkan pilihannya pada kain sutera cacat daripada silk atau sutera dari kepompong utuh.

Kelebihannya terletak pada kelembutan serat yang tak kalah dengan sutera dari kepompong utuh. Meski tekstur benang yang tidak rata dan ukurannya yang lebih tebal tapi menjadi ciri khas yang menjadi pembeda.

Proses pengolahannya pun masih dilakukan secara manual. Untuk menjadi benang, kokon atau kepompong tidak ditarik dengan alat reeling tapi dengan alat pintal. Sebelumnya, kokon atau kepompong harus diproses dalam berbagai tahap. Diantaranya kokon dimasak untuk dijadikan kapas, kemudian kapas diurai menjadi bentuk kapas lain dan dibentuk jadi lempengan kapas terakhir barulah dipintal.

"Dalam prosesnya pun kita tidak menggunakan bahan kimia tapi bahan-bahan organik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan," tutur Usi.

Alat yang digunakan untuk membuat kain adalah Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Sebab menurut Usi bagi para perajin menggunakan Alat Tenun Mesin cukup memberatkan karena minimal harus memiliki 2 ton benang.

Proses produksinya melibatkan perajin di wilayah Pekalongan. Selain dilakukan oleh Pa Tomo dan 40 pegawainya, ratusan perajin lain pun ikut terlibat dalam melakukan proses produksi.

Dalam satu bulan Pa Tomo Hand Weaving Product bisa memproduksi 1 ton benang dan 500 meter kain. Namun menurut Usi tergantung berapa banyak pesanan yang datang. Pa Tomo Hand Weaving Product pun tidak secara langsung mengekspor produknya tapi memasarkan melalui beberapa tangan. Selain itu produk-produk Pa Tomo juga dipasarkan melalui pameran-pameran.

"Di pameran-pameran biasanya pembeli banyak dari luar negeri. Dibandingkan kain silk mereka lebih memilih kain dari kepompong cacat," ujar Usi.

Ada tiga jenis kain yang diproduksi yaitu sutera, trikula dan atakus. Ketiganya berasal dari kepompong cacat namun dari jenis yang berbeda. Untuk kain sutera bahan bakunya berasal dari kepompong yang sama dengan kain silk. Sedangkan trikula jenis kepompongnya lebih keras dan atakus berasal dari kepompong liar. Harga setiap kain berbeda-beda, untuk sutera Rp 85 ribu per meter, trikula Rp 25 ribu per meter dan atakus Rp 200 ribu per meternya.

(ema/ern)

Distro dan One Stop Shopping Baru

Rangga Point
Distro dan One Stop Shopping Baru
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Tren distro sepertinya nggak ada matinya. Masih mengalir deras sebagai ladang usaha untuk mendulang rupiah. Bermunculannya pemain baru pun tidak bisa dihindari. Misalnya di Rangga Point, Jalan Ranggamalela yang menghadirkan label-label anyar yang siap beradu dengan para pendahulunya.

Tapi tidak untuk menjadi kawasan distro seperti halnya di Jalan Trunojoyo atau Sultan Agung. Sebagai tempat yang baru berdiri delapan bulan yang lalu ini, Rangga Point menawarkan konsep lain di mana setiap elemen usaha juga bisa turut bermain, nggak hanya urusan fesyen.

"Kita nggak full distro tapi konsep kita adalah one stop shopping," ujar Manager Rangga Point yang teryata penyanyi mungil era tahun 1998-an Nadila. Menurut Lala, begitu biasa disapa, di tempat ini setidaknya ada empat distro dengan label-label baru. Kebanyakan adalah butik yang berjumlah tujuh. Sisanya salon, tempat makan, spa juga tempat baru Galeri Main Saham.

Konsep ini sengaja ditawarkan untuk membuat konsumen betah. Seperti sebuah rumah serba ada konsumen nggak perlu beranjak ke tempat lain asal kebutuhannya sudah terpenuhi. Suasana yang dibangun pun cukup cozy. Sepertinya cukup menjamin pengunjung akan betah untuk berdiam diri khususnya anak muda yang notabene hobinya nongkrong.

Tapi ternyata dengan konsep 'semua ada dalam satu rumah' ini malah membuat pasar menjadi lebih luas. Jika sebelumnya target pasar dari usia 15-25 kini sudah beranjak naik sampai usia 40 tahun. "Kita bisa masuk ke semua kalangan," ujar Lala yang baru terjun sebagai pengelola lima bulan yang lalu ini.

Memang belum banyak orang yang tahu. Lokasinya yang agak ngumpet meski bisa diakses dari Jalan Sulanjana Dago sepertinya membuat Rangga Point kurang terekspos. Tapi kehadirannya membuktikan, Bandung kian mengokohkan posisinya sebagai kota wisata belanja. Walaupun mungkin para pemain baru harus lebih bekerja keras untuk menyusul ketertinggalannya.

Ekspansi Distro ke Braga

Ekspansi Distro ke Braga
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Ada yang baru di antara deretan bangunan-bangunan tua di Braga. Salah satu bangunannya yang kosong selama 20 tahun kini sudah berpenghuni. Tidak seperti bagian luar yang masih berasa 'kunonya' bagian dalam bangunan ini sudah berubah jadi tempat belanja dalam bentuk distro.

Dulu dikenal dengan nama Toko Populair yang berganti menjadi Forguy Braga Distro Concept sejak 15 April 2009. "Tempat ini sebelumnya juga berfungsi sebagai toko baju tapi sudah 20 tahun bangunan kosong," papar Firman, Pengelola Forguy Braga Distro Concept.

Pemilik distro anyar ini juga pemiliki label Ian's Report dan Peepin, putra raja FO Perry Tristianto. Braga dipilih sebagai lokasi karena menurut Firman Braga sarat akan sejarah yang bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Bagian depan bangunan arsitekturnya tidak diubah begitupun dengan nama Toko Populair yang juga tetap tertera di muka bangunan. Namun menurut Firman, pihaknya menambahkan satu kata 'boekan' di atas tulisan toko, sehingga akan terbaca 'boekan Toko Populair.

"Kita nggak boleh ngerubah bagian depan bangunan tapi kalau bagian dalam boleh," ujar Firman (24), Pengelola Forguy Distro Concept.

Untuk interior dalam, imbuh Firman, nggak ubah seperti distro lainya yang sasarannya kebanyakan anak muda, didesain lebih bergaya muda. Disapu dengan cat warna putih dan sedikit sentuhan desain berwarna hanya di beberapa bagian.

Bagian depan yang lebih mirip lobi kini difungsikan sebagai tempat kasir sekaligus untuk mendisplay produk baru. Lantainya yang terbuat dari marmer tetap mempertahankan bangunan asli.

Dari lobi menaiki tiga anak tangga melalui ruang utama dan dibatasi dengan pintu kaca. Di ruangan ini lantainya sudah diganti karena berbeda dengan lantai asli di bagian lobi. "Kalau lantai di ruangan ini (utama-red) pas kita pindah ke sini sudah diganti. Mungkin karena pemiliknya berganti tangan," ujar.

Lebih lanjut dituturkannya, bangunan ini memiliki dua lantai. Lantai dasar ternyata berada di bawah ruang masuk utama dan saat ini masih ruang kosong. Sedangkan lantai kedua yaitu ruang utama memiliki anak lantai yang di atasnya yang dijadikan rumah tinggal. Sehingga langit-langit di lantai ini tampak lebih pendek, tidak menunjukan ciri khas bangunan tempo dulu dengan langit-langit tinggi.

Pengubahan beberapa bagian bangunan menurut Firman tidak berarti pihaknya tidak tertarik untuk mempertahankan warna dari bangunan asli. Firman menyatakan kondisi bangunan lama yang tak terawat tidak memungkinkan untuk itu.

Saat disinggung apakah biaya sewa bangunan ini mahal daripada di lokasi lain, Firman mengiyakan tanpa menyebutkan angka pastinya. "Ya lumayanlah," pungkasnya pendek.

Duet Distro dan FO

Forguy Braga Basic Distro
Duet Distro dan FO
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Barangkali baru Forguy Braga Basic Distro yang mengkolaborasikan produk distro dan FO dalam satu tempat. Setidaknya konsumen memiliki alternatif lain dalam memilih produk.

Firman, Pengelola Braga Distro Concept tidak menampik kalau pengkolaborasian ini karena adanya campur tangan ayah sang pemilik Ryan yaitu Perry Tristianto, raja FO Bandung. Walaupun secara garis besar konsep Forguy sendiri adalah buah pemikiran Ryan.

"Kita menggabungkan dua konsep yaitu menjual barang-barang FO dan distro," ujarnya. Tapi menurut Firman, konsep distronya sendiri tidak terlalu bergeser karena sampai saat ini produk yang mendominasi adalah produk clothing.

Untuk distro setidaknya merangkul sekitar 20 clothing dari Bandung dan Jakarta. Dilibatkannya label clothing dari Jakarta karena menurut Firman pihaknya tidak ingin membatasi pasar. "Kita ingin pasar yang lebih luas. Konsumen Jakarta pun bisa tahu kalau produk mereka ada di Bandung," ungkapnya.

Namun meski produk FO bisa dibilang minoritas, tapi produk FO lah yang menyandang label Forguy Braga Distro Concept. Gaya kasual yang menjadi khas distro pun tetap menjadi acuan.

Apakah Firman tidak khawatir, kelak distro-distro lain pun akan melirik jalan Braga? "Tidak kita akan melakukan persaingan secara sehat," tegasnya.

Manjakan Laki-laki Untuk Belanja

Forguy Braga Basic Distro
Manjakan Laki-laki Untuk Belanja
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Tempat yang secara khusus menyediakan produk fesyen laki-laki bisa dihitung jari. Hal itu dijadikan peluang untuk Forguy Braga Distro Concept untuk membuka pasar bagi kaum laki-laki yang kesulitan mencari yang pas untuk dirinya. Dari namanya pun sudah tergambar 'Forguy'.

"Kalau cewek udah biasa senengn shopping jadi tempat belanja banyak. Tapi kalau cowok masih susah," ujar Firman, Pengelola Forguy Braga Distro Clothing. Bahkan menurut Firman, kalau laki-laki difasilitasi konsumsi belanjanya bisa lebih dari perempuan.

Untuk label Forguy sebagai ikon tempat ini 100 persen produknya untuk laki-laki. Tapi bukan berarti tidak ada produk perempuan. Karena beberapa label clothing masih ada yang menyelipkan produk untuk kaum hawa hanya saja jumlahnya cukup terbatas.

"Sekitar 85 persennya buat cowok," imbuh Firman. Tapi Firman pun menyatakan tidak menutup kemungkinan produk untuk perempuan pun bertambah. Apalagi rencananya lantai dasar yang sekarang masih belum difungsikan akan segera diramaikan dengan produk lain dalam waktu dekat.

"Kita sedang melakukan pendataan dulu siapa yang mau gabung bersama kita," ujar Firman.

50 Label Indie Nebeng di Helter

50 Label Indie Nebeng di Helter
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Suara musik keras berdentam-dentam, begitu membuka pintu kaca toko. Ruangan kental dengan nuansa hitam putih. Terpampang di dinding toko deretan gambar band indie. Kaos-kaos hitam tergantung dengan nama-nama band indie bergenre musik 'keras', tertera hampir di semua kaos.

Memang bukan lagi rahasia kalau rata-rata band indie memiliki bisnis sampingan di bidang merchandise. Kini tambah lagi satu distro yang bisa disambangi untuk mencari merchandise band-band indie lokal.

Helter. Tempat ini pure distro bukan clothing. Store Manager Ikis (25) mengatakan Helter didirikan oleh personel Jeruji, Dempak, Cuki dari Cukimay dan Suban dari Arakism. Dibukanya Helter, menurut Ikis meskipun distro ada di mana-mana tapi penyaluran merchandise masih bisa dibilang sulit.

"Ada beberapa label merchandise yang sulit masuk ke beberapa distro ternama," ujar Ikis saat ditemui di Helter, di kawasan Cafe DU (Dipatikukur) 21.

Helter adalah singkatan dari Helicon label milik Cuki dari Cukimay dan Teror label milik Dempak dari Jeruji. Selain dua label ini, sekitar 50-an band ikut menitipkan merchandisenya di tempat ini.

Di antara band-band tersebut ada yang sudah punya nama besar misalnya Burgerkill, Rocket Rockers, Turtle Turtle Jr. Selain itu bukan cuma band indie Bandung yang ikutan 'mejeng' merchandise, band luar Bandung pun seperti Yogyakarta dan Jakarta juga nggak ketinggalan.

"Beberapa band masih waiting list untuk memasukan produknya ke sini," ujar cowok yang menindik bibirnya ini. Bahkan selain band lokal, Helter juga menyediakan merchandise band luar negeri tapi dalam jumlah yang lebih sedikit.

Tapi pastinya full of full of underground, hardcore dan musik bergenre keras lainnya. Nggak heran kalau tidak menemukan warna kaos merah, hijau, kuning apalagi pink karena 99 persen dipastikan semua berwarna hitam. Rata-rata untuk kaos lokal harganya Rp 50-Rp 100 ribuan. Sedangkan kaos band luar negeri karena impor harganya sampai Rp 200 ribu.

Selain kaos, pelengkap fesyen lainnya seperti tas, sepatu, topi juga nggak ketinggalan walaupun jumlahnya lebih sedikit. Tapi menurut Ikis, tidak semua band memproduksi banyak item merchandise, hanya band-band tertentu saja. Menurut Ikis pula, tidak semua band memproduksi produknya sendiri. Untuk kaos misalnya rata-rata masih order pada pihak lain.(ema/ern)

Digemari Anak SMA dan SMP


Distro Helter
Digemari Anak SMA dan SMP
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Biarpun berada di Jalan Dipatiukur yang notabene lingkungan mahasiswa, ternyata nggak menjamin pembeli Helter juga dari kalangan mahasiswa. Sekitar 60-70 persen penggemarnya siswa SMA bahkan diantaranya ada siswa SMP.

Menurut Store Manager Helter Ikis (25), mungkin kalangan mahasiswa sudah punya pandangan lain tentang musik. Sehingga banyak di antara mereka yang mungkin punya pertimbangan lain, daripada memilih merchandise band.

Para pembeli pun menurut Ikis nggak fanatik pada band tertentu. Mereka memilih apapun yang mereka suka dan setiap band memiliki penggemarnya masing-masing.

Secara keseluruhan menurut Ikis penjualan di Helter sendiri belum begitu membahagiakan. Mungkin saja karena usia Helter yang masih setengah tahun ini membuat penggemar band indie masih belum banyak tahu keberadaanya.

"Kalau lagi rame ya rame tapi kalau lagi sepi ya sepi," ujar Ikis.

Helter adalah singkatan dari Helicon label milik Cuki dari Cukimay dan Teror label milik Dempak dari Jeruji. Selain dua label ini, sekitar 50-an band ikut menitipkan merchandisenya di tempat ini.

Di antara band-band tersebut ada yang sudah punya nama besar misalnya Burgerkill, Rocket Rockers, Turtle Turtle Jr. Selain itu bukan cuma band indie Bandung yang ikutan 'mejeng' merchandise, band luar Bandung pun seperti Yogyakarta dan Jakarta juga nggak ketinggalan.
(ema/ern)

Merchandise Asli Mahal, Red Shop Luncurkan Produk Lokal


Merchandise Asli Mahal, Red Shop Luncurkan Produk Lokal
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Namanya juga official merchandise, wajar saja jika harga merchandise Manchester United di Red Shop cukup mahal. Untuk jersey misalnya harganya rata-rata Rp 750 ribu, satu set figur pemain MU harganya Rp 1.800.000.

Menurut Arie haryanto (32) pendiri Red Shop, daya beli masyarakat Bandung agak sulit untuk menjangkau harga harga official merchandise. Lain halnya dengan Jakarta yang cukup mudah dalam merangkul pasar karena daya belinya cukup tinggi.

Karena alasan tersebut, Red Shop pun dipusatkan Arie di Jakarta. Tapi Arie tidak ingin meninggalkan Bandung begitu saja. Pasar Bandung pun coba diraih dengan meluncurkan merchandise lokal MU berupa t'shirt. "Diluncurkan berbarengan saat musim distro," ujar Arie.

Tapi meski lokal, Arie membuat kaos berbahan premium dengan edisi limited. Harga satu t'shirtnya cukup terjangkau untuk pasar Bandung yang kebanyakan pelajar dan mahasiswa yaitu Rp 125 ribu.

Dalam produksinya dibantu oleh fans club MU termasuk untuk desain t'shirt. "Desainnya request dari teman-teman fans club kemudian dikompetisikan. Yang terbagus baru diproduksi," ujar Arie.

Dalam sebulan menurut Arie bisa memproduksi sampai 1.200 t'shirt. Menariknya, dibandingkan dengan penjualan official merchandise, perputaran produk lokal ini di Bandung lebih cepat. "Kalau di Jakarta nggak ada problem," ujar Arie.

Tapi meski begitu official merchandise tetap yang dijagokan. Perbandingannya 90 persen official merchandise dan 10 persen produk lokal.

Anime Tampil Beda di Gecko Moria


Anime Tampil Beda di Gecko Moria
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Pernah mendengar nama Gecko Moria? Jika anda termasuk penggemar anime Jepang, tentunya nama tersebut langsung akan melayangkan ingatan pada salah satu tokoh dalam cerita anime berjudul 'One Pieces'. Dilatarbelakangi kesukaan terhadap anime, nama itu pula yang digunakan oleh tiga orang anak Bandung untuk label clothing mereka.

Adalah Awang (29), Deni (30) dan Hendri (30) yang baru mendirikan Geckomoria empat bulan lalu. Pemilihan nama tersebut sesuai dengan konsep clothing mereka yaitu anime and manga project. "Desain-desain kita diambil dari karakter anime," ujar Awang saat ditemui di salah satu stand Hobbies and Toys Fair, Be Mall.

Pasar anime yang cukup menjanjikan jadi salah satu alasan. Mereka nggak terlalu kesulitan dalam pemasaran karena pasarnya sudah terbentuk. Bahkan sejak dibuka dengan cepat keuntungan sudah didapatkan. Selain melalui toko di Metro Trade Center, mereka juga mempromosikan melalui online di sebuah situs periklanan.

"Melalui online bisa dibilang produk kita sudah tersebar ke seluruh Indonesia," ujar Awang. Jumlah konsumen online dan toko pun jumlahnya seimbang.

Apa yang membuat Geckomoria beda? Geckomoria mampu membuat anime yang terkesan begitu komik memiliki ‘wajah’ yang lebih dewasa. Sentuhan artistik membuat karakter setiap tokoh menjadi lebih hidup. “Dalam pemilihan karakter kita tidak memilih-milih atau cenderung ke karakter tertentu tapi kita memilih yang karakter yang bagus,” papar Awang.

Istimewanya, setiap desain dibuat terbatas. Menurut Awang tiap satu desain hanya diproduksi 24 pieces. Setiap desain yang sudah diproduksi tidak akan diproduksi ulang. Dalam satu bulan bisa menghasilkan 5-10 desain.

“Dibatasinya produksi karena kami ingin eksklusif. Jadi tidak semua orang bisa memiliki desain tersebut,” lanjut Awang.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi tergantung bahan kaos juga desain. Dari yang termurah Rp 35 ribu sampai Rp 70 ribu. Rencananya tidak hanya sebatas kaos, item produk lainnya dalam waktu dekat akan segera diproduksi. Kita tunggu saja.

Berburu Berbagai Merek di Satu Tempat


Berburu Berbagai Merek di Satu Tempat
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Sepertinya tak perlu repot membuat label clothing untuk ikut mencicipi keuntungan indutri distro. Cukup dengan menyediakan tempat, lokasi strategis dan manajemen yang profesional, konsumen pun akan bertandang.

Konsep ini memang sudah bukan barang baru karena sebagian distro pun menganut sistem yang sama. Bedanya, di sini dijamin tidak akan menemukan merek clothing yang sama dengan nama tempatnya. Karena konsepnya adalah mengandalkan keuntungan dari clothing lain yang 'ikut' jualan di tempat ini.

Seperti halnya Beatbox di Jalan Trunojoyo yang baru dibuka tahun lalu. "Niat kita adalah dagang," tutur Riva (28) co owner Beatbox. Dengan niat itu tidak berarti harus membuat sebuah label clothing. Riva dan beberapa rekannya yang join membuka Beatbox hanya perlu menjalin kerjasama dengan clothing-clothing yang sudah lebih dulu ada.

"Dengan konsep ini konsumen diberikan banyak lebih banyak pilihan," ujar cowok berkacamata ini. Dibandingkan clothing yang hanya menjual satu merk menurut Riva konsep beragam clothing dalam satu toko memudahkan konsumen untuk memilih karena tidak monoton.

"Kalau dalam satu toko merek yang sama konsumen akan jenuh," aku Riva.

Ternyata memang menguntungkan. Bahkan menurut Riva beberapa clothing penjualannya lebih bagus daripada di outlet milik mereka sendiri. Melihat peluang tersebut membuat pengusaha clothing pun tidak enggan untuk menitipkan produknya.

Saat ini Beatbox bekerjasama dengan 12 merek clothing baik Bandung, Jakarta maupun kota lainnya. Bahkan karena penjualan cukup menjanjikan, label-label yang waiting list pun masih harus menunggu giliran.

Nggak heran beberapa bulan yang lalu untuk menyusul kesuksesan Beatbox, tempat dengan konsep serupa bernama Geckoland pun didirikan. Masih berlokasi di Jalan Trunojoyo dan berdampingan dengan Beatbox.

Nggak Laku, Ganti yang Baru


Nggak Laku, Ganti yang Baru
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Tentu saja bukan sembarang merek yang masuk ke Beatbox atau Geckoland. Untuk sekarang saja hampir semua item produk yang ada di Beatbox adalah brand-brand lokal yang sudah ternama. Tapi tidak berarti brand baru pun nggak bisa ikut nimbrung dengan syarat memiliki kualitas yang nggak kalah oke.

Menurut Co owner Beatbox dan Geckoland Riva minimal setiap label clothing yang akan masuk harus memiliki 50 desain. Hal itu akan memudahkan perputaran produk dengan cepat jika desain yang didisplay tidak laku.

"Perputaran kita terbilang cepat. Kalau nggak laku kita minta ganti yang baru. Kalau laku kita langsung kontak pada setiap clothing untuk menambah kuantitas," tutur Riva.

Keluar masuk clothing pun sudah menjadi hukum alam. Untuk clothing yang penjualannya bagus akan dipertahankan. Sebaliknya clothing-clothing yang sepi pasar akan digantikan oleh clothing lain.

"Laku atau tidaknya tidak tergantung lama tidaknya usia clothing. Ada clothing lama tapi nggak terlalu laku tapi ada yang baru tapi laku," papar Riva.

Mekanisme pasar pun mempengaruhi display produk. Untuk clothing yang cukup laku akan disimpan di bagian depan kemudian menyusul clothing lain yang penjualannya agak kurang.

Sistem keuntungan masih menggunakan sistem konsinyasi. Menurut Riva setiap clothing memiliki potongan yang berbeda. Tapi yang pasti rata-rata dalam sehari jumlah transaksi yang terjadi bisa mencapai Rp 5 juta.
(ema/tya)

Sixpax, Pede dengan Harga Mahal


Sixpax, Pede dengan Harga Mahal
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Sebagai pendatang baru dalam industri clothing label Sixpax tidak menarik konsumen dengan harga murah. Bahkan dengan pede mereka memasang harga 15 persen di atas harga clothing pada umumnya.

"Kita pede aja dengan harga mahal," ujar Riva, Owner Sixpax. Tapi bukan PDOD alias percaya diri over dosis karena Riva pun mempertaruhkan sisi kualitas. Mahalnya harga diakui Riva karena jenis cat sablon yang digunakan adalah cat impor. Hasil akhir cat sablonnya memiliki tekstur yang lebih baik.

Terbukti, sejak dipasarkan enam bulan lalu, Sixpax tidak tenggelam begitu saja. Tapi kian bulan kian bertambah konsumennya termasuk grup band sekelas Radja atau Nidji.

Mahalnya harga menurut Riva adalah salah satu tak tik ketika akan terjun ke industri clothing. Di antara banyaknya label-label clothing Riva menganggap jika ingin terjun dalam indutri ini harus memiliki daya tawar yang beda. Maka Sixpax nggak segan-segan menaikan kualitasnya meskipun harus menjual dengan harga yang lebih mahal.

Awalnya Riva pun belum siap terjun membuat brand sendiri. Dia cukup menggeluti belakang layar di bagian produksi dan menjadi co owner Beatbox dan Geckoland. Namun ketika SDM sudah siap Riva pun berani bersaing dengan label clothing lainnya.

Meski mencoba beda, dari sisi desain Sixpax tetap mengikuti selera pasar. Saat pasar ramai dengan nuansa fotografi, Sixpax pun nggak ketinggalan ambil bagian. Desain-desain tersebut dibuat dalam Sixpax Art & Fotografi edition. Tapi menurut Riva, Sixpax membuat desain tersebut menjadi lebih simple.

Pilihan warna kaos pun nggak neko-neko hanya hitam dan putih. Menurut Riva warna tersebut dipilih karena terbilang warna netral. "Konsumen udah mulai bosen dengan warna yang macem-macem," tuturnya saat ditemui di salah satu outlet penjualan Sixpax, Beatbox.

Selain itu juga dalam setiap desainnya tidak terlalu menunjukan brand Sixpax tapi hanya ditulis sebagai bagian kecil dari kaos. Tidak ada tulisan besar-besar atau desain yang hanya menunjukan nama Sixpax.

Konsumen pun dijamin akan mendapatkan desain yang selalu up to date karena setidaknya dua hari sekali Sixpax memproduksi desain baru.

Sixpax dijual tidak dalam tokonya sendiri tapi jadi bagian outlet Beatbox dan Geckoland Jalan Trunojoyo. Konsumen bisa menemukannya di display yang terdepan di dalam toko.

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons