Jadi Langganan ABG Sampai Orang Bule


Jadi Langganan ABG Sampai Orang Bule
Avitia Nurmatari - detikBandung

Bandung - Murahnya gerbang marema terdengar hingga telinga turis asing. Tak jarang saat akhir pekan, wisatawan mancanegara banyak yang datang ke tempat ini. Menurut Santi (22) salah satu pedagang tas mengaku sering dagangannya dibeli turis. Mereka biasanya membeli dalam jumlah bayak.

"Mereka sukanya produk cina, atau buatan lokal yang tidak ada mereknya. Mungkin kalau beli Gucci, Chanel, di negara mereka juga ada yang lebih bagus kali ya," katanya.

Beberapa turis yang datang ke Gerbang Marema di antaranya turis dari Australia, Amerika, Arab, dan India. "Tujuan mereka pertama biasanya ke Pasar Baru baru ke sini.

Padahal kalau kata saya lebih baik langsung ke sini saja, nyaman tidak berdesakan," terang Tati.Salah satu pedagang sepatu Burni (37) menargetkan dagangannya. untuk Anak Baru Gede (ABG).

"Langganan saya mah ABG, memang banyaknya sih barang untuk ABG seperti sepatu-sepatu warna warni ini. Laku banget ini, sekali beli bisa langsung dua,
tiga," ujar Burni sambil menunjukkan sepatu-sepatunya. Tips yang harus diperhatikan saat membeli barang di Gerbang Marema adalah, kalau membeli sepatu pastikan jahitannya rapi. Jika ingin lebih awet atau tidak cepat jebol, bisa dijahit ulang ke tukang sol.

Sama halnya dengan memilih sepatu, memilih tas pun pastikan jahitannya rapi. Selamat berbelanja.

(avi/tya)

Belanja Irit Tapi Nyentrik


Belanja Irit Tapi Nyentrik
Avitia Nurmatari - detikBandung

Bandung - Bergaya nyentrik dan fashionable tak perlu memakai barang yang mahal. Murah pun asal pintar memilih dan mempadu padankan, pasti akan terlihat cantik di badan. Di Gerbang Marema, banyak sekali barang murah yang bisa didapat.

Dengan membawa uang Rp 100 ribu saja, sudah bisa membawa pulang tiga pasang sepatu."Harganya di sini mulai dari Rp 30 ribu sampai Rp 70 ribu, tergantung modelnya. Kalau sepatu teplek harganya Rp 30 ribu," ujar Dedi (36) salah satu pedagang sepatu di Gerbang Marema.

Untuk tas, beragam merek bisa kita temukan seperti Gucci, Channel, Louis Vitton, tapi bukan merek asli atau barang KW. "Barang di sini import cina. Mereknya sama tapi barangnya KW dua, KW tiga. Harganya juga jauh lebih murah.

Mulai Rp 40 ribu sampai paling mahal itu Rp 250 ribu," papar Santi (22) salah satu pedagang tas.

Meski tas yang dijual di Gerbang Marema kualitas KW, namun modelnya tak kalah bagus dibanding dengan barang aslinya. "Kalau dilihat serupa sih sama, jadi murah meriah di sini mah. Biarpun murah, yang penting gaya. Orang juga enggak akan nanya tas kita asli apa palsu," ujar Iman, pedagang tas lain di Gerbang Marema.

Dedah (28), pegawai salah satu pabrik tekstil ini mengaku sering berbelanja di Gerbang Marema. Bahkan ia sudah punya langganan di salah satu kios tas. "Saya udah lama langganan, dari mulai di pinggir jalan, sampai dibagusin kayak sekarang tetep beli ke sini. Harganya murah-murah," katanya.

Hal serupa dikatakan Isni (20). Ia gemar berkoleksi casual shoes aneka warna hingga sering datang ke Gerbang Marema."Kebetulan suka koleksi sepatu, di sini kan banyak sepatu murah, warna warni lucu, biar bisa mecing sama baju. Bawa uang Rp 100 ribu udah bawa pulang tiga sepatu. Kalau di mal satu juga enggak," ujarnya.

(avi/tya)

Surga Belanja di Gerbang Marema


Surga Belanja di Gerbang Marema
Avitia Nurmatari - detikBandung

Bandung - Pengelola pasar murah ini mungkin beralasan memberi nama 'Gerbang Marema'. Marema adalah salah satu kata dalam bahasa sunda yang artinya laku keras.Bertempat di Jalan Kepatihan, atau lebih tepatnya di depan King Shopping Centre, Gerbang Marema berdiri. Masuk ke pintu depan, deretan toko jam tangan meyapa pengunjung.

Aneka jam tangan mulai dari harga Rp 10 ribu, hingga Rp 70 ribu bisa dipilih sesuai kocek kita. Harganya pun masi bisa kurang, asal pintar menawarnya. Melangkah ke dalam, deretan pedagang sepatu di sebelah kanan menarik perhatian. Aneka sepatu warna warni, mulai dari casual shoes, flat shoes, high heels, sandal, selop, dan beragam jenis alas kaki lainnya.

Hampir semua kios menjual barang yang sama. Tapi harga berbeda. Bagaimana cara kita memilih dan menawar barang yang kita inginkan, pasti dapat barang bagus dengan harga murah. Salah satu pedagang mengatakan Gerbang Marema ini surga belanja bagi perempuan, khususnya mojang-mojang Bandung.

"Seperti surga belanja lah, bebas pilih mau beli di kios yang mana. Yang penting harga cocok, barang cocok," ujar pria berlesung pipit saat berbincang dengan detikbandung di kios sepatunya.Tak hanya jam tangan dan sepatu, aneka tas dan dompet perempuan pun terpajang di kios-kios. Beragam
merek tas terkenal bisa didapatkan di Gerbang Marema ini.

Yuk borong yuuk!

(avi/tya)

Jual Sadist yang Terus Modis


Maxbox
Jual Sadist yang Terus Modis
Ema Nur Arifah - detikBandung


Bandung - Berada di Jalan Talaga Bodas No 32, spanduk terpasang di bagian pagar, dengan promosi sejumlah produk clothing berikut harganya yang harganya sangat miring. Masa iya, distro bernama Maxbox ini menjual kaos per piecesnya dimulai dengan harga Rp 30 ribu, tas dimulai Rp 60 ribu, bahkan jaket bisa sampai Rp 60 ribuan.

Harga yang dibanderol jelas jauh lebih rendah dari harga pasaran clothing. Apalagi, di sini juga ada beberapa label yang sudah eksis dalam perclothingan sejak dulu kala, sebut saja Blackjack, Sudden dan lain-lain.

Setelah ngobrol-ngobrol dengan si empunya, Ferdy Bennovian (37), konsep Maxbox, sesuai taglinenya Sadist tapi Tetap Modis, Maxbox menjual barang-barang sisa distro. Sadist kepanjangannya sisa distro dan modis kepanjangannya modal diskon.

Sesuai dengan namanya Maxbox. Ade ingin memaksimalkan potensi tokonya yang berukuran minimalis dan nuansa minimalis ini secara maksimal.

Awalnya, Ferdy yang akrab disapa Ade ini membuat clothing bersama tiga kawannya dengan nama Common People tahun 2006. Produk Common People dititipkan ke beberapa distro di Bandung. "Tapi kemudian produk kita tidak terjual habis dan banyak barang sisa yang numpuk di gudang, akhirnya kepikiran untuk ngabisin barang," ujarnya.

Tanpa menghilangkan label Common People, tahun 2008, Ade dengan hanya satu rekannya, kemudian membuka toko yang konsepnya menerima produk-produk sisa distro clothing. Setidaknya ada 15 label clothing yang sekarang bergabung di Maxbox.

"Kita terima produk yang out of date untuk dipajang," ujar Ade.

Namun ditegaskan Ade meski barang sisa bukan berarti barang bekas. Produk-produk yang dijual adalah desain dari tiga bulan, enam bulan atau dua tahun yang lalu dan sudah tidak dipajang di toko.

"Sebenarnya ini gudang, tapi dibuat dalam bentuk toko, dengan AC dan suasana yang nyaman," ujarnya. Bisa dibilang Maxbox adalah factory outletnya distro.

Kalau masalah agak usang atau kotor memang harus dimaklumi karena barang-barang tersebut mungkin sudah ditumpuk di dalam gudang dalam waktu lama. Tapi kondisinya masih layak pakai kok, bahkan jika beruntung bisa mendapatkan produk dalam kondisi bersih.

"Kita biarkan saja apa adanya. Kalau kotor kan bisa dicuci dan bisa bersih lagi," ujar Ade.

Makanya, karena kondisinya tidak lagi segar, harga yang ditawarkan pun gila-gilaan, bahkan bisa sampai 50 persen. Misalnya untuk t-shirt dijual antara Rp 30-Rp 44 ribuan. Jauh dari harga distro yang ada di kisaran Rp 80-Rp 85 ribu. Untuk tas saja, dari harga Rp 112 ribu bisa turun sampai Rp 60 ribu. Begitu pun dengan jaket dari Rp 150 ribuan jadi Rp 90 ribu.

Bahkan, untuk yang sudah lama terpajang di Maxbox punya tempat pajangan tersendiri. Harganya pun bisa turun lebih gila lagi. Misalnya, untuk kaos yang per piecesnya Rp 30 ribu, dijual Rp 100 ribu per 4 potong. Jaket, kardigan atau sweater yang harganya Rp 40 ribu per pieces, jika beli 3 pieces harganya Rp 100 ribu.

Tapi bukan berarti enggak ada produk baru. Meski porsinya cuma 10 persen dari seluruh isi toko, Maxbox juga menyediakan produk baru dari label Common People, Hangover atau para pemilik clothing yang ingin menitipkan produknya di tempat ini. Harganya pun sama dengan harga clothing pada umumnya.

Bukan tidak mungkin, dalam beberapa bulan ke depan, produk-produk baru tersebut akan menjadi produk yang dijual gila-gilaan jika dalam waktu lama tidak terjual habis.
(ema/lom)

Sekali Datang Jadi Langganan


Maxbox
Sekali Datang Jadi Langganan
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Seperti halnya Kickfest, Maxbox juga menjual produk-produk yang di antaranya adalah barang sisa yang sudah tidak dijual di toko dan tersimpan di gudang. Bedanya, Kickfest diadakan setahun sekali, sedangkan Maxbox menjual dengan harga miring setiap hari.

"Tadinya saya mau ubah taglinenya yaitu Every Day is Sale," ujar Ferdy Bennovian (37) atau Ade, salah seorang pemilik Maxbox.

Biasanya, ujar Ade, jika sudah datang satu kali akan ketagihan. Mereka akan menunggu momen saat barang-barang kiriman yang baru datang. Selain lebih banyak pilihan, saat desain baru datang meminimalisir tidak adanya ukuran yang diinginkan. Karena namanya barang sisa, tidak semua ukuran pakaian ada.

Kalau ingin mendapatkan produk lama yang segar, rajin-rajin kontak ke Maxbox. Walaupun setiap pelanggan juga dicatat nomor kontaknya dan akan dihubungi jika datang produk baru.

Tidak hanya pelanggan dari lokal Bandung, konsumen dari luar kota seperti Jakarta juga enggak ketinggalan. Bahkan ada di antaranya yang membeli dalam jumlah banyak untuk dijual kembali.

Ditambahkan Ade, Maxbox juga terbuka pada clothing-clothing yang ingin menitipkan produknya tanpa batasan jumlah artikel. Namun untuk clothing kecil harus mempertimbangkan persaingan dengan barang-barang sisa yang harganya jauh lebih murah. Selain itu, Ade memastikan kalau manajemennya tidak akan mempersulit proses kerjasama.

Yang terpenting, ujar Ade, untuk clothing-clothing yang menjual produk sisanya, dengan menitipkan di Maxbox, bisa balik modal produksi. "Kalau rugi Rp 1.000 atau Rp 2.000 kan enggak masalah dari pada tidak menghasilkan sama sekali," ucap Ade.
(ema/tya)

Berakhir Pekan di Bandung Yuk


Berakhir Pekan di Bandung Yuk
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Tak salah jika akhir pekan ini akan Anda habiskan di Bandung. Berikut beberapa referensi tempat makan dan belanja di Bandung yang bisa anda datangi bersama teman, kerabat, atau keluarga. Semoga menginspirasi.

Lukisan Pelepah Pisang
Tertarik melihat hasil seni berbahan pelepah pisang? Coba datangi galeri kecil milik Ade Mulyana (64) yang berada Jalan Amir Machmud Gang PGRI Cimahi. Moel, demikian sapaan akrabnya, memanfaatkan pelepah pisang sejak puluhan tahun lalu untuk membuat lukisan. Karya luar biasa ini bisa jadi dapat memikat Anda.

Seven Cafe
Barangkali cafe dan resto ini bisa jadi tempat alternatif untuk Anda kaum muda yang hobi nongkrong. Tempat ini bisa ditemui di Jalan Setiabudhi, tepat beberapa meter setelah melintas perempatan Jalan Geger Kalong. Makanan yang disajikan pun mulai Asian Food seperti nasi goreng dan kwetiaw, Japanese Food seperti shabu-shabu, juga European Food seperti steak.

Maxbox
Mau belanja kaos-kaos dan perlengkapan khas distro? Rasanya tak rugi kalau Anda mau menyambangi Maxbox. Berada di Jalan Talaga Bodas No 32, spanduk terpasang di bagian pagar, dengan promosi sejumlah produk clothing berikut harganya yang harganya sangat miring. Masa iya, distro bernama Maxbox ini menjual kaos per piecesnya dimulai dengan harga Rp 30 ribu, tas dimulai Rp 60 ribu, bahkan jaket bisa sampai Rp 60 ribuan.

Sinchang dan Bolu Peuyeum
Bicara tentang oleh-oleh, bukan cuma Bandung yang punya. Meski belum sevariatif Bandung, Kota Cimahi sebagai kota tetangga, memiliki ragam khas makanan yang juga bisa dibawa pulang untuk sanak keluarga. Salah satunya yaitu bolu peuyeum dan sinchang. Sinchang adalah perpaduan antara kulit pangsit dan kacang tanah. Kacang tanah yang sudah digoreng kemudian dibungkudse dengan kulit pangsit yang dibuat sendiri. Kriuk-kriuk pangsit yang garing dipadukan dengan sebutir kacang tanah renyah, menciptakan rasa berbeda dan tentu saja enak. Mau coba?

Selamat berjalan-jalan!

(tya/lom)

Hiruk Pikuk Parkir di Jalan Dalem Kaum


Hiruk Pikuk Parkir di Jalan Dalem Kaum
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Tepat di daerah alun-alun, di samping Masjid Agung Bandung, Jalan Dalem Kaum berada. Jalan ini diambil dari sebutan pendiri Kota Bandung, Rd Adipati Wiaranatakusumah II yaitu Dalem Kaum.

Kawasan ini termasuk padat pertokoan. Terutama dari perempatan Jalan Otto Iskandar Dinata-Jalan Dalem Kaum, sampai berbatasan dengan Jalan Dewi Sartika. Setiap harinya dipenuhi dengan warga yang berbelanja, terutama saat akhir pekan.

Di kawasan ini khususnya, tidak lagi dijadikan sebagai lalu lintas kendaraan namun didominasi sebagai tempat parkir. Menurut salah seorang petuga sparkir, Ade, Jalan Dalem Kaum memang sudah dijadikan Lingkungan Parkir Dalem Kaum sehingga sebagian besar badan jalan digunakan untuk parkir kendaraan baik roda empat maupun roda dua.

Kendaraan yang terparkir saling berdesakan dengan pedagang kaki lima yang juga tersebar di pinggiran Jalan Dalem Kaum. Baik di badan jalan maupun di trotoar.

Hal itu terlihat dari banyaknya mobil dan motor yang terparkir di kawasan itu setiap harinya baik dari sisi kiri atau kanan badan jalan. Di bagian tengah, hanya disisakan sedikit ruang untuk mobil atau motor yang akan melaju terus menembus Jalan Dewi Sartika atau yang akan parkir.

Setidaknya, dijelaskan Ade, ada sekitar 30 tukang parkir berseragam oranye di kawasan Jalan Dalem Kaum. Namun pantauan detikbandung, ada juga tukang parkir tidak berseragam yang menjaga di beberapa titik parkir.

Untuk mobil saja, ujar Ade, rata-rata terjual seribu tiket dengan harga satuannya Rp 1.000. "Tapi tidak tentu kadang 2 ribuan atau 3 ribu," ujarnya.

Apalagi untuk motor, sekali waktu saja bisa mencapai ratusan karena tersebar di beberapa titik. Selain itu, pengunjung pun datang silih berganti.

Tapi untuk mobil yang tidak parkir, para petugas pun terlihat meminta, meskipun diakui mereka kalau untuk yang tidak parkir kalau mau memberi silahkan saja, kalau tidak juga tidak masalah.

Sejumlah pertokoan yang ada di jalan tersebut memang menjadi daya tarik khususnya untuk kalangan menengah ke bawah. Sebuat saja ada kawasan clothing distro Plaza Parahyangan, kawasan Kota Kembang yang menjual sepatu-sepatu murah juga CD dan VCD bajakan yang sempat ditutup beberapa kali oleh pemerintah, juga beberapa toko pakaian, sepatu, makanan dan lainnya.

Di antara hiruk pikuk toko, terselip situs makam Bupati Bandung Adipati Wiranatakusumah atau Dalem Kaum yang barangkali paling langka dikunjungi di antara bangunan-bangunan yang ada. Padahal dialah founder Kota Bandung.Dari namanya pula sebutan Jalan Dalem Kaum muncul.

Walau entah, mungkin keberadaan situs ini sama sekali tidak diperhatikan warga, kalah oleh hasrat untuk belanja.(ema/avi)

Jalan-jalan ke Pasar Baru Yuk!


Jalan-jalan ke Pasar Baru Yuk!
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Bercerita tentang Bandung sepertinya tidak pernah habis. Jika saja mau menjelajah, banyak tempat yang bisa dikunjungi. Melepaskan dari kenyamanan berbelanja di FO atau distro, akhir pekan ini coba beralih ke tempat-tempat yang lebih merakyat tapi memiliki nilai sejarah.

Misalnya ke kawasan Pasar Baru Jalan Otto Iskandar Dinata. Pasar Baru dibangun pada tahun 1896. Kala itu bangunan masih semi permanen dan pada tahun 1926 kemudian didirikan bangunan pasar yang baru. Pasar ini juga sempat dijuluki 'pasar terbersih se-Nusantara'.

Namun sempat pula di tahun 70-an menjadi pasar yang kumuh karena tidak tertibnya para pedagang. Kemudian di tahun 2004, pasar ini dirombak kembali jadi pasar modern yang jadi tempat tujuan kebanyakan warga Bandung jika ingin berbelanja.

Di sini, tersedia berbagai kebutuhan terutama fashion khususnya untuk kalangan menengah ke bawah. Jangan heran kalau setiap harinya selalu dipenuhi pengunjung.

Biasanya Jalan Pecinan Lama dipilih sebagai jalur alternatif menuju Pasar Baru. Selain itu bisa diakses juga melalui Jalan Kebonjati. Jangan heran kalau di kawasan ini juga rawan dengan kemacetan.

Tapi yang dituju jangan cuma Pasar Baru. Bangunan bersejarah juga akan ditemui di Jalan Pecinan Lama. Mampirlah ke pabrik dan toko Kopi Aroma yang ada di antara Jalan Banceuy dan Jalan Pecinan Lama. Bangunannya masih sarat dengan sejarah karena memang peninggalan zaman Belanda sejak tahun 1930.

Selain bangunannya, aroma tempo dulu juga akan terlihat dari beberapa mesin penggiling kopi yang masih kuno. Kini, pabrik dan toko Kopi Aroma dikelola oleh generasi kedua.

Di dalam gudangnya tersimpan kopi jenis arabika dan robusta dari berbagai wilayah di Indonesia yang konon disimpan selama puluhan tahun agar menghasilkan rasa kopi yang nikmat. Memang bukan isapan jempol, Kopi Aroma beda dari kopi kebanyakan. Bukan hanya warga lokal yang membeli, para bule juga kerap datang untuk mencicipi kenikmatan Kopi Aroma.

Dari situ, sebelum menuju Pasar Baru, pasti akan melintasi sebuah bangunan berlantai dua di persimpangan Jalan Alkateri-Jalan Pecinan Lama. Bangunan tua
itu sebelumnya adalah Hotel Bandung yang sudah tutup tahun 2004 lalu.

Lantai dua yang dijadikan hotel dibiarkan tanpa penghuni. Sedangkan lantai satu disewakan pada para pedagang di antaranya diisi oleh rumah makan Padang dan tempat reparasi jam antik.

Karena tidak dirawat, bangunan tampak usang dan beberapa bagian jendela serta tembok rusak. Gentengnua sudah menurun dan kalau hujan disertai dengan bocor. Pemiliknya kini tengah menunggu penyewa baru yang akan mengisi bangunan kuno tersebut.

Di belakang Pasar Baru, akan lebih banyak lagi ditemukan bangunan lama. Sebagiannya masih utuh, tapi ada juga yang sudah diubah menjadi ruko-ruko sehingga menghapus arsitektur antik yang sebelumnya dimiliki. Walaupun menjelajahi jalanan di kawasan ini harus rela berbecek-becek apalagi di musim hujan.

Antara lain ada Toko Jamu Babah Kuya yang sudah ada sejak tahun 1910. Usianya sudah genap seabad. Tapi Babah Kuya sendiri sudah menjual jamu sejak akhir tahun 1800-an. Konon, disebut Babah Kuya karena generasi pertamanya hobi memelihara kura-kura atau kuya.

Begitu masuk, akan diberikan pengalaman ruang yang lain dari biasanya. Untuk yang tak pernah mencium aroma jamu, di sinilah tempatnya. Beragam rempah dari pelosok nusantara tersedia untuk berbagai macam penyakit.

Atau sebelum ke Kopi Kapal Selam, dari Toko Jamu Babah Kuya mampir dulu ke Jalan Tamim. Di sini dikenal sebagai tempat dijualnya kain kiloan atau grosiran dengan harga murah.

Akan tampak bangunan-bangunan bersejarah yang sebagian besar sudah berubah jadi ruko. Pemiliknya pun kebanyakan warga keturunan Tionghoa, sebab di kawasan ini termasuk juga di kawasan Pecinan kebanyakan dihuni oleh keturunan warga Tinghoa.

Di sini adalah tempatnya jika ingin membuat celana jeans dengan harga murah dalam waktu yang relatif cepat.

Untuk melepas lelah, nikmati segelas es goyobod di Pasar Baru Barat sebelah Gang Bombay yang sudah ada sejak tahun 1949.

Selamat menjelajah!!
(ema/tya)

Distromen, Pelepas Stress Pelaku Distro


Distromen, Pelepas Stress Pelaku Distro
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Apa jadinya kalau pelaku distro hobi main air soft gun. Jadinya adalah komunitas yang dinamakan Distromen.

Komunitas ini memang enggak banyak dikenal publik. Maklum, sesuai namanya anggota komunitas ini adalah pemilik distro, vendor distro juga pengguna produk distro.

Dituturkan Riva, yang menjadi pencetus terbentuk Distromen, komunitas ini didirikan 2 tahun lalu. "Untuk melepas strees, refresing dan juga anger management," jelasnya saat ditemui di kantornya Jalan Karapitan.

"Awalnya karena kumpul-kumpul dan kita butuh anger management jadi dari mulai satu orang yang lainnya keracunan," ujar Riva.

Berkat pengaruhnya, alhasil sampai dua tahun ini sudah terkumpul sebanyak 30 anggota. Mereka biasa meluangkan waktu untuk bermain satu bulan dua kali baik di outdoor maupun indoor.

Uniknya, karena anggotanya adalah pelaku industri clothing, perlengkapan untuk bermain pun buatan sendiri. Dari mulai kaos, rompi, sepatu, sampai perlengkapan lain seperti outer barel atau licenser.

"Kalau perlu kita buat dari paralon. Atau ada yang dibuat dari aluminium kita buat sendiri yang penting fungsinya tercapai," ujar Riva.

Dengan begitu, mereka pun bisa hemat sampai 50 persen karena untuk perlengkapan original harganya cukup mahal. "Lagipula kalau bikin sendiri bisa custom sesuai keinginan," jelasnya.

Enggak hanya bermain, komunitas ini juga punya semboyan sambil menyelam minum air. Karena dengan berkumpulnya para pelaku distro juga membuka peluang untuk terjalinnya bisnis yang lebih luas. Meskipun misi utamanya adalah having fun dan untuk melepaskan strees.
(ema/avi)

Oldskull, Enggak Cuma Buat Bikers


Oldskull, Enggak Cuma Buat Bikers
Ema Nur Arifah - detikBandung


Bandung - Anggapan kalau enggak pakai kaos motor enggak keren mungkin benar adanya. Terbukti dengan tren baju bikers yang tak hanya populer di kalangan komunitas tapi juga merambah konsumen yang lebih luas.

Misalnya di Oldskull Kustom Kulture Shop Jalan Diponegoro No 3A, yang menyediakan kaos, pernak-pernik dan merchandise untuk para bikers. Ternyata menurut pemiliknya Dadan Herdiana, konsumen yang datang ke tokonya bukan cuma dari komunitas bikers.

"Awalnya sih memang untuk bikers, tapi ternyata konsumen yang datang ada juga dari anak SMA dan mahasiswa," terang salah satu pendiri komunitas bikers Bandung, Brotherhood ini.

Dadan tidak menampik kalau penggemar kaos bikers bukan cuma dari kalangan komunitas. "Ada anggapan kalau tidak pakai kaos bikers enggak keren," jelas Dadan.

Keberadaan Oldskull yang baru 5 bulan berjalan ini seolah memberikan alternatif bagi pemburu kaos-kaos bikers. Apalagi dari sisi desain lebih bebas dan tidak terkait pada komunitas tertentu meski Dadan sendiri berangkat dari komunitas Brotherhood.

Menurut Dadan sebanyaK 30 persen konsumennya dari kalangan SMA, sisanya baru komunitas bikers dan mahasiswa. "Bahkan di sini juga menyediakan kaos bikers untuk anak-anak," jelasnya.

Dadan pun tidak menduga respon dari luar komunitas cukup positif termasuk dari wisatawan luar kota. "Bahkan harus buka lebih pagi karena sebelum buka sudah ada pembeli yang nongkrong di depan toko," jelasnya.

Tapi meski basicnya bikers, Dadan enggak anti menjual produk lain. Terlebih ketika melihat konsumen yang cukup beragam.

Dia juga menyediakan produk fashion dari Jepang yang lebih stylis meski dalam jumlah yang lebih sedikit.

Menurut Dadan konsumen kebanyakan masih dari lokal Bandung. Mereka datang berkat promosi dari mulut ke mulut.

"Saya enggak promosi apapun tapi dari mulut ke mulut," ujar Dadan. Bahkan sampai saat ini ada yang setiap bulannya menjadi langganan.
(ema/ern)

Oldskull yang Colourfull


Oldskull yang Colourfull
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Meski atribut bikers biasanya identik dengan warna hitam, tapi enggak berarti bikers anti sama warna lain. Jika ingin warna yang beda, Oldskull Kustom Kulture Shop menyediakan alternatif warna yang lebih colourfull.

"Bikers memang identik dengan hitam. Tapi kan enggak semua suka pakai warna hitam," jelas Dadan Herdiana, pemilik Oldskull saat ditemui di tokonya Jalan Diponegoro No 3A.

Alhasil, warna-warna Oldskull ada yang putih, biru, atau kuning. Malahan Dadan mengaku tidak ada warna hitam kecuali jika diperlukan dalam desain kaos.

Ternyata penggemar kaos bikers warna-warni menurut Dadan juga cukup banyak. Terutama untuk kaos fullprintnya yang jadi incaran.

Tak hanya untuk kaum pria, setelah tahu kaos warna-warni laku di pasran, Dadan juga membuat kaos bikers untuk cewek.

Kalau mau belanja, Disarankan cari waktu luang di weekdays, karena saat akhir pekan, tamu yang datang ke Oldskull tidak berhenti sampai toko akan tutup pukul 22.00 WIB.
(ema/avi)

Desain Fullprint Jadi Ciri Khas Oldskull


Desain Fullprint Jadi Ciri Khas Oldskull
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Nama Oldskull, bagi Dadan Herdiana, pemilik Oldskull Kustom Kulture Shop punya keterkaitan erat dengan bikers. Oldskull adalah gambar tengkorak yang sering digunakan oleh para bikers.

Tapi bukan berarti desain Oldskull melulu menyertakan tengkorak. Malah jauh dari kesan itu, Dadan membuat desain yang lebih dinamis tapi tetap nge-bikers.

Desain fullprint menjadi ciri khasnya. Hampir seluruh permukaan kaos tertutup dengan gambar. "Desain yang paling banyak diMinati yang fullprint," jelas Dadan saat ditemui di tokonya Jalan Diponegoro No 3A.

Menurut Dadan dirinya sendiri yang jadi desainer. Namun jumlah artikel per bulannya tidak bisa dipastikan karena jika satu artikel sudah habis maka akan cepat berganti.

Untuk desain fullprint lebih mengarah pada tema-tema retro dan objek-objek yang unik. Harganya ada di kisaran Rp 85 ribu dan paling mahal Rp 150 ribu.

Selain label Oldskull, Dadan juga menerima label bikers lain yang juga milik anggota Brotherhood lainnya. Misalnya di sini bisa menemukan merek Neangkejo, The Dalton, Outlaws, Flying Piston termasuk merek Brotherhood sendiri.

Di samping kaos, tersedia juga gantungan kunci, sepatu boot, helm bikers, stiker, tas, dan aksesoris lainnya.

Ditambahkan Dadan, penjualan kaos bikers ini beda dengan kaos lainnya. Kaos bikers tidak mengenal musim dan akan terus digemari dalam jangka waktu yang lama alias long lasting.(ema/avi)

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons